Hikayat Perburuan Komplotan Komunis Bandung, Priangan dalam Kepungan Polisi Kolonial

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Senin 12 Jan 2026, 19:17 WIB
Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.

Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.

AYOBANDUNG.ID - Pada dekade 1920-an, Bandung adalah kota yang sedang belajar menjadi modern. Namun di sisi lain, ia juga sedang belajar menjadi curiga. Di balik trotoar yang rapi dan bangunan-bangunan bergaya Eropa, aparat kolonial hidup dengan satu kecemasan berulang: komunisme. Ideologi ini dianggap tidak hanya berbahaya, tetapi juga licin, mampu menyusup ke kampung, bengkel, pasar, hingga barak tentara.

Kegelisahan itu memuncak pada pertengahan hingga akhir 1927. Surat kabar De Avondpost edisi 19 Oktober 1927 melaporkan operasi penangkapan besar-besaran di Bandung dan wilayah sekitarnya. Sumber laporan berasal dari rekapitulasi dinas intelijen kolonial yang mencatat ratusan orang ditangkap karena diduga terlibat dalam komplotan komunis.

Dari Kota Bandung sendiri, lebih dari 40 orang ditangkap. Lingkaran operasi segera melebar ke daerah-daerah penyangga. Ujungberung mencatat 56 orang, Banjaran 27 orang, Ciparay 7 orang, Cimahi 21 orang, dan Cicalengka 2 orang. Angka-angka ini menunjukkan bahwa polisi kolonial tidak lagi memusatkan perhatian pada kota semata. Seluruh Priangan dianggap ladang subur bagi penyebaran gagasan terlarang.

Baca Juga: Tahun Baru Seabad Lalu, 50 Rapat Komunis Gemparkan Bandung

Sebagian tahanan memang dilepaskan setelah pemeriksaan singkat. Di Banjaran, 22 orang keluar setelah ditahan satu hari oleh polisi lapangan, sementara di Ujungberung empat orang mengalami nasib serupa. Namun De Avondpost menegaskan bahwa pembebasan itu bersifat sementara. Mereka tetap akan diproses hukum karena dianggap terlibat dalam jaringan. Seorang pejabat kolonial bahkan menyebut penindakan ini sebagai langkah untuk “membersihkan simpul-simpul kecil sebelum membesar”.

Di antara mereka yang ditangkap, terdapat dua perempuan dari Cimahi. Salah satunya bernama Nyi Entoh, istri Adiwikarta yang tinggal di Cipageran. Nama Adiwikarta sudah lebih dulu dikenal aparat karena ia tengah menjalani hukuman penjara akibat pemberontakan November sebelumnya. Dalam laporan De Avondpost, kasus keluarga ini disebut sebagai bukti bahwa tindakan represif “tidak selalu menimbulkan efek jera”.

Perburuan belum berhenti. Polisi masih memburu sejumlah tokoh yang dianggap sebagai penggerak utama. Nama Abang Saaman dari Batavia muncul dalam daftar, seorang yang tinggal di kampung belakang firma Nix, dekat Jalan Landraad. Ada pula Batak alias Idik, yang berdomisili di Balong Gede, tepat di belakang kabupaten. Lokasi-lokasi ini berada di jantung kota, tetapi cukup tersembunyi untuk menggelar pertemuan tanpa menarik perhatian publik luas.

Beberapa hari sebelum laporan De Avondpost terbit, Hamid dari Buitenzorg ditangkap di kampung Pangaran, kawasan di belakang Hotel Homann. Ia dikenal aktif menyebarkan propaganda komunis. Pada tubuhnya ditemukan sepucuk pistol Browning yang disembunyikan secara ilegal. Dalam laporan itu disebutkan bahwa penemuan senjata ini memperkuat keyakinan aparat bahwa jaringan tersebut tidak hanya bergerak di ranah wacana.

Dari Cianjur, seorang bernama Wiria ikut ditangkap. Ia disebut secara terbuka menunjukkan sikap komunisnya di kampung Cigarelleng, dekat barak polisi lapangan. Keberaniannya beraktivitas di sekitar markas aparat dianggap sebagai bentuk tantangan langsung terhadap kekuasaan kolonial.

Baca Juga: Hikayat Dukun Digoeng Bantai Warga Cililin, Gegerkan Wangsa Kolonial di Bandung

Berita De Koerier edisi 24 November 1927 tentang dugaan upaya persekongkolan komunis untukmenggulingkan pemerintah.
Berita De Koerier edisi 24 November 1927 tentang dugaan upaya persekongkolan komunis untukmenggulingkan pemerintah.

Uang, Tentara, dan Putusan Landraad

Dalam pemeriksaan, banyak tersangka akhirnya memberikan pengakuan. Menurut laporan De Avondpost yang dikutip sejumlah surat kabar Belanda melalui Aneta, rencana mereka mencakup penempatan anggota di persimpangan-persimpangan utama kota. Di titik-titik itu, pedagang pasar yang lewat dipaksa menyerahkan bahan makanan dan uang, sembari diajak bergabung. Salah satu pengakuan menyebut, “semua itu dilakukan atas nama perjuangan”.

Pengumpulan dana berlangsung cukup sistematis. Sumbangan datang dari berbagai tempat, mulai dari beberapa gulden hingga 25 gulden per orang. Dengan dalih tujuan mulia, terkumpul beberapa ribu gulden. Dana ini sebagian diserahkan kepada seseorang bernama Darma, tukang reparasi sepeda di Cikudapateuh, yang bertugas mengatur distribusi kepada para tentara. Bengkel sepeda Darma, menurut laporan intelijen, menjadi titik temu yang tampak biasa, tetapi penuh aktivitas politik tersembunyi.

Peran tentara menjadi aspek paling sensitif dalam kasus ini. Dalam pengakuan mereka, keterlibatan itu perlahan terbuka. Jumlah dana yang tersedia ternyata tidak lebih dari sekitar 4.000 gulden, dengan sebagian besar berasal dari Semarang. Aparat mencatat bahwa berbagai cara digunakan untuk mempengaruhi para tentara, mulai dari janji rumah yang layak hingga iming-iming perempuan.

Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess

Dalam satu kasus yang dicatat De Avondpost, kaum komunis bahkan menghadirkan seorang dukun untuk menyembuhkan seorang bintara. Setelah sembuh, ia dianggap telah menjadi bagian dari jaringan. Seorang penyidik mencatat bahwa cara-cara tersebut menunjukkan “betapa luasnya upaya untuk menarik simpati tentara”.

Penangkapan di kalangan militer bukan sekadar rumor. Aneta pada 12 Agustus 1927 melaporkan bahwa di Bandung, Cimahi, dan Batujajar, sebanyak 65 orang militer telah ditangkap karena dicurigai memiliki kecenderungan atau simpati terhadap komunisme. Angka ini memperlihatkan betapa seriusnya pemerintah kolonial memandang ancaman tersebut.

Situasi penjara Bandung pun semakin sesak. Bataviaasch Nieuwsblad edisi 10 Desember 1926 melaporkan bahwa sekitar 50 orang ditangkap di Padalarang, Cimahi, dan Cisarua, lalu dibawa ke Bandung di bawah pengawalan militer bersenjata. Penjara sudah menampung sekitar 50 orang lainnya, ditambah sekitar 70 tahanan dari wilayah Tasikmalaya yang ditangkap di Nagreg dan sekitarnya. Totalnya mencapai sekitar 170 orang, mendekati kapasitas maksimum penjara Bandung yang diperkirakan sekitar 600 orang. Para pemimpin komunis yang dianggap berbahaya dipindahkan ke lokasi interniran lain.

Rangkaian perburuan ini akhirnya bermuara di meja hijau. De Koerier edisi 24 November 1927 memberitakan putusan Landraad Bandung terhadap tiga petani dari Manggahang, distrik Ciparay. Alnasim, Djoenasiken, dan Irtamad dinyatakan bersalah karena ikut serta dalam persekongkolan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah serta menghadiri pertemuan komunis pada 13 Juli 1927 di rumah Alnasim. Putusan pengadilan menyebut pertemuan itu sebagai “bagian dari upaya terorganisasi”.

Baca Juga: Hikayat Pembubaran Diskusi Ultimus, Jejak Paranoia Kiri di Bandung

Hukuman yang dijatuhkan tidak ringan. Alnasim diganjar 2 tahun 9 bulan penjara, sementara Djoenasiken dan Irtamad masing-masing 2 tahun 6 bulan, dengan pengurangan masa tahanan preventif. Dengan vonis ini, aparat kolonial menegaskan bahwa perburuan komplotan komunis di Bandung dan Priangan tidak berhenti pada penangkapan, tetapi berakhir dengan penutupan ruang gerak melalui hukum.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)