Kisah Hidup Perempuan Penyintas HIV di Bandung, Bangkit dari Stigma dan Trauma

6 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Ilustrasi penyintas HIV. (Sumber: Shutterstock)
Ilustrasi penyintas HIV. (Sumber: Shutterstock)

AYOBANDUNG.ID - Di sebuah rumah sederhana di Bandung, Desti duduk di dapur kecilnya, mengaduk kuah mi pedas yang ia jual untuk menghidupi anak-anaknya. Aroma cabai menyeruak, bercampur dengan cerita tentang hidup yang berliku. Sejak suaminya meninggal karena AIDS, Desti harus menjadi tulang punggung keluarga. "Saya menolak mati begitu saka," kata Desti. Ia ingat betul kata-kata anaknya, “Kalau ibu pergi, kami enggak punya siapa-siapa lagi. Ayah kan sudah enggak ada." Kalimat itulah yang membuatnya bangkit, mencari cara untuk bertahan, meski tubuhnya sendiri hidup berdampingan dengan HIV.

Kisah Desti adalah satu dari tujuh cerita nyata perempuan penyintas HIV di Bandung yang diteliti dalam riset The Everyday Life of Women Living with HIV in Bandung City yang dilakukan oleh Maulina Thahara Putri, Erna Herawati, dan Junardi Harahap dari Universitas Padjadjaran. Risalah yang terbit 2024 lalu itu menelusuri kehidupan Rara, Siska, Sinta, Anita, Rita, Liza, dan Desti—semuanya perempuan penyintas HIV yang menjalani terapi antiretroviral (ARV) dan membesarkan anak-anak mereka, sebagian besar sebagai orang tua tunggal. Cerita mereka menggambarkan HIV bukan hanya soal penyakit, melainkan juga tentang pergulatan psikologis, sosial, budaya, hingga ekonomi yang mewarnai keseharian para perempuan ini.

Tubuh yang Berubah dan Disiplin dalam Terapi

Kehidupan penyintas HIV di Bandung diwarnai perjuangan panjang untuk memahami tubuh mereka sendiri. Sebagian dari mereka sempat menunda pengobatan ARV karena merasa sehat. Rara dan Rita, misalnya, tidak merasakan gejala berarti selain batuk atau pilek ringan yang berlangsung singkat. Desti pun pernah menolak pengobatan selama beberapa bulan hingga tubuhnya mulai mengalami penurunan daya tahan dan infeksi oportunistik mulai menggerogoti kesehatannya. Pada akhirnya, semua perempuan ini memutuskan menjalani terapi ARV untuk menjaga harapan hidup.

Baca Juga: Kisah Siti Fatimah: Intel Cilik yang Menjadi Saksi Agresi Militer Belanda

Terapi ARV membawa banyak tantangan. Efek samping obat menjadi masalah besar bagi beberapa di antaranya. Desti pernah mengalami gangguan bicara akibat regimen obat tertentu sebelum akhirnya beralih ke kombinasi baru yang lebih ringan. Siska dan Anita mengalami pembengkakan akibat toksoplasmosis yang memerlukan perawatan intensif. Siska bahkan harus menjalani dua kali operasi, sementara Liza menghadapi asma dan infeksi gonore yang meninggalkan bekas ruam dan luka di kulitnya.

Konsumsi ARV setiap hari adalah rutinitas yang tidak bisa diabaikan. Alarm ponsel menjadi penolong untuk mengingatkan jadwal minum obat. Namun di balik disiplin itu, ada kecemasan yang selalu membayangi. Rara dan Liza, yang masih aktif bekerja, harus berhadapan dengan rasa takut diketahui rekan-rekan mereka. Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti “obat apa” yang mereka minum membuat keduanya memilih berbohong dan mengatakan itu adalah vitamin. Beban psikologis semakin berat ketika mereka merasa harus menyembunyikan penyakitnya di lingkungan kerja demi menghindari stigma.

Walau pemerintah menyediakan obat secara gratis melalui BPJS dan klinik-klinik seperti Klinik Mawar yang dijalankan oleh lembaga swadaya masyarakat, hambatan dalam pelayanan kesehatan masih sering terjadi. Liza pernah mengalami diskriminasi di rumah sakit ketika ia tidak mendapatkan perawatan selama dua hari dengan alasan kamar penuh, meski saat itu ia tengah mengalami serangan asma akibat infeksi oportunistik. Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa akses kesehatan yang seharusnya menjadi hak semua warga belum sepenuhnya dapat dirasakan secara merata oleh penyintas HIV.

Luka Psikologis dan Pergulatan Emosional

Diagnosis HIV membawa dampak psikologis yang mendalam. Anita kehilangan suami dan dua anaknya dalam waktu hanya 53 hari. Kesedihan yang begitu besar memicu stroke dan pembengkakan kelenjar akibat toksoplasmosis. Ia menyesal tidak mengetahui status HIV lebih awal karena merasa ada langkah pencegahan yang bisa dilakukan untuk melindungi anak-anaknya.

Baca Juga: Sampai ke Bandung, Sejarah Virus Hanta Bermula dari Perang Dunia 1

Sinta juga menjalani masa-masa penuh tekanan saat mengetahui dirinya positif HIV setelah suaminya meninggal. Selama enam tahun pernikahannya, ia tidak pernah mengetahui bahwa suaminya adalah pengguna narkoba suntik. Rasa terkejut bercampur hancur membuatnya merasa tertipu dan dikhianati. Beban semakin berat ketika ia harus memastikan kesehatan anaknya, yang untungnya tidak tertular HIV.

Siska, seorang mantan pengguna narkoba suntik, menjalani pernikahan yang penuh kekerasan verbal dan fisik. Pengalaman hidupnya mencerminkan betapa stigma dan diskriminasi sering datang dari lingkaran terdekat. Ia diperlakukan dengan kasar oleh mantan suaminya meskipun ia sudah berusaha meninggalkan masa lalunya.

Dalam penelitian ini, para peneliti mencatat bahwa sebagian perempuan mengalami trauma mendalam hingga memilih mengisolasi diri. Desti bahkan sempat menutup diri dari dunia luar selama satu tahun setelah suaminya meninggal, menolak pengobatan, dan membiarkan tubuhnya melemah karena infeksi. Namun, titik balik datang ketika mereka mulai terhubung dengan komunitas penyintas HIV. Sinta, misalnya, menemukan semangat baru setelah bergabung dengan Rumah Cemara dan KPA Kota Bandung. Keterlibatannya di komunitas memberi arti baru dalam hidupnya dan membantunya menemukan rasa percaya diri untuk membantu orang lain yang mengalami situasi serupa.

Stigma, Diskriminasi, dan Tekanan Sosial Budaya

Stigma masih menjadi tembok besar yang harus mereka hadapi setiap hari. Bagi sebagian perempuan, menjaga rahasia tentang status HIV adalah strategi bertahan hidup. Namun tidak semua berhasil menghindari perlakuan diskriminatif. Liza merasakan secara langsung bagaimana status HIV membuatnya diperlakukan berbeda oleh tenaga medis. Penolakan perawatan dan ketidakpedulian petugas kesehatan mencerminkan masih kurangnya pengetahuan tentang HIV di kalangan tenaga medis.

Baca Juga: Dari Gurun Pasir ke Kamp Konsentrasi, Kisah Tragis Keluarga Berretty Pemilik Vila Isola Bandung

Siska merasakan stigma dalam bentuk lain. Ia menjadi korban pelecehan verbal dari suaminya sendiri, yang terus merendahkannya dan menyebut ia akan segera mati karena HIV. Kasus-kasus seperti ini menegaskan bahwa stigma dari pasangan intim sering kali lebih menyakitkan dibandingkan stigma dari masyarakat luas.

Di tengah budaya patriarkal Indonesia, perempuan penyintas HIV kerap tidak memiliki ruang untuk bersuara atau membela diri. Program seperti Warga Peduli AIDS (WPA) berusaha mengedukasi masyarakat, memberikan informasi, dan menciptakan ruang aman bagi perempuan untuk berbagi pengalaman. Anita adalah contoh nyata perempuan yang bangkit melawan stigma. Kini ia memimpin lingkungannya sebagai ketua RW dan menjadi suara vokal dalam edukasi HIV, menunjukkan bahwa keterbukaan dan pengetahuan dapat mengikis diskriminasi di tengah masyarakat.

Halang Rintang Kondisi Ekonomi

Problem ekonomi menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan perempuan penyintas HIV. Banyak dari mereka harus menjadi kepala keluarga setelah kehilangan suami. Desti memulai bisnis mi pedas dari nol, memanfaatkan bantuan peralatan memasak dan modal awal dari program pemberdayaan. Kini ia memiliki pekerja untuk membantu penjualan. Hidupnya menjadi bukti bahwa status HIV tidak menghalangi perempuan untuk mandiri secara ekonomi dan memberikan masa depan yang layak bagi anak-anaknya.

Rara juga pernah terpaksa menjadi pekerja seks komersial untuk menghidupi kedua anaknya. Namun, tekanan emosional dalam dunia itu membuatnya memilih keluar meski pendapatannya menurun. Ia kemudian bekerja sebagai terapis, profesi yang memberinya ketenangan dan ruang untuk fokus menjalani pengobatan.

Semua perempuan ini menjadikan anak-anak mereka sebagai sumber motivasi utama. Mereka menolak pandangan bahwa HIV identik dengan penderitaan dan berusaha menunjukkan bahwa penyintas HIV bisa hidup normal, bekerja, dan berkontribusi bagi masyarakat. Sebagian besar dari mereka kini aktif dalam kegiatan advokasi HIV, membagikan pengalaman hidup mereka di forum-forum publik, dan menjadi sumber inspirasi bagi orang lain.

Contohnya Anita, tetap percaya diri meskipun statusnya terbuka di lingkungan tempat tinggalnya. Ia tidak menghadapi diskriminasi karena edukasi HIV yang intensif di daerahnya telah mengubah cara pandang masyarakat. Ia percaya bahwa HIV hanyalah salah satu penyakit yang bisa mematikan, tetapi tidak harus membuat seseorang merasa tidak berharga.

Cerita-cerita ini menunjukkan bahwa komunitas dan jaringan dukungan memiliki peran penting dalam proses pemulihan psikologis para perempuan penyintas HIV. Mereka menemukan kembali harga diri, membangun solidaritas, dan memperjuangkan hak mereka untuk hidup sehat dan bermartabat.

Kisah tujuh perempuan penyintas HIV di Bandung yang diungkap penelitian ini memperlihatkan kompleksitas hidup dengan HIV. Perjuangan mereka bukan hanya melawan virus, tetapi juga stigma sosial, tekanan budaya, diskriminasi tenaga medis, serta kesulitan ekonomi. Namun dari keterpurukan, mereka menemukan kekuatan untuk bangkit.

Baca Juga: 18 Tahun Tanpa Akta Nikah: Kisah Ogi dan Pentingnya Perlindungan Hak Sipil Warga Adat Cireundeu

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)