Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

6 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Saat asyik membaca referensi tentang tradisi ngabuburit di Bandung, tiba-tiba terdengar suara kecil memanggil dari belakang.“Bah, simpan dulu bukunya. Mau main ke sawah?”

Kakang, anak ketiga (4 tahun), berdiri dengan wajah penuh harap. Tangannya sudah siap menarik, seolah-olah waktu tak boleh terbuang sia-sia.

Tanpa basa basi, ditutup buku Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe) karya Haryoto Kunto dan  mengangguk pelan. “Hayu, angge kupluk urang jalan-jalan.”

Wajahnya langsung sumringah. “Hore! Bisa nyari ikan, belut, main layangan ya, Bah!”

Asyiknya ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Asyiknya ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ngabuburit? Boleh Aja, Asal ...

Ramadan merupakan bulan suci umat Muslim untuk menjalankan ibadah puasa selama kurang lebih sebulan. Identik dengan aktivitas keagamaan, bulan suci ini lekat dengan sejumlah tradisi budaya masyarakat yang salah satunya terkait dengan kegiatan berbuka puasa.

Ngabuburit merupakan salah satu ragam tradisi yang sangat dinantikan masyarakat pada sore hari jelang berbuka. Tradisi khas bulan puasa saat ini menjadi budaya yang jamak diketahui dan dilakukan masyarakat secara luas. Memang, ibadah berpuasa hanya dijalankan oleh umat Muslim, tetapi kebiasaan ngabuburit menunggu waktu berbuka puasa itu kini diikuti masyarakat lainnya. (Kompas, 12 Maret 2024)

Kata ngabuburit, sebenarnya sih, berasal dari bahasa Sunda. Burit itu waktu sore menjelang malam. Artinya, ngelakuin aktivitas di sore hari dengan tujuan menunggu buka puasa (azan magrib).

Ngabuburit merupakan tradisi khas bulan Ramadan. Berasal dari bahasa Sunda dan kini telah populer secara nasional, bahkan masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Secara sederhana, ngabuburit berarti menunggu azan Magrib menjelang berbuka puasa.

Tradisi ini bukan lagi milik Jawa Barat semata dan telah menjadi bagian dari budaya Ramadan di berbagai daerah di Indonesia. Banyak orang melakukan ngabuburit untuk mengusir bosan dan penat menanti waktu berbuka. Aktivitasnya beragam, tergantung zaman dan lingkungan.

Kebiasaan ngabuburit ini nggak mengenal usia. Mulai anak-anak, orang dewasa sampai kakek-kakek dan nenek-nenek, suka ngabuburit. Yang beda, pilihan aktivitasnya doang. Kalo anak-anak, biasanya main di dekat rumah, tanah lapang, atau main PS (Play Station). Orang tua lebih memilih ngobrol sama tetangga, sedangkan kelompok seusia kamu banyak yang ngabuburit dengan nongkrong di mal atau menyalurkan hobi.

Ngabuburit dengan aktivitas seperti itu emang nggak dilarang. Tapi, sebenarnya banyak aktivitas yang lebih bermanfaat yang bisa kamu lakuin di saat ngabuburit. Misalnya, nonton film bareng sambil mendiskusikannya atau ngadain diskusi kelompok dengan tema tertentu (wawasan Islam, kandungan, dan keajaiban Al-Quran, fikih remaja), membedah buku baru, komunitas baca puisi, English Club, dan lain-lain.

Dulu, ketika masih kecil dan gawai belum “booming” seperti sekarang, ngabuburit diisi dengan mengaji selepas salat Asar, lalu bermain bersama teman-teman: sepak bola, rerebonan, galah asin, ucing-ucingan, hingga nyeungeut lodong. Suasana kampung riuh oleh tawa dan teriakan anak-anak.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bukan Sekadar Rutinitas Tahunan

Kini, setelah era gawai mendominasi, sebagian orang menghabiskan waktu ngabuburit dengan berselancar di dunia maya. Meski demikian, masih ada yang memilih tadarus Alquran, membaca buku, menulis, atau membantu orang tua di dapur.

Menjelang Magrib, jalanan mulai ramai. Para pekerja pulang kantor, pedagang takjil membuka lapak, pembeli berburu hidangan berbuka, remaja mengendarai sepeda motor, dan media menayangkan program khusus Ramadan.

Jika ditelaah lebih dalam, ngabuburit tidak sekadar rutinitas tahunan dan bisa kita pahami dari berbagai sudut pandang.

Pertama, dari sisi religiusitas. Ngabuburit yang diisi dengan tadarus, zikir, dan doa tentu sangat bermanfaat. Tentunya bernilai ibadah dengan pahala berlipat, aktivitas ini dapat menenangkan hati dan menjadikan waktu lebih bermakna.

Kedua, dari sisi tradisi. Di kampung-kampung, kaulinan masih dimainkan anak-anak. Ibu-ibu menyiapkan hidangan berbuka, orang tua bercengkerama, dan suasana kebersamaan terasa hangat. Tradisi ini menjadi ruang pewarisan nilai lintas generasi.

Ketiga, dari sisi ekonomi. Ngabuburit menggerakkan roda ekonomi rakyat. Pedagang takjil bermunculan, bahkan banyak pedagang musiman yang hadir khusus selama Ramadan. Di sana terjadi transaksi yang nilainya tidak kecil. Uang berputar dalam jumlah besar, membuka peluang kewirausahaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Keempat, dari sisi sosial. Interaksi sosial menguat antara pedagang dan pembeli, orang tua dan anak, mulai dari tetangga, hingga komunitas di ruang-ruang publik. Ngabuburit dilakukan secara personal maupun kolektif, di masjid, lapangan, pusat perbelanjaan, hingga ruang digital.

Tidak jarang pula media menggelar acara khusus ngabuburit yang disponsori berbagai produk. Di titik ini, muncul pertanyaan tentang komersialisasi Ramadan. Ada dimensi bisnis yang tak bisa diabaikan. Namun di sisi lain, aktivitas ini menjadi bagian dari dinamika sosial-ekonomi masyarakat modern.

Bila sebagian orang mengisi ngabuburit dengan kegiatan sosial, seperti membagikan takjil gratis. Tindakan ini sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah Saw. bersabda bahwa siapa yang memberi makanan kepada orang yang berbuka puasa akan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahalanya.

Namun, tidak semua praktik ngabuburit bernilai positif. Ada pula aktivitas yang perlu dihindari, seperti balapan liar yang membahayakan diri dan orang lain. Ada pula yang mengisinya dengan aktivitas yang justru berpotensi merusak nilai puasa.

Meski dalam hadis disebutkan bahwa setan-setan dibelenggu pada bulan Ramadan, ini tidak berarti manusia terbebas dari godaan. Justru Ramadan adalah momentum melatih pengendalian diri dan menahan hawa nafsu.

Dengan demikian, ngabuburit bisa menjadi sarana kebaikan atau sebaliknya, tergantung bagaimana kita mengisinya. (Ayi Yunus R,2006 :76 dan Idris Apandi,2018:7-9)

Sungguh sahdunya ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

5 Tips Ngabuburit Berkah yang Aktif dan Produktif

Bulan Ramadan selalu dinanti umat Muslim di seluruh dunia. Pasalnya menjadi bulan latihan kesabaran, ladang pahala yang terbuka lebar. Untuk di Indonesia, salah satu tradisi yang identik dengan Ramadan adalah ngabuburit, aktivitas menunggu waktu berbuka puasa.

Tak jarang, ngabuburit hanya diisi dengan jalan-jalan santai, war (berburu) takjil. Padahal, waktu menjelang Magrib termasuk momen yang mustajab untuk berdoa dan memperbanyak amal. Agar tidak terlewat begitu saja dan bermanfaat, berikut lima ide ngabuburit yang aktif, produktif dan penuh berkah.

1. Tadarus Al-Qur’an dan Memahami Maknanya

Ramadan dikenal sebagai Syahrul Quran, bulan diturunkannya Alquran. Mengisi waktu dengan tadarus tentu menjadi pilihan utama. Tak hanya mengejar target khatam, cobalah membaca terjemahan (tafsir) ringkasnya. Memahami pesan di balik setiap ayat akan menghadirkan ketenangan batin sekaligus menjadi bahan refleksi diri agar semakin dekat kepada Allah SWT.

2. Mengikuti Kajian, Kelas Edukasi Online

Di era digital, belajar agama semakin mudah. Banyak masjid, komunitas, hingga lembaga syariah yang menggelar kajian daring dengan tema beragam mulai dari fikih puasa, manajemen waktu Ramadan, hingga literasi keuangan syariah. Mengikuti kajian menjelang berbuka bukan hanya menambah wawasan, tetapi menjaga semangat spiritual tetap menyala hingga akhir Ramadan.

3. Menulis Jurnal Refleksi Ramadan

Ngabuburit bisa menjadi momen kontemplatif. Luangkan waktu sejenak untuk menulis, artikel, karya iliah dan jurnal harian Ramadan. Catat capaian ibadah hari ini, yang patut disyukuri, dan sertakan target kebaikan untuk esok hari. Kebiasaan ini membantu kita lebih sadar terhadap perkembangan diri dan melatih kejujuran dalam mengevaluasi kondisi spiritual.

4. Membaca Buku, Artikel Bermanfaat

Jika ingin sejenak menjauh dari gawai, membaca buku fisik bisa menjadi pilihan yang menenangkan. Pilih bacaan ringan tapi berbobot, seperti sirah nabawiyah, kisah inspiratif tokoh Muslim. Bisa ditambahkan dengan membaca artikel tentang kesehatan, kebugaran dan keuangan syariah. Cukup meluangkan 20–30 menit membaca sebelum berbuka sudah cukup untuk menjaga pikiran tetap aktif dalam suasana yang tenang.

5. Menyiapkan Sedekah dan Berbagi Takjil

Mengajak keluarga, sahabat, kawan menyiapkan paket takjil sederhana untuk dibagikan kepada yang membutuhkan bisa menjadi aktivitas penuh makna. Dengan melakukan aktivitas ini diharapkan dapat menumbuhkan empati dan kepedulian sosial, memberi makan orang yang berpuasa memiliki pahala besar, setara dengan orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. (https://baznas.go.id)

Baca Juga: Mudik kepada 'Basa Lemes'

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib, tetapi menjadi kesempatan emas (terbaik) untuk memperbanyak amal, perbuatan dan meningkatkan kualitas diri.

Dengan memilih aktivitas yang produktif, setiap menit menjelang Magrib dapat menjadi investasi berharga untuk mengisi kehidupan dunia dan akhirat. Mari jadikan Ramadan tahun ini lebih bermakna dan mendapatkan berkah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)