AYOBANDUNG.ID - Jika kemajuan adalah lomba lari, orang Sunda pernah merasa mereka tidak diundang ke garis start. Bukan karena mereka datang terlambat, melainkan karena memang tidak disediakan tempat. Ketika peluit kemajuan ditiup, sebagian besar sudah berlari jauh, sementara orang Sunda masih berdiri di pinggir lapangan, bertanya apakah mereka boleh ikut.
Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar dijawab. Maka lahirlah keputusan yang sunyi tapi menentukan: jika lintasan utama tidak bisa dimasuki, buat saja lintasan sendiri. Keputusan ini bukan hasil emosi sesaat, melainkan kesadaran yang tumbuh perlahan. Kesadaran bahwa mengeluh tidak akan memendekkan jarak, dan menunggu belas kasihan hanya akan memperpanjang ketertinggalan.
Kesadaran itulah yang menjadi latar kelahiran Universitas Pasundan. Ia bukan dimulai dari gagasan mendirikan kampus, melainkan dari rasa jengah yang sangat manusiawi. Pada awal abad ke-20, orang Sunda mulai menyadari posisi mereka dalam struktur kolonial: hadir, tetapi tidak menentukan. Terlibat, tetapi jarang memimpin. Dalam urusan kemajuan, mereka lebih sering menjadi penonton yang sopan.
Baca Juga: Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan
Dari kegelisahan itu, Paguyuban Pasundan lahir pada 1913. Ia tidak dibentuk sebagai pelarian romantik ke masa lalu, juga bukan sebagai panggung kebudayaan semata. Paguyuban Pasundan berdiri karena satu kesimpulan yang sederhana: ketertinggalan pendidikan dan ekonomi tidak akan berubah jika tidak diurus secara sengaja. Dan urusan itu terlalu penting untuk diserahkan pada niat baik pemerintah kolonial.
Pada masa itu, pendidikan adalah barang mahal dan langka. Sekolah modern dikuasai negara kolonial, dengan akses yang sangat terbatas bagi pribumi. Paguyuban Pasundan membaca kenyataan ini tanpa banyak retorika. Jika akses ditutup, maka satu-satunya jalan adalah membangun dari luar pagar. Maka pendidikan dipilih, bukan sebagai simbol perlawanan, tetapi sebagai alat kerja jangka panjang.
Langkah pertama mereka tidak spektakuler, tetapi konsisten. Sekolah-sekolah didirikan: HIS, MULO, tersebar dari Tasikmalaya hingga Bandung. Jumlahnya tidak melonjak drastis, namun terus bertambah. Di ruang-ruang kelas sederhana itu, murid-murid belajar membaca, berhitung, dan perlahan memahami bahwa identitas Sunda tidak identik dengan posisi belakang.
Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis
Seiring waktu, sekolah-sekolah itu mulai menunjukkan hasil. Lulusan bertambah. Kesadaran tumbuh. Tetapi justru di titik itulah masalah baru muncul. Pendidikan menengah menghasilkan generasi yang lebih terdidik, sementara jalan ke pendidikan tinggi tetap buntu. Tanpa perguruan tinggi, sekolah-sekolah itu hanya akan menjadi tangga yang berhenti di lantai tengah.
Paguyuban Pasundan memahami bahwa proyek pendidikan tidak bisa setengah jalan. Jika ingin memutus ketergantungan, mereka harus menyediakan jalur sampai puncak. Dari sinilah gagasan universitas mulai mengendap. Bukan sebagai ambisi prestise, melainkan sebagai kelanjutan logis dari kerja panjang yang sudah dimulai puluhan tahun sebelumnya.

Dari Perkumpulan ke Kampus
Perjalanan menuju pendirian Universitas Pasundan tidak terjadi dalam semalam. Ia adalah akumulasi dari puluhan tahun pengalaman mengelola pendidikan. Momentum baru benar-benar terasa setelah Indonesia merdeka. Negara baru ini kekurangan segalanya, termasuk sarjana. Bandung, yang sejak zaman kolonial dikenal sebagai kota pendidikan, menjadi lokasi yang masuk akal untuk menanamkan universitas baru.
Baca Juga: Sejarah Universitas Padjadjaran, Lahirnya Kawah Cendikia di Tanah Sunda
Tahun 1960 akhirnya menjadi penanda resmi. Universitas Pasundan didirikan sebagai perguruan tinggi swasta di bawah naungan Yayasan Universitas Pasundan. Operasional perkuliahan baru berjalan setahun kemudian, tetapi secara historis, inilah puncak dari proyek panjang Paguyuban Pasundan di bidang pendidikan.
Pada fase awal, Unpas tidak mencoba menjadi segalanya sekaligus. Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dibuka karena kebutuhan nyata negara yang sedang belajar mengatur dirinya sendiri. Negara butuh ahli hukum, butuh tenaga sosial politik. Tidak ada romantisme akademik, apalagi jargon masa depan. Yang ada adalah kesadaran praktis.
Dari fondasi itu, Unpas tumbuh perlahan. Fakultas Teknik, Ekonomi, Ilmu Komunikasi, dan program studi lain menyusul. Perkembangannya menyerupai bangunan yang ditambah ruang demi ruang, bukan gedung megah yang dibangun dari angan-angan. Sebagai perguruan tinggi swasta, Unpas hidup dalam keseharian yang keras: dana terbatas, tuntutan mutu tinggi.
Namun Unpas memiliki bekal yang tidak kasat mata. Ia lahir dari sejarah panjang, bukan dari proyek singkat. Nilai pengkuh agamana, luhung elmuna, jembar budayana bukan sekadar hiasan dinding. Nilai itu bekerja sebagai etika, sebagai cara pandang bahwa pendidikan bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga tentang watak dan kebudayaan.
Yang menarik, akar Sunda yang kuat tidak menjadikan Unpas eksklusif. Justru sebaliknya. Seiring waktu, kerja sama internasional dibuka. Mahasiswa asing datang, program gelar ganda berjalan. Bahasa asing terdengar di lorong kampus, berdampingan dengan logat Priangan yang tidak pernah sepenuhnya hilang. Tradisi tidak ditinggalkan, tetapi diajak berunding.
Baca Juga: Hikayat Kasus Penganiayaan Brutal IPDN Jatinangor, Tumbangnya Raga Praja di Tangan Senior Jahanam
Di mata publik Bandung, Unpas membangun reputasi dengan cara yang tenang. Tidak selalu paling mencolok, tetapi konsisten. Kepercayaan publik tidak datang dari pencitraan besar, melainkan dari pengalaman panjang. Dari lulusan-lulusan yang bekerja, mengajar, mengelola, dan menjalani hidup biasa dengan bekal pendidikan yang cukup.
Kini, lebih dari enam dekade sejak berdiri, Universitas Pasundan telah melahirkan puluhan ribu alumni. Kampus ini tetap berjalan di lintasannya sendiri. Ia tidak tergesa-gesa mengejar gelar paling modern, tetapi terus menegosiasikan tradisi dan perubahan.
Sejarah Universitas Pasundan bergerak dengan irama yang cenderung pelan. Tidak banyak kejadian yang memaksa orang berhenti dan menoleh. Perubahannya sering baru terasa setelah bertahun-tahun berlalu, ketika orang sadar bahwa kampus ini sudah tidak lagi sama seperti sebelumnya.
