YAYASAN KEBUDAYAAN RANCAGE memberikan Hadiah Jasa tahun 2026 untuk penulis dan sastrawan Aan Merdeka Permana. Hadiah Jasa adalah bentuk penghargaan dari kepada individu atau lembaga yang berjasa dalam pengembangan bahasa dan sastra daerah. Hadiah Jasa diberikan sejak 1990, tetapi terhenti tahun 2018. Mulai tahun 2025, memberikan kembali hadiah tersebut.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. Ia merupakan pengarang produktif yang konsisten menulis karya sastra dalam berbagai genre seperti roman, cerpen, dan esai. Ia adalah wartawan senior yang telah berbakti pada dunia jurnalistik sejak 1960-an. Tahun 2025, Aan juga menerbitkan tiga roman yaitu Balada Cinta Nok Sondari, Saritem, dan Siti Munigar.
Aan telah menulis ratusan buku. Sejak 1968, ia terus mengarang tanpa henti. Tak hanya menulis, Aan juga menerbitkan sendiri karya-karyanya, bahkan pergi ke berbagai pelosok Jawa Barat untuk mengantar buku tersebut kepada pelanggan setianya.
Ia juga disebut Sebagian kalangan sebagai penulis dan sastrawan dengan spesialisasi Padjadjaran. Ia sudah menulis buku bertéma Padjadjaran lebih dari 150 buku. Itu belum termasuk roman panjang Sareupna di Pajajaran yang berharap terbit 100 episode (sekarang baru terbit 80 episode). Buku-bukunya tentang Padjadjaran yang lain di antaranya: Senja Jatuh di Pajajaran; Kunanti di Gerbang Pakuan; Memburu Kitab Karatuan Sunda; Dendam Surawisesa, dll.

Di masa tuanya sekarang (76), semangat menulis dan dedikasinya terhadap sastera Sunda tak kunjung padam. Berikut wawancara penulis dengan Aan Merdeka Permana tentang menulis, Padjadjaran, dan rencana masa tuanya.
Bagaimana perasaan Akang dinyatakan sebagai pemenang Hadiah Jasa Rancage?
Ya, senang atuh ada yang memberi penghargaan. Masa harus ngambeuk? Itu merupakan hadiah buat kakek-kakek yang tidak ada kata bosan menulis.
Ya, semangat menulis itu merupakan kelebihan Akang, kan?
Ya, memang hanya itu. Jadi kuli mencangkul tidak bisa; kerja di pabrik enggak bisa. Apalagi disuruh dagang harus ada modal. Sekarang mah saya menulis hanya sekadar untuk dokumentasi, tidak untuk dibukukan. Menulis carpon atau artikel juga sekadar buat dokumen, tidak untuk dikirim ke media mana-mana--cukup untuk dimuat di fb penulis wé.
Ah, menulis apa saja. Juga tentang keluhan. Sebab, kini, media untuk menulis semakin berkurang. Media ada yang memberi honor dan lebih banyak yang tidak. Menulis di media besar juga banyak saingan. Sebagai penulis yang sudah tua, seharusnya saya sudah berhenti menulis. Juga tulisan saya banyak yang tidak dimuat redaktur.
Siapa tahu keluhan Akang dibaca Kang Dedi Mulyadi (KDM)?
Deuh. KDM mah senangnya membantu orang awam yang miskin, tetapi tidak senang menolong sastrawan miskin.
Mulai kapan Akang menulis tema tentang Padjadjaran?
Menulis buku bertéma Padjadjaran sudah lebih dari 150 buku. Itu belum termasuk roman panjang Sareupna di Pajajaran yang berharap terbit 100 episode (sekarang baru terbit 80 episode karena kekurangan uang. Untuk membuat satu episode itu perlu mengadakan investigasi dulu. Biasanya penulisan satu episode selesai dalam satu bulan. Tetapi, sekarang sudah tiga bulan saya belum menulis lagi. Ya, karena sudah tidak ada biaya. Padahal hanya tinggal 20 episode.
Jangankan menulis sejarah di luar tema itu, pengetahuan saya tentang Padjadjaran juga belum ada seperempatnya. Semakin diteliti, semakin beda kisah tentang Padjadjaran itu—berbeda dengan tulisan versi para sejarawan yang resmi diakui.
Sekarang, saya sedang meneliti mengapa setiap raja Padjadjaran yang lengser keprabon oleh para sejarahwan sering disebut wafat? Hasil penelitian saya, justru kisahnya masih panjang. Nah, tentang hal ini perlu biaya untuk melakukan investigasi. Apalagi biaya itu keluar dari saku sendiri.
Bukankah buku Sareupna di Pajajaran diterbitkan ulang?
Ya, tapi hal itu tidak signifikan. Sebab, uang buku itu bergantung pada oplag. Tahun lalu, buku itu dicetak ulang oleh seorang anggota déwan dengan jumlah cetak terbatas dan dibagikan ke peserta diskusi. Memang saya dapat uang. Tapi sipatnya bukan jual beli. Hanya stimulan begitulah.
KDM keturunan Padjadjaran?
Semua orang Sunda boleh berdalih keturunan Padjadjaran. Misalnya, nenek, kakek, dan buyut saya yang tinggal di tanah Sunda ini pasti keturunan Padjadjaran. Tetapi, ya, paling keturunan petani, pehuma, penggawa paling bawah, atau keturunan pembantu zaman Padjadjaran.
Berapa usia Akang sekarang? Mau terus menulis?
Maju ke 76 tahun. Sebentar lagi meninggal. Takutnya tidak selesai menulis tuntas episode Padjadjaran hingga tamat 100 episode.
Ada anak yang meneruskan?
Tidak ada. Tidak ada anak yang meneruskan. Malah anak saya jadi sopir ojek, sopir Grab.Mus
Mudah-mudahan tulisan ini dibaca KDM. Kemudian buku-buku tentang Padjadjaran karya Akang dibeli.
Lah, meski dibaca juga tetap tidak akan diperhatikan. Tidak akan viral.
Eh, siapa tahu. Tukang es gabus juga viral?
Iya, tapi saya aminkan saja. (*)
