Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

6 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Rabu 04 Mar 2026, 09:38 WIB
Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Saat asyik membaca referensi tentang tradisi ngabuburit di Bandung, tiba-tiba terdengar suara kecil memanggil dari belakang.“Bah, simpan dulu bukunya. Mau main ke sawah?”

Kakang, anak ketiga (4 tahun), berdiri dengan wajah penuh harap. Tangannya sudah siap menarik, seolah-olah waktu tak boleh terbuang sia-sia.

Tanpa basa basi, ditutup buku Ramadhan di Priangan (Tempo Doeloe) karya Haryoto Kunto dan  mengangguk pelan. “Hayu, angge kupluk urang jalan-jalan.”

Wajahnya langsung sumringah. “Hore! Bisa nyari ikan, belut, main layangan ya, Bah!”

Asyiknya ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Asyiknya ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ngabuburit? Boleh Aja, Asal ...

Ramadan merupakan bulan suci umat Muslim untuk menjalankan ibadah puasa selama kurang lebih sebulan. Identik dengan aktivitas keagamaan, bulan suci ini lekat dengan sejumlah tradisi budaya masyarakat yang salah satunya terkait dengan kegiatan berbuka puasa.

Ngabuburit merupakan salah satu ragam tradisi yang sangat dinantikan masyarakat pada sore hari jelang berbuka. Tradisi khas bulan puasa saat ini menjadi budaya yang jamak diketahui dan dilakukan masyarakat secara luas. Memang, ibadah berpuasa hanya dijalankan oleh umat Muslim, tetapi kebiasaan ngabuburit menunggu waktu berbuka puasa itu kini diikuti masyarakat lainnya. (Kompas, 12 Maret 2024)

Kata ngabuburit, sebenarnya sih, berasal dari bahasa Sunda. Burit itu waktu sore menjelang malam. Artinya, ngelakuin aktivitas di sore hari dengan tujuan menunggu buka puasa (azan magrib).

Ngabuburit merupakan tradisi khas bulan Ramadan. Berasal dari bahasa Sunda dan kini telah populer secara nasional, bahkan masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Secara sederhana, ngabuburit berarti menunggu azan Magrib menjelang berbuka puasa.

Tradisi ini bukan lagi milik Jawa Barat semata dan telah menjadi bagian dari budaya Ramadan di berbagai daerah di Indonesia. Banyak orang melakukan ngabuburit untuk mengusir bosan dan penat menanti waktu berbuka. Aktivitasnya beragam, tergantung zaman dan lingkungan.

Kebiasaan ngabuburit ini nggak mengenal usia. Mulai anak-anak, orang dewasa sampai kakek-kakek dan nenek-nenek, suka ngabuburit. Yang beda, pilihan aktivitasnya doang. Kalo anak-anak, biasanya main di dekat rumah, tanah lapang, atau main PS (Play Station). Orang tua lebih memilih ngobrol sama tetangga, sedangkan kelompok seusia kamu banyak yang ngabuburit dengan nongkrong di mal atau menyalurkan hobi.

Ngabuburit dengan aktivitas seperti itu emang nggak dilarang. Tapi, sebenarnya banyak aktivitas yang lebih bermanfaat yang bisa kamu lakuin di saat ngabuburit. Misalnya, nonton film bareng sambil mendiskusikannya atau ngadain diskusi kelompok dengan tema tertentu (wawasan Islam, kandungan, dan keajaiban Al-Quran, fikih remaja), membedah buku baru, komunitas baca puisi, English Club, dan lain-lain.

Dulu, ketika masih kecil dan gawai belum “booming” seperti sekarang, ngabuburit diisi dengan mengaji selepas salat Asar, lalu bermain bersama teman-teman: sepak bola, rerebonan, galah asin, ucing-ucingan, hingga nyeungeut lodong. Suasana kampung riuh oleh tawa dan teriakan anak-anak.

Warga menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) di Masjid Raya Al Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, Kamis 6 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bukan Sekadar Rutinitas Tahunan

Kini, setelah era gawai mendominasi, sebagian orang menghabiskan waktu ngabuburit dengan berselancar di dunia maya. Meski demikian, masih ada yang memilih tadarus Alquran, membaca buku, menulis, atau membantu orang tua di dapur.

Menjelang Magrib, jalanan mulai ramai. Para pekerja pulang kantor, pedagang takjil membuka lapak, pembeli berburu hidangan berbuka, remaja mengendarai sepeda motor, dan media menayangkan program khusus Ramadan.

Jika ditelaah lebih dalam, ngabuburit tidak sekadar rutinitas tahunan dan bisa kita pahami dari berbagai sudut pandang.

Pertama, dari sisi religiusitas. Ngabuburit yang diisi dengan tadarus, zikir, dan doa tentu sangat bermanfaat. Tentunya bernilai ibadah dengan pahala berlipat, aktivitas ini dapat menenangkan hati dan menjadikan waktu lebih bermakna.

Kedua, dari sisi tradisi. Di kampung-kampung, kaulinan masih dimainkan anak-anak. Ibu-ibu menyiapkan hidangan berbuka, orang tua bercengkerama, dan suasana kebersamaan terasa hangat. Tradisi ini menjadi ruang pewarisan nilai lintas generasi.

Ketiga, dari sisi ekonomi. Ngabuburit menggerakkan roda ekonomi rakyat. Pedagang takjil bermunculan, bahkan banyak pedagang musiman yang hadir khusus selama Ramadan. Di sana terjadi transaksi yang nilainya tidak kecil. Uang berputar dalam jumlah besar, membuka peluang kewirausahaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Keempat, dari sisi sosial. Interaksi sosial menguat antara pedagang dan pembeli, orang tua dan anak, mulai dari tetangga, hingga komunitas di ruang-ruang publik. Ngabuburit dilakukan secara personal maupun kolektif, di masjid, lapangan, pusat perbelanjaan, hingga ruang digital.

Tidak jarang pula media menggelar acara khusus ngabuburit yang disponsori berbagai produk. Di titik ini, muncul pertanyaan tentang komersialisasi Ramadan. Ada dimensi bisnis yang tak bisa diabaikan. Namun di sisi lain, aktivitas ini menjadi bagian dari dinamika sosial-ekonomi masyarakat modern.

Bila sebagian orang mengisi ngabuburit dengan kegiatan sosial, seperti membagikan takjil gratis. Tindakan ini sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah Saw. bersabda bahwa siapa yang memberi makanan kepada orang yang berbuka puasa akan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahalanya.

Namun, tidak semua praktik ngabuburit bernilai positif. Ada pula aktivitas yang perlu dihindari, seperti balapan liar yang membahayakan diri dan orang lain. Ada pula yang mengisinya dengan aktivitas yang justru berpotensi merusak nilai puasa.

Meski dalam hadis disebutkan bahwa setan-setan dibelenggu pada bulan Ramadan, ini tidak berarti manusia terbebas dari godaan. Justru Ramadan adalah momentum melatih pengendalian diri dan menahan hawa nafsu.

Dengan demikian, ngabuburit bisa menjadi sarana kebaikan atau sebaliknya, tergantung bagaimana kita mengisinya. (Ayi Yunus R,2006 :76 dan Idris Apandi,2018:7-9)

Sungguh sahdunya ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

5 Tips Ngabuburit Berkah yang Aktif dan Produktif

Bulan Ramadan selalu dinanti umat Muslim di seluruh dunia. Pasalnya menjadi bulan latihan kesabaran, ladang pahala yang terbuka lebar. Untuk di Indonesia, salah satu tradisi yang identik dengan Ramadan adalah ngabuburit, aktivitas menunggu waktu berbuka puasa.

Tak jarang, ngabuburit hanya diisi dengan jalan-jalan santai, war (berburu) takjil. Padahal, waktu menjelang Magrib termasuk momen yang mustajab untuk berdoa dan memperbanyak amal. Agar tidak terlewat begitu saja dan bermanfaat, berikut lima ide ngabuburit yang aktif, produktif dan penuh berkah.

1. Tadarus Al-Qur’an dan Memahami Maknanya

Ramadan dikenal sebagai Syahrul Quran, bulan diturunkannya Alquran. Mengisi waktu dengan tadarus tentu menjadi pilihan utama. Tak hanya mengejar target khatam, cobalah membaca terjemahan (tafsir) ringkasnya. Memahami pesan di balik setiap ayat akan menghadirkan ketenangan batin sekaligus menjadi bahan refleksi diri agar semakin dekat kepada Allah SWT.

2. Mengikuti Kajian, Kelas Edukasi Online

Di era digital, belajar agama semakin mudah. Banyak masjid, komunitas, hingga lembaga syariah yang menggelar kajian daring dengan tema beragam mulai dari fikih puasa, manajemen waktu Ramadan, hingga literasi keuangan syariah. Mengikuti kajian menjelang berbuka bukan hanya menambah wawasan, tetapi menjaga semangat spiritual tetap menyala hingga akhir Ramadan.

3. Menulis Jurnal Refleksi Ramadan

Ngabuburit bisa menjadi momen kontemplatif. Luangkan waktu sejenak untuk menulis, artikel, karya iliah dan jurnal harian Ramadan. Catat capaian ibadah hari ini, yang patut disyukuri, dan sertakan target kebaikan untuk esok hari. Kebiasaan ini membantu kita lebih sadar terhadap perkembangan diri dan melatih kejujuran dalam mengevaluasi kondisi spiritual.

4. Membaca Buku, Artikel Bermanfaat

Jika ingin sejenak menjauh dari gawai, membaca buku fisik bisa menjadi pilihan yang menenangkan. Pilih bacaan ringan tapi berbobot, seperti sirah nabawiyah, kisah inspiratif tokoh Muslim. Bisa ditambahkan dengan membaca artikel tentang kesehatan, kebugaran dan keuangan syariah. Cukup meluangkan 20–30 menit membaca sebelum berbuka sudah cukup untuk menjaga pikiran tetap aktif dalam suasana yang tenang.

5. Menyiapkan Sedekah dan Berbagi Takjil

Mengajak keluarga, sahabat, kawan menyiapkan paket takjil sederhana untuk dibagikan kepada yang membutuhkan bisa menjadi aktivitas penuh makna. Dengan melakukan aktivitas ini diharapkan dapat menumbuhkan empati dan kepedulian sosial, memberi makan orang yang berpuasa memiliki pahala besar, setara dengan orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun. (https://baznas.go.id)

Baca Juga: Mudik kepada 'Basa Lemes'

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib, tetapi menjadi kesempatan emas (terbaik) untuk memperbanyak amal, perbuatan dan meningkatkan kualitas diri.

Dengan memilih aktivitas yang produktif, setiap menit menjelang Magrib dapat menjadi investasi berharga untuk mengisi kehidupan dunia dan akhirat. Mari jadikan Ramadan tahun ini lebih bermakna dan mendapatkan berkah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Bandung 10 Jun 2026, 21:21

Menjembatani Komunitas dan Profesional Urban, Strategi Respiro Definisikan Ulang Fashion Berkendara Tropis

Respiro menangkap peluang emas ini dengan merumuskan ulang konsep estetika visual produk agar selaras dengan kebutuhan gaya hidup kaum urban yang serbacepat.

Koleksi perlengkapan berkendara atau riding apparel dari Respiro Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 20:24

Tugu Koperasi Tasikmalaya, Bukti Nyata Lahirnya Semangat Koperasi Indonesia

Artikel ini membahas Tugu Koperasi Tasikmalaya sebagai simbol sejarah lahir dan berkembangnya semangat koperasi di Indonesia.

Depan Tugu koperasi Tasikmalaya saat ini (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nabila imania)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 18:47

Ulos: Kain yang Menjadi Simbol dari Masyarakat Batak

Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan.

Kain Ulos Ragi Hidup (Sumber: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/19484/1/2010-Booklet-Mengenal%20Ulos.pdf)
Bandung 10 Jun 2026, 17:55

Mengenal Kanemura, Brand Kuliner Jepang yang Mengusung Sistem Manajemen Terpusat dalam Bisnis Waralaba

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise).

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise). (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 10 Jun 2026, 17:29

Denyut Digitalisasi Perbankan yang Menghidupi Perajin Sepatu Kulit Cibaduyut

Sejak 2018, Mochamad Indra Yusuf Wahyudin aktif mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik Koku Footwear (produsen sepatu kulit) di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 10 Jun 2026, 16:50

Ibun Bajra, Fenomena Alam Embun Membeku di Kertasari Bandung

Fenomena ibun bajra kembali muncul di Kertasari. Embun membeku jadi lapisan es dan berdampak pada pertanian.

Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 16:48

Menelusuri Jejak Historis Surabi, Oleh-Oleh Khas Jawa Barat

Surabi adalah salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat.

Surabi Cihapit Bandung. (Sumber: Instagram | Foto: Surabi Cihapit)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 15:31

Menyusuri Bukit Plangon: Saat Sejarah dan Kepercayaan Menjaga Alam

Bukit Plangon menjadi contoh bagaimana nilai spiritual dan kearifan lokal berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 14:48

Kesadaran Masyarakat terhadap Penggunaan Kain Wol dengan Fashion Old Money

Penerapan gaya old money dan pemakaian kain wol menjadi strategi yang sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan fashion cepat di Indonesia.

Ilustrasi kain wol. (Sumber: Pexels | Foto: Vlada Karpovich)
Wisata & Kuliner 10 Jun 2026, 14:33

Jelajah TMII, Panduan Lengkap Wisata, Harga Tiket, dan Wahana Terbaru

Panduan lengkap berkunjung ke TMII Jakarta, mulai dari harga tiket, museum, anjungan daerah, Jagat Satwa Nusantara, hingga cara menjelajahi kawasan seluas 150 hektare.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)