Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Dudung Ridwan
Ditulis oleh Dudung Ridwan diterbitkan Selasa 03 Feb 2026, 12:43 WIB
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

YAYASAN KEBUDAYAAN RANCAGE memberikan Hadiah Jasa tahun 2026 untuk penulis dan sastrawan Aan Merdeka Permana. Hadiah Jasa adalah bentuk penghargaan dari kepada individu atau lembaga yang berjasa dalam pengembangan bahasa dan sastra daerah. Hadiah Jasa diberikan sejak 1990, tetapi terhenti tahun 2018. Mulai tahun 2025, memberikan kembali hadiah tersebut.

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. Ia merupakan pengarang produktif yang konsisten menulis karya sastra dalam berbagai genre seperti roman, cerpen, dan esai. Ia adalah wartawan senior yang telah berbakti pada dunia jurnalistik sejak 1960-an. Tahun 2025, Aan juga menerbitkan tiga roman yaitu Balada Cinta Nok Sondari, Saritem, dan Siti Munigar.

Aan telah menulis ratusan buku. Sejak 1968, ia terus mengarang tanpa henti. Tak hanya menulis, Aan juga menerbitkan sendiri karya-karyanya, bahkan pergi ke berbagai pelosok Jawa Barat untuk mengantar buku tersebut kepada pelanggan setianya. 

Ia juga disebut Sebagian kalangan sebagai penulis dan sastrawan dengan spesialisasi Padjadjaran. Ia sudah menulis buku bertéma Padjadjaran lebih dari 150 buku. Itu belum termasuk roman panjang Sareupna di Pajajaran yang berharap terbit 100 episode (sekarang baru terbit 80 episode). Buku-bukunya tentang Padjadjaran yang lain di antaranya: Senja Jatuh di Pajajaran; Kunanti di Gerbang Pakuan; Memburu Kitab Karatuan Sunda; Dendam Surawisesa, dll.

Buku karya Aan M.P. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Buku karya Aan M.P. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Di masa tuanya sekarang (76), semangat menulis dan dedikasinya terhadap sastera Sunda tak kunjung padam. Berikut wawancara penulis dengan Aan Merdeka Permana tentang menulis, Padjadjaran, dan rencana masa tuanya.

Bagaimana perasaan Akang dinyatakan sebagai pemenang Hadiah Jasa Rancage?

Ya, senang atuh ada yang memberi penghargaan. Masa harus ngambeuk? Itu merupakan hadiah buat kakek-kakek yang tidak ada kata bosan menulis.

Ya, semangat menulis itu merupakan kelebihan Akang, kan?

Ya, memang hanya itu. Jadi kuli mencangkul tidak bisa; kerja di pabrik enggak bisa. Apalagi disuruh dagang harus ada modal. Sekarang mah saya menulis hanya sekadar untuk dokumentasi, tidak untuk dibukukan. Menulis carpon atau artikel juga sekadar buat dokumen, tidak untuk dikirim ke media mana-mana--cukup untuk dimuat di fb penulis .

Ah, menulis apa saja. Juga tentang keluhan. Sebab, kini, media untuk menulis semakin berkurang. Media ada yang memberi honor dan lebih banyak yang tidak. Menulis di media besar juga banyak saingan. Sebagai penulis yang sudah tua, seharusnya saya sudah berhenti menulis. Juga tulisan saya banyak yang tidak dimuat redaktur.

Siapa tahu keluhan Akang dibaca Kang Dedi Mulyadi (KDM)?

Deuh. KDM mah senangnya membantu orang awam yang miskin, tetapi tidak senang menolong sastrawan miskin.

Mulai kapan Akang menulis tema tentang Padjadjaran? 

Menulis buku bertéma Padjadjaran sudah lebih dari 150 buku. Itu belum termasuk roman panjang Sareupna di Pajajaran yang berharap terbit 100 episode (sekarang baru terbit 80 episode karena kekurangan uang. Untuk membuat satu episode itu perlu mengadakan investigasi dulu. Biasanya penulisan satu episode selesai dalam satu bulan. Tetapi, sekarang sudah tiga bulan saya belum menulis lagi. Ya, karena sudah tidak ada biaya. Padahal hanya tinggal 20 episode.

Jangankan menulis sejarah di luar tema itu, pengetahuan saya tentang Padjadjaran juga  belum ada seperempatnya. Semakin diteliti, semakin beda kisah tentang Padjadjaran itu—berbeda dengan tulisan versi para sejarawan yang resmi diakui.

Sekarang, saya sedang meneliti mengapa setiap raja Padjadjaran yang lengser keprabon oleh para sejarahwan sering disebut wafat? Hasil penelitian saya, justru kisahnya masih panjang. Nah, tentang hal ini perlu biaya untuk melakukan investigasi. Apalagi biaya itu keluar dari saku sendiri.

Bukankah buku Sareupna di Pajajaran diterbitkan ulang?

Ya, tapi hal itu tidak signifikan. Sebab, uang buku itu bergantung pada oplag. Tahun lalu, buku itu dicetak ulang oleh seorang anggota déwan dengan jumlah cetak terbatas dan dibagikan ke peserta diskusi. Memang saya dapat uang. Tapi sipatnya bukan jual beli. Hanya stimulan begitulah.

KDM keturunan Padjadjaran?

Semua orang Sunda boleh berdalih keturunan Padjadjaran. Misalnya, nenek, kakek, dan buyut saya yang tinggal di tanah Sunda ini pasti keturunan Padjadjaran. Tetapi, ya, paling keturunan petani, pehuma, penggawa paling bawah, atau keturunan pembantu zaman Padjadjaran.

Berapa usia Akang sekarang? Mau terus menulis?

Maju ke 76 tahun. Sebentar lagi meninggal. Takutnya tidak selesai menulis tuntas episode Padjadjaran hingga tamat 100 episode.

Ada anak yang meneruskan?

Tidak ada. Tidak ada anak yang meneruskan. Malah anak saya jadi sopir ojek, sopir Grab.Mus

Mudah-mudahan tulisan ini dibaca KDM. Kemudian buku-buku tentang Padjadjaran karya Akang dibeli.

Lah, meski dibaca juga tetap tidak akan diperhatikan. Tidak akan viral.

Eh, siapa tahu. Tukang es gabus juga viral?

Iya, tapi saya aminkan saja. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dudung Ridwan
Tentang Dudung Ridwan
Jurnalis dan Pengamat Bulutangkis

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)