Hikayat Perburuan Komplotan Komunis Bandung, Priangan dalam Kepungan Polisi Kolonial

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.
Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.

AYOBANDUNG.ID - Pada dekade 1920-an, Bandung adalah kota yang sedang belajar menjadi modern. Namun di sisi lain, ia juga sedang belajar menjadi curiga. Di balik trotoar yang rapi dan bangunan-bangunan bergaya Eropa, aparat kolonial hidup dengan satu kecemasan berulang: komunisme. Ideologi ini dianggap tidak hanya berbahaya, tetapi juga licin, mampu menyusup ke kampung, bengkel, pasar, hingga barak tentara.

Kegelisahan itu memuncak pada pertengahan hingga akhir 1927. Surat kabar De Avondpost edisi 19 Oktober 1927 melaporkan operasi penangkapan besar-besaran di Bandung dan wilayah sekitarnya. Sumber laporan berasal dari rekapitulasi dinas intelijen kolonial yang mencatat ratusan orang ditangkap karena diduga terlibat dalam komplotan komunis.

Dari Kota Bandung sendiri, lebih dari 40 orang ditangkap. Lingkaran operasi segera melebar ke daerah-daerah penyangga. Ujungberung mencatat 56 orang, Banjaran 27 orang, Ciparay 7 orang, Cimahi 21 orang, dan Cicalengka 2 orang. Angka-angka ini menunjukkan bahwa polisi kolonial tidak lagi memusatkan perhatian pada kota semata. Seluruh Priangan dianggap ladang subur bagi penyebaran gagasan terlarang.

Baca Juga: Tahun Baru Seabad Lalu, 50 Rapat Komunis Gemparkan Bandung

Sebagian tahanan memang dilepaskan setelah pemeriksaan singkat. Di Banjaran, 22 orang keluar setelah ditahan satu hari oleh polisi lapangan, sementara di Ujungberung empat orang mengalami nasib serupa. Namun De Avondpost menegaskan bahwa pembebasan itu bersifat sementara. Mereka tetap akan diproses hukum karena dianggap terlibat dalam jaringan. Seorang pejabat kolonial bahkan menyebut penindakan ini sebagai langkah untuk “membersihkan simpul-simpul kecil sebelum membesar”.

Di antara mereka yang ditangkap, terdapat dua perempuan dari Cimahi. Salah satunya bernama Nyi Entoh, istri Adiwikarta yang tinggal di Cipageran. Nama Adiwikarta sudah lebih dulu dikenal aparat karena ia tengah menjalani hukuman penjara akibat pemberontakan November sebelumnya. Dalam laporan De Avondpost, kasus keluarga ini disebut sebagai bukti bahwa tindakan represif “tidak selalu menimbulkan efek jera”.

Perburuan belum berhenti. Polisi masih memburu sejumlah tokoh yang dianggap sebagai penggerak utama. Nama Abang Saaman dari Batavia muncul dalam daftar, seorang yang tinggal di kampung belakang firma Nix, dekat Jalan Landraad. Ada pula Batak alias Idik, yang berdomisili di Balong Gede, tepat di belakang kabupaten. Lokasi-lokasi ini berada di jantung kota, tetapi cukup tersembunyi untuk menggelar pertemuan tanpa menarik perhatian publik luas.

Beberapa hari sebelum laporan De Avondpost terbit, Hamid dari Buitenzorg ditangkap di kampung Pangaran, kawasan di belakang Hotel Homann. Ia dikenal aktif menyebarkan propaganda komunis. Pada tubuhnya ditemukan sepucuk pistol Browning yang disembunyikan secara ilegal. Dalam laporan itu disebutkan bahwa penemuan senjata ini memperkuat keyakinan aparat bahwa jaringan tersebut tidak hanya bergerak di ranah wacana.

Dari Cianjur, seorang bernama Wiria ikut ditangkap. Ia disebut secara terbuka menunjukkan sikap komunisnya di kampung Cigarelleng, dekat barak polisi lapangan. Keberaniannya beraktivitas di sekitar markas aparat dianggap sebagai bentuk tantangan langsung terhadap kekuasaan kolonial.

Baca Juga: Hikayat Dukun Digoeng Bantai Warga Cililin, Gegerkan Wangsa Kolonial di Bandung

Berita De Koerier edisi 24 November 1927 tentang dugaan upaya persekongkolan komunis untukmenggulingkan pemerintah.
Berita De Koerier edisi 24 November 1927 tentang dugaan upaya persekongkolan komunis untukmenggulingkan pemerintah.

Uang, Tentara, dan Putusan Landraad

Dalam pemeriksaan, banyak tersangka akhirnya memberikan pengakuan. Menurut laporan De Avondpost yang dikutip sejumlah surat kabar Belanda melalui Aneta, rencana mereka mencakup penempatan anggota di persimpangan-persimpangan utama kota. Di titik-titik itu, pedagang pasar yang lewat dipaksa menyerahkan bahan makanan dan uang, sembari diajak bergabung. Salah satu pengakuan menyebut, “semua itu dilakukan atas nama perjuangan”.

Pengumpulan dana berlangsung cukup sistematis. Sumbangan datang dari berbagai tempat, mulai dari beberapa gulden hingga 25 gulden per orang. Dengan dalih tujuan mulia, terkumpul beberapa ribu gulden. Dana ini sebagian diserahkan kepada seseorang bernama Darma, tukang reparasi sepeda di Cikudapateuh, yang bertugas mengatur distribusi kepada para tentara. Bengkel sepeda Darma, menurut laporan intelijen, menjadi titik temu yang tampak biasa, tetapi penuh aktivitas politik tersembunyi.

Peran tentara menjadi aspek paling sensitif dalam kasus ini. Dalam pengakuan mereka, keterlibatan itu perlahan terbuka. Jumlah dana yang tersedia ternyata tidak lebih dari sekitar 4.000 gulden, dengan sebagian besar berasal dari Semarang. Aparat mencatat bahwa berbagai cara digunakan untuk mempengaruhi para tentara, mulai dari janji rumah yang layak hingga iming-iming perempuan.

Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess

Dalam satu kasus yang dicatat De Avondpost, kaum komunis bahkan menghadirkan seorang dukun untuk menyembuhkan seorang bintara. Setelah sembuh, ia dianggap telah menjadi bagian dari jaringan. Seorang penyidik mencatat bahwa cara-cara tersebut menunjukkan “betapa luasnya upaya untuk menarik simpati tentara”.

Penangkapan di kalangan militer bukan sekadar rumor. Aneta pada 12 Agustus 1927 melaporkan bahwa di Bandung, Cimahi, dan Batujajar, sebanyak 65 orang militer telah ditangkap karena dicurigai memiliki kecenderungan atau simpati terhadap komunisme. Angka ini memperlihatkan betapa seriusnya pemerintah kolonial memandang ancaman tersebut.

Situasi penjara Bandung pun semakin sesak. Bataviaasch Nieuwsblad edisi 10 Desember 1926 melaporkan bahwa sekitar 50 orang ditangkap di Padalarang, Cimahi, dan Cisarua, lalu dibawa ke Bandung di bawah pengawalan militer bersenjata. Penjara sudah menampung sekitar 50 orang lainnya, ditambah sekitar 70 tahanan dari wilayah Tasikmalaya yang ditangkap di Nagreg dan sekitarnya. Totalnya mencapai sekitar 170 orang, mendekati kapasitas maksimum penjara Bandung yang diperkirakan sekitar 600 orang. Para pemimpin komunis yang dianggap berbahaya dipindahkan ke lokasi interniran lain.

Rangkaian perburuan ini akhirnya bermuara di meja hijau. De Koerier edisi 24 November 1927 memberitakan putusan Landraad Bandung terhadap tiga petani dari Manggahang, distrik Ciparay. Alnasim, Djoenasiken, dan Irtamad dinyatakan bersalah karena ikut serta dalam persekongkolan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah serta menghadiri pertemuan komunis pada 13 Juli 1927 di rumah Alnasim. Putusan pengadilan menyebut pertemuan itu sebagai “bagian dari upaya terorganisasi”.

Baca Juga: Hikayat Pembubaran Diskusi Ultimus, Jejak Paranoia Kiri di Bandung

Hukuman yang dijatuhkan tidak ringan. Alnasim diganjar 2 tahun 9 bulan penjara, sementara Djoenasiken dan Irtamad masing-masing 2 tahun 6 bulan, dengan pengurangan masa tahanan preventif. Dengan vonis ini, aparat kolonial menegaskan bahwa perburuan komplotan komunis di Bandung dan Priangan tidak berhenti pada penangkapan, tetapi berakhir dengan penutupan ruang gerak melalui hukum.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)