Ada aturan tidak tertulis mengatakan kata-kata orang terkenal, orang yang sudah sangat tua, atau orang Yunani kuno selalu dianggap nasehat yang baik. Padahal itu kesalahan yang besar. Kalimat lucu itu dinyatakan Bo Bennett, seorang motivator di Amerika.
Hari kamis (21 Mei 2026), saat saya menulis artikel ini, persis pertama kalinya juga saya mendapatkan buku resmi bertajuk Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda berformat pdf. Dicantumkan di situ penulisnya empat orang: Prof. Dr. Nina Herlina M.S., Dr. Undang Ahmad Darsa, M. Hum, Ade Makmur Kartawinata, Ph.D., dan Dr. Hernadi Affandi, SH, LL.M. serta diterbitkan Nuansa Cendikia Bandung: 2026. Dan untuk itu segeralah saya membacanya. Tentu saja sebagaimana akan diuraikan nanti, terdapat banyak catatan kritis. Singkat saja, setelah membacanya, sepertinya justru semakin memperkuat kenyataan adanya skandal dalam proses penulisan Hari Lahir Tata Sunda tersebut. Tak ada keraguan!
Jelas ditulis dalam buku Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda, “Secara konseptual, hari jadi sebuah wilayah administratif, harus ditentukan berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh dari sumber sejarah primer, yang otentisitas dan kredibilitasnya tidak diragukan” (Herlina, 2026: 13-14). Hmm, kata-kata semacam itu tampak anggun dan ilmiah, tetapi mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya.
Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda, karena nyatanya artikel saya yang terkesan vulgar dan bombastis kemarin itu, pada media ini juga: Hari Lahir Tatar Sunda 18 Mei 669: Sulit Untuk Disimpulkan Karena ‘Omong Kosong’!, meski sudah dipaparkan dengan cara yang (mudah-mudahan) mudah ditangkap dan ‘sangar’, hingga tulisan ini rilis tidak juga ditanggapi secara akademis. Riuh dan ramai memang di media sosial tetapi adem ayem tanggapan dari pihak-pihak terkait. Dikatakan pada Kata Pengantar, “Tentu saja buku kajian historis dengan pendekatan multidimensional ini, masih banyak kekurangan. Kami akan sangat berterima kasih apabila ada masukan dari pembaca” (Herlina, 2026: 6). Itu diucapkan Prof. Dr. Nina Herlina. Sekarang saya menagih janji itu. Saya persilakan Prof. Dr. Nina Herlina dan tiga orang koleganya penulis buku Hari Lahir Tatar Sunda untuk menanggapi secara akademis, mereka punya hak jawab untuk menanggapi kritik ini.
Karena mendapatkan banyak data meski tidak baru, cuma mengulang penjelasan, plus ‘referensi-referensi lucu yang perlu mendapat tanggapan’, saya tambahkan saja catatan-catatan di sana sini, yang tidak dimuat atau ditulis pada artikel pertama sebelumnya.
Tulisan ini, mudahnya saja, sesuai judul, melulu kita fokus pada Bab I: Kajian Historis, yakni Bagian B - Tatar Sunda dalam Lintasan Sejarah merujuk bagian 3. Lahirnya Kerajaan Sunda (pada halaman 24-35), dan halaman 55-56, yang nanti akan diuraikan argumentasinya di bawah.
Kandungan atau isi halaman lainnya hingga halaman terakhir, halaman 140 tidaklah menjadi perhatian kita. Justru apa yang saya maksud “muslihat” di sini, tidak terkait sisa halaman lainnya yang hanyalah semacam bagian sekunder saja, atau sejenis tambahan untuk memberi kesan tebal buku, juga (pabila dibahas) malah menimbulkan kesan mengaburkan fokus utama tadi yang memang bermasalah, dan justru itu masalahnya.
Untuk Bab II Kajian Filosofis dan Antropologis, termasuk Bab III Kajian Hukum, menjadi lebih tidak berguna lagi dan tentu saja sia-sia, karena yang menjadi fokus pembahasan kita tersebut (Hari Lahir Tatar Sunda) tetap saja takhayul.
Novel yang bagus menceritakan kebenaran menyangkut pahlawannya, namun novel yang buruk menceritakan kebenaran menyangkut penulisnya. Itu dikatakan Gilbert Chesterton (penulis Inggris, 1874-1936). Penting mereka, para penulis buku ini, menanggapi karena hak publik untuk tahu kebenaran cerita ini. Buku Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda semacam ini tentu didanai oleh pajak masyarakat Jawa Barat. Di sisi lain, tentu saja orang-orang ini membawa-bawa nama Universitas Padjadjaran (Unpad). Saya, penulis artikel ini juga alumni Unpad, dengan begitu kita berhak tahu, katakanlah semacam pertanggungjawaban ilmiah bagaimana mungkin ‘cara penulisan’ buku seperti ini dianggap ‘ilmiah’.
“Resiko datang dari ketidaktahuan atas apa yang anda kerjakan”, kata Warren Buffett. Tapia apa betul mereka, para penulis buku ini, tidak tahu apa yang mereka kerjakan?
Sepertinya kata-kata baik di atas tepat ditempatkan pada kasus yang saya tulis ini. “Perjalanan ribuan kilometer mesti dimulai dari satu Langkah.” Kata Lao Tzu (filsuf Cina pada abad 6 SM).
Itu betul, sebagaimana cerita terkait awal mula atau asal-usul adanya ‘Hari Lahir Tatar Sunda’ ini.

Disebutkan dalam buku Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda, “Lahirnya Tatar Sunda pada tanggal 9 Suklapasa bulan Jesta tahun 591 Saka, bertepatan dengan tanggal 18 Mei 669 Masehi. Tanggal tersebut merupakan “Penobatan Sang Tarusbawa” sebagai Raja Sunda, dan sekaligus momen pergantian kekuasaan dari Tarumanegara menuju Kerajaan Sunda” (Herlina, 2026: 56).
Dikatakan juga, “Tanggal ini memenuhi aspek historis meskipun hanya tertulis dalam sumber Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara parwa 11 sarga 3, halaman 176. Naskah yang termasuk kelompok Naskah Wangsakerta ini, merupakan naskah salinan yang naskah aslinya belum diketahui. Namun seperti yang sudah dikemukakan di atas, menurut Gilbert J. Garraghan, meskipun sumber ini tergolong sumber sekunder, namun dalam ketiadaan sumber lain, data bisa dianggap benar, hingga ditemukan sumber lain yang tergolong sebagai sumber primer (Garraghan, 1957: 289 etc.)” (Herlina, 2026: 55). Pernyataan aneh ini jelas bertolak belakang dengan pernyataan yang malangnya dinyatakan pada buku yang sama. Ya, dikatakan oleh orang yang sama. Saya ulang sekali lagi, “Secara konseptual, hari jadi sebuah wilayah administratif, harus ditentukan berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh dari sumber sejarah primer, yang otentisitas dan kredibilitasnya tidak diragukan”.
Kalimat singkat pada halaman 55 dan 56 buku Hari Lahir Tatar Sunda ini sudah seperti menjelaskan dengan terang benderang apa yang saya maksud pada judul artikel ini: muslihat! (Secara panjang lebar sudah saya jelaskan apa yang ngawur dari pernyataan di atas pada artikel menyangkut tema yang sama sebelum ini).
Orang berpendidikan dapat dengan mudah diatur, kata Frederick the Great.
Saya coba perjelas atau sederhanakan penjelasannya, karena nyatanya yang terjadi lebih buruk dari apa yang saya uraikan di atas. Buku ini ditulis hingga 140 halaman dengan referensi yang begitu banyak hingga segala macam buku yang tidak berhubungan dan ‘macam-macam peraturan’ dimasukkan. Namun referensi utama, apa yang menjadi fokus, apa yang disebut Hari Lahir Tatar Sunda, justru tanpa referensi!
Kok bisa?

Kita cek referensi yang dipakai, justru sebagian besar malah tidak bersangkut paut dengan judul buku ini. Referensi terpenting yang (seharusnya dan memang harus dipakai) terkait Lahirnya Kerajaan Sunda, malah sama sekali tidak ada, yakni yang terkait Naskah Wangsakerta. Sepertinya tampak disengaja.
Setidaknya saya menemukan 10 referensi yang kira-kira terkait Hari Lahir Tatar Sunda pada buku ini (yang ditulis Atja, Undang A. Darsa, FDK Bosch, I.L.A Brandes, Casparis, Hageman, Pleyte, hingga N.J. Krom), tetapi lagi lagi, sumber rujukan yang dipakai untuk penentuan tanggal 18 Mei 669 itu, sama sekali tidak ditemukan pada referensi buku ini.
Daftar Pustaka atau rujukan, atau referensi adalah elemen amat penting dalam naskah akademik semacam ini, yang teknis penulisannya nampak acak-acakan - untuk proyek seambisius dan seserius ini. Dan sebagaimana bisa diduga, daftar pustaka buku ini begitu mencurigakan.
Sejumlah referensi yang dicantumkan terlihat ganjil, aneh, sungguh sungguh mengherankan dan sama sekali tidak ‘nyambung dengan semua pembahasan dalam kandungan buku ini. Juga terkesan disusun terburu-buru. Katanya edisi revisi. Saya jadi bertanya-tanya, seperti apa isinya kalau tidak direvisi?
Misalnya, apa guna buku Edi S. Ekadjati. Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Jawa Barat (abad 20). Depdikbud Jakarta: 1990, atau buku Clifford Geertz berjudul Negara (Teater), tentang Kerajaan-kerajaan di Bali (abad 19), dicantumkan di sana. Sama sekali tidak ‘nyambung! Itu sih belum seberapa.
Intelektual adalah seseorang yang pikirannya mengawasi dirinya sendiri, kata Albert Camus.
Ini lucu! Pada biodata, Prof. Dr. Nina Herlina mencantumkan Sejarah Tatar Sunda jilid 1 &2 (2003), dan Sejarah Kerajaan Sunda (2016) sebagai buku karya yang dihasilkannya, dan sepertinya judul semacam itu seharusnya akan ‘nyambung dengan kandungan atau apa yang dimaksud dengan judul buku ini dan seharusnya dicantumkan sebagai referensi. Apa lacur, Kita tidak menemukannya pada referensi. Referensi apa yang ditulis di situ? Abrakadabra…Karya Prof. Nina Herlina yang dicantumkan adalah yang seperti ini: Lubis, dkk. 2013. Sejarah Provinsi Jawa Barat Jilid II. Bandung: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat. Buku itu adalah (semacam revisi) Sejarah Tatar Sunda 1&2 (2003) di atas.
Saya terangkan di sini, Sejarah Provinsi Jawa Barat itu adalah buku terkait dengan sejarah modern Tatar Sunda atau Jawa Barat abad ke-20. Buku yang penuh dengan data tidak valid, plus argumentasi lemah itu pada 2004 dikritik habis-habisan oleh Ajip Rosidi dalam artikel bertajuk Membaca Sejarah Sunda Karya Dr. Nina H. Lubis, dkk. dan dimuat pada Jurnal Sundalana – ‘Fatimah In West Java’. Yayasan Pusat Studi Sunda Bandung. Tentu saja buku yang terkait dengan tema Hari Lahir Tatar Sunda adalah Sejarah Tatar Sunda jilid 1, kita tentu bertanya-tanya apa urusannya buku Sejarah Tatar Sunda jilid 2 dengan Hari Jadi Tatar Sunda dan Tarusbawa?

Tetapi kekacauan inti sepenuhnya terkait kata ‘muslihat’ tadi, ya itu tadi, terkait referensinya (yang juga bermasalah), yakni bahwa manuskrip-manuskrip yang termuat pada Naskah Wangsakerta terkait Hari Lahir Tatar Sunda - Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara rupanya - dengan sengaja -tidak dimuat. Saya ulangi dan perjelas, referensi apapun terkait Naskah Wangsakerta, yang menjadi acuan penulisan (apa yang disebut) Hari Lahir Tatar Sunda – dengan sengaja – tidak dimuat!
Pengutipan-pengutipan hebat untuk (apa yang disebut) landasan filosofis dan sosio-antropologis yang wah pada halaman-halaman berikutnya dari empu seperti Ben Anderson, Anthony Giddens, Clifford Geertz, Maurice Habwachs, Henri Lefebvre, Peter L. Berger, Paul Ricoeur atau Victor Turner, sama sekali tidak membuat buku ini menjadi tulisan yang berwibawa. Bagaimana bisa menjadi tulisan yang punya nilai tinggi, pabila yang menjadi ujung tombak pembahasan – TANPA REFERENSI!
Saya simpulkan saja begini, harap dicamkan dengan hati-hati dan pelan-pelan: Hingga kemarin kemarin Prof. Dr. Nina Herlina dalam tulisan-tulisannya (artikel, jurnal, buku) bahkan ucapan di kelas kuliahnya atau dimanapun berbicara terkait Naskah Wangsakerta – selalu dan melulu mengatakan manuskrip-manuskrip tersebut bukanlah sumber sejarah dan tidak dapat dipergunakan sebagai referensi sejarah (tentu saja termasuk untuk klaim Hari Lahir Tatar Sunda ini). Keruan, ujug-ujug beliau membuat klaim Hari lahir Tatar Sunda 18 Mei 669 berdasar Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, yang merupakan manuskrip bagian dari Naskah Wangsakerta yang selama ini disangkal beliau dan ditolak mentah-mentah sebagai sumber sejarah itu tadi pada buku ini. Artinya sumber semacam itu sekarang dipakai, dengan alasan Garraghan ‘membolehkannya’. Nampaknya satu-satunya pembelaan untuk kasus ini adalah nama Garraghan tadi dijadikan tameng untuk semua uraian ahistoris tersebut. Namun cerita berikutnya, malah lebih ngaco’ lagi: tidak satupun referensi terkait Naskah Wangsakerta tercantum atau ditemukan pada Daftar Pustaka. Lupa, alpa, salah menulis, atau disengaja? Apakah ini sungguh karya ilmiah? Saya betul-betul heran, ini buku apaan?

Dengan begitu, saya ingin mengatakan kerusakan ‘apa yang disebut kajian ilmiah’ terkait buku ini sungguh luar biasa.
Saya kutipkan apa yang dikatakan Balthasar Gracian (filsuf, 1601-1658) sebagai renungan atas apa yang terjadi dengan Naskah Akademik Hari Lahir Tatar Sunda ini, “Sebuah kebohongan (memang) sanggup menghancurkan seluruh reputasi dan integritas”.
Sebagai epilog, Mark Twain pernah mengatakan begini: Sesuatu yang klasik adalah buku yang ‘dipuji’ dan tak dibaca orang. Sepertinya itu akan terjadi dengan buku Hari Lahir Tatar Sunda ini. (*)
