Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

6 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)

Dalam dunia pendidikan kini, paradigma ilmu pengetahuan seakan saling berkaitan dengan kemajuan teknologi. Satu sama lainnya, seperti kedua sisi mata uang yang setara. Bahkan, era modern telah mengubah pintu keilmuan yang acap kali dianggap sebagai revolusi logika, menjadi stigma pemikiran moderat. Salah satu dampak yang dirasakan, adanya fenomena pergeseran nilai-nilai budaya.

Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban. Kualitas suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang dihasilkan melalui sistem pendidikannya. Dalam konteks Indonesia, pendidikan memiliki tugas yang lebih luas daripada sekadar transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan harus mampu membentuk manusia yang beriman, berakhlak mulia, cerdas, kreatif, mandiri, serta bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial dan kebangsaan.

Dalam tradisi Islam, pendidikan tidak pernah dipahami semata-mata sebagai proses penguasaan ilmu pengetahuan. Pendidikan merupakan sarana pembentukan insan kamil, yaitu manusia yang utuh secara intelektual, spiritual, moral, dan sosial. Namun, perkembangan pendidikan modern yang banyak dipengaruhi oleh paradigma positivisme, industrialisasi, dan kebutuhan pasar kerja telah melahirkan sejumlah kontradiksi dengan nilai-nilai pendidikan Islami.

Diskursus mengenai hubungan antara pendidikan Islami dan pendidikan modern menjadi semakin relevan ketika berbagai persoalan muncul dalam dunia pendidikan, seperti krisis moral, pragmatisme akademik, komersialisasi pendidikan, serta melemahnya karakter peserta didik. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: bagaimana pendidikan dapat tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan dimensi spiritual dan kemanusiaannya?

Konsep pendidikan dalam Islam berakar pada tiga pilar utama, yaitu tarbiyah, ta’lim, dan ta’dib. Ketiga konsep tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya proses pengajaran ilmu, tetapi juga pembinaan kepribadian dan penanaman adab.

Tokoh pendidikan Islam seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan adalah menghasilkan manusia yang beradab (good man), bukan sekadar warga negara yang produktif. Menurut Al-Attas, krisis terbesar dunia modern bukanlah kekurangan ilmu, melainkan hilangnya adab dalam penggunaan ilmu.

Sementara itu, Ismail Raji al-Faruqi mengemukakan gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan. Ia berpendapat bahwa ilmu tidak boleh dipisahkan dari nilai-nilai ketuhanan karena ilmu yang bebas nilai berpotensi melahirkan penyalahgunaan teknologi dan kekuasaan.

Pemikiran pendidikan Islam juga banyak dipengaruhi oleh Al-Ghazali yang menekankan keseimbangan antara ilmu duniawi dan ukhrawi. Menurutnya, ilmu harus membawa manusia semakin dekat kepada Tuhan sekaligus memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Dalam perspektif ini, pendidikan tidak hanya berorientasi pada kompetensi kerja, tetapi juga pembentukan kesadaran moral, tanggung jawab sosial, dan kedekatan spiritual. Pendidikan modern lahir dari perkembangan ilmu pengetahuan barat pasca-renaisans dan revolusi industri. Fokus utamanya adalah rasionalitas, efisiensi, spesialisasi ilmu, serta kemampuan manusia menguasai alam melalui teknologi.

Pemikiran John Dewey menempatkan pendidikan sebagai proses pengalaman yang berpusat pada peserta didik. Pendidikan harus membantu individu beradaptasi dengan perubahan sosial dan memecahkan persoalan kehidupan secara praktis.

Di sisi lain, pendekatan pendidikan modern sering kali dipengaruhi oleh kebutuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja. Sekolah dipandang sebagai institusi yang menghasilkan sumber daya manusia kompetitif untuk mendukung pembangunan ekonomi.

Kemajuan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan globalisasi semakin memperkuat orientasi pendidikan pada keterampilan teknis (hard skills) dan kompetensi profesional. Akibatnya, dimensi moral dan spiritual sering kali berada di posisi sekunder. Meskipun pendidikan modern berhasil mendorong kemajuan sains dan teknologi, berbagai kritik muncul karena dianggap terlalu menekankan aspek materialistik dan utilitarian.

Dalam pendidikan Islami, tujuan utama adalah pembentukan manusia beriman dan berakhlak mulia. Kesuksesan tidak hanya diukur dari pencapaian akademik, tetapi juga kualitas moral dan spiritual. Sebaliknya, pendidikan modern sering mengukur keberhasilan melalui indikator kuantitatif seperti nilai ujian, indeks prestasi, sertifikasi, dan peluang kerja.

Akibatnya, muncul fenomena peserta didik yang cerdas secara akademik tetapi lemah dalam integritas dan empati sosial. Kasus korupsi, manipulasi data, dan penyalahgunaan teknologi menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tidak selalu sejalan dengan kematangan moral.

Dalam Islam, ilmu merupakan amanah yang harus digunakan untuk kemaslahatan umat. Tidak ada pemisahan mutlak antara ilmu agama dan ilmu umum. Namun, pendidikan modern cenderung mengembangkan spesialisasi yang sangat ketat sehingga ilmu dipisahkan dari dimensi etika dan spiritual. Seseorang dapat menjadi ahli teknologi tinggi tanpa pernah mempertimbangkan dampak moral dari inovasi yang diciptakannya.

Kondisi ini melahirkan apa yang disebut banyak pemikir sebagai “krisis makna”, yaitu situasi ketika manusia memiliki pengetahuan yang luas tetapi kehilangan orientasi hidup. Tradisi pendidikan Islam menempatkan guru sebagai teladan moral sekaligus pembimbing intelektual. Hubungan guru dan murid bersifat transformatif dan penuh penghormatan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sebaliknya, pendidikan modern cenderung menempatkan guru sebagai fasilitator pembelajaran semata. Meskipun pendekatan ini memiliki kelebihan dalam mendorong kreativitas siswa, hubungan emosional dan pembinaan karakter terkadang menjadi berkurang.

Pendidikan Islami memandang kehidupan sebagai perpaduan antara tanggung jawab dunia dan akhirat. Nilai keberhasilan tidak hanya bersifat material tetapi juga spiritual. Pendidikan modern yang dipengaruhi logika kapitalisme sering kali mengarahkan peserta didik untuk mengejar prestasi ekonomi sebagai ukuran utama kesuksesan.

Pakar pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. Pandangan ini sebenarnya memiliki titik temu dengan pendidikan Islam karena sama-sama menempatkan manusia sebagai pusat pengembangan yang utuh.

Sementara itu, Paulo Freire mengkritik model pendidikan yang hanya menjadikan peserta didik sebagai “wadah kosong” untuk diisi pengetahuan. Pendidikan harus membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan sosial.

Dalam konteks Islam, gagasan Freire dapat dipadukan dengan konsep amar ma’ruf nahi munkar, yaitu pendidikan yang membangun kesadaran kritis sekaligus tanggung jawab moral terhadap lingkungan sosial.

Pakar pendidikan kontemporer juga menekankan pentingnya pendidikan karakter. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang dalam kehidupan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional, sosial, dan moral.

Kontradiksi antara pendidikan Islami dan pendidikan modern sebenarnya tidak harus dipahami sebagai pertentangan mutlak. Keduanya memiliki kelebihan yang dapat saling melengkapi.

Pendidikan Islami menawarkan fondasi moral, spiritual, dan etika yang kuat. Pendidikan modern menawarkan metode ilmiah, inovasi teknologi, dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan zaman.

Persoalan muncul ketika salah satu aspek mendominasi secara berlebihan. Pendidikan yang hanya berorientasi spiritual tanpa penguasaan ilmu pengetahuan akan tertinggal dalam kompetisi global. Sebaliknya, pendidikan yang hanya mengejar kemajuan teknologi tanpa landasan moral dapat melahirkan krisis kemanusiaan.

Tantangan terbesar pendidikan Indonesia saat ini adalah menciptakan sintesis yang mampu mengintegrasikan keduanya. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang religius sekaligus ilmiah, berakhlak sekaligus inovatif, serta berorientasi lokal namun mampu bersaing secara global.

Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab.

Pendidikan perlu menempatkan manusia sebagai tujuan utama, bukan sekadar instrumen ekonomi. Keberhasilan pendidikan harus diukur dari kemampuan menghasilkan warga negara yang bermartabat, peduli terhadap sesama, serta berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

Diskursus intelektual dalam pendidikan berbasis pemikiran Islami menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya merupakan proses pembentukan manusia secara utuh, mencakup aspek intelektual, moral, spiritual, dan sosial. Sementara itu, pendidikan modern memberikan kontribusi besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan global.

Oleh karena itu, masa depan pendidikan Indonesia memerlukan pendekatan integratif yang memadukan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Dengan mengharmoniskan dimensi spiritual dan intelektual, pendidikan dapat menjadi sarana membangun generasi yang tidak hanya cerdas dan kompeten, tetapi juga berakhlak mulia, berkeadaban, serta mampu mewujudkan cita-cita besar pendidikan nasional dan kemajuan peradaban bangsa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)