Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

MSG
Ditulis oleh MSG diterbitkan Selasa 03 Feb 2026, 15:13 WIB
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)

Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)

Seekor penguin berjalan sendirian menjauh dari koloninya.

Ia tidak panik.
Tidak berlari.
Hanya melangkah pelan, menembus hamparan es Antartika menuju pegunungan yang dingin dan sunyi.

Cuplikan dari film dokumenter Encounters at the End of the World karya Werner Herzog itu viral di media sosial awal tahun ini. Warganet menamainya “Nihilist Penguin”. Ada yang menyebutnya simbol burnout, ada yang menganggapnya lambang kelelahan hidup, ada pula yang bercanda: “itu gue kalau Senin pagi.”

Ilustrasi Nihilist Penguin (Sumber: Sumber foto: Wallpaper Cave)
Ilustrasi Nihilist Penguin (Sumber: Sumber foto: Wallpaper Cave)

Namun peneliti satwa liar memberi penjelasan yang jauh lebih sederhana.

Dr. David Ainley, biolog penguin yang lama meneliti koloni Antartika, menyebut perilaku itu kemungkinan besar disorientasi—akibat sakit, cedera, atau gangguan navigasi. Penguin itu bukan sedang merenung tentang makna hidup. Ia hanya tersesat.

Secara ilmiah: kebingungan arah.
Secara emosional: kesepian.

Barangkali justru karena itulah banyak orang merasa terwakili.

Sebab tanpa sadar, manusia modern pun sering berjalan sendirian seperti penguin itu—bukan karena heroik, melainkan karena lelah, bingung, dan kehilangan orientasi.

Fenomena ini bukan sekadar meme.
Ia mencerminkan sesuatu yang lebih dalam: kecemasan zaman.

Kecemasan yang Menjadi Gejala Sosial

DIbawah Lukisan Jeihan Sukmantoro (Sumber: Arsip Pribadi Penulis | Foto: Penulis)
DIbawah Lukisan Jeihan Sukmantoro (Sumber: Arsip Pribadi Penulis | Foto: Penulis)

Data global menunjukkan kegelisahan hari ini bukan perkara individual.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 301 juta orang di dunia hidup dengan gangguan kecemasan, menjadikannya salah satu masalah kesehatan mental paling umum.

Di Indonesia, kecenderungannya serupa.

Sejumlah riset mahasiswa di Bandung Raya memperlihatkan lebih dari 60 persen responden mengalami stres berat atau kecemasan signifikan selama masa studi. Tekanan akademik, ekonomi, dan tuntutan sosial menjadi faktor utama.

Angka itu bukan sekadar statistik.

Ia berarti:
tiga dari lima teman kita mungkin sedang cemas,
dua dari tiga rekan kerja mungkin sulit tidur,
seseorang di sebelah kita mungkin tersenyum, tetapi rapuh di dalam kepala.

Psikolog Aaron Beck menyebut kondisi ini sebagai distorsi kognitif—pikiran yang melompat terlalu jauh, membayangkan kegagalan sebelum sesuatu benar-benar terjadi.

Sigmund Freud bahkan lebih dulu menyebut kecemasan sebagai sinyal ego—alarm batin terhadap ancaman.

Masalahnya, di era serba cepat, alarm itu seolah tak pernah berhenti.

Media sosial memamerkan keberhasilan.
Karier dituntut menanjak.
Relasi diuji stabilitas ekonomi.

Hidup terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir.

Tak heran jika banyak orang tampak produktif, tetapi lelah secara batin.

Titik Jatuh Seorang Insan Kreatif

cemas (Sumber: Arsip Florist Project)
cemas (Sumber: Arsip Florist Project)

Di Bandung, kegelisahan itu pernah menjatuhkan seorang insan kreatif yang menjadikan seni sebagai jalan bertahan hidup.

Beberapa tahun lalu hidupnya terbilang stabil. Ia merintis usaha kecil, melanjutkan kuliah di universitas ternama, dan merencanakan pernikahan.

Semua tampak bergerak naik.

Lalu satu per satu runtuh.

Hubungan berakhir.
Bisnis menurun.
Kuliah terhenti.
Penghasilan berkurang.

Dalam satu tahun, ia kehilangan hampir semua pegangan.

Namun yang paling berat, katanya, bukan kehilangan itu sendiri.

“Yang paling melelahkan justru isi kepala,” ujarnya pelan.
“Takutnya banyak. Tapi belum tentu nyata.”

Ia menarik diri. Menjauh dari teman. Menghindari keluarga. Hampir setahun hidup dalam sunyi.

Seperti penguin yang tersesat arah.

Pulang Lewat Musik dan Pertemanan

Pemulihan datang pelan.

Ia mulai menulis lagi.

Catatan kecil di ponsel. Potongan lirik. Kalimat patah tentang malam panjang, dada sesak, dan pikiran yang tak berhenti berisik.

Dari kata, ia beralih ke nada.

Gitar tua dipetik pelan. Direkam seadanya. Dari proses itulah lahir Florist Project.

Lalu teman-teman lama kembali hadir.

Bukan untuk menggurui.
Hanya duduk, mendengar, menemani.

Obrolan sederhana itu justru menjadi penyangga.

Bukan band besar.
Bukan label musik.

Melainkan ruang aman.

Florist Project lahir dari kecemasannya sendiri—dari luka masa lalu, dari kegagalan, dari keinginan membuktikan bahwa ia masih bisa mencipta sesuatu yang berarti.

Prosesnya jauh dari glamor.

Ia melakukan riset kecil-kecilan mencari studio rekaman yang cocok. Mencoba beberapa tempat. Menghitung biaya. Meminjam alat.

Ada yang menyumbang waktu.
Ada yang membantu teknis.
Ada yang sekadar menjaga semangat.

Gotong royong.

Sering kali rekaman dilakukan di kamarnya atau di kios Kebun Seni (kawasan Kebon Binatang Bandung) yang disulap jadi studio darurat.

Namun justru di ruang kecil itulah ia merasa paling hidup.

Karena di sana, ia tidak dituntut sempurna.

Ia hanya diminta jujur.

Florist: Lagu sebagai Bunga

Nama “Florist” dipilih dengan kesadaran personal.

Florist—tukang bunga.

Seseorang yang setiap hari berhadapan dengan berbagai emosi manusia.

Bunga dibeli orang jatuh cinta.
Dikirim untuk merayakan kelulusan.
Dibawa saat duka dan kematian.

Bunga selalu hadir di momen paling manusiawi.

Hidupnya singkat.
Layu dalam hitungan hari.

Namun justru karena singkat, ia terasa berharga.

Suatu malam, Masgal—rekannya—berkata pelan,
“Bunga yang dipetik tidak pernah mati sia-sia ketika diberikan untuk orang yang dicinta.”

Kalimat itu melekat.

Nilai bunga bukan pada lamanya hidup, melainkan pada perasaan yang dibawanya.

Baginya, lagu pun begitu.

Mungkin hanya tiga menit.

Tapi jika dalam tiga menit itu seseorang merasa ditemani, merasa dipahami, atau sekadar bisa bernapas lebih pelan—maka lagu itu sudah cukup.

Setiap lagu adalah bunga.

Dipetik dari pengalaman.
Dirangkai dari luka.
Diberikan kepada orang lain.

Bukan untuk abadi.

Untuk menemani.

Melahirkan “Cemas”

Cover Album Lagu "CEMAS" (Sumber: Arsip Florist Project)
Cover Album Lagu "CEMAS" (Sumber: Arsip Florist Project)

Dari taman kecil bernama Florist Project itu, satu bunga pertama akhirnya mekar.

Judulnya: “Cemas.” lagu tersebut dapat didengarkan dipelbagai platform digital.

Lagu itu tidak menggurui.

Ia hanya jujur.

Tentang pikiran yang terlalu jauh berlari.

Tentang ketakutan yang sering kali masih berupa asumsi.

Tak kau sadari semua masih berwujud asumsi
Tak kau dalami
Belum tentu itu yang terjadi

Reff-nya berulang seperti menenangkan diri:

Tak ada
Semua belum berbentuk hal nyata, tak ada

Kini lagu itu dirilis di berbagai platform digital.

Bukan sebagai terapi massal.

Hanya pengingat sederhana: gelisah adalah bagian dari menjadi manusia.

Sebuah Pesan untuk Zaman yang Bising

Mungkin kita semua pernah menjadi penguin itu.

Berjalan sendirian.
Merasa tersesat.
Mengira hidup kehilangan makna.

Padahal kadang yang kita butuhkan hanya ruang kecil untuk berhenti.

Teman yang mau mendengar.

Atau lagu sederhana yang berkata pelan:

belum tentu itu yang terjadi. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

MSG
Tentang MSG
peaceful co-existence

Berita Terkait

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)