Hikayat Toko De Vries, Cikal Bakal Toserba di Bandung

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Toko De Vries, cikal bakal toserba modern di Bandung. (Sumber: KITLV)
Toko De Vries, cikal bakal toserba modern di Bandung. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Para tuan kebun Priangan punya satu kebiasaan aneh saat turun ke Bandung. Mereka bisa berdebat soal harga teh dan kina dengan sengit, tapi selalu sepakat dalam satu hal: belanja harus dilakukan di satu tempat. Di sanalah mereka menemukan minuman keras, sepatu, kain, hingga perabot rumah, tanpa harus berkeliling kota. Tempat itu bernama De Vries, sebuah toko yang diam-diam mengubah Bandung dari kota kebun menjadi kota konsumsi.

Pada akhir abad ke 19, Bandung belum sepenuhnya paham apa artinya menjadi kota. Ia masih tampak seperti halaman belakang perkebunan besar yang kebetulan dilewati rel kereta. Jalanan belum ramai. Lampu malam belum seronok. Tapi uang sudah mulai beredar. Banyak. Terutama dari kebun teh, kopi, dan kina yang membentang di Priangan.

Para pemilik kebun itu datang ke Bandung dengan dua keperluan utama. Mengurus administrasi dan menghabiskan uang. Urusan pertama bisa selesai di kantor. Urusan kedua butuh tempat yang layak. Tidak semua kota bisa menyediakan itu. Bandung kala itu sedang belajar.

Baca Juga: Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan

Di tengah kebutuhan itulah, seorang pedagang Belanda bernama Andreas de Vries membaca peluang dengan naluri yang nyaris licik. Ia tiba di Bandung sekitar 1899 dan tercatat sebagai penduduk Eropa ke 1500. Angka yang terdengar administratif, tapi sebetulnya penanda bahwa Bandung sedang kebanjiran orang Eropa dengan dompet tebal dan selera tinggi.

Pada awalnya, De Vries hanya membuka toko kelontong. Lokasinya di Grote Postweg, jalur utama yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan. Jalan ini bukan sembarang jalan. Ia adalah nadi ekonomi dan lalu lintas kolonial. De Vries tahu, siapa pun yang ingin terlihat modern, pasti lewat sini.

Tapi menjadi toko kelontong saja tidak cukup. Bandung sedang bergerak. Para tuan kebun tidak lagi puas membeli barang secara terpisah. Mereka ingin praktis. Mereka ingin efisien. Dan diam-diam, mereka ingin dimanjakan.

Kesempatan itu datang dari sebuah bangunan bergaya Indis yang berdiri di sudut strategis persimpangan Braga dan Grote Postweg. Gedung ini bukan bangunan kosong. Sejak 1879, ia menjadi rumah bagi Societeit Concordia, perkumpulan elite kolonial. Di sanalah para Preangerplanters berdansa, minum, dan membicarakan bisnis sambil menepuk bahu satu sama lain.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Ketika Concordia pindah ke gedung baru pada 1895, bangunan lama itu kehilangan fungsi, tapi tidak kehilangan prestise. Aura elit masih melekat di dindingnya. De Vries melihat ini sebagai undangan terbuka. Ia mengambil alih gedung tersebut dan mengubahnya menjadi sesuatu yang belum pernah ada di Bandung. Toko serbaada.

De Vries dan Kebutuhan Belanja Elite Perkebunan Priangan

Toko De Vries bukan sekadar tempat membeli barang. Ia adalah pernyataan. Di kota yang masih belajar membedakan pasar dan pertokoan, De Vries memperkenalkan etalase. Barang tidak lagi disembunyikan. Ia dipamerkan. Kain digantung rapi. Sepatu disusun sejajar. Botol minuman keras berkilau di balik kaca.

Orang datang bukan hanya untuk membeli, tapi untuk melihat. Dan sering kali, melihat saja sudah cukup untuk membuat dompet terbuka.

Di dalam toko ini, hampir semua kebutuhan hidup orang Eropa tersedia. Dari cerutu, parfum, sepatu, hingga perabot rumah. Bahkan perlengkapan pertanian pun ada. De Vries memahami bahwa pelanggannya adalah orang-orang yang hidup setengah di kebun, setengah di kota. Mereka ingin semua urusan selesai di satu tempat.

Para tuan kebun itu dikenal keras dalam urusan bisnis, tapi longgar dalam urusan kesenangan. Minuman keras menjadi salah satu komoditas paling dicari. Ada cerita yang beredar dari masa itu tentang bagaimana toko De Vries pernah dibobol saat ditinggal tanpa penjaga. Botol botol lenyap. Tapi uang justru tertinggal lebih banyak dari harga barang. Sebuah etika konsumsi khas elite kolonial yang merasa terlalu kaya untuk mencuri, tapi terlalu haus untuk menunggu.

Tampakan toko De Vries di Jalan Baraga tahun 1912. (Sumber: KITLV)
Tampakan toko De Vries di Jalan Baraga tahun 1912. (Sumber: KITLV)

Cerita semacam ini memperlihatkan relasi unik antara toko dan pelanggannya. De Vries bukan ruang jual beli biasa. Ia lebih mirip perpanjangan ruang sosial para elite. Di sanalah mereka memenuhi kebutuhan tanpa perlu banyak basa basi.

Keberadaan Toko De Vries pelan pelan mengubah ritme kawasan sekitarnya. Jalan Braga yang tadinya hanya jalur pendukung mulai ramai. Pedagang lain ikut membuka usaha. Kafe, toko mode, dan restoran menyusul. Kawasan ini tumbuh menjadi pusat gaya hidup kolonial. Bandung pun mulai dikenal bukan hanya sebagai kota kebun, tapi kota jalan jalan.

Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Julukan Parijs van Java tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari kebiasaan. Dari cara orang berpakaian. Dari tempat mereka berbelanja. Dan De Vries berada di pusat kebiasaan itu.

Pada awal abad ke 20, De Vries ikut berubah. Renovasi besar dilakukan pada 1909 dan kembali pada 1920. Arsitek Eduard Cuypers dilibatkan. Nama yang tidak asing di dunia arsitektur kolonial. Ia merancang banyak bangunan penting di Hindia Belanda dan dikenal piawai memadukan gaya Eropa dengan kebutuhan iklim tropis.

Hasil renovasi paling mencolok adalah menara di sisi timur gedung. Menara ini bukan hanya ornamen. Ia adalah penanda. Dari kejauhan, orang tahu bahwa di sudut itu berdiri sesuatu yang penting.

Perubahan tidak berhenti pada fisik bangunan. Konsep bisnis De Vries ikut berevolusi. Ruang ruang di dalam gedung disekat dan disewakan. Ada toko pakaian. Ada toko daging. Bahkan ada showroom mobil. Orang tidak lagi datang hanya untuk satu keperluan. Mereka datang untuk berkeliling.

Tanpa sadar, De Vries telah menciptakan bentuk awal pusat perbelanjaan modern. Sebuah tempat dengan banyak fungsi di bawah satu atap. Orang bisa datang tanpa rencana. Dan pulang dengan belanjaan.

Salah satu inovasi kecil tapi penting adalah penyediaan toilet bagi pengunjung. Di masa ketika fasilitas umum masih jarang, toilet di toko adalah kemewahan. Ia memberi pesan halus bahwa pengunjung boleh tinggal lebih lama. Bahwa belanja adalah pengalaman, bukan tugas cepat.

Baca Juga: Hikayat Jalan Braga Baheula, Kiblat Wajah Parijs van Java Bandung

Warisan Toko De Vries dalam Sejarah Perkotaan Bandung

Seperti semua cerita kejayaan, De Vries pun menghadapi masa surut. Pada 1910an dan 1920an, toko toko baru bermunculan dengan konsep yang lebih segar dan koleksi lebih lengkap. Onderling Belang yang berdiri pada 1913 menjadi pesaing serius. Skala bisnis berubah. Selera konsumen ikut bergeser.

De Vries tidak langsung runtuh. Tapi ia tidak lagi menjadi pusat. Posisi yang dulu istimewa, perlahan menjadi biasa. Namun gedungnya tetap berdiri. Menjadi saksi perubahan zaman.

Setelah Indonesia merdeka, fungsi gedung ini berganti ganti. Pernah menjadi studio foto, restoran Eropa, hingga rumah makan Padang. Setiap fase meninggalkan lapisan cerita. Tapi juga mengikis ingatan kolektif tentang peran awalnya.

Baca Juga: Sejarah Julukan Bandung Parijs van Java, dari Sindiran Jadi Kebanggaan

Pada 1990an, gedung ini sempat terabaikan. Usianya membuatnya tampak rapuh. Di tengah pembangunan kota, bangunan tua sering dianggap penghalang. Baru pada pertengahan 2000an, perhatian kembali datang. Renovasi dilakukan dengan syarat satu hal. Bentuk aslinya tidak boleh hilang.

Ketika gedung ini diresmikan kembali pada 2011 sebagai kantor kantor cabang OCBC NISP, ia tidak sepenuhnya kehilangan jiwanya. Sebagian ruang dibiarkan menjadi pengingat masa lalu. Benda benda lama disimpan. Jejak sejarah dirawat.

Hari ini, orang yang melintas di persimpangan Braga dan Asia Afrika mungkin tidak lagi datang untuk membeli cerutu atau kain impor. Tapi mereka tetap berdiri di hadapan bangunan yang sama. Bangunan yang pernah mengajarkan Bandung cara berbelanja, cara melihat barang, dan cara menikmati kota.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)