AYOBANDUNG.ID - Para tuan kebun Priangan punya satu kebiasaan aneh saat turun ke Bandung. Mereka bisa berdebat soal harga teh dan kina dengan sengit, tapi selalu sepakat dalam satu hal: belanja harus dilakukan di satu tempat. Di sanalah mereka menemukan minuman keras, sepatu, kain, hingga perabot rumah, tanpa harus berkeliling kota. Tempat itu bernama De Vries, sebuah toko yang diam-diam mengubah Bandung dari kota kebun menjadi kota konsumsi.
Pada akhir abad ke 19, Bandung belum sepenuhnya paham apa artinya menjadi kota. Ia masih tampak seperti halaman belakang perkebunan besar yang kebetulan dilewati rel kereta. Jalanan belum ramai. Lampu malam belum seronok. Tapi uang sudah mulai beredar. Banyak. Terutama dari kebun teh, kopi, dan kina yang membentang di Priangan.
Para pemilik kebun itu datang ke Bandung dengan dua keperluan utama. Mengurus administrasi dan menghabiskan uang. Urusan pertama bisa selesai di kantor. Urusan kedua butuh tempat yang layak. Tidak semua kota bisa menyediakan itu. Bandung kala itu sedang belajar.
Baca Juga: Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan
Di tengah kebutuhan itulah, seorang pedagang Belanda bernama Andreas de Vries membaca peluang dengan naluri yang nyaris licik. Ia tiba di Bandung sekitar 1899 dan tercatat sebagai penduduk Eropa ke 1500. Angka yang terdengar administratif, tapi sebetulnya penanda bahwa Bandung sedang kebanjiran orang Eropa dengan dompet tebal dan selera tinggi.
Pada awalnya, De Vries hanya membuka toko kelontong. Lokasinya di Grote Postweg, jalur utama yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan. Jalan ini bukan sembarang jalan. Ia adalah nadi ekonomi dan lalu lintas kolonial. De Vries tahu, siapa pun yang ingin terlihat modern, pasti lewat sini.
Tapi menjadi toko kelontong saja tidak cukup. Bandung sedang bergerak. Para tuan kebun tidak lagi puas membeli barang secara terpisah. Mereka ingin praktis. Mereka ingin efisien. Dan diam-diam, mereka ingin dimanjakan.
Kesempatan itu datang dari sebuah bangunan bergaya Indis yang berdiri di sudut strategis persimpangan Braga dan Grote Postweg. Gedung ini bukan bangunan kosong. Sejak 1879, ia menjadi rumah bagi Societeit Concordia, perkumpulan elite kolonial. Di sanalah para Preangerplanters berdansa, minum, dan membicarakan bisnis sambil menepuk bahu satu sama lain.
Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels
Ketika Concordia pindah ke gedung baru pada 1895, bangunan lama itu kehilangan fungsi, tapi tidak kehilangan prestise. Aura elit masih melekat di dindingnya. De Vries melihat ini sebagai undangan terbuka. Ia mengambil alih gedung tersebut dan mengubahnya menjadi sesuatu yang belum pernah ada di Bandung. Toko serbaada.
De Vries dan Kebutuhan Belanja Elite Perkebunan Priangan
Toko De Vries bukan sekadar tempat membeli barang. Ia adalah pernyataan. Di kota yang masih belajar membedakan pasar dan pertokoan, De Vries memperkenalkan etalase. Barang tidak lagi disembunyikan. Ia dipamerkan. Kain digantung rapi. Sepatu disusun sejajar. Botol minuman keras berkilau di balik kaca.
Orang datang bukan hanya untuk membeli, tapi untuk melihat. Dan sering kali, melihat saja sudah cukup untuk membuat dompet terbuka.
Di dalam toko ini, hampir semua kebutuhan hidup orang Eropa tersedia. Dari cerutu, parfum, sepatu, hingga perabot rumah. Bahkan perlengkapan pertanian pun ada. De Vries memahami bahwa pelanggannya adalah orang-orang yang hidup setengah di kebun, setengah di kota. Mereka ingin semua urusan selesai di satu tempat.
Para tuan kebun itu dikenal keras dalam urusan bisnis, tapi longgar dalam urusan kesenangan. Minuman keras menjadi salah satu komoditas paling dicari. Ada cerita yang beredar dari masa itu tentang bagaimana toko De Vries pernah dibobol saat ditinggal tanpa penjaga. Botol botol lenyap. Tapi uang justru tertinggal lebih banyak dari harga barang. Sebuah etika konsumsi khas elite kolonial yang merasa terlalu kaya untuk mencuri, tapi terlalu haus untuk menunggu.

Cerita semacam ini memperlihatkan relasi unik antara toko dan pelanggannya. De Vries bukan ruang jual beli biasa. Ia lebih mirip perpanjangan ruang sosial para elite. Di sanalah mereka memenuhi kebutuhan tanpa perlu banyak basa basi.
Keberadaan Toko De Vries pelan pelan mengubah ritme kawasan sekitarnya. Jalan Braga yang tadinya hanya jalur pendukung mulai ramai. Pedagang lain ikut membuka usaha. Kafe, toko mode, dan restoran menyusul. Kawasan ini tumbuh menjadi pusat gaya hidup kolonial. Bandung pun mulai dikenal bukan hanya sebagai kota kebun, tapi kota jalan jalan.
Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan
Julukan Parijs van Java tidak jatuh dari langit. Ia lahir dari kebiasaan. Dari cara orang berpakaian. Dari tempat mereka berbelanja. Dan De Vries berada di pusat kebiasaan itu.
Pada awal abad ke 20, De Vries ikut berubah. Renovasi besar dilakukan pada 1909 dan kembali pada 1920. Arsitek Eduard Cuypers dilibatkan. Nama yang tidak asing di dunia arsitektur kolonial. Ia merancang banyak bangunan penting di Hindia Belanda dan dikenal piawai memadukan gaya Eropa dengan kebutuhan iklim tropis.
Hasil renovasi paling mencolok adalah menara di sisi timur gedung. Menara ini bukan hanya ornamen. Ia adalah penanda. Dari kejauhan, orang tahu bahwa di sudut itu berdiri sesuatu yang penting.
Perubahan tidak berhenti pada fisik bangunan. Konsep bisnis De Vries ikut berevolusi. Ruang ruang di dalam gedung disekat dan disewakan. Ada toko pakaian. Ada toko daging. Bahkan ada showroom mobil. Orang tidak lagi datang hanya untuk satu keperluan. Mereka datang untuk berkeliling.
Tanpa sadar, De Vries telah menciptakan bentuk awal pusat perbelanjaan modern. Sebuah tempat dengan banyak fungsi di bawah satu atap. Orang bisa datang tanpa rencana. Dan pulang dengan belanjaan.
Salah satu inovasi kecil tapi penting adalah penyediaan toilet bagi pengunjung. Di masa ketika fasilitas umum masih jarang, toilet di toko adalah kemewahan. Ia memberi pesan halus bahwa pengunjung boleh tinggal lebih lama. Bahwa belanja adalah pengalaman, bukan tugas cepat.
Baca Juga: Hikayat Jalan Braga Baheula, Kiblat Wajah Parijs van Java Bandung
Warisan Toko De Vries dalam Sejarah Perkotaan Bandung
Seperti semua cerita kejayaan, De Vries pun menghadapi masa surut. Pada 1910an dan 1920an, toko toko baru bermunculan dengan konsep yang lebih segar dan koleksi lebih lengkap. Onderling Belang yang berdiri pada 1913 menjadi pesaing serius. Skala bisnis berubah. Selera konsumen ikut bergeser.
De Vries tidak langsung runtuh. Tapi ia tidak lagi menjadi pusat. Posisi yang dulu istimewa, perlahan menjadi biasa. Namun gedungnya tetap berdiri. Menjadi saksi perubahan zaman.
Setelah Indonesia merdeka, fungsi gedung ini berganti ganti. Pernah menjadi studio foto, restoran Eropa, hingga rumah makan Padang. Setiap fase meninggalkan lapisan cerita. Tapi juga mengikis ingatan kolektif tentang peran awalnya.
Baca Juga: Sejarah Julukan Bandung Parijs van Java, dari Sindiran Jadi Kebanggaan
Pada 1990an, gedung ini sempat terabaikan. Usianya membuatnya tampak rapuh. Di tengah pembangunan kota, bangunan tua sering dianggap penghalang. Baru pada pertengahan 2000an, perhatian kembali datang. Renovasi dilakukan dengan syarat satu hal. Bentuk aslinya tidak boleh hilang.
Ketika gedung ini diresmikan kembali pada 2011 sebagai kantor kantor cabang OCBC NISP, ia tidak sepenuhnya kehilangan jiwanya. Sebagian ruang dibiarkan menjadi pengingat masa lalu. Benda benda lama disimpan. Jejak sejarah dirawat.
Hari ini, orang yang melintas di persimpangan Braga dan Asia Afrika mungkin tidak lagi datang untuk membeli cerutu atau kain impor. Tapi mereka tetap berdiri di hadapan bangunan yang sama. Bangunan yang pernah mengajarkan Bandung cara berbelanja, cara melihat barang, dan cara menikmati kota.
