Sejarah Pusdai Bandung, Islamic Center di Bekas Lahan Kampung Padat

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Kamis 29 Jan 2026, 17:45 WIB
Masjid Pusdai Bandung. (Sumber: Freepik @rako349)

Masjid Pusdai Bandung. (Sumber: Freepik @rako349)

AYOBANDUNG.ID - Pada suatu masa nun jauh ke belakang Bandung pernah punya satu kawasan yang riuh bukan oleh azan, melainkan oleh suara kehidupan sehari-hari. Jemuran bersilang, anak-anak berlarian, obrolan warga menyatu dengan dengung kota. Di situlah sekarang berdiri Pusdai.

Orang mengenalnya sebagai pusat dakwah, padahal sebelumnya ia adalah kampung padat yang berdesakan dengan sejarahnya sendiri. Tidak banyak yang ingat, apalagi merenungkan, bahwa bangunan religius yang kini tenang itu lahir dari proses panjang yang melelahkan, penuh rapat, surat keputusan, dan kompromi khas birokrasi Orde Baru.

Seturut catatan sejarah, gagasan mendirikan Pusdai muncul pada akhir 1970 an, saat negara sedang rajin menata simbol. Di Jawa Barat, muncul keinginan untuk memiliki satu pusat kegiatan Islam yang bukan sekadar masjid, tetapi juga ruang berkumpul, berpikir, dan mengatur arah dakwah.

Kala itu, Islam tidak hanya dipahami sebagai urusan sajadah, tetapi juga sebagai urusan tata sosial. Maka lahirlah ide Islamic Centre, istilah yang terdengar modern dan agak kebarat baratan untuk ukuran zamannya.

Bandung dipilih bukan karena ia paling religius, melainkan karena ia pusat. Pusat pemerintahan, pusat pendidikan, dan tentu saja pusat lalu lintas gagasan. Lokasinya pun tidak main-main. Dekat Gedung Sate, bersebelahan dengan simbol kekuasaan dan administrasi. Pesannya jelas. Islam tidak ingin berdiri di pinggir, ia ingin hadir di jantung kota, berhadap hadapan dengan negara.

Baca Juga: Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan

Tetapi gagasan, seperti biasa, lebih mudah diucapkan ketimbang diwujudkan. Lahan yang diincar bukan tanah kosong, melainkan kawasan hidup yang sudah lama berdenyut. Proses pembebasan lahan berjalan lambat, berliku, dan kadang melelahkan. Butuh hampir satu dekade untuk menggeser kampung, memindahkan warga, dan menyelesaikan urusan yang di atas kertas tampak sederhana. Pusdai sejak awal sudah mengajarkan satu hal penting, bahwa bangunan besar sering kali berdiri di atas kesabaran orang banyak.

Ketika pembangunan fisik akhirnya dimulai pada awal 1990 an, suasana sudah berubah. Negara semakin mapan, birokrasi lebih percaya diri, dan pembangunan menjadi kata kunci. Pusdai dibangun bukan sebagai masjid biasa. Ia dirancang sebagai kompleks, lengkap dengan ruang pertemuan, aula, dan area terbuka. Ini bukan tempat singgah sebentar, melainkan tempat tinggal gagasan.

Yang menarik, masjidnya sendiri tidak mengikuti selera populer. Tidak ada kubah besar yang menjulang seperti ingin menyaingi langit. Atapnya limasan, bertumpuk, dan terasa membumi. Ada nuansa Sunda yang kental, seolah ingin berkata bahwa Islam di Jawa Barat tidak perlu meniru Timur Tengah untuk menjadi sah. Arsitekturnya memilih berdamai dengan iklim, budaya, dan kebiasaan lokal. Di sinilah Pusdai mulai menunjukkan wataknya. Religius, tapi tidak terasing.

Peresmian Pusdai pada akhir 1997 berlangsung dalam suasana optimisme. Negara merasa berhasil membangun satu lagi monumen moral. Nama Pusat Dakwah Islam Jawa Barat disematkan, disingkat Pusdai, kata yang mudah diingat dan cepat masuk ke percakapan sehari hari.

Baca Juga: Hikayat Sarkanjut, Kampung Kecil yang Termasyhur di Priangan

Sejak itu, Pusdai resmi menjadi Islamic Centre pertama di Indonesia, sebuah klaim yang jarang diperdebatkan, mungkin karena semua keburu sibuk dengan aktivitasnya masing masing.

Bimbingan manasik haji di Pusdai. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Bimbingan manasik haji di Pusdai. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Pusdai dan Kehidupan yang Terus Bergerak

Setelah diresmikan, Pusdai tidak berubah menjadi museum kesalehan. Ia justru ramai, kadang terlalu ramai. Dari pengajian rutin sampai diskusi besar, dari kegiatan remaja masjid sampai acara pemerintahan, semuanya pernah singgah. Pusdai hidup, dan kehidupan selalu berisik. Di sinilah bedanya bangunan yang hanya megah dengan bangunan yang fungsional. Pusdai memilih repot.

Peran Pusdai berkembang mengikuti zaman. Ia menjadi mediator, fasilitator, koordinator, dan tentu saja panggung. Ulama bertemu pejabat, jamaah bertemu kebijakan, ide bertemu kenyataan. Tidak selalu mulus, tapi justru di situlah dinamika berlangsung. Dakwah tidak lagi satu arah, melainkan percakapan panjang yang kadang melelahkan, tapi perlu.

Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Pada dekade 2000-an, pengelolaan Pusdai mulai ditata lebih serius. Negara kembali masuk, kali ini lewat manajemen. Lembaga pengelola dibentuk, aset ditertibkan, dan program dirapikan. Pusdai perlahan beradaptasi dengan tuntutan zaman yang semakin administratif. Ada jadwal, ada laporan, ada struktur. Kesalehan pun belajar berkas.

Kendati demikian, denyut sosialnya tidak padam. Pusdai tetap menjadi tempat orang mencari makna, bukan hanya jadwal. Programnya menyentuh hal hal praktis. Pendidikan Al Quran, pembinaan mualaf, pelayanan ibadah, hingga aktivitas sosial yang kadang lebih terasa manfaatnya ketimbang ceramah panjang.

Pada bulan Ramadan, Pusdai berubah menjadi dapur besar kesalehan, tempat ribuan orang berbuka bersama tanpa perlu saling mengenal.

Selain itu, ada juga sisi kultural yang menarik. Kehadiran mushaf bernuansa Sunda misalnya, menjadi penanda bahwa Islam di sini tidak alergi budaya. Ornamen lokal tidak dianggap bidah, melainkan jembatan. Ini pesan halus tapi penting, bahwa dakwah tidak harus mencabut akar orang dari tanahnya sendiri.

Baca Juga: Sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Riwayat Panjang di Balik Ramainya Cibiru

Pergantian kepemimpinan membawa warna baru, tapi tidak mengubah arah dasar. Ada masa Pusdai rajin menerbitkan buletin, ada masa ketika remaja masjid menjadi fokus. Semua menunjukkan bahwa Pusdai bukan bangunan beku, melainkan organisme yang menua sambil belajar.

Kini, lebih dari dua dekade setelah berdiri, Pusdai telah menjadi bagian dari lanskap Bandung. Ia tidak lagi terasa asing, justru terlalu akrab. Orang janjian di Pusdai, bukan hanya shalat. Anak muda mengenalnya sebagai tempat acara, orang tua mengenangnya sebagai simbol perubahan kota. Pusdai tidak pernah benar-benar selesai, sebagai dakwah yang tidak punya garis akhir.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)
Beranda 13 Feb 2026, 08:13 WIB

Di Saat Media Arus Utama Tersandera Iklan, Zine Menemukan Jalannya Sendiri

Fenomena tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan bentuk perlawanan terhadap kejenuhan dunia digital yang serba cepat dan penuh ketidakpastian.
Salah satu karya yang ditampilkan di Bandung Zine Fest 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 07:36 WIB

Distraksi Massal: Alasan Mengapa Kita Sengaja Dibuat Sibuk dengan Skandal

Melalui analogi novel Tere Liye, artikel ini mengajak pembaca untuk berhenti terjebak dalam debat kusir dan kembali fokus pada navigasi diri di ambang bulan Ramadan.
Salah satu buku novel karya Tere Liye. (Dokumentasi Penulis)
Bandung 12 Feb 2026, 21:44 WIB

Tren Lebaran 2026: J&C Cookies Usung Konsep "Kukis Kalcer" dan Camilan Gluten Free

Tradisi mudik dan silaturahmi Idul Fitri 2026 diprediksi akan semakin berwarna dengan munculnya tren kuliner baru yang lebih inklusif.
J&C Cookies memperkenalkan lini produk terbaru mereka yang dirancang untuk memenuhi selera generasi masa kini tanpa meninggalkan cita rasa autentik yang telah melegenda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 12 Feb 2026, 21:22 WIB

Bandung Zine Fest 2026, Ruang Kolektif Media Alternatif dari Shanghai Hingga Garut

Lebih dari sekadar ajang pameran, festival ini menjadi ruang silaturahmi bagi penerbit mandiri yang tidak bergantung pada modal besar.
Suasana Bandung Zine Fest 2026 di Gedung Tjap Sahabat di Cibadak, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 20:22 WIB

Ramadan Tanpa Petasan, Bermain Lodong dan Belesong pun Jadi

Sejak dahulu petasan dan lodong selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan.
Lodong selalu jadi pertanda datangnya Bulan Ramadan di sejumlah daerah Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 16:22 WIB

Kartu Mati, Pengobatan Terhenti

Penonaktifan jutaan peserta PBI BPJS membuat warga Bandung kehilangan akses berobat. Padahal Islam punya cara pandang yang khas terkait kesehatan masyarakat.
Kartu Indonesia Sehat (KIS) merupakan kartu peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 13:43 WIB

Komunikasi Keluarga dalam Mengatasi Bunuh Diri

Bunuh diri pada anak menandakan terputusnya saluran komunikasi antara anak dan orang tua.
Bunuh diri pada anak menandakan terputusnya saluran komunikasi antara anak dan orang tua. (Sumber: Unsplash | Foto: K. Mitch Hodge)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 11:18 WIB

Tradisi ‘Nglabur’ Rumah saat Ramadan, Filosofi Bersih Diri dan Mencerahkan Suasana Hati

Melabur alias mengecat tembok dengan gamping menciptakan hasil akhir yang artistik, bertekstur, alami, dan ramah lingkungan.
Ilustrasi melabur rumah dengan batu kapur atau gamping. (Sumber: Pexels | Foto: Sergey Meshkov)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 08:49 WIB

3 Jejak Heroik K.H. Anwar Musaddad yang Terlupakan 

Ketua Kokesin di Makkah, Kepala Syuumuka dan Pendiri Hizbullah Priangan menjadi novelty dalam kajian tokoh KH Anwar Musaddad yang membuktikan jasa, kiprah dan perjuangan (pahlawan) kemanusiaan.
Cover buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025). (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Mayantara 12 Feb 2026, 07:04 WIB

Keranjingan Info Bites Konten Religi 

Jelang Ramadan, salah satu fenomena yang terus menguat adalah keranjingan scrolling video pendek religi.
Ilustrasi muslimah sedang memandang smartphone. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 11 Feb 2026, 21:40 WIB

Ngabuburit di Bandung Tahun 1980-an

Tentang awal Ramadan dan ngabuburit warga Kota Bandung tahun 1980-an.
Gedung de Majestic, salah satu bioskop tertua di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 11 Feb 2026, 20:08 WIB

Rahasia Putu Ayu Simpang Dago Bertahan 18 Tahun di Tengah Gempuran Dessert Kekinian

Lapak kaki lima yang menjual putu ayu ini berhasil bertahan dengan pakem kualitas rasa yang mengembalikan memori sejak kecil pada indera perasa para konsumennya.
Lapak kaki lima yang menjual putu ayu ini berhasil bertahan dengan pakem kualitas rasa yang mengembalikan memori sejak kecil pada indera perasa para konsumennya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)