Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Sejarah Universitas Pasundan, Jalan Panjang Pencerahan dari Pinggiran

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Minggu 01 Feb 2026, 09:12 WIB
Universitas Pasundan (Sumber: Unpas)

Universitas Pasundan (Sumber: Unpas)

AYOBANDUNG.ID - Jika kemajuan adalah lomba lari, orang Sunda pernah merasa mereka tidak diundang ke garis start. Bukan karena mereka datang terlambat, melainkan karena memang tidak disediakan tempat. Ketika peluit kemajuan ditiup, sebagian besar sudah berlari jauh, sementara orang Sunda masih berdiri di pinggir lapangan, bertanya apakah mereka boleh ikut.

Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar dijawab. Maka lahirlah keputusan yang sunyi tapi menentukan: jika lintasan utama tidak bisa dimasuki, buat saja lintasan sendiri. Keputusan ini bukan hasil emosi sesaat, melainkan kesadaran yang tumbuh perlahan. Kesadaran bahwa mengeluh tidak akan memendekkan jarak, dan menunggu belas kasihan hanya akan memperpanjang ketertinggalan.

Kesadaran itulah yang menjadi latar kelahiran Universitas Pasundan. Ia bukan dimulai dari gagasan mendirikan kampus, melainkan dari rasa jengah yang sangat manusiawi. Pada awal abad ke-20, orang Sunda mulai menyadari posisi mereka dalam struktur kolonial: hadir, tetapi tidak menentukan. Terlibat, tetapi jarang memimpin. Dalam urusan kemajuan, mereka lebih sering menjadi penonton yang sopan.

Baca Juga: Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan

Dari kegelisahan itu, Paguyuban Pasundan lahir pada 1913. Ia tidak dibentuk sebagai pelarian romantik ke masa lalu, juga bukan sebagai panggung kebudayaan semata. Paguyuban Pasundan berdiri karena satu kesimpulan yang sederhana: ketertinggalan pendidikan dan ekonomi tidak akan berubah jika tidak diurus secara sengaja. Dan urusan itu terlalu penting untuk diserahkan pada niat baik pemerintah kolonial.

Pada masa itu, pendidikan adalah barang mahal dan langka. Sekolah modern dikuasai negara kolonial, dengan akses yang sangat terbatas bagi pribumi. Paguyuban Pasundan membaca kenyataan ini tanpa banyak retorika. Jika akses ditutup, maka satu-satunya jalan adalah membangun dari luar pagar. Maka pendidikan dipilih, bukan sebagai simbol perlawanan, tetapi sebagai alat kerja jangka panjang.

Langkah pertama mereka tidak spektakuler, tetapi konsisten. Sekolah-sekolah didirikan: HIS, MULO, tersebar dari Tasikmalaya hingga Bandung. Jumlahnya tidak melonjak drastis, namun terus bertambah. Di ruang-ruang kelas sederhana itu, murid-murid belajar membaca, berhitung, dan perlahan memahami bahwa identitas Sunda tidak identik dengan posisi belakang.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Seiring waktu, sekolah-sekolah itu mulai menunjukkan hasil. Lulusan bertambah. Kesadaran tumbuh. Tetapi justru di titik itulah masalah baru muncul. Pendidikan menengah menghasilkan generasi yang lebih terdidik, sementara jalan ke pendidikan tinggi tetap buntu. Tanpa perguruan tinggi, sekolah-sekolah itu hanya akan menjadi tangga yang berhenti di lantai tengah.

Paguyuban Pasundan memahami bahwa proyek pendidikan tidak bisa setengah jalan. Jika ingin memutus ketergantungan, mereka harus menyediakan jalur sampai puncak. Dari sinilah gagasan universitas mulai mengendap. Bukan sebagai ambisi prestise, melainkan sebagai kelanjutan logis dari kerja panjang yang sudah dimulai puluhan tahun sebelumnya.

Gedung Paguyuban Pasundan, berdampingan dengan Fakultas Kedokteran dan Pascasarjana Universitas Pasundan. (Sumber: Unpas)
Gedung Paguyuban Pasundan, berdampingan dengan Fakultas Kedokteran dan Pascasarjana Universitas Pasundan. (Sumber: Unpas)

Dari Perkumpulan ke Kampus

Perjalanan menuju pendirian Universitas Pasundan tidak terjadi dalam semalam. Ia adalah akumulasi dari puluhan tahun pengalaman mengelola pendidikan. Momentum baru benar-benar terasa setelah Indonesia merdeka. Negara baru ini kekurangan segalanya, termasuk sarjana. Bandung, yang sejak zaman kolonial dikenal sebagai kota pendidikan, menjadi lokasi yang masuk akal untuk menanamkan universitas baru.

Baca Juga: Sejarah Universitas Padjadjaran, Lahirnya Kawah Cendikia di Tanah Sunda

Tahun 1960 akhirnya menjadi penanda resmi. Universitas Pasundan didirikan sebagai perguruan tinggi swasta di bawah naungan Yayasan Universitas Pasundan. Operasional perkuliahan baru berjalan setahun kemudian, tetapi secara historis, inilah puncak dari proyek panjang Paguyuban Pasundan di bidang pendidikan.

Pada fase awal, Unpas tidak mencoba menjadi segalanya sekaligus. Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dibuka karena kebutuhan nyata negara yang sedang belajar mengatur dirinya sendiri. Negara butuh ahli hukum, butuh tenaga sosial politik. Tidak ada romantisme akademik, apalagi jargon masa depan. Yang ada adalah kesadaran praktis.

Dari fondasi itu, Unpas tumbuh perlahan. Fakultas Teknik, Ekonomi, Ilmu Komunikasi, dan program studi lain menyusul. Perkembangannya menyerupai bangunan yang ditambah ruang demi ruang, bukan gedung megah yang dibangun dari angan-angan. Sebagai perguruan tinggi swasta, Unpas hidup dalam keseharian yang keras: dana terbatas, tuntutan mutu tinggi.

Namun Unpas memiliki bekal yang tidak kasat mata. Ia lahir dari sejarah panjang, bukan dari proyek singkat. Nilai pengkuh agamana, luhung elmuna, jembar budayana bukan sekadar hiasan dinding. Nilai itu bekerja sebagai etika, sebagai cara pandang bahwa pendidikan bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga tentang watak dan kebudayaan.

Yang menarik, akar Sunda yang kuat tidak menjadikan Unpas eksklusif. Justru sebaliknya. Seiring waktu, kerja sama internasional dibuka. Mahasiswa asing datang, program gelar ganda berjalan. Bahasa asing terdengar di lorong kampus, berdampingan dengan logat Priangan yang tidak pernah sepenuhnya hilang. Tradisi tidak ditinggalkan, tetapi diajak berunding.

Baca Juga: Hikayat Kasus Penganiayaan Brutal IPDN Jatinangor, Tumbangnya Raga Praja di Tangan Senior Jahanam

Di mata publik Bandung, Unpas membangun reputasi dengan cara yang tenang. Tidak selalu paling mencolok, tetapi konsisten. Kepercayaan publik tidak datang dari pencitraan besar, melainkan dari pengalaman panjang. Dari lulusan-lulusan yang bekerja, mengajar, mengelola, dan menjalani hidup biasa dengan bekal pendidikan yang cukup.

Kini, lebih dari enam dekade sejak berdiri, Universitas Pasundan telah melahirkan puluhan ribu alumni. Kampus ini tetap berjalan di lintasannya sendiri. Ia tidak tergesa-gesa mengejar gelar paling modern, tetapi terus menegosiasikan tradisi dan perubahan.

Sejarah Universitas Pasundan bergerak dengan irama yang cenderung pelan. Tidak banyak kejadian yang memaksa orang berhenti dan menoleh. Perubahannya sering baru terasa setelah bertahun-tahun berlalu, ketika orang sadar bahwa kampus ini sudah tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)