Sejarah Universitas Pasundan, Jalan Panjang Pencerahan dari Pinggiran

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Universitas Pasundan (Sumber: Unpas)
Universitas Pasundan (Sumber: Unpas)

AYOBANDUNG.ID - Jika kemajuan adalah lomba lari, orang Sunda pernah merasa mereka tidak diundang ke garis start. Bukan karena mereka datang terlambat, melainkan karena memang tidak disediakan tempat. Ketika peluit kemajuan ditiup, sebagian besar sudah berlari jauh, sementara orang Sunda masih berdiri di pinggir lapangan, bertanya apakah mereka boleh ikut.

Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar dijawab. Maka lahirlah keputusan yang sunyi tapi menentukan: jika lintasan utama tidak bisa dimasuki, buat saja lintasan sendiri. Keputusan ini bukan hasil emosi sesaat, melainkan kesadaran yang tumbuh perlahan. Kesadaran bahwa mengeluh tidak akan memendekkan jarak, dan menunggu belas kasihan hanya akan memperpanjang ketertinggalan.

Kesadaran itulah yang menjadi latar kelahiran Universitas Pasundan. Ia bukan dimulai dari gagasan mendirikan kampus, melainkan dari rasa jengah yang sangat manusiawi. Pada awal abad ke-20, orang Sunda mulai menyadari posisi mereka dalam struktur kolonial: hadir, tetapi tidak menentukan. Terlibat, tetapi jarang memimpin. Dalam urusan kemajuan, mereka lebih sering menjadi penonton yang sopan.

Baca Juga: Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan

Dari kegelisahan itu, Paguyuban Pasundan lahir pada 1913. Ia tidak dibentuk sebagai pelarian romantik ke masa lalu, juga bukan sebagai panggung kebudayaan semata. Paguyuban Pasundan berdiri karena satu kesimpulan yang sederhana: ketertinggalan pendidikan dan ekonomi tidak akan berubah jika tidak diurus secara sengaja. Dan urusan itu terlalu penting untuk diserahkan pada niat baik pemerintah kolonial.

Pada masa itu, pendidikan adalah barang mahal dan langka. Sekolah modern dikuasai negara kolonial, dengan akses yang sangat terbatas bagi pribumi. Paguyuban Pasundan membaca kenyataan ini tanpa banyak retorika. Jika akses ditutup, maka satu-satunya jalan adalah membangun dari luar pagar. Maka pendidikan dipilih, bukan sebagai simbol perlawanan, tetapi sebagai alat kerja jangka panjang.

Langkah pertama mereka tidak spektakuler, tetapi konsisten. Sekolah-sekolah didirikan: HIS, MULO, tersebar dari Tasikmalaya hingga Bandung. Jumlahnya tidak melonjak drastis, namun terus bertambah. Di ruang-ruang kelas sederhana itu, murid-murid belajar membaca, berhitung, dan perlahan memahami bahwa identitas Sunda tidak identik dengan posisi belakang.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Seiring waktu, sekolah-sekolah itu mulai menunjukkan hasil. Lulusan bertambah. Kesadaran tumbuh. Tetapi justru di titik itulah masalah baru muncul. Pendidikan menengah menghasilkan generasi yang lebih terdidik, sementara jalan ke pendidikan tinggi tetap buntu. Tanpa perguruan tinggi, sekolah-sekolah itu hanya akan menjadi tangga yang berhenti di lantai tengah.

Paguyuban Pasundan memahami bahwa proyek pendidikan tidak bisa setengah jalan. Jika ingin memutus ketergantungan, mereka harus menyediakan jalur sampai puncak. Dari sinilah gagasan universitas mulai mengendap. Bukan sebagai ambisi prestise, melainkan sebagai kelanjutan logis dari kerja panjang yang sudah dimulai puluhan tahun sebelumnya.

Gedung Paguyuban Pasundan, berdampingan dengan Fakultas Kedokteran dan Pascasarjana Universitas Pasundan. (Sumber: Unpas)
Gedung Paguyuban Pasundan, berdampingan dengan Fakultas Kedokteran dan Pascasarjana Universitas Pasundan. (Sumber: Unpas)

Dari Perkumpulan ke Kampus

Perjalanan menuju pendirian Universitas Pasundan tidak terjadi dalam semalam. Ia adalah akumulasi dari puluhan tahun pengalaman mengelola pendidikan. Momentum baru benar-benar terasa setelah Indonesia merdeka. Negara baru ini kekurangan segalanya, termasuk sarjana. Bandung, yang sejak zaman kolonial dikenal sebagai kota pendidikan, menjadi lokasi yang masuk akal untuk menanamkan universitas baru.

Baca Juga: Sejarah Universitas Padjadjaran, Lahirnya Kawah Cendikia di Tanah Sunda

Tahun 1960 akhirnya menjadi penanda resmi. Universitas Pasundan didirikan sebagai perguruan tinggi swasta di bawah naungan Yayasan Universitas Pasundan. Operasional perkuliahan baru berjalan setahun kemudian, tetapi secara historis, inilah puncak dari proyek panjang Paguyuban Pasundan di bidang pendidikan.

Pada fase awal, Unpas tidak mencoba menjadi segalanya sekaligus. Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dibuka karena kebutuhan nyata negara yang sedang belajar mengatur dirinya sendiri. Negara butuh ahli hukum, butuh tenaga sosial politik. Tidak ada romantisme akademik, apalagi jargon masa depan. Yang ada adalah kesadaran praktis.

Dari fondasi itu, Unpas tumbuh perlahan. Fakultas Teknik, Ekonomi, Ilmu Komunikasi, dan program studi lain menyusul. Perkembangannya menyerupai bangunan yang ditambah ruang demi ruang, bukan gedung megah yang dibangun dari angan-angan. Sebagai perguruan tinggi swasta, Unpas hidup dalam keseharian yang keras: dana terbatas, tuntutan mutu tinggi.

Namun Unpas memiliki bekal yang tidak kasat mata. Ia lahir dari sejarah panjang, bukan dari proyek singkat. Nilai pengkuh agamana, luhung elmuna, jembar budayana bukan sekadar hiasan dinding. Nilai itu bekerja sebagai etika, sebagai cara pandang bahwa pendidikan bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga tentang watak dan kebudayaan.

Yang menarik, akar Sunda yang kuat tidak menjadikan Unpas eksklusif. Justru sebaliknya. Seiring waktu, kerja sama internasional dibuka. Mahasiswa asing datang, program gelar ganda berjalan. Bahasa asing terdengar di lorong kampus, berdampingan dengan logat Priangan yang tidak pernah sepenuhnya hilang. Tradisi tidak ditinggalkan, tetapi diajak berunding.

Baca Juga: Hikayat Kasus Penganiayaan Brutal IPDN Jatinangor, Tumbangnya Raga Praja di Tangan Senior Jahanam

Di mata publik Bandung, Unpas membangun reputasi dengan cara yang tenang. Tidak selalu paling mencolok, tetapi konsisten. Kepercayaan publik tidak datang dari pencitraan besar, melainkan dari pengalaman panjang. Dari lulusan-lulusan yang bekerja, mengajar, mengelola, dan menjalani hidup biasa dengan bekal pendidikan yang cukup.

Kini, lebih dari enam dekade sejak berdiri, Universitas Pasundan telah melahirkan puluhan ribu alumni. Kampus ini tetap berjalan di lintasannya sendiri. Ia tidak tergesa-gesa mengejar gelar paling modern, tetapi terus menegosiasikan tradisi dan perubahan.

Sejarah Universitas Pasundan bergerak dengan irama yang cenderung pelan. Tidak banyak kejadian yang memaksa orang berhenti dan menoleh. Perubahannya sering baru terasa setelah bertahun-tahun berlalu, ketika orang sadar bahwa kampus ini sudah tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)