Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

5 menit baca
MSG
Ditulis oleh MSG diterbitkan
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)

Seekor penguin berjalan sendirian menjauh dari koloninya.

Ia tidak panik.
Tidak berlari.
Hanya melangkah pelan, menembus hamparan es Antartika menuju pegunungan yang dingin dan sunyi.

Cuplikan dari film dokumenter Encounters at the End of the World karya Werner Herzog itu viral di media sosial awal tahun ini. Warganet menamainya “Nihilist Penguin”. Ada yang menyebutnya simbol burnout, ada yang menganggapnya lambang kelelahan hidup, ada pula yang bercanda: “itu gue kalau Senin pagi.”

Ilustrasi Nihilist Penguin (Sumber: Sumber foto: Wallpaper Cave)
Ilustrasi Nihilist Penguin (Sumber: Sumber foto: Wallpaper Cave)

Namun peneliti satwa liar memberi penjelasan yang jauh lebih sederhana.

Dr. David Ainley, biolog penguin yang lama meneliti koloni Antartika, menyebut perilaku itu kemungkinan besar disorientasi—akibat sakit, cedera, atau gangguan navigasi. Penguin itu bukan sedang merenung tentang makna hidup. Ia hanya tersesat.

Secara ilmiah: kebingungan arah.
Secara emosional: kesepian.

Barangkali justru karena itulah banyak orang merasa terwakili.

Sebab tanpa sadar, manusia modern pun sering berjalan sendirian seperti penguin itu—bukan karena heroik, melainkan karena lelah, bingung, dan kehilangan orientasi.

Fenomena ini bukan sekadar meme.
Ia mencerminkan sesuatu yang lebih dalam: kecemasan zaman.

Kecemasan yang Menjadi Gejala Sosial

DIbawah Lukisan Jeihan Sukmantoro (Sumber: Arsip Pribadi Penulis | Foto: Penulis)
DIbawah Lukisan Jeihan Sukmantoro (Sumber: Arsip Pribadi Penulis | Foto: Penulis)

Data global menunjukkan kegelisahan hari ini bukan perkara individual.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 301 juta orang di dunia hidup dengan gangguan kecemasan, menjadikannya salah satu masalah kesehatan mental paling umum.

Di Indonesia, kecenderungannya serupa.

Sejumlah riset mahasiswa di Bandung Raya memperlihatkan lebih dari 60 persen responden mengalami stres berat atau kecemasan signifikan selama masa studi. Tekanan akademik, ekonomi, dan tuntutan sosial menjadi faktor utama.

Angka itu bukan sekadar statistik.

Ia berarti:
tiga dari lima teman kita mungkin sedang cemas,
dua dari tiga rekan kerja mungkin sulit tidur,
seseorang di sebelah kita mungkin tersenyum, tetapi rapuh di dalam kepala.

Psikolog Aaron Beck menyebut kondisi ini sebagai distorsi kognitif—pikiran yang melompat terlalu jauh, membayangkan kegagalan sebelum sesuatu benar-benar terjadi.

Sigmund Freud bahkan lebih dulu menyebut kecemasan sebagai sinyal ego—alarm batin terhadap ancaman.

Masalahnya, di era serba cepat, alarm itu seolah tak pernah berhenti.

Media sosial memamerkan keberhasilan.
Karier dituntut menanjak.
Relasi diuji stabilitas ekonomi.

Hidup terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir.

Tak heran jika banyak orang tampak produktif, tetapi lelah secara batin.

Titik Jatuh Seorang Insan Kreatif

cemas (Sumber: Arsip Florist Project)
cemas (Sumber: Arsip Florist Project)

Di Bandung, kegelisahan itu pernah menjatuhkan seorang insan kreatif yang menjadikan seni sebagai jalan bertahan hidup.

Beberapa tahun lalu hidupnya terbilang stabil. Ia merintis usaha kecil, melanjutkan kuliah di universitas ternama, dan merencanakan pernikahan.

Semua tampak bergerak naik.

Lalu satu per satu runtuh.

Hubungan berakhir.
Bisnis menurun.
Kuliah terhenti.
Penghasilan berkurang.

Dalam satu tahun, ia kehilangan hampir semua pegangan.

Namun yang paling berat, katanya, bukan kehilangan itu sendiri.

“Yang paling melelahkan justru isi kepala,” ujarnya pelan.
“Takutnya banyak. Tapi belum tentu nyata.”

Ia menarik diri. Menjauh dari teman. Menghindari keluarga. Hampir setahun hidup dalam sunyi.

Seperti penguin yang tersesat arah.

Pulang Lewat Musik dan Pertemanan

Pemulihan datang pelan.

Ia mulai menulis lagi.

Catatan kecil di ponsel. Potongan lirik. Kalimat patah tentang malam panjang, dada sesak, dan pikiran yang tak berhenti berisik.

Dari kata, ia beralih ke nada.

Gitar tua dipetik pelan. Direkam seadanya. Dari proses itulah lahir Florist Project.

Lalu teman-teman lama kembali hadir.

Bukan untuk menggurui.
Hanya duduk, mendengar, menemani.

Obrolan sederhana itu justru menjadi penyangga.

Bukan band besar.
Bukan label musik.

Melainkan ruang aman.

Florist Project lahir dari kecemasannya sendiri—dari luka masa lalu, dari kegagalan, dari keinginan membuktikan bahwa ia masih bisa mencipta sesuatu yang berarti.

Prosesnya jauh dari glamor.

Ia melakukan riset kecil-kecilan mencari studio rekaman yang cocok. Mencoba beberapa tempat. Menghitung biaya. Meminjam alat.

Ada yang menyumbang waktu.
Ada yang membantu teknis.
Ada yang sekadar menjaga semangat.

Gotong royong.

Sering kali rekaman dilakukan di kamarnya atau di kios Kebun Seni (kawasan Kebon Binatang Bandung) yang disulap jadi studio darurat.

Namun justru di ruang kecil itulah ia merasa paling hidup.

Karena di sana, ia tidak dituntut sempurna.

Ia hanya diminta jujur.

Florist: Lagu sebagai Bunga

Nama “Florist” dipilih dengan kesadaran personal.

Florist—tukang bunga.

Seseorang yang setiap hari berhadapan dengan berbagai emosi manusia.

Bunga dibeli orang jatuh cinta.
Dikirim untuk merayakan kelulusan.
Dibawa saat duka dan kematian.

Bunga selalu hadir di momen paling manusiawi.

Hidupnya singkat.
Layu dalam hitungan hari.

Namun justru karena singkat, ia terasa berharga.

Suatu malam, Masgal—rekannya—berkata pelan,
“Bunga yang dipetik tidak pernah mati sia-sia ketika diberikan untuk orang yang dicinta.”

Kalimat itu melekat.

Nilai bunga bukan pada lamanya hidup, melainkan pada perasaan yang dibawanya.

Baginya, lagu pun begitu.

Mungkin hanya tiga menit.

Tapi jika dalam tiga menit itu seseorang merasa ditemani, merasa dipahami, atau sekadar bisa bernapas lebih pelan—maka lagu itu sudah cukup.

Setiap lagu adalah bunga.

Dipetik dari pengalaman.
Dirangkai dari luka.
Diberikan kepada orang lain.

Bukan untuk abadi.

Untuk menemani.

Melahirkan “Cemas”

Cover Album Lagu "CEMAS" (Sumber: Arsip Florist Project)
Cover Album Lagu "CEMAS" (Sumber: Arsip Florist Project)

Dari taman kecil bernama Florist Project itu, satu bunga pertama akhirnya mekar.

Judulnya: “Cemas.” lagu tersebut dapat didengarkan dipelbagai platform digital.

Lagu itu tidak menggurui.

Ia hanya jujur.

Tentang pikiran yang terlalu jauh berlari.

Tentang ketakutan yang sering kali masih berupa asumsi.

Tak kau sadari semua masih berwujud asumsi
Tak kau dalami
Belum tentu itu yang terjadi

Reff-nya berulang seperti menenangkan diri:

Tak ada
Semua belum berbentuk hal nyata, tak ada

Kini lagu itu dirilis di berbagai platform digital.

Bukan sebagai terapi massal.

Hanya pengingat sederhana: gelisah adalah bagian dari menjadi manusia.

Sebuah Pesan untuk Zaman yang Bising

Mungkin kita semua pernah menjadi penguin itu.

Berjalan sendirian.
Merasa tersesat.
Mengira hidup kehilangan makna.

Padahal kadang yang kita butuhkan hanya ruang kecil untuk berhenti.

Teman yang mau mendengar.

Atau lagu sederhana yang berkata pelan:

belum tentu itu yang terjadi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)