Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Mildan Abdalloh
Ditulis oleh Mildan Abdalloh diterbitkan Selasa 03 Feb 2026, 19:40 WIB
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

AYOBANDUNG.ID — Tangan kecil Tejo begitu lincah memasang huruf demi huruf styrofoam pada papan berbalut spon. Sebuah penggaris pun ditempelkan pada bagian bawah huruf, sesekali dia memastikan jejeran huruf membentuk kata dan kalimat berjejer rapi.

Setelah dirasa rapi, penggaris berbahan aluminium dipukulkan, tujuannya mungkin untuk memastikan lem menempel ke spon.

Huruf demi huruf kembali diberi lem kayu, pemuda berbadan gelap tersebut kembali mengulang hal yang sama. Entah kesekian kalinya dia melakukan hal yang sama, namun yang jelas, papan-papan karangan bunga telah bertumpuk.

Suasana tersebut lumrah terlihat di Jalan Pasirluyu Selatan yang dalam beberapa tahun ini menjadi salah satu pusat toko bunga di Kota Bandung.

Baca Juga: Kisah Para Warga Bandung yang Terjerat Tipu Daya Judi Online Kamboja

Terlebih pada bulan-bulan sekarang, ketika resepsi pernikahan banyak berlangsung.

“Bulan Rajab sampai menjelang Ramadan memang menjadi berkah bagi kami,” ucap Jenal, pemilik N-Three Florist, Selasa, 3 Februari 2026.

Pada penanggalan Hijriah, bulan Rajab hingga Sya’ban dipercaya menjadi bulan yang baik untuk melaksanakan pernikahan atau khitanan. Kondisi ini menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku usaha karangan bunga, tidak terkecuali di kawasan Pasirluyu.

Hampir setiap hari, pesanan untuk ucapan selamat menikah atau happy wedding datang. Tidak heran, para pekerja pembuat papan karangan bunga pun hampir setiap hari sibuk.

Tidak jarang, pesanan yang masuk bukan dalam jumlah satu, tapi bisa belasan bahkan puluhan papan.

N-Three Florist yang dikelola Jenal pun beberapa waktu lalu sempat mendapat pesanan hingga puluhan papan karangan bunga. Bukan hanya dari Bandung, tetapi juga dari kota lainnya.

Baca Juga: Kisah Para Pelindung Pegunungan Karst dari Cidadap

“Biasanya kalau pesanan ke luar daerah, kami memanfaatkan jaringan di daerah asal. Kecuali kalau jumlahnya puluhan seperti kemarin, baru dikerjakan di sini dan dikirim ke luar daerah,” ucapnya.

Pertimbangannya adalah masalah biaya kirim. Biasanya para pelaku usaha florist memanfaatkan jasa kirim sendiri yang disebut luper. Untuk satu papan karangan bunga, ongkos kirimnya antara Rp30.000 hingga Rp200.000 tergantung jarak. Jasa tersebut hanya untuk kawasan Bandung. Untuk luar daerah dipastikan lebih tinggi lagi, sehingga pengiriman ke luar kota harus memanfaatkan jasa ekspedisi.

“Makanya kalau pesanan dari luar kota hanya satu atau dua, tetap kami terima, tapi pengerjaan menggunakan jaringan. Kalau jumlahnya banyak kami buat di sini dan dikirim, itu untuk menghemat ongkos,” katanya.

Sebagian toko bunga memang membebankan jasa kirim kepada pelanggan. Jenal sendiri, jika jaraknya dekat, tidak membebankan biaya tersebut kepada pelanggannya.

Baca Juga: Cibaduyut: Sentra Sepatu yang Berubah Menjadi Sentra Kemacetan

Terlepas dari itu, Jenal mengaku selama kurun dua bulan ini memang lumayan mendapat banyak pesanan, khususnya untuk resepsi pernikahan.

Kendati demikian, ucapan duka cita atau ucapan selamat dan sukses lainnya juga tetap diterima selama dua bulan terakhir ini.

“Berkah bagi kami, juga pelaku usaha lainnya,” katanya.

Dalam bisnis karangan bunga, memang terdapat mata rantai yang cukup panjang, mulai dari penjual jasa perangkai bunga, tukang bunga, petani bunga, hingga pelaku usaha styrofoam dan spon, termasuk perajin frame yang menjadi bahan dasar pembuatan karangan bunga.

Selama dua bulan terakhir, mereka mendapat berkah dari bulan Rajab dan Sya’ban dengan pesanan yang melimpah.

Jenal menambahkan, pemesanan bisa dilakukan dengan datang langsung ke tokonya maupun melalui nomor WhatsApp 0878-1100-6669. Harga yang ditawarkan mulai Rp500.000 sampai Rp2 juta tergantung ukuran dan spesifikasinya.

Salah satu pengrajin di Pasirluyu sedang merakit karangan bunga pesanan konsumen. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Salah satu pengrajin di Pasirluyu sedang merakit karangan bunga pesanan konsumen. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Dari Tempat Pembuangan Sampah

Deretan toko bunga Pasirluyu memang baru ada beberapa tahun terakhir, bahkan kurang dari 10 tahun.

Adis, salah seorang pedagang di Pasirluyu, mengatakan sebelum menjadi salah satu pusat toko karangan bunga, Jalan Pasirluyu Selatan pada mulanya hanyalah tempat biasa.

Bahkan bisa dibilang sebagai tempat pembuangan sampah. Selain terdapat sebuah TPS dan bangunan Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Bandung, di kawasan tersebut juga mengalir sebuah sungai.

“Dulu mah ini seperti jarian (tempat pembuangan sampah). Kemudian diurug dan dijadikan toko-toko,” ucapnya.

Pada masa kepemimpinan Ridwan Kamil sebagai Wali Kota Bandung, di Jalan Pasirluyu Selatan dibangun sebuah taman yang diberi nama Taman Regol.

Pada waktu itu, di kawasan tersebut mulai tumbuh warung-warung kaki lima. Di bagian lain, mulai ada pembangunan toko-toko di area pinggir sungai yang diurug.

Baca Juga: Kisah Hidup Perempuan Penyintas HIV di Bandung, Bangkit dari Stigma dan Trauma

Mulanya, mungkin toko-toko tersebut hanya akan disewakan sebagai tempat berjualan biasa. Akan tetapi, para penyewanya merupakan orang-orang yang bergerak dalam bidang jasa pembuatan karangan bunga.

Mereka yang sebelumnya memiliki toko serupa di kawasan Palasari dan Jalan Suci memilih berjualan di Pasirluyu karena harga sewa yang lebih ramah.

Seiring berjalannya waktu, kawasan Pasirluyu Selatan berubah wujud dari tanaman perdu menjadi salah satu pusat toko karangan bunga di Bandung. Ada belasan toko papan karangan bunga di kawasan tersebut.

Pada bulan-bulan seperti sekarang, mereka kebanjiran pesanan. Namun saat Ramadan biasanya terjadi penurunan karena sedikit orang yang menggelar pesta saat berpuasa. Pada bulan Ramadan, bahkan hanya satu atau dua papan saja yang terjual.

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)