Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

8 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)

Transformasi SDG Academy Indonesia menjadi aset nasional di bawah Kementerian PPN/Bappenas pada tahun 2025 menandai momentum penting dalam percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia. Namun, di balik optimisme kelembagaan ini, terdapat tantangan mendasar yang jarang dibicarakan: mayoritas masyarakat Indonesia masih belum memahami apa itu SDGs, apalagi melihatnya sebagai agenda yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Survei People's Scorecard 2024 yang dilakukan oleh International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) mengungkapkan fakta yang memprihatinkan: dari perspektif organisasi masyarakat sipil, indikator "kesadaran dan pembangunan kapasitas publik" terhadap SDGs mendapat skor terendah, yaitu hanya 20 dari skala 100. Ini adalah tanda bahaya yang tidak bisa diabaikan, tentang bagaimana kita akan mencapai target 2030 jika sebagian besar masyarakat bahkan tidak tahu apa yang sedang diperjuangkan?

Dengan sisa waktu lima tahun menuju 2030, transformasi SDG Academy Indonesia harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk merevolusi strategi komunikasi SDGs di Indonesia. Bukan sekadar menambah program pelatihan atau sertifikasi, tetapi mengubah secara fundamental bagaimana SDGs dikomunikasikan kepada publik: dari bahasa elitis menjadi narasi yang membumi, dari komunikasi satu arah menjadi dialog multi-pihak, dan dari media konvensional menjadi platform digital yang inklusif.

Kesenjangan Awareness

Indonesia menghadapi paradoks dalam implementasi SDGs: di satu sisi, pemerintah telah menunjukkan komitmen kuat dengan mengintegrasikan 94 dari 169 target global SDGs ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Di sisi lain, kesadaran publik terhadap SDGs masih sangat rendah, terutama di tingkat grassroots.

Penelitian tentang implementasi SDGs di Indonesia mengidentifikasi bahwa salah satu dari tiga tantangan utama adalah strategi komunikasi yang tidak memadai. Masalahnya bukan pada kurangnya informasi, melainkan pada cara informasi tersebut dikemas dan disampaikan. SDGs masih terjebak dalam bahasa teknis dan birokrasi yang terasa asing bagi masyarakat umum. Istilah seperti No One Left Behind, localization, atau multi-stakeholder partnership mungkin bermakna dalam ruang rapat Bappenas, tetapi kehilangan resonansinya ketika sampai di desa-desa, pasar tradisional, atau ruang keluarga masyarakat.

Studi tentang implementasi SDGs di tingkat daerah menunjukkan bahwa kurangnya pola komunikasi yang efektif menjadi hambatan utama dalam menyebarkan pemahaman SDGs dari pusat ke daerah. Desentralisasi yang menjadi kekuatan Indonesia justru menjadi tantangan ketika tidak ada strategi komunikasi yang adaptif terhadap keragaman konteks lokal.

Potensi Digital

Ironisnya, Indonesia sebenarnya memiliki infrastruktur digital yang sangat potensial untuk komunikasi SDGs. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa pada tahun 2024, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221,56 juta orang dari total populasi 278,69 juta, dengan tingkat penetrasi 79,5 persen. Media sosial bahkan lebih masif lagi, menurut DataReportal, sekitar 139 juta orang Indonesia aktif di media sosial, atau setara dengan 49,9 persen populasi.

Generasi Milenial dan Gen Z adalah pengguna internet paling aktif. Berdasarkan survei APJII 2024, Milenial memiliki tingkat penetrasi internet tertinggi yaitu 93,17 persen, diikuti Gen Z dengan 87,02 persen. Mereka adalah generasi yang akan merasakan dampak langsung dari keberhasilan atau kegagalan pencapaian SDGs 2030. Namun, konten SDGs di media sosial masih minim, kering, dan tidak engaging bagi audiens muda yang terbiasa dengan konten visual, interaktif, dan storytelling yang kuat.

SDG Academy Indonesia, dengan lebih dari 195 alumni dari program SDG Leadership hingga kuartal pertama 2024 menurut data UNDP, sebenarnya memiliki modal sosial yang luar biasa. Para alumni ini tersebar di berbagai sektor (pemerintahan, akademisi, CSO, dan sektor swasta) dan berpotensi menjadi agen perubahan di tingkat lokal. Namun, kisah-kisah transformasi mereka tidak tersebar luas. Dampak yang dihasilkan masih bersifat lokal dan belum menjadi narasi nasional yang menginspirasi masyarakat lebih luas.

Meskipun penetrasi internet terus meningkat, kesenjangan digital antara kota dan desa masih signifikan. Data APJII 2024 menunjukkan penetrasi internet di perkotaan mencapai 82,2 persen, sementara di pedesaan 74 persen. Data BPS 2024 bahkan menunjukkan kesenjangan yang lebih besar: 79,13 persen penduduk perkotaan telah mengakses internet, sementara di pedesaan hanya 63,71 persen.

Artinya, strategi komunikasi SDGs tidak bisa hanya mengandalkan platform digital modern. Diperlukan pendekatan multi-kanal yang mengintegrasikan media digital dengan media tradisional seperti radio komunitas, televisi lokal, dan pertemuan tatap muka di tingkat komunitas. Prinsip No One Left Behind harus dimulai dari No One Left Uninformed.

Narasi yang Membumi

Salah satu kesalahan terbesar dalam komunikasi SDGs adalah asumsi bahwa masyarakat harus memahami kerangka teknis SDGs terlebih dahulu sebelum bisa berkontribusi. Faktanya, masyarakat tidak perlu tahu bahwa mereka sedang "berkontribusi pada SDG 2: Zero Hunger" ketika mereka menanam sayuran organik di pekarangan atau berbagi makanan dengan tetangga. Yang penting adalah bagaimana SDGs diterjemahkan ke dalam bahasa dan aksi yang relevan dengan kehidupan mereka.

SDG Academy Indonesia, sebagai lembaga pembelajaran SDGs di bawah naungan Bappenas, memiliki peran krusial untuk menjadi jembatan antara bahasa teknokratis pemerintah dengan bahasa sehari-hari masyarakat. Alih-alih berbicara tentang sustainable waste management, bicaralah tentang "bagaimana mengubah sampah menjadi uang." Alih-alih quality education, bicaralah tentang "memastikan anak-anak kita punya masa depan yang lebih baik."

Transformasi SDG Academy Indonesia menjadi aset nasional di bawah Kementerian PPN/Bappenas pada tahun 2025 menandai momentum penting dalam percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia. (Sumber: SDG Academy Indonesia | Foto: Diilutrasikan ulang oleh Ayobandung.id)
Transformasi SDG Academy Indonesia menjadi aset nasional di bawah Kementerian PPN/Bappenas pada tahun 2025 menandai momentum penting dalam percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia. (Sumber: SDG Academy Indonesia | Foto: Diilutrasikan ulang oleh Ayobandung.id)

Kekuatan Influencer dan Community Leaders

Penelitian tentang strategi komunikasi pembangunan menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif dan pemasaran sosial lebih efektif daripada pendekatan instruksional top-down. SDG Academy Indonesia perlu berani bermitra dengan aktor-aktor non-tradisional: influencer media sosial, tokoh agama, tokoh adat, dan pemuda lokal yang memiliki kepercayaan tinggi dari komunitasnya.

Program SDG Talk yang telah berhasil menjangkau lebih dari 11.400 guru melalui kemitraan dengan Balai Guru Penggerak di empat provinsi pada tahun 2024 adalah contoh baik dari pendekatan kolaboratif. Namun, jangkauan ini masih terbatas. Bayangkan jika SDG Academy berkolaborasi dengan content creator TikTok atau Instagram yang memiliki jutaan followers, atau dengan pengusaha muda yang memiliki influence di komunitas bisnis lokal. Dampaknya akan berlipat ganda.

Generasi muda Indonesia, yang merupakan mayoritas pengguna internet, tumbuh dengan budaya digital yang mengutamakan interaksi, visualisasi, dan pengalaman. Strategi komunikasi SDGs harus mengadopsi pendekatan gamifikasi, selayaknya membuat pembelajaran SDGs menjadi menyenangkan, interaktif, dan memberi reward.

SDG Academy Indonesia telah memiliki 13 modul pembelajaran online melalui SDG Mobile Learning Program. Namun, apakah modul-modul ini sudah memanfaatkan teknologi interaktif, simulasi, atau game-based learning? Apakah ada sistem poin atau badge yang membuat peserta termotivasi untuk terus belajar? Apakah ada leaderboard yang mendorong kompetisi sehat?

Lebih dari itu, SDGs perlu dikomunikasikan melalui storytelling yang kuat. Kisah nyata dari alumni SDG Academy yang berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan di komunitasnya. Kisah-kisah seperti ini jauh lebih powerful daripada presentasi PowerPoint dengan 17 logo SDGs dan ratusan indikator.

Sebagai lembaga yang kini menjadi aset nasional, SDG Academy Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk tidak hanya menghasilkan lebih banyak "SDG-Certified Leaders," tetapi juga menciptakan gerakan masif yang membuat SDGs menjadi bagian dari kesadaran kolektif bangsa. Berikut adalah beberapa rekomendasi strategis:

Pertama, luncurkan kampanye komunikasi masif multi-platform dengan target spesifik: dalam 12 bulan ke depan, awareness SDGs di kalangan Gen Z dan Milenial harus meningkat minimal 50 persen. Gunakan kombinasi media sosial (TikTok, Instagram, YouTube Shorts), podcast, dan platform streaming untuk menjangkau demografi ini.

Kedua, bangun ekosistem SDGs Communicators dengan merekrut dan melatih 1.000 influencer lokal di 34 provinsi. Mereka tidak harus memiliki jutaan followers, tetapi harus memiliki kredibilitas dan trust di komunitasnya masing-masing—bisa guru, tokoh pemuda, pengusaha muda, atau aktivis lokal.

Ketiga, transformasikan program SDG Mobile Learning menjadi platform pembelajaran yang benar-benar interaktif dan gamified. Integrasikan teknologi AR/VR untuk simulasi, leaderboards, achievement badges, dan social sharing features yang membuat peserta bangga berbagi pencapaian mereka.

Keempat, ciptakan "SDGs Local Champions Award" yang mengapresiasi dan mengamplifikasi kisah-kisah inspiratif dari individu, komunitas, atau organisasi yang berkontribusi pada SDGs di tingkat lokal. Publikasikan kisah-kisah ini secara masif melalui berbagai kanal media.

Kelima, integrasikan pendidikan SDGs ke dalam kurikulum pendidikan formal, mulai dari SD hingga perguruan tinggi. SDG Academy dapat menjadi resource center yang menyediakan modul pembelajaran yang menarik, kontekstual, dan mudah diimplementasikan oleh guru.

Keenam, kembangkan strategi komunikasi inklusif yang tidak hanya fokus pada urban digital natives, tetapi juga menjangkau daerah dengan akses internet terbatas. Manfaatkan radio komunitas, pengajian, arisan, dan forum-forum lokal sebagai kanal komunikasi alternatif.

Urgensi Bertindak Sekarang

Transformasi SDG Academy Indonesia menjadi aset nasional adalah momentum yang tidak boleh disia-siakan. Lima tahun menuju 2030 adalah waktu yang sangat singkat. Jika kita terus berkomunikasi tentang SDGs dengan cara yang sama (teknokratis, top-down, dan eksklusif) kita tidak akan pernah menciptakan ownership dan partisipasi massal yang dibutuhkan untuk mencapai target.

Prinsip No One Left Behind harus dimulai dari No One Left Uninformed. Komunikasi SDGs bukan tentang mengajarkan orang untuk menghafal 17 goals dan 169 target. Komunikasi SDGs adalah tentang membuat setiap orang Indonesia, dari petani di desa terpencil hingga startup founder di Jakarta, dari ibu rumah tangga di Aceh hingga mahasiswa di Papua, merasa bahwa mereka adalah bagian dari gerakan transformasi menuju Indonesia yang lebih adil, berkelanjutan, dan sejahtera.

SDG Academy Indonesia, di bawah kepemimpinan Kementerian PPN/Bappenas, memiliki mandate dan resources untuk memimpin revolusi komunikasi ini. Saatnya berani bereksperimen, berkolaborasi dengan aktor-aktor non-konvensional, dan menggunakan bahasa serta platform yang benar-benar berbicara kepada hati dan pikiran rakyat Indonesia.

Karena pada akhirnya, SDGs bukan milik pemerintah, bukan milik PBB, dan bukan milik akademisi. SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif itu. (*)

Referensi:

  • International NGO Forum on Indonesian Development (INFID). (2024). Indonesia SDGs People's Scorecard 2024. INFID Report.
  • Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2024). Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024.
  • Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024.
  • DataReportal. (2024). Digital 2024: Indonesia. Global Digital Insights.
  • United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia. (2024). SDG Academy Indonesia's SDG Leadership Program.
  • Kompas.com. (2026). SDG Academy Indonesia di Bawah Kepemimpinan Bappenas, Buka Ruang Partisipasi Publik.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Jun 2026, 12:46

Bukan Sekadar Rongsokan, Besi Tua Damri Jatinangor

Deru mesin tua DAMRI pernah mengantar ribuan mahasiswa menuju mimpi mereka.

Armada DAMRI generasi lama yang terparkir di Depo DAMRI Gedebage (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Naufal Farras)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 11:39

Literasi, Fabel, dan Al-Razi

Rasanya asyik sekali ketika menemukan bacaan yang penuh dengan hikmah.

Aa Akil bergaya dengan buku Serunya Dunia Fabel, karya Kelas V Al-Razi SD Islam Al-Amanah, penerbit Dandelion Publisher,  cetakan pertama Mei 2026, editor Utrujah Alesha. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 25 Jun 2026, 11:23

Panduan Berkunjung ke Museum Geologi Bandung: Menjelajahi 4,5 Miliar Tahun Sejarah Bumi dengan Tiket Rp5.000

Museum Geologi Bandung menyimpan lebih dari 250.000 koleksi batuan dan 60.000 fosil. Simak harga tiket, koleksi unggulan, dan panduan berkunjung.

Museum Geologi Bandung. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Biz 25 Jun 2026, 10:34

Kembara Niaga Dama Kara Menjadi Satu-satunya UMKM Kelas 4 di Bandung

UMKM yang ada di kelas itu memang langka, tetapi bagaimana cara sampai di sana?

Salah satu sudut toko Dama Kara di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 09:56

Batujajar dan Militer: 'Mesra' sejak Masa Kolonial

Menilik secara historis bagaimana Batujajar dan militer hidup secara berdampingan sejak masa kolonial.

Jembatan Batujajar pada tahun 1925 (Sumber: KITLV)
Beranda 25 Jun 2026, 09:11

Kimung, Anak Ujungberung yang Tak Pernah Meninggalkan Musik

Kimung tak pernah benar-benar meninggalkan musik. Dari Burgerkill, Ujungberung Rebels, hingga Karinding Attacks, ia terus merawat kultur musik dari Bandung.

Di Atap Class, Kimung terus merawat arsip, pengetahuan, dan regenerasi komunitas kreatif lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 08:47

Budaya Self-reward dan Hubungannya dengan Konsumerisme Gen Z

Self-reward yang awalnya bertujuan sebagai bentuk apresiasi diri setelah mencapai target atau melewati masa sulit sering kali berubah menjadi alasan untuk berbelanja secara berlebihan.

Ilustrasi belanja. (Sumber: Pexels | Foto: Max Fischer)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 08:34

Unjuk Rasa Mahasiswa, Sinar Asta Cita dan Suguhan Humor Segar

Jika segala aspek masalah ketenagakerjaan bisa ditangani dengan baik, niscaya 60 persen masalah bangsa ini kelar.

Unjuk rasa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 24 Jun 2026, 20:36

Kualitas Dulu, Narasi Kemudian: Dama Kara dan Mengapa Karyanya Istimewa

Kualitas harus bicara lebih dulu, sebelum cerita apa pun menyusulnya. Begitulah prinsip Dama Kara.

Nurdini Prihastiti, founder sekaligus pemilik Dama Kara di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 20:02

Opini Publik terhadap Pemberitaan Media mengenai Peluncuran Smartphone

Analisis terhadap penulisan peluncuran smartphone terbaru pada sebuah acara teknologi tahunan, dan penggunaan kata kunci yang konsisten oleh media

Ilustrasi penggunaan smartphone yang mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perangkat mobile dengan teknologi terkini. 23/06/2026 (Sumber: Muhammad Aswan Hilman | Foto: Muhammad Aswan Hilman)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 18:45

Listrik, Lilin, dan Ilusi Transformasi Digital

Mengkritisi kesenjangan antara ambisi transformasi digital Indonesia dan rapuhnya fondasi infrastruktur energi.

Ilustrasi lilin menyala. (Sumber: Pexels | Foto: Rahul)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 17:57

Tantangan Mekanisasi dan Program Penyuluhan untuk Petani Muda

Tantangan berat sektor pertanian adalah masalah mekanisasi usaha pertanian, dari masalah teknologi irigasi, mesin pengolah tanah, sampai kepada mesin pasca panen.

Ilustrasi para petani muda dan calon pelaku usaha pertanian sedang menyusuri pematang sawah di pedesaan Kabupaten Garut. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 24 Jun 2026, 16:22

Panduan Berkunjung ke The Great Asia Africa Lembang: Keliling Tujuh Negara di Kaki Gunung Tangkuban Perahu

The Great Asia Africa menghadirkan replika budaya Jepang, Korea, India, Thailand, hingga Timur Tengah dalam satu destinasi wisata di Lembang.

The Great Asia Africa Lembang (Sumber: Ayomedia)
Linimasa 24 Jun 2026, 13:45

Menengok Pembuat Bet Pingpong Kayu Jati Bandung

Berawal dari hobi saat pandemi, Abah Jae di Cimenyan sukses membuat bet pingpong handmade dari limbah kayu jati berkualitas.

Abah Jae, pembuat bet pingpong kayu jati Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 13:04

Regenerasi Petani: Peluang dan Tantangan Pada Pendidikan Pertanian

Jika lahan sawah sudah tidak ada, lantas apakah regenerasi petani akan tercipta? Sedangkan profesi petani di Indonesia memunculkan permasalahan kritis.

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 12:49

Radio Nirom Rancaekek, Saksi Hidup Siaran Radio Hindia Belanda

NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschaapij) merupakan siaran radio swasta yang didirikan pada tahun 1928.

Stasiun Malabar Di gunung Puntang (Sumber: muspen.komdigi.go.id)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 12:08

Menelusuri Jejak Masa Lalu Rumah Indis dan Pabrik Gula Sewugalur

Badai datang melalui krisis ekonomi global pada masa Malaise yang menyebabkan pabrik gulung tikar.

kondisi pabrik gula sewugalur pada masa masih beroprasi tahun 1917. (KITLV/kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 11:59

Restaurant Indonesia: Awal Pendirian dan Perjuangan Para Eksil Orde Baru

Perjalanan para eksil Orde Baru dalam mendirikan Restaurant Indonesia pada 1982.

Restaurant Indonesia di Paris. (Sumber: Facebook milik Restaurant Indonesia.)
Wisata & Kuliner 24 Jun 2026, 11:22

Panduan Wisata Gembira Loka Zoo Yogyakarta: Harga Tiket, Wahana, dan Koleksi Satwa

Gembira Loka Zoo Yogyakarta menawarkan ratusan koleksi satwa, wahana keluarga, Zona Cakar, hingga Kereta Taring. Simak panduan lengkap sebelum berkunjung.

Gembira Loka Zoo Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 10:43

Analisis Konteks Historis Dibalik Pembuatan Film Kuldesak 1998

Artike lini membahas tentang latar belakang historis dari pembuatan Film Kuldesak 1998

Cuplikan adegan aktor Ryan Hidayat dan Iwa K dalam film Kuldesak 1998. (Sumber: Komunitas Pecinta Film Jadul Indonesia, Facebook. facebook.com)