Sejarah Pusdai Bandung, Islamic Center di Bekas Lahan Kampung Padat

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Masjid Pusdai Bandung. (Sumber: Freepik @rako349)
Masjid Pusdai Bandung. (Sumber: Freepik @rako349)

AYOBANDUNG.ID - Pada suatu masa nun jauh ke belakang Bandung pernah punya satu kawasan yang riuh bukan oleh azan, melainkan oleh suara kehidupan sehari-hari. Jemuran bersilang, anak-anak berlarian, obrolan warga menyatu dengan dengung kota. Di situlah sekarang berdiri Pusdai.

Orang mengenalnya sebagai pusat dakwah, padahal sebelumnya ia adalah kampung padat yang berdesakan dengan sejarahnya sendiri. Tidak banyak yang ingat, apalagi merenungkan, bahwa bangunan religius yang kini tenang itu lahir dari proses panjang yang melelahkan, penuh rapat, surat keputusan, dan kompromi khas birokrasi Orde Baru.

Seturut catatan sejarah, gagasan mendirikan Pusdai muncul pada akhir 1970 an, saat negara sedang rajin menata simbol. Di Jawa Barat, muncul keinginan untuk memiliki satu pusat kegiatan Islam yang bukan sekadar masjid, tetapi juga ruang berkumpul, berpikir, dan mengatur arah dakwah.

Kala itu, Islam tidak hanya dipahami sebagai urusan sajadah, tetapi juga sebagai urusan tata sosial. Maka lahirlah ide Islamic Centre, istilah yang terdengar modern dan agak kebarat baratan untuk ukuran zamannya.

Bandung dipilih bukan karena ia paling religius, melainkan karena ia pusat. Pusat pemerintahan, pusat pendidikan, dan tentu saja pusat lalu lintas gagasan. Lokasinya pun tidak main-main. Dekat Gedung Sate, bersebelahan dengan simbol kekuasaan dan administrasi. Pesannya jelas. Islam tidak ingin berdiri di pinggir, ia ingin hadir di jantung kota, berhadap hadapan dengan negara.

Baca Juga: Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan

Tetapi gagasan, seperti biasa, lebih mudah diucapkan ketimbang diwujudkan. Lahan yang diincar bukan tanah kosong, melainkan kawasan hidup yang sudah lama berdenyut. Proses pembebasan lahan berjalan lambat, berliku, dan kadang melelahkan. Butuh hampir satu dekade untuk menggeser kampung, memindahkan warga, dan menyelesaikan urusan yang di atas kertas tampak sederhana. Pusdai sejak awal sudah mengajarkan satu hal penting, bahwa bangunan besar sering kali berdiri di atas kesabaran orang banyak.

Ketika pembangunan fisik akhirnya dimulai pada awal 1990 an, suasana sudah berubah. Negara semakin mapan, birokrasi lebih percaya diri, dan pembangunan menjadi kata kunci. Pusdai dibangun bukan sebagai masjid biasa. Ia dirancang sebagai kompleks, lengkap dengan ruang pertemuan, aula, dan area terbuka. Ini bukan tempat singgah sebentar, melainkan tempat tinggal gagasan.

Yang menarik, masjidnya sendiri tidak mengikuti selera populer. Tidak ada kubah besar yang menjulang seperti ingin menyaingi langit. Atapnya limasan, bertumpuk, dan terasa membumi. Ada nuansa Sunda yang kental, seolah ingin berkata bahwa Islam di Jawa Barat tidak perlu meniru Timur Tengah untuk menjadi sah. Arsitekturnya memilih berdamai dengan iklim, budaya, dan kebiasaan lokal. Di sinilah Pusdai mulai menunjukkan wataknya. Religius, tapi tidak terasing.

Peresmian Pusdai pada akhir 1997 berlangsung dalam suasana optimisme. Negara merasa berhasil membangun satu lagi monumen moral. Nama Pusat Dakwah Islam Jawa Barat disematkan, disingkat Pusdai, kata yang mudah diingat dan cepat masuk ke percakapan sehari hari.

Baca Juga: Hikayat Sarkanjut, Kampung Kecil yang Termasyhur di Priangan

Sejak itu, Pusdai resmi menjadi Islamic Centre pertama di Indonesia, sebuah klaim yang jarang diperdebatkan, mungkin karena semua keburu sibuk dengan aktivitasnya masing masing.

Bimbingan manasik haji di Pusdai. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Bimbingan manasik haji di Pusdai. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Pusdai dan Kehidupan yang Terus Bergerak

Setelah diresmikan, Pusdai tidak berubah menjadi museum kesalehan. Ia justru ramai, kadang terlalu ramai. Dari pengajian rutin sampai diskusi besar, dari kegiatan remaja masjid sampai acara pemerintahan, semuanya pernah singgah. Pusdai hidup, dan kehidupan selalu berisik. Di sinilah bedanya bangunan yang hanya megah dengan bangunan yang fungsional. Pusdai memilih repot.

Peran Pusdai berkembang mengikuti zaman. Ia menjadi mediator, fasilitator, koordinator, dan tentu saja panggung. Ulama bertemu pejabat, jamaah bertemu kebijakan, ide bertemu kenyataan. Tidak selalu mulus, tapi justru di situlah dinamika berlangsung. Dakwah tidak lagi satu arah, melainkan percakapan panjang yang kadang melelahkan, tapi perlu.

Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Pada dekade 2000-an, pengelolaan Pusdai mulai ditata lebih serius. Negara kembali masuk, kali ini lewat manajemen. Lembaga pengelola dibentuk, aset ditertibkan, dan program dirapikan. Pusdai perlahan beradaptasi dengan tuntutan zaman yang semakin administratif. Ada jadwal, ada laporan, ada struktur. Kesalehan pun belajar berkas.

Kendati demikian, denyut sosialnya tidak padam. Pusdai tetap menjadi tempat orang mencari makna, bukan hanya jadwal. Programnya menyentuh hal hal praktis. Pendidikan Al Quran, pembinaan mualaf, pelayanan ibadah, hingga aktivitas sosial yang kadang lebih terasa manfaatnya ketimbang ceramah panjang.

Pada bulan Ramadan, Pusdai berubah menjadi dapur besar kesalehan, tempat ribuan orang berbuka bersama tanpa perlu saling mengenal.

Selain itu, ada juga sisi kultural yang menarik. Kehadiran mushaf bernuansa Sunda misalnya, menjadi penanda bahwa Islam di sini tidak alergi budaya. Ornamen lokal tidak dianggap bidah, melainkan jembatan. Ini pesan halus tapi penting, bahwa dakwah tidak harus mencabut akar orang dari tanahnya sendiri.

Baca Juga: Sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Riwayat Panjang di Balik Ramainya Cibiru

Pergantian kepemimpinan membawa warna baru, tapi tidak mengubah arah dasar. Ada masa Pusdai rajin menerbitkan buletin, ada masa ketika remaja masjid menjadi fokus. Semua menunjukkan bahwa Pusdai bukan bangunan beku, melainkan organisme yang menua sambil belajar.

Kini, lebih dari dua dekade setelah berdiri, Pusdai telah menjadi bagian dari lanskap Bandung. Ia tidak lagi terasa asing, justru terlalu akrab. Orang janjian di Pusdai, bukan hanya shalat. Anak muda mengenalnya sebagai tempat acara, orang tua mengenangnya sebagai simbol perubahan kota. Pusdai tidak pernah benar-benar selesai, sebagai dakwah yang tidak punya garis akhir.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)