Hikayat Toko De Vries, Cikal Bakal Toserba di Bandung

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Senin 02 Feb 2026, 15:24 WIB
Toko De Vries, cikal bakal toserba modern di Bandung. (Sumber: KITLV)

Toko De Vries, cikal bakal toserba modern di Bandung. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Para tuan kebun Priangan punya satu kebiasaan aneh saat turun ke Bandung. Mereka bisa berdebat soal harga teh dan kina dengan sengit, tapi selalu sepakat dalam satu hal: belanja harus dilakukan di satu tempat. Di sanalah mereka menemukan minuman keras, sepatu, kain, hingga perabot rumah, tanpa harus berkeliling kota. Tempat itu bernama De Vries, sebuah toko yang diam-diam mengubah Bandung dari kota kebun menjadi kota konsumsi.

Pada akhir abad ke 19, Bandung belum sepenuhnya paham apa artinya menjadi kota. Ia masih tampak seperti halaman belakang perkebunan besar yang kebetulan dilewati rel kereta. Jalanan belum ramai. Lampu malam belum seronok. Tapi uang sudah mulai beredar. Banyak. Terutama dari kebun teh, kopi, dan kina yang membentang di Priangan.

Para pemilik kebun itu datang ke Bandung dengan dua keperluan utama. Mengurus administrasi dan menghabiskan uang. Urusan pertama bisa selesai di kantor. Urusan kedua butuh tempat yang layak. Tidak semua kota bisa menyediakan itu. Bandung kala itu sedang belajar.

Baca Juga: Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan

Di tengah kebutuhan itulah, seorang pedagang Belanda bernama Andreas de Vries membaca peluang dengan naluri yang nyaris licik. Ia tiba di Bandung sekitar 1899 dan tercatat sebagai penduduk Eropa ke 1500. Angka yang terdengar administratif, tapi sebetulnya penanda bahwa Bandung sedang kebanjiran orang Eropa dengan dompet tebal dan selera tinggi.

Pada awalnya, De Vries hanya membuka toko kelontong. Lokasinya di Grote Postweg, jalur utama yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan. Jalan ini bukan sembarang jalan. Ia adalah nadi ekonomi dan lalu lintas kolonial. De Vries tahu, siapa pun yang ingin terlihat modern, pasti lewat sini.

Tapi menjadi toko kelontong saja tidak cukup. Bandung sedang bergerak. Para tuan kebun tidak lagi puas membeli barang secara terpisah. Mereka ingin praktis. Mereka ingin efisien. Dan diam-diam, mereka ingin dimanjakan.

Kesempatan itu datang dari sebuah bangunan bergaya Indis yang berdiri di sudut strategis persimpangan Braga dan Grote Postweg. Gedung ini bukan bangunan kosong. Sejak 1879, ia menjadi rumah bagi Societeit Concordia, perkumpulan elite kolonial. Di sanalah para Preangerplanters berdansa, minum, dan membicarakan bisnis sambil menepuk bahu satu sama lain.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Ketika Concordia pindah ke gedung baru pada 1895, bangunan lama itu kehilangan fungsi, tapi tidak kehilangan prestise. Aura elit masih melekat di dindingnya. De Vries melihat ini sebagai undangan terbuka. Ia mengambil alih gedung tersebut dan mengubahnya menjadi sesuatu yang belum pernah ada di Bandung. Toko serbaada.

De Vries dan Kebutuhan Belanja Elite Perkebunan Priangan

Toko De Vries bukan sekadar tempat membeli barang. Ia adalah pernyataan. Di kota yang masih belajar membedakan pasar dan pertokoan, De Vries memperkenalkan etalase. Barang tidak lagi disembunyikan. Ia dipamerkan. Kain digantung rapi. Sepatu disusun sejajar. Botol minuman keras berkilau di balik kaca.

Orang datang bukan hanya untuk membeli, tapi untuk melihat. Dan sering kali, melihat saja sudah cukup untuk membuat dompet terbuka.

Di dalam toko ini, hampir semua kebutuhan hidup orang Eropa tersedia. Dari cerutu, parfum, sepatu, hingga perabot rumah. Bahkan perlengkapan pertanian pun ada. De Vries memahami bahwa pelanggannya adalah orang-orang yang hidup setengah di kebun, setengah di kota. Mereka ingin semua urusan selesai di satu tempat.

Para tuan kebun itu dikenal keras dalam urusan bisnis, tapi longgar dalam urusan kesenangan. Minuman keras menjadi salah satu komoditas paling dicari. Ada cerita yang beredar dari masa itu tentang bagaimana toko De Vries pernah dibobol saat ditinggal tanpa penjaga. Botol botol lenyap. Tapi uang justru tertinggal lebih banyak dari harga barang. Sebuah etika konsumsi khas elite kolonial yang merasa terlalu kaya untuk mencuri, tapi terlalu haus untuk menunggu.

Tampakan toko De Vries di Jalan Baraga tahun 1912. (Sumber: KITLV)
Tampakan toko De Vries di Jalan Baraga tahun 1912. (Sumber: KITLV)

Cerita semacam ini memperlihatkan relasi unik antara toko dan pelanggannya. De Vries bukan ruang jual beli biasa. Ia lebih mirip perpanjangan ruang sosial para elite. Di sanalah mereka memenuhi kebutuhan tanpa perlu banyak basa basi.

Keberadaan Toko De Vries pelan pelan mengubah ritme kawasan sekitarnya. Jalan Braga yang tadinya hanya jalur pendukung mulai ramai. Pedagang lain ikut membuka usaha. Kafe, toko mode, dan restoran menyusul. Kawasan ini tumbuh menjadi pusat gaya hidup kolonial. Bandung pun mulai dikenal bukan hanya sebagai kota kebun, tapi kota jalan jalan.

Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Julukan Parijs van Java tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari kebiasaan. Dari cara orang berpakaian. Dari tempat mereka berbelanja. Dan De Vries berada di pusat kebiasaan itu.

Pada awal abad ke 20, De Vries ikut berubah. Renovasi besar dilakukan pada 1909 dan kembali pada 1920. Arsitek Eduard Cuypers dilibatkan. Nama yang tidak asing di dunia arsitektur kolonial. Ia merancang banyak bangunan penting di Hindia Belanda dan dikenal piawai memadukan gaya Eropa dengan kebutuhan iklim tropis.

Hasil renovasi paling mencolok adalah menara di sisi timur gedung. Menara ini bukan hanya ornamen. Ia adalah penanda. Dari kejauhan, orang tahu bahwa di sudut itu berdiri sesuatu yang penting.

Perubahan tidak berhenti pada fisik bangunan. Konsep bisnis De Vries ikut berevolusi. Ruang ruang di dalam gedung disekat dan disewakan. Ada toko pakaian. Ada toko daging. Bahkan ada showroom mobil. Orang tidak lagi datang hanya untuk satu keperluan. Mereka datang untuk berkeliling.

Tanpa sadar, De Vries telah menciptakan bentuk awal pusat perbelanjaan modern. Sebuah tempat dengan banyak fungsi di bawah satu atap. Orang bisa datang tanpa rencana. Dan pulang dengan belanjaan.

Salah satu inovasi kecil tapi penting adalah penyediaan toilet bagi pengunjung. Di masa ketika fasilitas umum masih jarang, toilet di toko adalah kemewahan. Ia memberi pesan halus bahwa pengunjung boleh tinggal lebih lama. Bahwa belanja adalah pengalaman, bukan tugas cepat.

Baca Juga: Hikayat Jalan Braga Baheula, Kiblat Wajah Parijs van Java Bandung

Warisan Toko De Vries dalam Sejarah Perkotaan Bandung

Seperti semua cerita kejayaan, De Vries pun menghadapi masa surut. Pada 1910an dan 1920an, toko toko baru bermunculan dengan konsep yang lebih segar dan koleksi lebih lengkap. Onderling Belang yang berdiri pada 1913 menjadi pesaing serius. Skala bisnis berubah. Selera konsumen ikut bergeser.

De Vries tidak langsung runtuh. Tapi ia tidak lagi menjadi pusat. Posisi yang dulu istimewa, perlahan menjadi biasa. Namun gedungnya tetap berdiri. Menjadi saksi perubahan zaman.

Setelah Indonesia merdeka, fungsi gedung ini berganti ganti. Pernah menjadi studio foto, restoran Eropa, hingga rumah makan Padang. Setiap fase meninggalkan lapisan cerita. Tapi juga mengikis ingatan kolektif tentang peran awalnya.

Baca Juga: Sejarah Julukan Bandung Parijs van Java, dari Sindiran Jadi Kebanggaan

Pada 1990an, gedung ini sempat terabaikan. Usianya membuatnya tampak rapuh. Di tengah pembangunan kota, bangunan tua sering dianggap penghalang. Baru pada pertengahan 2000an, perhatian kembali datang. Renovasi dilakukan dengan syarat satu hal. Bentuk aslinya tidak boleh hilang.

Ketika gedung ini diresmikan kembali pada 2011 sebagai kantor kantor cabang OCBC NISP, ia tidak sepenuhnya kehilangan jiwanya. Sebagian ruang dibiarkan menjadi pengingat masa lalu. Benda benda lama disimpan. Jejak sejarah dirawat.

Hari ini, orang yang melintas di persimpangan Braga dan Asia Afrika mungkin tidak lagi datang untuk membeli cerutu atau kain impor. Tapi mereka tetap berdiri di hadapan bangunan yang sama. Bangunan yang pernah mengajarkan Bandung cara berbelanja, cara melihat barang, dan cara menikmati kota.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)