Tahun Baru Seabad Lalu, 50 Rapat Komunis Gemparkan Bandung

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Rabu 31 Des 2025, 14:22 WIB
Gambar ilustrasi.

Gambar ilustrasi.

AYOBANDUNG.ID - Tahun baru biasanya identik dengan kembang api dan libur panjang. Di Bandung, 1 Januari 1925 justru dibuka dengan tumpukan agenda rapat. Bukan rapat pejabat, melainkan rapat komunis. Jumlahnya bukan main: 50 buah sekaligus. Polisi kolonial pun memulai tahun baru bukan dengan resolusi, melainkan dengan notulensi.

Catatan ihwal rapat ini muncul dalam terbitan sejumlah koran berbahasa Belanda. Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië edisi 31 Desember 1924 mencatat kaum komunis mengumumkan rencana sedikitnya 50 rapat sekaligus pada 1 Januari 1925. Waktunya seragam, antara pukul sembilan hingga dua belas siang. Lokasinya tersebar hampir di seluruh penjuru Bandung dan sekitarnya. Nama-nama distrik yang disebutkan terasa akrab sekaligus asing bagi pembaca hari ini: Buahbatu, Leuwipanjang, Citepus, Pasirkaliki, Cicendo, hingga Cimahi. Di Andir saja, empat rapat akan berlangsung bersamaan. Di Cimahi, enam sekaligus.

"Tibanya tahun baru di sini ditandai oleh kenyataan bahwa kaum komunis telah mengumumkan lima puluh rapat yang akan diselenggarakan pada 1 Januari, secara bersamaan pada pagi hari antara pukul sembilan hingga dua belas." demikian Algemeen Handelsblad.

Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Bagi polisi kolonial, ini mimpi buruk yang diumumkan di siang bolong. Tahun 2025 baru saja dimulai, gerombolan komunis sudah bikin repot polisi kolonial dengan tumpukan pekerjaan. Alih-alih berleha ria menikmati libur tahun baru yang tenang bersama keluarga, mereka harus rela siap siaga memlototi rapat-rapat kaum komunis Bandung yang kelewat semangat di hari pertama tahun baru.

Karena jumlah aparat tidak mencukupi, maka, diputuskanlah langkah darurat. Setiap rapat diawasi, dibuatkan notulen, dan patroli mobil dikerahkan untuk menutup kekurangan personel.

"Setiap rapat akan dibuatkan notulen dan diawasi secara khusus. Jumlah aparat kepolisian tidak mencukupi, namun demikian pengawasan tetap dilakukan secara teratur melalui dinas patroli mobil."

Catatan redaksi Algemeen Handelsblad bahkan menanggapi dengan nada sinis, menyebut langkah kaum komunis itu sebagai upaya mempermainkan martabat kepolisian. Pemerintah, menurut mereka, seharusnya melarang rapat-rapat gerombolan merah tersebut.

Baca Juga: Sejarah Oleh-oleh Bandung, dari Peuyeum Kampung hingga Pisang Bolen Ikon Kota

De Locomotief edisi 2 Januari 1925 ikut megabarkan rencana rapat tersebut. Koran ini juga memuat laporan lanjutan dari koresponden partikelir yang menyebutkan bahwa kelima puluh rapat itu pada akhirnya berlangsung dengan tenang. Tidak ada kerusuhan besar, tidak ada bentrokan terbuka. Justru ketenangan itulah yang barangkali membuat pemerintah semakin waspada.

Dalam logika kolonial, rapat politik pribumi yang terlalu rapi sering kali dianggap lebih berbahaya daripada keributan spontan. Apalagi jika dibungkus istilah gerakan rakyat dan kebangkitan massa. Kata-kata itu, seperti tercermin dalam catatan redaksi Algemeen Handelsblad, dianggap menggelikan sekaligus mengancam.

Paket 50 rapat ini nyatanya bukan yang pertama bikin polisi kelimpungan. Dalam telegram khusus dari Bandung, koran ini melaporkan adanya rapat cabang VSTP yang berlangsung hingga pukul setengah sebelas malam di Tagogapu. Kemungkinan rapat itu dihelat beberapa hari sebelumnya, karena dimuat di edisi koran yang sama. Propaganda komunis disebut sebagai ciri utama rapat tersebut, sementara polisi beberapa kali melakukan interupsi. Rapat itu sendiri, jika dilihat sepintas, tampak biasa. Namun ia hanyalah pembuka dari rangkaian peristiwa yang lebih merepotkan.

Baca Juga: Hikayat Sabotase Kereta Rancaekek, Bumbu Jimat dan Konspirasi Kiri Zaman Kolonial

Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië edisi 31 Desember 1924.
Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië edisi 31 Desember 1924.

Sikap paranoia pemerintah terhadp komunis memang sedang memuncak pada masa itu. Kelompok ini jadi salah satu corong suara anti penindasan kolonial paling lantang kala itu terutama seelah kelahiran Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dibentuk pada tanggal 23 Mei 1920.

Bukan cuma rapat yang dipelototi, gerak-gerik lain juga tak luput dari pantauan. Masih dalam De Locomotief edisi yang sama, muncul kabar larangan mengajar terhadap lima guru pribumi di Tasikmalaya oleh Residen Priangan. Alasannya jelas, mereka menganut dan menyebarkan gagasan-gagasan revolusioner. Artinya, bagi pemerintah kolonial, propaganda komunis tidak hanya beredar di rapat umum, tetapi juga merembes ke sekolah dan ruang kelas.

Langkah kepolisian kemudian semakin keras. De Locomotief akhir Januari 1925 melaporkan bahwa Residen memuji tindakan kepolisian Bandung lantaran diilai berhasi membubarkan rapat komunis pada 24 Januari. Ini menunjukkan bahwa strategi pengawasan ketat mulai diikuti tindakan pembubaran terbuka. Negara kolonial, setelah mencoba mengawasi, kini mulai menekan.

Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess

"Kepala Komisaris Polisi dan seluruh personel yang bekerja sama telah menerima pernyataan kepuasan dari Residen, sehubungan dengan tindakan mereka dalam membubarkan rapat komunis pada tanggal 24 Januari." tulis De Locomotief.

De Locomotief
De Locomotief

Perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa rapat rapat tahun baru hanyalah permulaan. Pada Juni 1925, Bataviaasch Nieuwsblad memberitakan pemecatan sejumlah tentara pribumi yang berpaham komunis, termasuk satu di Bandung dan seorang kopral di Tjimahi. Militer kolonial mulai melihat komunisme sebagai ancaman dari dalam barak, bukan sekadar di lapangan rapat.

Situasi semakin keras menjelang akhir 1926. Bataviaasch Nieuwsblad edisi 10 Desember 1926 melaporkan sekitar 170 orang ditahan di Bandung dan sekitarnya akibat gejolak komunis. Penjara Bandung hampir mencapai kapasitas maksimum, sementara para pemimpin yang dianggap layak untuk interniran dipindahkan ke tempat lain. Kota yang pada Januari 1925 dipenuhi rapat tenang kini dipenuhi tahanan.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Wisata Bandung Zaman Kolonial, Plesiran Orang Eropa dalam Lintasan Sejarah

Laporan Agustus 1927 yang dikutip oleh berbagai surat kabar Belanda melalui Aneta menutup rangkaian ini. Sebanyak 65 personel militer di Bandung, Cimahi, dan Batujajar ditangkap karena dugaan simpati terhadap komunisme. Aparat yang dulu sibuk mencatat rapat kini justru menjadi objek pencatatan.

"Hingga saat ini, di Bandung, Cimahi, dan Batujajar, 65 orang militer telah ditangkap atas dugaan memiliki kecenderungan atau simpati terhadap komunisme." demikian Algemeen Handelsblad.

Hikayat rapat komunis Bandung pada tahun baru 1925 dengan demikian tercatat dalam arsip pers sebagai kisah tentang kalender, lokasi, dan kelelahan administratif. Lima puluh rapat itu mungkin berlangsung singkat dan tenang, tetapi dampaknya panjang. Polisi kolonial dibuat berlari dari satu wijk ke wijk lain, sementara negara kolonial perlahan menyadari bahwa musuhnya tidak selalu berteriak, melainkan cukup berkumpul, berbicara, lalu pulang dengan tertib.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Biz 20 Jan 2026, 21:30 WIB

Menggenggam Harapan Bandung Lewat Wajib Belajar Pra Sekolah

PAUD bukan sekadar tempat bermain, di balik aktivitas sederhana seperti bernyanyi atau menggambar, tersimpan proses pembentukan karakter.
Ilustrasi. PAUD bukan sekadar tempat bermain, di balik aktivitas sederhana seperti bernyanyi atau menggambar, tersimpan proses pembentukan karakter. (Sumber: Freepik)
Ayo Jelajah 20 Jan 2026, 20:43 WIB

Hikayat Kelam Kasus Herry Wirawan, Kekerasan Seksual terhadap Santriwati di Bandung

Perkara Herry Wirawan, pemilk salahsatu peantren di Bandung, menjadi salah satu kasus kekerasan seksual anak terberat dalam sejarah hukum Indonesia.
Herry Wirawan.
Ayo Jelajah 20 Jan 2026, 20:26 WIB

Sejarah Longsor Cigembong Garut Zaman Kolonial, Warga Satu Kampung Lenyap Tanpa Jejak

Longsor besar Juni 1924 menghapus Kampung Cigembong di selatan Garut. Arsip kolonial mencatat retakan gunung, pergerakan tanah, ratusan korban jiwa, serta sawah dan rumah yang lenyap dalam sekejap.
Ilustrasi longsor Cigembong Garut 1924.
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 19:35 WIB

Menelaah Kaitan Penerangan Jalan dan Potensi Aksi Kejahatan

Warga Margahayu Raya berharap Walikota M. Farhan segera mengatasi masalah lampu jalan yang minim.
Kondisi jalan di Komplek Margahayu Raya yang hanya diterangi oleh rumah warga akibat minimnya lampu penerangan jalan umum pada malam hari, 1 Desember 2025. (Sumber : Dokumentasi Penulis | Foto : Nur Azizah) (Foto : Nur Azizah) (Foto: Nur Azizah)
Ayo Biz 20 Jan 2026, 19:25 WIB

Mimpi Swasembada Energi: Jalan Terjal Transisi di Era Prabowo

Keberhasilan PP Nomor 40/2025 sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menggeser dominasi sistem energi dari energi fosil menuju energi bersih melalui instrumen kebijakan yang tepat sasaran.
Analis kebijakan dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bonti Wiradinata saat diskusi Ikatan Wartawan Ekonomi Bisnis (IWEB) di Bandung, Selasa (20/1/2026). (Sumber: Dok IWEB)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 18:37 WIB

Antara Warga, Amanah, dan Ketenangan

Sebuah potret tentang tokoh yang menjadi pusat diskusi warga dan organisasi lokal.
Firman adalah putra asli Bandung yang tumbuh di Kiara Condong, sebuah lingkungan yang menurutnya menjadi “sekolah kehidupan” pertama. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 17:35 WIB

Susahnya Memberantas Parkir Liar yang Merajalela di Kota Bandung

Di Kota Bandung, parkir liar sangat mudah ditemukan di berbagai macam tempat.
Potret juru parkir liar di salah satu titik Kota Bandung (04/12/25) (Foto: Salsafira Farelya)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 17:00 WIB

Belajar dari Artis, Seni Mengelola Circle Pertemanan Menjadi Aset Masa Depan

Nggak cuma lucu-lucuan, Prediksi dan Bedain jadi bukti kalau tongkrongan bisa menghasilkan cuan.
Prediksi dan Bedain. (Instagram/Prediksi)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 16:17 WIB

Efisiensi Fiskal dan Era Pariwisata Virtual

Efisiensi fiskal menuntut inovasi pemerintah. Bandung perlu cara baru untuk tetap bisa meningkatkan sumber PAD melalui promosi wisata dengan jangkauan luas, tanpa membebani anggaran.
Gunung Putri Lembang, Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Dwinanda Nurhanif Mujito)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 16:00 WIB

Antara Janji Meritokrasi atau Realitas Politik Koalisi: Pembentukan Kabinet Merah Putih

Mengapa idealisme meritokrasi Prabowo luntur demi mengakomodasi kepentingan koalisi, melahirkan 'Kabinet Gemuk' yang lebih mengutamakan stabilitas politik daripada kompetensi ahli.
Masa Retreat Kabinet Merah Putih di Magelang. (Sumber: menpan.go.id)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 15:00 WIB

Ini Sosok John Herdman Pelatih Baru Timnas: Adakah Pemain Persib yang Dipanggil?

John Herdman akan didampingi Cesar Meylan, yang akan bertugas sebagai pelatih fisik Tim Garuda.
John Herdman, lahir 19 Juli 1975, mulai melatih sepak bola pada usia muda di Inggris, saat ia masih menjadi mahasiswa dan dosen universitas paruh waktu di Northumbria University. (Sumber: Kemenpora)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 12:21 WIB

Merawat Imajinasi

Aktivitas mendongeng (membacakan) cerita bukan semata soal hiburan, melainkan ikhtiar bersama dalam menanamkan benih pengetahuan, menumbuhkan rasa ingin tahu, sekaligus mengikat cinta.
Seseorang sedang asyik membaca. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 11:25 WIB

CSR di Bandung: Dari Kegiatan Simbolik Menuju Dampak Sosial Nyata

CSR di Bandung sering dipandang hanya sebagai agenda formal yang belum sepenuhnya menangani kebutuhan sosial secara mendalam.
Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Aditya Enggar Perdana)
Ayo Netizen 20 Jan 2026, 10:03 WIB

Nestapa Gaza, Akankah Dunia Islam Bisa Baik-Baik Saja?

Warga Gaza masih berduka, di tengah hujan musim dingin dan camp darurat.
Krisis Gaza masih berlanjut, semakin kritis di tengah cuaca dingin dan hujan yang semakin intens. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanul Haque Z)
Beranda 20 Jan 2026, 08:33 WIB

Tidak Dipilah Pasti Tidak Diangkut: Gaya Hidup Kampung Takakura dalam Mengatasi Krisis Sampah Bandung

Selama hidup, manusia pasti memproduksi sampah. Sampai kapan pun itu tidak akan hilang. Karena itu kita harus berteman dengan sampah dengan menjadikannya sesuatu yang bernilai.
Hasil dari pengolahan sampah organik salah satunya dijadikan eco enzyme yang kaya enzim ramah lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Jelajah 19 Jan 2026, 20:24 WIB

Sejarah Universitas Islam Bandung, Kampus Biru di Tamansari

Unisba lahir dari kegelisahan tokoh Islam Jawa Barat tentang pendidikan iman dan ilmu hingga tumbuh di Tamansari Bandung.
Kampus Unisba di tamansari. (Sumber: unisba.ac.id)
Ayo Netizen 19 Jan 2026, 18:26 WIB

Walau Lebih Mahal, Ada Alasan Gen-Z Lebih Suka Bus AKAP Fasilitas Lengkap

Ada nih Bus AKAP Luxury yang bisa dilirik oleh kalangan Anak Muda di Bandung cuy
Interior dari Cititrans Super Executive Busline 28S (CTB-102) saat malam hari pada 30 Oktober 2025. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Dean 'Izzan Rahmani)
Ayo Biz 19 Jan 2026, 18:21 WIB

Kontroversi Susu UHT dalam Program Makan Bergizi Gratis Menguji Kualitas Gizi Anak Sekolah

Kontroversi susu UHT dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memantik perdebatan publik.
Ilustrasi. Susu adalah simbol asupan protein, kalsium, dan vitamin yang esensial bagi pertumbuhan ana. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 19 Jan 2026, 17:51 WIB

Edukasi tentang Etika Komunikasi Digital dan Cyberbullying

Percepatan teknologi perlu diimbangi dengan etika komunikasi digital, penyebaran informasi yang bertanggung jawab hingga privasi data.
Pengabdian Kepada Masyarakat berupa edukasi literasi digital bagi siswa SMPN 1 Dayeuhkolot. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 19 Jan 2026, 16:45 WIB

Jalan Asia Afrika yang Cantik Itu Tercoreng oleh Macet

Kemacetan parah di jantung Kota Bandung, mulai dari Alun-Alun hingga kawasan Jalan Asia Afrika, kini sudah menjadi pemandangan yang sangat menjemukan.
Pengendara sepeda motor yang mengalami kemacetan di jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (20/12/2025). (Foto: Randa)