Bandung Dikepung Awan Gelap: Mengapa Banjir Kilat dan Angin Ekstrem Kini Sering Terjadi?

4 menit baca
Seli Siti Amaliah Putri
Ditulis oleh Seli Siti Amaliah Putri diterbitkan
Warga memanfaatkan delman untuk melintasi jalan permukiman yang terendam banjir, saat akses kendaraan bermotor terganggu akibat genangan air. (Sumber: Dokumentasi Warga | Foto: Dokumentasi Warga)
Warga memanfaatkan delman untuk melintasi jalan permukiman yang terendam banjir, saat akses kendaraan bermotor terganggu akibat genangan air. (Sumber: Dokumentasi Warga | Foto: Dokumentasi Warga)

Beberapa tahun terakhir, warga Bandung semakin sering dibuat kaget oleh cuaca yang berubah secara drastis. Kadang sehari bisa hujan deras dua kali, atau udara yang terasa panas langsung berubah menjadi badai tiba-tiba. Fenomena seperti banjir kilat, genangan air dalam hitungan menit, serta angin kencang yang merobohkan pohon kini bukan lagi hal yang jarang. Kejadian-kejadian ini juga tercatat dalam data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang menunjukkan tren peningkatan kejadian cuaca ekstrem di provinsi Jawa Barat sejak 2020 (BMKG, 2022). Artinya, bukan hanya perasaan kita saja, data juga berkata bahwa kondisi cuaca sudah berubah.

Salah satu alasan utama yang membuat banjir kilat makin sering terjadi adalah karena curah hujan ekstrem yang meningkat. Curah hujan ekstrem berbeda dari hujan biasa karena jumlah airnya sangat besar dalam waktu yang singkat. BMKG mencatat bahwa kejadian hujan dengan intensitas tinggi (lebih dari 100 mm dalam satu hari) semakin sering muncul di wilayah seperti Bandung sejak tahun 2020 hingga 2023. Penelitian juga menunjukkan bahwa peningkatan suhu permukaan laut di Indonesia membuat awan konvektif, awan besar yang menghasilkan hujan deras lebih mudah terbentuk di musim hujan, terutama di daerah pegunungan dan dataran tinggi seperti Bandung (Suwarso et al., 2021). Jadi, ketika awan besar ini datang, hujannya turun bukan sedikit-sedikit, tetapi deras dan terus menerus.

Selain karena meningkatnya hujan ekstrem, topografi Bandung juga membuat banjir kilat menjadi masalah serius. Bandung berada dalam sebuah cekungan besar yang dikelilingi oleh pegunungan. Secara fisik, ini seperti area datar yang “mengumpulkan” air dari sekelilingnya. Ketika hujan deras turun, air dari dataran tinggi dan lereng pegunungan akan mengalir ke daerah rendah di tengah kota. Penelitian dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan bahwa cekungan Bandung memperlambat aliran air keluar dari kota, sehingga air lebih cepat terakumulasi di permukaan, sementara drainase kota tidak cukup kuat untuk mengatasi volume air yang besar (Rizaldi & Setiawan, 2020). Akibatnya, banjir kilat bisa terjadi dengan sangat cepat, bahkan hanya beberapa menit setelah hujan deras mulai turun.

Selain faktor alamiah, tekanan manusia terhadap lingkungan juga memperburuk situasi. Bandung sebagai salah satu kota besar di Indonesia mengalami urbanisasi yang pesat dalam satu dekade terakhir. Banyak lahan yang dulu hijau kini berubah menjadi perumahan, tempat usaha, dan jalan beton. Ketika permukaan tanah tertutup oleh beton dan aspal, air hujan tidak bisa meresap ke dalam tanah seperti dahulu. Penelitian Pratama (2022) menunjukkan bahwa kemampuan tanah di Bandung untuk menyerap air berkurang drastis, hingga sekitar 40% dalam sepuluh tahun terakhir. Akibatnya, air hujan yang dulu terserap oleh tanah kini malah ikut mengalir di permukaan menuju saluran drainase. Saat hujan ekstrem turun, air tidak punya tempat untuk meresap lagi, sehingga langsung memenuhi permukaan dan menyebabkan banjir kilat.

Baca Juga: Siklus Tahunan yang Tak Kunjung Diakhiri di Kota Bandung

Tak hanya soal banjir, angin ekstrem juga semakin sering terjadi di Bandung. Banyak warga yang melaporkan angin kuat tiba-tiba saat hujan turun, atau bahkan sebelum hujan. BMKG menyebut bahwa ini sering disebabkan oleh pembentukan awan cumulonimbus, awan badai besar yang tidak hanya menghasilkan hujan deras, tetapi juga pusaran udara yang kuat. Ketika udara panas di permukaan bumi naik dan bertemu dengan udara dingin di lapisan atas, perbedaan temperatur ini menciptakan kondisi yang tidak stabil dan memicu angin kencang dalam skala lokal. Penelitian oleh Wiratama (2023) menyatakan bahwa peningkatan suhu rata-rata kota akibat efek urban heat island di kota seperti Bandung memperbesar kemungkinan terbentuknya fenomena angin ekstrem. Dalam bahasa sederhana, semakin panas kota di siang hari, peluang munculnya angin kencang saat hujan turun pun semakin besar.

Jika kita gabungkan semua faktor ini, cuaca ekstrem, bentuk cekungan kota, dan perubahan penggunaan lahan, maka akan terlihat bahwa banjir kilat dan angin ekstrem bukan fenomena acak, melainkan hasil dari perubahan besar dalam pola cuaca dan lingkungan perkotaan Bandung. Tren menunjukkan bahwa jika tidak ada upaya serius untuk menata ulang tata ruang kota, meningkatkan kapasitas drainase, atau memperbanyak area resapan air, kejadian banjir kilat akan terus terjadi bahkan bisa menjadi lebih sering dan lebih parah di masa depan (BMKG, 2022; Wiratama, 2023).

Banjir kilat dan angin ekstrem bukan hanya soal “air yang banyak turun” atau “angin yang kuat”, tetapi juga tentang bagaimana kota bereaksi terhadap perubahan cuaca yang makin cepat dan tidak menentu. Perubahan iklim global mempengaruhi pola hujan ekstrem, struktur kota mengubah cara air bergerak di permukaan tanah, dan kondisi geografis Bandung membuatnya menjadi salah satu wilayah yang paling rentan. Kesadaran masyarakat dan perbaikan kebijakan tata ruang akan menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ini di masa mendatang. (*)

DAFTAR PUSTAKA 

  • BMKG. (2021). Laporan Tahunan Cuaca Ekstrem Jawa Barat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.

  • BMKG. (2022). Analisis Tren Hujan Ekstrem Indonesia 2020–2022. BMKG Press.
  • BMKG. (2023). Laporan Iklim Indonesia 2023. BMKG.
  • Pratama, A. (2022). Urban hydrology changes and decreasing infiltration capacity in Bandung Metropolitan Area. Journal of Urban Climate, 45, 101274.
  • Rizaldi, F., & Setiawan, I. (2020). Bandung Basin hydrological vulnerability: Topographic influence on flood behavior. Indonesian Journal of Geography, 52(3), 355–366.
  • Suwarso, D., et al. (2021). Influence of sea-surface temperature anomalies on extreme rainfall in West Java. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 925(1).
  • Wiratama, G. (2023). Increasing frequency of local windstorms in urban West Java under warming conditions. Journal of Atmospheric Research, 278, 106372.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Seli Siti Amaliah Putri
Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 09:09

Ketika Fikom Harus Mengajarkan Cara Berkomunikasi dengan Mesin

Sekarang mulai terbentuk pola baru komunikasi, yakni manusia berbicara kepada mesin, mesin menghasilkan pesan, mesin memilih pesan, lalu manusia menerima dan menafsirkannya.

Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. (Sumber: ayobandung.com | Foto: fikom.unpad.ac.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 17:07

930 Pecatur di Bandung Dapat Wejangan dari Legenda Utut Adianto

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru.

Open Tournament Catur Piala Panglima TNI 2026 menjadi ajang kompetisi sekaligus ruang pembinaan dan pencarian talenta catur baru. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 20 Sep 2026, 16:57

Istilah Bahasa Jawa untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Mengenal istilah lokal Bahasa Jawa untuk menggambarkan kekuatan guncangan gempa bumi, dari Lir hingga Lindhu Kiamat/Jagad Obah. Kaya makna dan kearifan lokal suu bangsa Jawa.

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat gempa bumi. (Sumber: Pexels | Foto: Ahmed akacha)