Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

9 menit baca
Anton Solihin
Ditulis oleh Anton Solihin diterbitkan
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ada aturan tidak tertulis mengatakan kata-kata orang terkenal, orang yang sudah sangat tua, atau orang Yunani kuno selalu dianggap nasehat yang baik. Padahal itu kesalahan yang besar. Kalimat lucu itu dinyatakan Bo Bennett, seorang motivator di Amerika.

Hari kamis (21 Mei 2026), saat saya menulis artikel ini,  persis pertama kalinya juga saya mendapatkan buku resmi bertajuk Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda berformat pdf. Dicantumkan di situ penulisnya  empat orang: Prof. Dr. Nina Herlina M.S., Dr. Undang Ahmad Darsa, M. Hum, Ade Makmur Kartawinata, Ph.D., dan Dr. Hernadi Affandi, SH, LL.M. serta diterbitkan Nuansa Cendikia Bandung: 2026. Dan untuk itu segeralah saya membacanya. Tentu saja sebagaimana akan diuraikan nanti, terdapat banyak catatan kritis. Singkat saja, setelah membacanya, sepertinya justru semakin memperkuat kenyataan adanya skandal dalam proses penulisan Hari Lahir Tata Sunda tersebut. Tak ada keraguan!

Jelas ditulis dalam buku Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda, “Secara konseptual, hari jadi sebuah wilayah administratif, harus ditentukan berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh dari sumber sejarah primer, yang otentisitas dan kredibilitasnya tidak diragukan” (Herlina, 2026: 13-14). Hmm, kata-kata semacam itu tampak anggun dan ilmiah, tetapi mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya.

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda, karena nyatanya artikel saya yang terkesan vulgar dan bombastis kemarin itu, pada media ini juga: Hari Lahir Tatar Sunda 18 Mei 669: Sulit Untuk Disimpulkan Karena ‘Omong Kosong’!, meski sudah dipaparkan dengan cara yang (mudah-mudahan) mudah ditangkap dan ‘sangar’, hingga tulisan ini rilis tidak juga ditanggapi secara akademis. Riuh dan ramai memang di media sosial tetapi adem ayem tanggapan dari pihak-pihak terkait. Dikatakan pada Kata Pengantar, “Tentu saja buku kajian historis dengan pendekatan  multidimensional ini, masih banyak kekurangan. Kami akan sangat berterima kasih apabila ada masukan dari pembaca” (Herlina, 2026: 6). Itu diucapkan Prof. Dr. Nina Herlina. Sekarang saya menagih janji itu. Saya persilakan Prof. Dr. Nina Herlina dan tiga orang koleganya penulis buku Hari Lahir Tatar Sunda untuk menanggapi secara akademis, mereka punya hak jawab untuk menanggapi kritik ini.

Karena mendapatkan banyak data meski tidak baru, cuma mengulang penjelasan, plus ‘referensi-referensi lucu yang perlu mendapat tanggapan’, saya tambahkan saja catatan-catatan di sana sini, yang tidak dimuat atau ditulis pada artikel pertama sebelumnya.

Tulisan ini, mudahnya saja, sesuai judul, melulu kita fokus pada Bab I: Kajian Historis, yakni Bagian B - Tatar Sunda dalam Lintasan Sejarah merujuk bagian 3. Lahirnya Kerajaan Sunda (pada halaman 24-35), dan halaman 55-56, yang nanti akan diuraikan argumentasinya di bawah. 

Kandungan atau isi halaman lainnya hingga halaman terakhir, halaman 140 tidaklah menjadi perhatian kita. Justru apa yang saya maksud “muslihat” di sini, tidak terkait sisa halaman lainnya yang hanyalah semacam bagian sekunder saja, atau sejenis tambahan untuk memberi kesan tebal buku, juga (pabila dibahas) malah menimbulkan kesan mengaburkan fokus utama tadi yang memang bermasalah, dan justru itu masalahnya.

Untuk Bab II Kajian Filosofis dan Antropologis, termasuk Bab III Kajian Hukum, menjadi lebih tidak berguna lagi dan tentu saja sia-sia, karena yang menjadi fokus pembahasan kita tersebut (Hari Lahir Tatar Sunda)  tetap saja takhayul. 

Novel yang bagus menceritakan kebenaran menyangkut pahlawannya, namun novel yang buruk menceritakan kebenaran menyangkut penulisnya. Itu dikatakan Gilbert Chesterton (penulis Inggris, 1874-1936). Penting mereka, para penulis buku ini, menanggapi karena hak publik untuk tahu kebenaran cerita ini. Buku  Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda semacam ini tentu didanai oleh pajak masyarakat Jawa Barat. Di sisi lain, tentu saja orang-orang ini membawa-bawa nama Universitas Padjadjaran (Unpad). Saya, penulis artikel ini juga alumni Unpad, dengan begitu kita berhak tahu, katakanlah semacam pertanggungjawaban ilmiah bagaimana mungkin ‘cara penulisan’ buku seperti ini dianggap ‘ilmiah’.

“Resiko datang dari ketidaktahuan atas apa yang anda kerjakan”, kata Warren Buffett. Tapia apa betul mereka, para penulis buku ini, tidak tahu apa yang mereka kerjakan?

Sepertinya kata-kata baik di atas tepat ditempatkan pada kasus yang saya tulis ini. “Perjalanan ribuan kilometer mesti dimulai dari satu Langkah.”  Kata Lao Tzu (filsuf Cina pada abad 6 SM).

Itu betul, sebagaimana cerita terkait awal mula atau asal-usul adanya ‘Hari Lahir Tatar Sunda’ ini.

Peneliti sejarah sekaligus dosen Universitas Padjadjaran, Nina Herlina, saat konfrensi pers Hari Tatar Sunda di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (1/5/2026). (Sumber: dpmptsp.jabarprov.go.id)
Peneliti sejarah sekaligus dosen Universitas Padjadjaran, Nina Herlina, saat konfrensi pers Hari Tatar Sunda di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (1/5/2026). (Sumber: dpmptsp.jabarprov.go.id)

Disebutkan dalam buku Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda, “Lahirnya Tatar Sunda pada tanggal 9 Suklapasa bulan Jesta tahun 591 Saka, bertepatan dengan tanggal 18 Mei 669 Masehi. Tanggal tersebut merupakan “Penobatan Sang Tarusbawa” sebagai Raja Sunda, dan sekaligus momen pergantian kekuasaan dari Tarumanegara menuju Kerajaan Sunda” (Herlina, 2026: 56).

Dikatakan juga, “Tanggal ini memenuhi aspek historis meskipun hanya tertulis dalam sumber Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara parwa 11 sarga 3, halaman 176. Naskah yang termasuk kelompok Naskah Wangsakerta ini, merupakan naskah salinan yang naskah aslinya belum diketahui. Namun seperti yang sudah dikemukakan di atas, menurut Gilbert J. Garraghan, meskipun sumber ini tergolong sumber sekunder, namun dalam ketiadaan sumber lain, data bisa dianggap benar, hingga ditemukan sumber lain yang tergolong sebagai sumber primer (Garraghan, 1957: 289 etc.)” (Herlina, 2026: 55). Pernyataan aneh ini jelas bertolak belakang dengan pernyataan yang malangnya dinyatakan pada buku yang sama. Ya, dikatakan oleh orang yang sama. Saya ulang sekali lagi, “Secara konseptual, hari jadi sebuah wilayah administratif, harus ditentukan berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh dari sumber sejarah primer, yang otentisitas dan kredibilitasnya tidak diragukan”.

Kalimat singkat pada halaman 55 dan 56 buku Hari Lahir Tatar Sunda ini sudah seperti menjelaskan dengan terang benderang apa yang saya maksud pada judul artikel ini: muslihat! (Secara panjang lebar sudah saya jelaskan apa yang ngawur dari pernyataan di atas pada artikel menyangkut tema yang sama sebelum ini).

Orang berpendidikan dapat dengan mudah diatur, kata Frederick the Great.

Saya coba perjelas atau sederhanakan penjelasannya, karena nyatanya yang terjadi lebih buruk dari apa yang saya uraikan di atas. Buku ini ditulis hingga 140 halaman dengan referensi yang begitu banyak hingga segala macam buku yang tidak berhubungan dan  ‘macam-macam peraturan’ dimasukkan. Namun referensi utama, apa yang menjadi fokus, apa yang disebut  Hari Lahir Tatar Sunda, justru tanpa referensi!

Kok bisa?

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kita cek referensi yang dipakai, justru sebagian besar malah tidak bersangkut paut dengan judul buku ini. Referensi terpenting yang (seharusnya dan memang harus dipakai) terkait Lahirnya Kerajaan Sunda, malah sama sekali tidak ada, yakni yang terkait Naskah Wangsakerta. Sepertinya tampak disengaja.

Setidaknya saya menemukan 10 referensi yang kira-kira terkait Hari Lahir Tatar Sunda pada buku ini (yang ditulis Atja, Undang A. Darsa, FDK Bosch, I.L.A Brandes, Casparis, Hageman, Pleyte, hingga N.J. Krom), tetapi lagi lagi, sumber rujukan yang dipakai untuk penentuan tanggal 18 Mei 669 itu,  sama sekali tidak ditemukan pada referensi buku ini.

Daftar Pustaka atau rujukan, atau referensi adalah elemen amat penting dalam naskah akademik semacam ini, yang teknis penulisannya nampak acak-acakan - untuk proyek seambisius dan seserius ini. Dan sebagaimana bisa diduga, daftar pustaka buku ini begitu mencurigakan.

Sejumlah referensi yang dicantumkan terlihat ganjil, aneh, sungguh sungguh mengherankan dan sama sekali tidak ‘nyambung dengan semua pembahasan dalam kandungan buku ini. Juga terkesan disusun terburu-buru. Katanya edisi revisi. Saya jadi bertanya-tanya, seperti apa isinya kalau tidak direvisi?

Misalnya, apa guna buku Edi S. Ekadjati. Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Jawa Barat (abad 20). Depdikbud Jakarta: 1990, atau buku Clifford Geertz berjudul Negara (Teater), tentang Kerajaan-kerajaan di Bali (abad 19), dicantumkan di sana. Sama sekali tidak ‘nyambung! Itu sih belum seberapa.

Intelektual adalah seseorang yang pikirannya mengawasi dirinya sendiri, kata Albert Camus.

Ini lucu! Pada biodata, Prof. Dr. Nina Herlina mencantumkan Sejarah Tatar Sunda  jilid 1 &2 (2003), dan Sejarah Kerajaan Sunda (2016) sebagai buku karya yang dihasilkannya, dan sepertinya judul semacam itu seharusnya akan ‘nyambung dengan kandungan atau apa yang dimaksud dengan judul buku ini dan seharusnya dicantumkan sebagai referensi. Apa lacur, Kita tidak menemukannya pada referensi. Referensi apa yang ditulis di situ? Abrakadabra…Karya Prof. Nina Herlina yang dicantumkan adalah yang seperti ini: Lubis, dkk. 2013. Sejarah Provinsi Jawa Barat Jilid II. Bandung: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat. Buku itu adalah (semacam revisi) Sejarah Tatar Sunda 1&2 (2003) di atas.

Saya terangkan di sini, Sejarah Provinsi Jawa Barat itu adalah buku terkait dengan sejarah modern Tatar Sunda atau Jawa Barat abad ke-20. Buku yang penuh dengan data tidak valid, plus argumentasi lemah itu pada 2004 dikritik habis-habisan oleh Ajip Rosidi dalam artikel bertajuk Membaca Sejarah Sunda Karya Dr. Nina H. Lubis, dkk. dan dimuat pada Jurnal Sundalana – ‘Fatimah In West Java’. Yayasan Pusat Studi Sunda Bandung. Tentu saja buku yang terkait dengan tema Hari Lahir Tatar Sunda adalah Sejarah Tatar Sunda jilid 1, kita tentu bertanya-tanya apa urusannya buku Sejarah Tatar Sunda jilid 2 dengan Hari Jadi Tatar Sunda dan Tarusbawa?

Peneliti sejarah sekaligus dosen Universitas Padjadjaran, Nina Herlina (kiri/baju cokelat), saat konfrensi pers Hari Tatar Sunda di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (1/5/2026). (Sumber: Pemprov Jabar)
Peneliti sejarah sekaligus dosen Universitas Padjadjaran, Nina Herlina (kiri/baju cokelat), saat konfrensi pers Hari Tatar Sunda di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (1/5/2026). (Sumber: Pemprov Jabar)

Tetapi kekacauan inti sepenuhnya terkait kata ‘muslihat’ tadi, ya itu tadi, terkait referensinya (yang juga bermasalah), yakni bahwa manuskrip-manuskrip yang termuat pada Naskah Wangsakerta terkait Hari Lahir Tatar Sunda - Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara rupanya - dengan sengaja -tidak dimuat. Saya ulangi dan perjelas, referensi apapun terkait Naskah Wangsakerta, yang menjadi acuan penulisan (apa yang disebut) Hari Lahir Tatar Sunda – dengan sengaja – tidak dimuat!

Pengutipan-pengutipan hebat untuk (apa yang disebut) landasan filosofis dan sosio-antropologis yang wah pada halaman-halaman berikutnya dari empu seperti Ben Anderson, Anthony Giddens, Clifford Geertz, Maurice Habwachs, Henri Lefebvre, Peter L. Berger, Paul Ricoeur atau Victor Turner, sama sekali tidak membuat buku ini menjadi tulisan yang berwibawa. Bagaimana bisa menjadi tulisan yang punya nilai tinggi, pabila yang menjadi ujung tombak pembahasan – TANPA REFERENSI!

Saya simpulkan saja begini, harap dicamkan dengan hati-hati dan pelan-pelan: Hingga kemarin kemarin Prof. Dr. Nina Herlina dalam tulisan-tulisannya (artikel, jurnal, buku) bahkan ucapan di kelas kuliahnya atau dimanapun berbicara terkait Naskah Wangsakerta – selalu dan melulu mengatakan manuskrip-manuskrip tersebut bukanlah sumber sejarah dan tidak dapat dipergunakan sebagai referensi sejarah (tentu saja termasuk untuk klaim Hari Lahir Tatar Sunda ini). Keruan, ujug-ujug beliau membuat klaim Hari lahir Tatar Sunda 18 Mei 669 berdasar Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, yang merupakan manuskrip bagian dari Naskah Wangsakerta yang selama ini disangkal beliau dan ditolak mentah-mentah sebagai sumber sejarah itu tadi pada buku ini. Artinya sumber semacam itu sekarang dipakai, dengan alasan Garraghan ‘membolehkannya’. Nampaknya satu-satunya pembelaan untuk kasus ini adalah nama Garraghan tadi dijadikan tameng untuk semua uraian ahistoris tersebut. Namun cerita berikutnya, malah lebih ngaco’ lagi: tidak satupun referensi terkait Naskah Wangsakerta tercantum atau ditemukan pada Daftar Pustaka. Lupa, alpa, salah menulis, atau disengaja?  Apakah ini sungguh karya ilmiah? Saya betul-betul heran, ini buku apaan?

                     

Dengan begitu, saya ingin mengatakan kerusakan ‘apa yang disebut kajian ilmiah’ terkait buku ini sungguh luar biasa.

Saya kutipkan apa yang dikatakan Balthasar Gracian (filsuf, 1601-1658) sebagai renungan atas apa yang terjadi dengan Naskah Akademik Hari Lahir Tatar Sunda ini, “Sebuah kebohongan (memang) sanggup menghancurkan seluruh reputasi dan integritas”.

Sebagai epilog, Mark Twain pernah mengatakan begini: Sesuatu yang klasik adalah buku yang ‘dipuji’ dan tak dibaca orang. Sepertinya itu akan terjadi dengan buku Hari Lahir Tatar Sunda ini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Anton Solihin
Tentang Anton Solihin
Penikmat sepak bola dan Persib, mengelola Perpustakaan Batu Api di Jatinangor.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)