Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

9 menit baca
Anton Solihin
Ditulis oleh Anton Solihin diterbitkan
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ada aturan tidak tertulis mengatakan kata-kata orang terkenal, orang yang sudah sangat tua, atau orang Yunani kuno selalu dianggap nasehat yang baik. Padahal itu kesalahan yang besar. Kalimat lucu itu dinyatakan Bo Bennett, seorang motivator di Amerika.

Hari kamis (21 Mei 2026), saat saya menulis artikel ini,  persis pertama kalinya juga saya mendapatkan buku resmi bertajuk Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda berformat pdf. Dicantumkan di situ penulisnya  empat orang: Prof. Dr. Nina Herlina M.S., Dr. Undang Ahmad Darsa, M. Hum, Ade Makmur Kartawinata, Ph.D., dan Dr. Hernadi Affandi, SH, LL.M. serta diterbitkan Nuansa Cendikia Bandung: 2026. Dan untuk itu segeralah saya membacanya. Tentu saja sebagaimana akan diuraikan nanti, terdapat banyak catatan kritis. Singkat saja, setelah membacanya, sepertinya justru semakin memperkuat kenyataan adanya skandal dalam proses penulisan Hari Lahir Tata Sunda tersebut. Tak ada keraguan!

Jelas ditulis dalam buku Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda, “Secara konseptual, hari jadi sebuah wilayah administratif, harus ditentukan berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh dari sumber sejarah primer, yang otentisitas dan kredibilitasnya tidak diragukan” (Herlina, 2026: 13-14). Hmm, kata-kata semacam itu tampak anggun dan ilmiah, tetapi mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya.

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda, karena nyatanya artikel saya yang terkesan vulgar dan bombastis kemarin itu, pada media ini juga: Hari Lahir Tatar Sunda 18 Mei 669: Sulit Untuk Disimpulkan Karena ‘Omong Kosong’!, meski sudah dipaparkan dengan cara yang (mudah-mudahan) mudah ditangkap dan ‘sangar’, hingga tulisan ini rilis tidak juga ditanggapi secara akademis. Riuh dan ramai memang di media sosial tetapi adem ayem tanggapan dari pihak-pihak terkait. Dikatakan pada Kata Pengantar, “Tentu saja buku kajian historis dengan pendekatan  multidimensional ini, masih banyak kekurangan. Kami akan sangat berterima kasih apabila ada masukan dari pembaca” (Herlina, 2026: 6). Itu diucapkan Prof. Dr. Nina Herlina. Sekarang saya menagih janji itu. Saya persilakan Prof. Dr. Nina Herlina dan tiga orang koleganya penulis buku Hari Lahir Tatar Sunda untuk menanggapi secara akademis, mereka punya hak jawab untuk menanggapi kritik ini.

Karena mendapatkan banyak data meski tidak baru, cuma mengulang penjelasan, plus ‘referensi-referensi lucu yang perlu mendapat tanggapan’, saya tambahkan saja catatan-catatan di sana sini, yang tidak dimuat atau ditulis pada artikel pertama sebelumnya.

Tulisan ini, mudahnya saja, sesuai judul, melulu kita fokus pada Bab I: Kajian Historis, yakni Bagian B - Tatar Sunda dalam Lintasan Sejarah merujuk bagian 3. Lahirnya Kerajaan Sunda (pada halaman 24-35), dan halaman 55-56, yang nanti akan diuraikan argumentasinya di bawah. 

Kandungan atau isi halaman lainnya hingga halaman terakhir, halaman 140 tidaklah menjadi perhatian kita. Justru apa yang saya maksud “muslihat” di sini, tidak terkait sisa halaman lainnya yang hanyalah semacam bagian sekunder saja, atau sejenis tambahan untuk memberi kesan tebal buku, juga (pabila dibahas) malah menimbulkan kesan mengaburkan fokus utama tadi yang memang bermasalah, dan justru itu masalahnya.

Untuk Bab II Kajian Filosofis dan Antropologis, termasuk Bab III Kajian Hukum, menjadi lebih tidak berguna lagi dan tentu saja sia-sia, karena yang menjadi fokus pembahasan kita tersebut (Hari Lahir Tatar Sunda)  tetap saja takhayul. 

Novel yang bagus menceritakan kebenaran menyangkut pahlawannya, namun novel yang buruk menceritakan kebenaran menyangkut penulisnya. Itu dikatakan Gilbert Chesterton (penulis Inggris, 1874-1936). Penting mereka, para penulis buku ini, menanggapi karena hak publik untuk tahu kebenaran cerita ini. Buku  Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda semacam ini tentu didanai oleh pajak masyarakat Jawa Barat. Di sisi lain, tentu saja orang-orang ini membawa-bawa nama Universitas Padjadjaran (Unpad). Saya, penulis artikel ini juga alumni Unpad, dengan begitu kita berhak tahu, katakanlah semacam pertanggungjawaban ilmiah bagaimana mungkin ‘cara penulisan’ buku seperti ini dianggap ‘ilmiah’.

“Resiko datang dari ketidaktahuan atas apa yang anda kerjakan”, kata Warren Buffett. Tapia apa betul mereka, para penulis buku ini, tidak tahu apa yang mereka kerjakan?

Sepertinya kata-kata baik di atas tepat ditempatkan pada kasus yang saya tulis ini. “Perjalanan ribuan kilometer mesti dimulai dari satu Langkah.”  Kata Lao Tzu (filsuf Cina pada abad 6 SM).

Itu betul, sebagaimana cerita terkait awal mula atau asal-usul adanya ‘Hari Lahir Tatar Sunda’ ini.

Peneliti sejarah sekaligus dosen Universitas Padjadjaran, Nina Herlina, saat konfrensi pers Hari Tatar Sunda di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (1/5/2026). (Sumber: dpmptsp.jabarprov.go.id)
Peneliti sejarah sekaligus dosen Universitas Padjadjaran, Nina Herlina, saat konfrensi pers Hari Tatar Sunda di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (1/5/2026). (Sumber: dpmptsp.jabarprov.go.id)

Disebutkan dalam buku Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda, “Lahirnya Tatar Sunda pada tanggal 9 Suklapasa bulan Jesta tahun 591 Saka, bertepatan dengan tanggal 18 Mei 669 Masehi. Tanggal tersebut merupakan “Penobatan Sang Tarusbawa” sebagai Raja Sunda, dan sekaligus momen pergantian kekuasaan dari Tarumanegara menuju Kerajaan Sunda” (Herlina, 2026: 56).

Dikatakan juga, “Tanggal ini memenuhi aspek historis meskipun hanya tertulis dalam sumber Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara parwa 11 sarga 3, halaman 176. Naskah yang termasuk kelompok Naskah Wangsakerta ini, merupakan naskah salinan yang naskah aslinya belum diketahui. Namun seperti yang sudah dikemukakan di atas, menurut Gilbert J. Garraghan, meskipun sumber ini tergolong sumber sekunder, namun dalam ketiadaan sumber lain, data bisa dianggap benar, hingga ditemukan sumber lain yang tergolong sebagai sumber primer (Garraghan, 1957: 289 etc.)” (Herlina, 2026: 55). Pernyataan aneh ini jelas bertolak belakang dengan pernyataan yang malangnya dinyatakan pada buku yang sama. Ya, dikatakan oleh orang yang sama. Saya ulang sekali lagi, “Secara konseptual, hari jadi sebuah wilayah administratif, harus ditentukan berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh dari sumber sejarah primer, yang otentisitas dan kredibilitasnya tidak diragukan”.

Kalimat singkat pada halaman 55 dan 56 buku Hari Lahir Tatar Sunda ini sudah seperti menjelaskan dengan terang benderang apa yang saya maksud pada judul artikel ini: muslihat! (Secara panjang lebar sudah saya jelaskan apa yang ngawur dari pernyataan di atas pada artikel menyangkut tema yang sama sebelum ini).

Orang berpendidikan dapat dengan mudah diatur, kata Frederick the Great.

Saya coba perjelas atau sederhanakan penjelasannya, karena nyatanya yang terjadi lebih buruk dari apa yang saya uraikan di atas. Buku ini ditulis hingga 140 halaman dengan referensi yang begitu banyak hingga segala macam buku yang tidak berhubungan dan  ‘macam-macam peraturan’ dimasukkan. Namun referensi utama, apa yang menjadi fokus, apa yang disebut  Hari Lahir Tatar Sunda, justru tanpa referensi!

Kok bisa?

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kita cek referensi yang dipakai, justru sebagian besar malah tidak bersangkut paut dengan judul buku ini. Referensi terpenting yang (seharusnya dan memang harus dipakai) terkait Lahirnya Kerajaan Sunda, malah sama sekali tidak ada, yakni yang terkait Naskah Wangsakerta. Sepertinya tampak disengaja.

Setidaknya saya menemukan 10 referensi yang kira-kira terkait Hari Lahir Tatar Sunda pada buku ini (yang ditulis Atja, Undang A. Darsa, FDK Bosch, I.L.A Brandes, Casparis, Hageman, Pleyte, hingga N.J. Krom), tetapi lagi lagi, sumber rujukan yang dipakai untuk penentuan tanggal 18 Mei 669 itu,  sama sekali tidak ditemukan pada referensi buku ini.

Daftar Pustaka atau rujukan, atau referensi adalah elemen amat penting dalam naskah akademik semacam ini, yang teknis penulisannya nampak acak-acakan - untuk proyek seambisius dan seserius ini. Dan sebagaimana bisa diduga, daftar pustaka buku ini begitu mencurigakan.

Sejumlah referensi yang dicantumkan terlihat ganjil, aneh, sungguh sungguh mengherankan dan sama sekali tidak ‘nyambung dengan semua pembahasan dalam kandungan buku ini. Juga terkesan disusun terburu-buru. Katanya edisi revisi. Saya jadi bertanya-tanya, seperti apa isinya kalau tidak direvisi?

Misalnya, apa guna buku Edi S. Ekadjati. Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Jawa Barat (abad 20). Depdikbud Jakarta: 1990, atau buku Clifford Geertz berjudul Negara (Teater), tentang Kerajaan-kerajaan di Bali (abad 19), dicantumkan di sana. Sama sekali tidak ‘nyambung! Itu sih belum seberapa.

Intelektual adalah seseorang yang pikirannya mengawasi dirinya sendiri, kata Albert Camus.

Ini lucu! Pada biodata, Prof. Dr. Nina Herlina mencantumkan Sejarah Tatar Sunda  jilid 1 &2 (2003), dan Sejarah Kerajaan Sunda (2016) sebagai buku karya yang dihasilkannya, dan sepertinya judul semacam itu seharusnya akan ‘nyambung dengan kandungan atau apa yang dimaksud dengan judul buku ini dan seharusnya dicantumkan sebagai referensi. Apa lacur, Kita tidak menemukannya pada referensi. Referensi apa yang ditulis di situ? Abrakadabra…Karya Prof. Nina Herlina yang dicantumkan adalah yang seperti ini: Lubis, dkk. 2013. Sejarah Provinsi Jawa Barat Jilid II. Bandung: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat. Buku itu adalah (semacam revisi) Sejarah Tatar Sunda 1&2 (2003) di atas.

Saya terangkan di sini, Sejarah Provinsi Jawa Barat itu adalah buku terkait dengan sejarah modern Tatar Sunda atau Jawa Barat abad ke-20. Buku yang penuh dengan data tidak valid, plus argumentasi lemah itu pada 2004 dikritik habis-habisan oleh Ajip Rosidi dalam artikel bertajuk Membaca Sejarah Sunda Karya Dr. Nina H. Lubis, dkk. dan dimuat pada Jurnal Sundalana – ‘Fatimah In West Java’. Yayasan Pusat Studi Sunda Bandung. Tentu saja buku yang terkait dengan tema Hari Lahir Tatar Sunda adalah Sejarah Tatar Sunda jilid 1, kita tentu bertanya-tanya apa urusannya buku Sejarah Tatar Sunda jilid 2 dengan Hari Jadi Tatar Sunda dan Tarusbawa?

Peneliti sejarah sekaligus dosen Universitas Padjadjaran, Nina Herlina (kiri/baju cokelat), saat konfrensi pers Hari Tatar Sunda di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (1/5/2026). (Sumber: Pemprov Jabar)
Peneliti sejarah sekaligus dosen Universitas Padjadjaran, Nina Herlina (kiri/baju cokelat), saat konfrensi pers Hari Tatar Sunda di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (1/5/2026). (Sumber: Pemprov Jabar)

Tetapi kekacauan inti sepenuhnya terkait kata ‘muslihat’ tadi, ya itu tadi, terkait referensinya (yang juga bermasalah), yakni bahwa manuskrip-manuskrip yang termuat pada Naskah Wangsakerta terkait Hari Lahir Tatar Sunda - Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara rupanya - dengan sengaja -tidak dimuat. Saya ulangi dan perjelas, referensi apapun terkait Naskah Wangsakerta, yang menjadi acuan penulisan (apa yang disebut) Hari Lahir Tatar Sunda – dengan sengaja – tidak dimuat!

Pengutipan-pengutipan hebat untuk (apa yang disebut) landasan filosofis dan sosio-antropologis yang wah pada halaman-halaman berikutnya dari empu seperti Ben Anderson, Anthony Giddens, Clifford Geertz, Maurice Habwachs, Henri Lefebvre, Peter L. Berger, Paul Ricoeur atau Victor Turner, sama sekali tidak membuat buku ini menjadi tulisan yang berwibawa. Bagaimana bisa menjadi tulisan yang punya nilai tinggi, pabila yang menjadi ujung tombak pembahasan – TANPA REFERENSI!

Saya simpulkan saja begini, harap dicamkan dengan hati-hati dan pelan-pelan: Hingga kemarin kemarin Prof. Dr. Nina Herlina dalam tulisan-tulisannya (artikel, jurnal, buku) bahkan ucapan di kelas kuliahnya atau dimanapun berbicara terkait Naskah Wangsakerta – selalu dan melulu mengatakan manuskrip-manuskrip tersebut bukanlah sumber sejarah dan tidak dapat dipergunakan sebagai referensi sejarah (tentu saja termasuk untuk klaim Hari Lahir Tatar Sunda ini). Keruan, ujug-ujug beliau membuat klaim Hari lahir Tatar Sunda 18 Mei 669 berdasar Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, yang merupakan manuskrip bagian dari Naskah Wangsakerta yang selama ini disangkal beliau dan ditolak mentah-mentah sebagai sumber sejarah itu tadi pada buku ini. Artinya sumber semacam itu sekarang dipakai, dengan alasan Garraghan ‘membolehkannya’. Nampaknya satu-satunya pembelaan untuk kasus ini adalah nama Garraghan tadi dijadikan tameng untuk semua uraian ahistoris tersebut. Namun cerita berikutnya, malah lebih ngaco’ lagi: tidak satupun referensi terkait Naskah Wangsakerta tercantum atau ditemukan pada Daftar Pustaka. Lupa, alpa, salah menulis, atau disengaja?  Apakah ini sungguh karya ilmiah? Saya betul-betul heran, ini buku apaan?

                     

Dengan begitu, saya ingin mengatakan kerusakan ‘apa yang disebut kajian ilmiah’ terkait buku ini sungguh luar biasa.

Saya kutipkan apa yang dikatakan Balthasar Gracian (filsuf, 1601-1658) sebagai renungan atas apa yang terjadi dengan Naskah Akademik Hari Lahir Tatar Sunda ini, “Sebuah kebohongan (memang) sanggup menghancurkan seluruh reputasi dan integritas”.

Sebagai epilog, Mark Twain pernah mengatakan begini: Sesuatu yang klasik adalah buku yang ‘dipuji’ dan tak dibaca orang. Sepertinya itu akan terjadi dengan buku Hari Lahir Tatar Sunda ini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Anton Solihin
Tentang Anton Solihin
Penikmat sepak bola dan Persib, mengelola Perpustakaan Batu Api di Jatinangor.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)