Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Jumat 09 Jan 2026, 19:07 WIB
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)

Transformasi SDG Academy Indonesia menjadi aset nasional di bawah Kementerian PPN/Bappenas pada tahun 2025 menandai momentum penting dalam percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia. Namun, di balik optimisme kelembagaan ini, terdapat tantangan mendasar yang jarang dibicarakan: mayoritas masyarakat Indonesia masih belum memahami apa itu SDGs, apalagi melihatnya sebagai agenda yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Survei People's Scorecard 2024 yang dilakukan oleh International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) mengungkapkan fakta yang memprihatinkan: dari perspektif organisasi masyarakat sipil, indikator "kesadaran dan pembangunan kapasitas publik" terhadap SDGs mendapat skor terendah, yaitu hanya 20 dari skala 100. Ini adalah tanda bahaya yang tidak bisa diabaikan, tentang bagaimana kita akan mencapai target 2030 jika sebagian besar masyarakat bahkan tidak tahu apa yang sedang diperjuangkan?

Dengan sisa waktu lima tahun menuju 2030, transformasi SDG Academy Indonesia harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk merevolusi strategi komunikasi SDGs di Indonesia. Bukan sekadar menambah program pelatihan atau sertifikasi, tetapi mengubah secara fundamental bagaimana SDGs dikomunikasikan kepada publik: dari bahasa elitis menjadi narasi yang membumi, dari komunikasi satu arah menjadi dialog multi-pihak, dan dari media konvensional menjadi platform digital yang inklusif.

Kesenjangan Awareness

Indonesia menghadapi paradoks dalam implementasi SDGs: di satu sisi, pemerintah telah menunjukkan komitmen kuat dengan mengintegrasikan 94 dari 169 target global SDGs ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Di sisi lain, kesadaran publik terhadap SDGs masih sangat rendah, terutama di tingkat grassroots.

Penelitian tentang implementasi SDGs di Indonesia mengidentifikasi bahwa salah satu dari tiga tantangan utama adalah strategi komunikasi yang tidak memadai. Masalahnya bukan pada kurangnya informasi, melainkan pada cara informasi tersebut dikemas dan disampaikan. SDGs masih terjebak dalam bahasa teknis dan birokrasi yang terasa asing bagi masyarakat umum. Istilah seperti No One Left Behind, localization, atau multi-stakeholder partnership mungkin bermakna dalam ruang rapat Bappenas, tetapi kehilangan resonansinya ketika sampai di desa-desa, pasar tradisional, atau ruang keluarga masyarakat.

Studi tentang implementasi SDGs di tingkat daerah menunjukkan bahwa kurangnya pola komunikasi yang efektif menjadi hambatan utama dalam menyebarkan pemahaman SDGs dari pusat ke daerah. Desentralisasi yang menjadi kekuatan Indonesia justru menjadi tantangan ketika tidak ada strategi komunikasi yang adaptif terhadap keragaman konteks lokal.

Potensi Digital

Ironisnya, Indonesia sebenarnya memiliki infrastruktur digital yang sangat potensial untuk komunikasi SDGs. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa pada tahun 2024, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 221,56 juta orang dari total populasi 278,69 juta, dengan tingkat penetrasi 79,5 persen. Media sosial bahkan lebih masif lagi, menurut DataReportal, sekitar 139 juta orang Indonesia aktif di media sosial, atau setara dengan 49,9 persen populasi.

Generasi Milenial dan Gen Z adalah pengguna internet paling aktif. Berdasarkan survei APJII 2024, Milenial memiliki tingkat penetrasi internet tertinggi yaitu 93,17 persen, diikuti Gen Z dengan 87,02 persen. Mereka adalah generasi yang akan merasakan dampak langsung dari keberhasilan atau kegagalan pencapaian SDGs 2030. Namun, konten SDGs di media sosial masih minim, kering, dan tidak engaging bagi audiens muda yang terbiasa dengan konten visual, interaktif, dan storytelling yang kuat.

SDG Academy Indonesia, dengan lebih dari 195 alumni dari program SDG Leadership hingga kuartal pertama 2024 menurut data UNDP, sebenarnya memiliki modal sosial yang luar biasa. Para alumni ini tersebar di berbagai sektor (pemerintahan, akademisi, CSO, dan sektor swasta) dan berpotensi menjadi agen perubahan di tingkat lokal. Namun, kisah-kisah transformasi mereka tidak tersebar luas. Dampak yang dihasilkan masih bersifat lokal dan belum menjadi narasi nasional yang menginspirasi masyarakat lebih luas.

Meskipun penetrasi internet terus meningkat, kesenjangan digital antara kota dan desa masih signifikan. Data APJII 2024 menunjukkan penetrasi internet di perkotaan mencapai 82,2 persen, sementara di pedesaan 74 persen. Data BPS 2024 bahkan menunjukkan kesenjangan yang lebih besar: 79,13 persen penduduk perkotaan telah mengakses internet, sementara di pedesaan hanya 63,71 persen.

Artinya, strategi komunikasi SDGs tidak bisa hanya mengandalkan platform digital modern. Diperlukan pendekatan multi-kanal yang mengintegrasikan media digital dengan media tradisional seperti radio komunitas, televisi lokal, dan pertemuan tatap muka di tingkat komunitas. Prinsip No One Left Behind harus dimulai dari No One Left Uninformed.

Narasi yang Membumi

Salah satu kesalahan terbesar dalam komunikasi SDGs adalah asumsi bahwa masyarakat harus memahami kerangka teknis SDGs terlebih dahulu sebelum bisa berkontribusi. Faktanya, masyarakat tidak perlu tahu bahwa mereka sedang "berkontribusi pada SDG 2: Zero Hunger" ketika mereka menanam sayuran organik di pekarangan atau berbagi makanan dengan tetangga. Yang penting adalah bagaimana SDGs diterjemahkan ke dalam bahasa dan aksi yang relevan dengan kehidupan mereka.

SDG Academy Indonesia, sebagai lembaga pembelajaran SDGs di bawah naungan Bappenas, memiliki peran krusial untuk menjadi jembatan antara bahasa teknokratis pemerintah dengan bahasa sehari-hari masyarakat. Alih-alih berbicara tentang sustainable waste management, bicaralah tentang "bagaimana mengubah sampah menjadi uang." Alih-alih quality education, bicaralah tentang "memastikan anak-anak kita punya masa depan yang lebih baik."

Transformasi SDG Academy Indonesia menjadi aset nasional di bawah Kementerian PPN/Bappenas pada tahun 2025 menandai momentum penting dalam percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia. (Sumber: SDG Academy Indonesia | Foto: Diilutrasikan ulang oleh Ayobandung.id)
Transformasi SDG Academy Indonesia menjadi aset nasional di bawah Kementerian PPN/Bappenas pada tahun 2025 menandai momentum penting dalam percepatan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia. (Sumber: SDG Academy Indonesia | Foto: Diilutrasikan ulang oleh Ayobandung.id)

Kekuatan Influencer dan Community Leaders

Penelitian tentang strategi komunikasi pembangunan menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif dan pemasaran sosial lebih efektif daripada pendekatan instruksional top-down. SDG Academy Indonesia perlu berani bermitra dengan aktor-aktor non-tradisional: influencer media sosial, tokoh agama, tokoh adat, dan pemuda lokal yang memiliki kepercayaan tinggi dari komunitasnya.

Program SDG Talk yang telah berhasil menjangkau lebih dari 11.400 guru melalui kemitraan dengan Balai Guru Penggerak di empat provinsi pada tahun 2024 adalah contoh baik dari pendekatan kolaboratif. Namun, jangkauan ini masih terbatas. Bayangkan jika SDG Academy berkolaborasi dengan content creator TikTok atau Instagram yang memiliki jutaan followers, atau dengan pengusaha muda yang memiliki influence di komunitas bisnis lokal. Dampaknya akan berlipat ganda.

Generasi muda Indonesia, yang merupakan mayoritas pengguna internet, tumbuh dengan budaya digital yang mengutamakan interaksi, visualisasi, dan pengalaman. Strategi komunikasi SDGs harus mengadopsi pendekatan gamifikasi, selayaknya membuat pembelajaran SDGs menjadi menyenangkan, interaktif, dan memberi reward.

SDG Academy Indonesia telah memiliki 13 modul pembelajaran online melalui SDG Mobile Learning Program. Namun, apakah modul-modul ini sudah memanfaatkan teknologi interaktif, simulasi, atau game-based learning? Apakah ada sistem poin atau badge yang membuat peserta termotivasi untuk terus belajar? Apakah ada leaderboard yang mendorong kompetisi sehat?

Lebih dari itu, SDGs perlu dikomunikasikan melalui storytelling yang kuat. Kisah nyata dari alumni SDG Academy yang berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan di komunitasnya. Kisah-kisah seperti ini jauh lebih powerful daripada presentasi PowerPoint dengan 17 logo SDGs dan ratusan indikator.

Sebagai lembaga yang kini menjadi aset nasional, SDG Academy Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk tidak hanya menghasilkan lebih banyak "SDG-Certified Leaders," tetapi juga menciptakan gerakan masif yang membuat SDGs menjadi bagian dari kesadaran kolektif bangsa. Berikut adalah beberapa rekomendasi strategis:

Pertama, luncurkan kampanye komunikasi masif multi-platform dengan target spesifik: dalam 12 bulan ke depan, awareness SDGs di kalangan Gen Z dan Milenial harus meningkat minimal 50 persen. Gunakan kombinasi media sosial (TikTok, Instagram, YouTube Shorts), podcast, dan platform streaming untuk menjangkau demografi ini.

Kedua, bangun ekosistem SDGs Communicators dengan merekrut dan melatih 1.000 influencer lokal di 34 provinsi. Mereka tidak harus memiliki jutaan followers, tetapi harus memiliki kredibilitas dan trust di komunitasnya masing-masing—bisa guru, tokoh pemuda, pengusaha muda, atau aktivis lokal.

Ketiga, transformasikan program SDG Mobile Learning menjadi platform pembelajaran yang benar-benar interaktif dan gamified. Integrasikan teknologi AR/VR untuk simulasi, leaderboards, achievement badges, dan social sharing features yang membuat peserta bangga berbagi pencapaian mereka.

Keempat, ciptakan "SDGs Local Champions Award" yang mengapresiasi dan mengamplifikasi kisah-kisah inspiratif dari individu, komunitas, atau organisasi yang berkontribusi pada SDGs di tingkat lokal. Publikasikan kisah-kisah ini secara masif melalui berbagai kanal media.

Kelima, integrasikan pendidikan SDGs ke dalam kurikulum pendidikan formal, mulai dari SD hingga perguruan tinggi. SDG Academy dapat menjadi resource center yang menyediakan modul pembelajaran yang menarik, kontekstual, dan mudah diimplementasikan oleh guru.

Keenam, kembangkan strategi komunikasi inklusif yang tidak hanya fokus pada urban digital natives, tetapi juga menjangkau daerah dengan akses internet terbatas. Manfaatkan radio komunitas, pengajian, arisan, dan forum-forum lokal sebagai kanal komunikasi alternatif.

Urgensi Bertindak Sekarang

Transformasi SDG Academy Indonesia menjadi aset nasional adalah momentum yang tidak boleh disia-siakan. Lima tahun menuju 2030 adalah waktu yang sangat singkat. Jika kita terus berkomunikasi tentang SDGs dengan cara yang sama (teknokratis, top-down, dan eksklusif) kita tidak akan pernah menciptakan ownership dan partisipasi massal yang dibutuhkan untuk mencapai target.

Prinsip No One Left Behind harus dimulai dari No One Left Uninformed. Komunikasi SDGs bukan tentang mengajarkan orang untuk menghafal 17 goals dan 169 target. Komunikasi SDGs adalah tentang membuat setiap orang Indonesia, dari petani di desa terpencil hingga startup founder di Jakarta, dari ibu rumah tangga di Aceh hingga mahasiswa di Papua, merasa bahwa mereka adalah bagian dari gerakan transformasi menuju Indonesia yang lebih adil, berkelanjutan, dan sejahtera.

SDG Academy Indonesia, di bawah kepemimpinan Kementerian PPN/Bappenas, memiliki mandate dan resources untuk memimpin revolusi komunikasi ini. Saatnya berani bereksperimen, berkolaborasi dengan aktor-aktor non-konvensional, dan menggunakan bahasa serta platform yang benar-benar berbicara kepada hati dan pikiran rakyat Indonesia.

Karena pada akhirnya, SDGs bukan milik pemerintah, bukan milik PBB, dan bukan milik akademisi. SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif itu. (*)

Referensi:

  • International NGO Forum on Indonesian Development (INFID). (2024). Indonesia SDGs People's Scorecard 2024. INFID Report.
  • Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2024). Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024.
  • Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024.
  • DataReportal. (2024). Digital 2024: Indonesia. Global Digital Insights.
  • United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia. (2024). SDG Academy Indonesia's SDG Leadership Program.
  • Kompas.com. (2026). SDG Academy Indonesia di Bawah Kepemimpinan Bappenas, Buka Ruang Partisipasi Publik.

Berita Terkait

Bambu Ramah Lingkungan

Ayo Netizen 06 Jan 2026, 13:18 WIB
Bambu Ramah Lingkungan

News Update

Ayo Biz 20 Jan 2026, 21:30 WIB

Menggenggam Harapan Bandung Lewat Wajib Belajar Pra Sekolah

PAUD bukan sekadar tempat bermain, di balik aktivitas sederhana seperti bernyanyi atau menggambar, tersimpan proses pembentukan karakter.
Ilustrasi. PAUD bukan sekadar tempat bermain, di balik aktivitas sederhana seperti bernyanyi atau menggambar, tersimpan proses pembentukan karakter. (Sumber: Freepik)
Ayo Jelajah 20 Jan 2026, 20:43 WIB

Hikayat Kelam Kasus Herry Wirawan, Kekerasan Seksual terhadap Santriwati di Bandung

Perkara Herry Wirawan, pemilk salahsatu peantren di Bandung, menjadi salah satu kasus kekerasan seksual anak terberat dalam sejarah hukum Indonesia.
Herry Wirawan.
Ayo Jelajah 20 Jan 2026, 20:26 WIB

Sejarah Longsor Cigembong Garut Zaman Kolonial, Warga Satu Kampung Lenyap Tanpa Jejak

Longsor besar Juni 1924 menghapus Kampung Cigembong di selatan Garut. Arsip kolonial mencatat retakan gunung, pergerakan tanah, ratusan korban jiwa, serta sawah dan rumah yang lenyap dalam sekejap.
Ilustrasi longsor Cigembong Garut 1924.
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 19:35 WIB

Menelaah Kaitan Penerangan Jalan dan Potensi Aksi Kejahatan

Warga Margahayu Raya berharap Walikota M. Farhan segera mengatasi masalah lampu jalan yang minim.
Kondisi jalan di Komplek Margahayu Raya yang hanya diterangi oleh rumah warga akibat minimnya lampu penerangan jalan umum pada malam hari, 1 Desember 2025. (Sumber : Dokumentasi Penulis | Foto : Nur Azizah) (Foto : Nur Azizah) (Foto: Nur Azizah)
Ayo Biz 20 Jan 2026, 19:25 WIB

Mimpi Swasembada Energi: Jalan Terjal Transisi di Era Prabowo

Keberhasilan PP Nomor 40/2025 sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menggeser dominasi sistem energi dari energi fosil menuju energi bersih melalui instrumen kebijakan yang tepat sasaran.
Analis kebijakan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bonti Wiradinata saat diskusi Ikatan Wartawan Ekonomi Bisnis (IWEB) di Bandung, Selasa (20/1/2026). (Sumber: Dok IWEB)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 18:37 WIB

Antara Warga, Amanah, dan Ketenangan

Sebuah potret tentang tokoh yang menjadi pusat diskusi warga dan organisasi lokal.
Firman adalah putra asli Bandung yang tumbuh di Kiara Condong, sebuah lingkungan yang menurutnya menjadi “sekolah kehidupan” pertama. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 17:35 WIB

Susahnya Memberantas Parkir Liar yang Merajalela di Kota Bandung

Di Kota Bandung, parkir liar sangat mudah ditemukan di berbagai macam tempat.
Potret juru parkir liar di salah satu titik Kota Bandung (04/12/25) (Foto: Salsafira Farelya)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 17:00 WIB

Belajar dari Artis, Seni Mengelola Circle Pertemanan Menjadi Aset Masa Depan

Nggak cuma lucu-lucuan, Prediksi dan Bedain jadi bukti kalau tongkrongan bisa menghasilkan cuan.
Prediksi dan Bedain. (Instagram/Prediksi)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 16:17 WIB

Efisiensi Fiskal dan Era Pariwisata Virtual

Efisiensi fiskal menuntut inovasi pemerintah. Bandung perlu cara baru untuk tetap bisa meningkatkan sumber PAD melalui promosi wisata dengan jangkauan luas, tanpa membebani anggaran.
Gunung Putri Lembang, Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Dwinanda Nurhanif Mujito)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 16:00 WIB

Antara Janji Meritokrasi atau Realitas Politik Koalisi: Pembentukan Kabinet Merah Putih

Mengapa idealisme meritokrasi Prabowo luntur demi mengakomodasi kepentingan koalisi, melahirkan 'Kabinet Gemuk' yang lebih mengutamakan stabilitas politik daripada kompetensi ahli.
Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 15:00 WIB

Ini Sosok John Herdman Pelatih Baru Timnas: Adakah Pemain Persib yang Dipanggil?

John Herdman akan didampingi Cesar Meylan, yang akan bertugas sebagai pelatih fisik Tim Garuda.
John Herdman, lahir 19 Juli 1975, mulai melatih sepak bola pada usia muda di Inggris, saat ia masih menjadi mahasiswa dan dosen universitas paruh waktu di Northumbria University. (Sumber: Kemenpora)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 12:21 WIB

Merawat Imajinasi

Aktivitas mendongeng (membacakan) cerita bukan semata soal hiburan, melainkan ikhtiar bersama dalam menanamkan benih pengetahuan, menumbuhkan rasa ingin tahu, sekaligus mengikat cinta.
Seseorang sedang asyik membaca. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 11:25 WIB

CSR di Bandung: Dari Kegiatan Simbolik Menuju Dampak Sosial Nyata

CSR di Bandung sering dipandang hanya sebagai agenda formal yang belum sepenuhnya menangani kebutuhan sosial secara mendalam.
Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Aditya Enggar Perdana)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 10:03 WIB

Nestapa Gaza, Akankah Dunia Islam Bisa Baik-Baik Saja?

Warga Gaza masih berduka, di tengah hujan musim dingin dan camp darurat.
Krisis Gaza masih berlanjut, semakin kritis di tengah cuaca dingin dan hujan yang semakin intens. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanul Haque Z)
Beranda 20 Jan 2026, 08:33 WIB

Tidak Dipilah Pasti Tidak Diangkut: Gaya Hidup Kampung Takakura dalam Mengatasi Krisis Sampah Bandung

Selama hidup, manusia pasti memproduksi sampah. Sampai kapan pun itu tidak akan hilang. Karena itu kita harus berteman dengan sampah dengan menjadikannya sesuatu yang bernilai.
Hasil dari pengolahan sampah organik salah satunya dijadikan eco enzyme yang kaya enzim ramah lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Jelajah 19 Jan 2026, 20:24 WIB

Sejarah Universitas Islam Bandung, Kampus Biru di Tamansari

Unisba lahir dari kegelisahan tokoh Islam Jawa Barat tentang pendidikan iman dan ilmu hingga tumbuh di Tamansari Bandung.
Kampus Unisba di tamansari. (Sumber: unisba.ac.id)
Ayo Netizen 19 Jan 2026, 18:26 WIB

Walau Lebih Mahal, Ada Alasan Gen-Z Lebih Suka Bus AKAP Fasilitas Lengkap

Ada nih Bus AKAP Luxury yang bisa dilirik oleh kalangan Anak Muda di Bandung cuy
Interior dari Cititrans Super Executive Busline 28S (CTB-102) saat malam hari pada 30 Oktober 2025. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Dean 'Izzan Rahmani)
Ayo Biz 19 Jan 2026, 18:21 WIB

Kontroversi Susu UHT dalam Program Makan Bergizi Gratis Menguji Kualitas Gizi Anak Sekolah

Kontroversi susu UHT dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memantik perdebatan publik.
Ilustrasi. Susu adalah simbol asupan protein, kalsium, dan vitamin yang esensial bagi pertumbuhan ana. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 19 Jan 2026, 17:51 WIB

Edukasi tentang Etika Komunikasi Digital dan Cyberbullying

Percepatan teknologi perlu diimbangi dengan etika komunikasi digital, penyebaran informasi yang bertanggung jawab hingga privasi data.
Pengabdian Kepada Masyarakat berupa edukasi literasi digital bagi siswa SMPN 1 Dayeuhkolot. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 19 Jan 2026, 16:45 WIB

Jalan Asia Afrika yang Cantik Itu Tercoreng oleh Macet

Kemacetan parah di jantung Kota Bandung, mulai dari Alun-Alun hingga kawasan Jalan Asia Afrika, kini sudah menjadi pemandangan yang sangat menjemukan.
Pengendara sepeda motor yang mengalami kemacetan di jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (20/12/2025). (Foto: Randa)