Saat asyik membaca referensi tentang tradisi ngabuburit di Bandung, tiba-tiba terdengar suara kecil memanggil dari belakang.“Bah, simpan dulu bukunya. Mau main ke sawah?”
Kakang, anak ketiga (4 tahun), berdiri dengan wajah penuh harap. Tangannya sudah siap menarik, seolah-olah waktu tak boleh terbuang sia-sia.
Tanpa basa basi, ditutup buku Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe) karya Haryoto Kunto dan mengangguk pelan. “Hayu, angge kupluk urang jalan-jalan.”
Wajahnya langsung sumringah. “Hore! Bisa nyari ikan, belut, main layangan ya, Bah!”

Ngabuburit? Boleh Aja, Asal ...
Ramadan merupakan bulan suci umat Muslim untuk menjalankan ibadah puasa selama kurang lebih sebulan. Identik dengan aktivitas keagamaan, bulan suci ini lekat dengan sejumlah tradisi budaya masyarakat yang salah satunya terkait dengan kegiatan berbuka puasa.
Ngabuburit merupakan salah satu ragam tradisi yang sangat dinantikan masyarakat pada sore hari jelang berbuka. Tradisi khas bulan puasa saat ini menjadi budaya yang jamak diketahui dan dilakukan masyarakat secara luas. Memang, ibadah berpuasa hanya dijalankan oleh umat Muslim, tetapi kebiasaan ngabuburit menunggu waktu berbuka puasa itu kini diikuti masyarakat lainnya. (Kompas, 12 Maret 2024)
Kata ngabuburit, sebenarnya sih, berasal dari bahasa Sunda. Burit itu waktu sore menjelang malam. Artinya, ngelakuin aktivitas di sore hari dengan tujuan menunggu buka puasa (azan magrib).
Ngabuburit merupakan tradisi khas bulan Ramadan. Berasal dari bahasa Sunda dan kini telah populer secara nasional, bahkan masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Secara sederhana, ngabuburit berarti menunggu azan Magrib menjelang berbuka puasa.
Tradisi ini bukan lagi milik Jawa Barat semata dan telah menjadi bagian dari budaya Ramadan di berbagai daerah di Indonesia. Banyak orang melakukan ngabuburit untuk mengusir bosan dan penat menanti waktu berbuka. Aktivitasnya beragam, tergantung zaman dan lingkungan.
Kebiasaan ngabuburit ini nggak mengenal usia. Mulai anak-anak, orang dewasa sampai kakek-kakek dan nenek-nenek, suka ngabuburit. Yang beda, pilihan aktivitasnya doang. Kalo anak-anak, biasanya main di dekat rumah, tanah lapang, atau main PS (Play Station). Orang tua lebih memilih ngobrol sama tetangga, sedangkan kelompok seusia kamu banyak yang ngabuburit dengan nongkrong di mal atau menyalurkan hobi.
Ngabuburit dengan aktivitas seperti itu emang nggak dilarang. Tapi, sebenarnya banyak aktivitas yang lebih bermanfaat yang bisa kamu lakuin di saat ngabuburit. Misalnya, nonton film bareng sambil mendiskusikannya atau ngadain diskusi kelompok dengan tema tertentu (wawasan Islam, kandungan, dan keajaiban Al-Quran, fikih remaja), membedah buku baru, komunitas baca puisi, English Club, dan lain-lain.
Dulu, ketika masih kecil dan gawai belum “booming” seperti sekarang, ngabuburit diisi dengan mengaji selepas salat Asar, lalu bermain bersama teman-teman: sepak bola, rerebonan, galah asin, ucing-ucingan, hingga nyeungeut lodong. Suasana kampung riuh oleh tawa dan teriakan anak-anak.

Bukan Sekadar Rutinitas Tahunan
Kini, setelah era gawai mendominasi, sebagian orang menghabiskan waktu ngabuburit dengan berselancar di dunia maya. Meski demikian, masih ada yang memilih tadarus Alquran, membaca buku, menulis, atau membantu orang tua di dapur.
Menjelang Magrib, jalanan mulai ramai. Para pekerja pulang kantor, pedagang takjil membuka lapak, pembeli berburu hidangan berbuka, remaja mengendarai sepeda motor, dan media menayangkan program khusus Ramadan.
Jika ditelaah lebih dalam, ngabuburit tidak sekadar rutinitas tahunan dan bisa kita pahami dari berbagai sudut pandang.
Pertama, dari sisi religiusitas. Ngabuburit yang diisi dengan tadarus, zikir, dan doa tentu sangat bermanfaat. Tentunya bernilai ibadah dengan pahala berlipat, aktivitas ini dapat menenangkan hati dan menjadikan waktu lebih bermakna.
Kedua, dari sisi tradisi. Di kampung-kampung, kaulinan masih dimainkan anak-anak. Ibu-ibu menyiapkan hidangan berbuka, orang tua bercengkerama, dan suasana kebersamaan terasa hangat. Tradisi ini menjadi ruang pewarisan nilai lintas generasi.
Ketiga, dari sisi ekonomi. Ngabuburit menggerakkan roda ekonomi rakyat. Pedagang takjil bermunculan, bahkan banyak pedagang musiman yang hadir khusus selama Ramadan. Di sana terjadi transaksi yang nilainya tidak kecil. Uang berputar dalam jumlah besar, membuka peluang kewirausahaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Keempat, dari sisi sosial. Interaksi sosial menguat antara pedagang dan pembeli, orang tua dan anak, mulai dari tetangga, hingga komunitas di ruang-ruang publik. Ngabuburit dilakukan secara personal maupun kolektif, di masjid, lapangan, pusat perbelanjaan, hingga ruang digital.
Tidak jarang pula media menggelar acara khusus ngabuburit yang disponsori berbagai produk. Di titik ini, muncul pertanyaan tentang komersialisasi Ramadan. Ada dimensi bisnis yang tak bisa diabaikan. Namun di sisi lain, aktivitas ini menjadi bagian dari dinamika sosial-ekonomi masyarakat modern.
Bila sebagian orang mengisi ngabuburit dengan kegiatan sosial, seperti membagikan takjil gratis. Tindakan ini sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah Saw. bersabda bahwa siapa yang memberi makanan kepada orang yang berbuka puasa akan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahalanya.
Namun, tidak semua praktik ngabuburit bernilai positif. Ada pula aktivitas yang perlu dihindari, seperti balapan liar yang membahayakan diri dan orang lain. Ada pula yang mengisinya dengan aktivitas yang justru berpotensi merusak nilai puasa.
Meski dalam hadis disebutkan bahwa setan-setan dibelenggu pada bulan Ramadan, ini tidak berarti manusia terbebas dari godaan. Justru Ramadan adalah momentum melatih pengendalian diri dan menahan hawa nafsu.
Dengan demikian, ngabuburit bisa menjadi sarana kebaikan atau sebaliknya, tergantung bagaimana kita mengisinya. (Ayi Yunus R,2006 :76 dan Idris Apandi,2018:7-9)

5 Tips Ngabuburit Berkah yang Aktif dan Produktif
Bulan Ramadan selalu dinanti umat Muslim di seluruh dunia. Pasalnya menjadi bulan latihan kesabaran, ladang pahala yang terbuka lebar. Untuk di Indonesia, salah satu tradisi yang identik dengan Ramadan adalah ngabuburit, aktivitas menunggu waktu berbuka puasa.
Tak jarang, ngabuburit hanya diisi dengan jalan-jalan santai, war (berburu) takjil. Padahal, waktu menjelang Magrib termasuk momen yang mustajab untuk berdoa dan memperbanyak amal. Agar tidak terlewat begitu saja dan bermanfaat, berikut lima ide ngabuburit yang aktif, produktif dan penuh berkah.
1. Tadarus Al-Qur’an dan Memahami Maknanya
Ramadan dikenal sebagai Syahrul Quran, bulan diturunkannya Alquran. Mengisi waktu dengan tadarus tentu menjadi pilihan utama. Tak hanya mengejar target khatam, cobalah membaca terjemahan (tafsir) ringkasnya. Memahami pesan di balik setiap ayat akan menghadirkan ketenangan batin sekaligus menjadi bahan refleksi diri agar semakin dekat kepada Allah SWT.
2. Mengikuti Kajian, Kelas Edukasi Online
Di era digital, belajar agama semakin mudah. Banyak masjid, komunitas, hingga lembaga syariah yang menggelar kajian daring dengan tema beragam mulai dari fikih puasa, manajemen waktu Ramadan, hingga literasi keuangan syariah. Mengikuti kajian menjelang berbuka bukan hanya menambah wawasan, tetapi menjaga semangat spiritual tetap menyala hingga akhir Ramadan.
3. Menulis Jurnal Refleksi Ramadan
Ngabuburit bisa menjadi momen kontemplatif. Luangkan waktu sejenak untuk menulis, artikel, karya iliah dan jurnal harian Ramadan. Catat capaian ibadah hari ini, yang patut disyukuri, dan sertakan target kebaikan untuk esok hari. Kebiasaan ini membantu kita lebih sadar terhadap perkembangan diri dan melatih kejujuran dalam mengevaluasi kondisi spiritual.
4. Membaca Buku, Artikel Bermanfaat
Jika ingin sejenak menjauh dari gawai, membaca buku fisik bisa menjadi pilihan yang menenangkan. Pilih bacaan ringan tapi berbobot, seperti sirah nabawiyah, kisah inspiratif tokoh Muslim. Bisa ditambahkan dengan membaca artikel tentang kesehatan, kebugaran dan keuangan syariah. Cukup meluangkan 20–30 menit membaca sebelum berbuka sudah cukup untuk menjaga pikiran tetap aktif dalam suasana yang tenang.
5. Menyiapkan Sedekah dan Berbagi Takjil
Mengajak keluarga, sahabat, kawan menyiapkan paket takjil sederhana untuk dibagikan kepada yang membutuhkan bisa menjadi aktivitas penuh makna. Dengan melakukan aktivitas ini diharapkan dapat menumbuhkan empati dan kepedulian sosial, memberi makan orang yang berpuasa memiliki pahala besar, setara dengan orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. (https://baznas.go.id)
Baca Juga: Mudik kepada 'Basa Lemes'
Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib, tetapi menjadi kesempatan emas (terbaik) untuk memperbanyak amal, perbuatan dan meningkatkan kualitas diri.
Dengan memilih aktivitas yang produktif, setiap menit menjelang Magrib dapat menjadi investasi berharga untuk mengisi kehidupan dunia dan akhirat. Mari jadikan Ramadan tahun ini lebih bermakna dan mendapatkan berkah. (*)
