Bandung: Kota Ramah Pejalan Kaki dan Disabilitas yang Masih Sebatas Slogan

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Kondisi trotoar di Jalan Pungkur, Kota Bandung dipenuhi puing galian proyek utilitas, Kamis (21/5/2026) pagi. (Foto: Arif Budiman)
Kondisi trotoar di Jalan Pungkur, Kota Bandung dipenuhi puing galian proyek utilitas, Kamis (21/5/2026) pagi. (Foto: Arif Budiman)

Selama beberapa tahun terakhir, Kota Bandung kerap dipromosikan sebagai kota yang ramah pejalan kaki dan inklusif bagi penyandang disabilitas. Revitalisasi trotoar dilakukan di berbagai ruas jalan utama dengan penambahan jalur pemandu tunanetra, ramp kursi roda, serta penataan kawasan pedestrian yang lebih modern. Upaya tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap pembangunan kota yang lebih manusiawi dan berorientasi pada mobilitas berkelanjutan.

Dalam konsep perkotaan modern, trotoar bukan sekadar pelengkap jalan raya, melainkan bagian penting dari ruang publik yang menjamin keselamatan, kenyamanan, dan aksesibilitas seluruh warga. Penelitian Nurmansyah (2019) menegaskan bahwa trotoar harus memberikan keamanan dan kenyamanan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas seperti tunanetra dan pengguna kursi roda.

Selain itu, penelitian mengenai aksesibilitas trotoar di Kota Bandung menunjukkan bahwa penyediaan fasilitas pedestrian bagi penyandang disabilitas merupakan bagian penting dari pelayanan publik perkotaan. Studi Karniawati (2018) pada kawasan Jalan Ir. H. Djuanda menemukan bahwa aspek aksesibilitas masih menjadi tantangan dalam mewujudkan trotoar yang benar-benar inklusif.

Namun realitas di lapangan masih memperlihatkan berbagai persoalan. Di sejumlah titik, fungsi trotoar belum sepenuhnya optimal karena masih digunakan untuk kepentingan lain di luar aktivitas pejalan kaki. Kondisi tersebut membuat ruang berjalan menjadi sempit, tidak nyaman, bahkan berisiko bagi pengguna jalan, terutama kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas.

Pemotor melintasi trotoar. (Sumber: Magang Ayobandung/Miftahul Zikri)
Pemotor melintasi trotoar. (Sumber: Magang Ayobandung/Miftahul Zikri)

Hilangnya Hak Pejalan Kaki di Ruang Publik

Salah satu persoalan yang belakangan banyak dikeluhkan masyarakat adalah keberadaan puing galian kabel dan proyek utilitas bawah tanah yang menumpuk di trotoar. Proyek penataan kabel sebenarnya memiliki tujuan positif untuk memperbaiki estetika kota dan mengurangi kabel udara yang semrawut. Pemerintah Kota Bandung bahkan menargetkan proyek ducting tersebut selesai secara bertahap sebagai bagian dari penataan infrastruktur kota.

Namun dalam pelaksanaannya, masih ditemukan trotoar yang dibongkar tanpa perlindungan memadai bagi pejalan kaki. Material proyek yang diletakkan di jalur pedestrian membuat ruang berjalan menyempit dan memaksa masyarakat turun ke badan jalan. Media lokal juga melaporkan adanya keluhan warga terkait jalan rusak dan trotoar yang tidak aman akibat proyek galian kabel tersebut.

Selain proyek utilitas, persoalan trotoar di Bandung juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain. Di beberapa kawasan, trotoar digunakan sebagai lokasi berdagang, area parkir kendaraan, maupun jalur sepeda motor yang menghindari kemacetan. Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang pedestrian masih sering dipandang sebagai ruang sisa yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan lain.

Dalam konteks tertentu, keberadaan pedagang kaki lima merupakan bagian dari dinamika ekonomi informal perkotaan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Namun tanpa penataan ruang yang baik, aktivitas tersebut dapat mengurangi fungsi utama trotoar sebagai ruang aman bagi pejalan kaki.

Keluhan masyarakat terhadap kondisi trotoar Bandung juga terlihat dalam berbagai diskusi publik di internet. Sejumlah warga mengeluhkan trotoar yang dipakai parkir, dilintasi sepeda motor, hingga desain trotoar yang dianggap kurang aman bagi pejalan kaki.

Dampak kondisi ini terasa lebih besar bagi penyandang disabilitas. Jalur pemandu tunanetra yang terhalang, permukaan trotoar yang tidak rata, hingga akses kursi roda yang tertutup material proyek dapat membatasi mobilitas mereka di ruang publik. Penelitian Aqila dan Yusup (2024) mengenai fasilitas pedestrian di Jalan Dr. Djunjunan Bandung bahkan menunjukkan bahwa kualitas trotoar di beberapa kawasan masih belum memenuhi standar kenyamanan dan keamanan bagi pejalan kaki.

Trotoar di Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Mochamad Haykal)
Trotoar di Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Mochamad Haykal)

Tantangan Bandung Menuju Kota yang Inklusif

Berbagai persoalan trotoar di Bandung memperlihatkan bahwa pembangunan kota tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga menyangkut tata kelola ruang publik yang konsisten dan berpihak pada keselamatan warga. Revitalisasi trotoar akan sulit mencapai tujuan jika pengawasan, pemeliharaan, dan penegakan aturan belum berjalan optimal.

Karena itu, diperlukan koordinasi yang lebih baik antara pemerintah, pelaksana proyek utilitas, pelaku usaha informal, dan masyarakat dalam menjaga fungsi trotoar. Setiap proyek pembangunan seharusnya memiliki standar perlindungan pedestrian yang jelas, termasuk penyediaan jalur sementara yang aman bagi pejalan kaki dan penyandang disabilitas selama masa konstruksi berlangsung.

Selain itu, pengawasan terhadap parkir liar dan penggunaan trotoar oleh kendaraan bermotor juga perlu diperkuat agar fungsi ruang pedestrian tidak terus berkurang. Penelitian Damayanto dkk (2021) tentang tingkat pelayanan jalur pejalan kaki di Jalan Braga menunjukkan bahwa kualitas pelayanan pedestrian sangat dipengaruhi oleh kenyamanan ruang gerak dan kepadatan aktivitas di kawasan tersebut.

Pada akhirnya, predikat kota ramah pejalan kaki dan disabilitas tidak hanya ditentukan oleh desain trotoar yang modern atau slogan pembangunan kota. Predikat tersebut tercermin dari sejauh mana seluruh warga dapat berjalan dengan aman, nyaman, dan setara di ruang publik tanpa terhalang berbagai hambatan yang seharusnya dapat dicegah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)