Tahun Baru Seabad Lalu, 50 Rapat Komunis Gemparkan Bandung

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Gambar ilustrasi.
Gambar ilustrasi.

AYOBANDUNG.ID - Tahun baru biasanya identik dengan kembang api dan libur panjang. Di Bandung, 1 Januari 1925 justru dibuka dengan tumpukan agenda rapat. Bukan rapat pejabat, melainkan rapat komunis. Jumlahnya bukan main: 50 buah sekaligus. Polisi kolonial pun memulai tahun baru bukan dengan resolusi, melainkan dengan notulensi.

Catatan ihwal rapat ini muncul dalam terbitan sejumlah koran berbahasa Belanda. Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië edisi 31 Desember 1924 mencatat kaum komunis mengumumkan rencana sedikitnya 50 rapat sekaligus pada 1 Januari 1925. Waktunya seragam, antara pukul sembilan hingga dua belas siang. Lokasinya tersebar hampir di seluruh penjuru Bandung dan sekitarnya. Nama-nama distrik yang disebutkan terasa akrab sekaligus asing bagi pembaca hari ini: Buahbatu, Leuwipanjang, Citepus, Pasirkaliki, Cicendo, hingga Cimahi. Di Andir saja, empat rapat akan berlangsung bersamaan. Di Cimahi, enam sekaligus.

"Tibanya tahun baru di sini ditandai oleh kenyataan bahwa kaum komunis telah mengumumkan lima puluh rapat yang akan diselenggarakan pada 1 Januari, secara bersamaan pada pagi hari antara pukul sembilan hingga dua belas." demikian Algemeen Handelsblad.

Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Bagi polisi kolonial, ini mimpi buruk yang diumumkan di siang bolong. Tahun 2025 baru saja dimulai, gerombolan komunis sudah bikin repot polisi kolonial dengan tumpukan pekerjaan. Alih-alih berleha ria menikmati libur tahun baru yang tenang bersama keluarga, mereka harus rela siap siaga memlototi rapat-rapat kaum komunis Bandung yang kelewat semangat di hari pertama tahun baru.

Karena jumlah aparat tidak mencukupi, maka, diputuskanlah langkah darurat. Setiap rapat diawasi, dibuatkan notulen, dan patroli mobil dikerahkan untuk menutup kekurangan personel.

"Setiap rapat akan dibuatkan notulen dan diawasi secara khusus. Jumlah aparat kepolisian tidak mencukupi, namun demikian pengawasan tetap dilakukan secara teratur melalui dinas patroli mobil."

Catatan redaksi Algemeen Handelsblad bahkan menanggapi dengan nada sinis, menyebut langkah kaum komunis itu sebagai upaya mempermainkan martabat kepolisian. Pemerintah, menurut mereka, seharusnya melarang rapat-rapat gerombolan merah tersebut.

Baca Juga: Sejarah Oleh-oleh Bandung, dari Peuyeum Kampung hingga Pisang Bolen Ikon Kota

De Locomotief edisi 2 Januari 1925 ikut megabarkan rencana rapat tersebut. Koran ini juga memuat laporan lanjutan dari koresponden partikelir yang menyebutkan bahwa kelima puluh rapat itu pada akhirnya berlangsung dengan tenang. Tidak ada kerusuhan besar, tidak ada bentrokan terbuka. Justru ketenangan itulah yang barangkali membuat pemerintah semakin waspada.

Dalam logika kolonial, rapat politik pribumi yang terlalu rapi sering kali dianggap lebih berbahaya daripada keributan spontan. Apalagi jika dibungkus istilah gerakan rakyat dan kebangkitan massa. Kata-kata itu, seperti tercermin dalam catatan redaksi Algemeen Handelsblad, dianggap menggelikan sekaligus mengancam.

Paket 50 rapat ini nyatanya bukan yang pertama bikin polisi kelimpungan. Dalam telegram khusus dari Bandung, koran ini melaporkan adanya rapat cabang VSTP yang berlangsung hingga pukul setengah sebelas malam di Tagogapu. Kemungkinan rapat itu dihelat beberapa hari sebelumnya, karena dimuat di edisi koran yang sama. Propaganda komunis disebut sebagai ciri utama rapat tersebut, sementara polisi beberapa kali melakukan interupsi. Rapat itu sendiri, jika dilihat sepintas, tampak biasa. Namun ia hanyalah pembuka dari rangkaian peristiwa yang lebih merepotkan.

Baca Juga: Hikayat Sabotase Kereta Rancaekek, Bumbu Jimat dan Konspirasi Kiri Zaman Kolonial

Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië edisi 31 Desember 1924.
Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië edisi 31 Desember 1924.

Sikap paranoia pemerintah terhadp komunis memang sedang memuncak pada masa itu. Kelompok ini jadi salah satu corong suara anti penindasan kolonial paling lantang kala itu terutama seelah kelahiran Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dibentuk pada tanggal 23 Mei 1920.

Bukan cuma rapat yang dipelototi, gerak-gerik lain juga tak luput dari pantauan. Masih dalam De Locomotief edisi yang sama, muncul kabar larangan mengajar terhadap lima guru pribumi di Tasikmalaya oleh Residen Priangan. Alasannya jelas, mereka menganut dan menyebarkan gagasan-gagasan revolusioner. Artinya, bagi pemerintah kolonial, propaganda komunis tidak hanya beredar di rapat umum, tetapi juga merembes ke sekolah dan ruang kelas.

Langkah kepolisian kemudian semakin keras. De Locomotief akhir Januari 1925 melaporkan bahwa Residen memuji tindakan kepolisian Bandung lantaran diilai berhasi membubarkan rapat komunis pada 24 Januari. Ini menunjukkan bahwa strategi pengawasan ketat mulai diikuti tindakan pembubaran terbuka. Negara kolonial, setelah mencoba mengawasi, kini mulai menekan.

Baca Juga: Sejarah Gelap KAA Bandung, Konspirasi CIA Bunuh Zhou Enlai via Bom Kashmir Princess

"Kepala Komisaris Polisi dan seluruh personel yang bekerja sama telah menerima pernyataan kepuasan dari Residen, sehubungan dengan tindakan mereka dalam membubarkan rapat komunis pada tanggal 24 Januari." tulis De Locomotief.

De Locomotief
De Locomotief

Perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa rapat rapat tahun baru hanyalah permulaan. Pada Juni 1925, Bataviaasch Nieuwsblad memberitakan pemecatan sejumlah tentara pribumi yang berpaham komunis, termasuk satu di Bandung dan seorang kopral di Tjimahi. Militer kolonial mulai melihat komunisme sebagai ancaman dari dalam barak, bukan sekadar di lapangan rapat.

Situasi semakin keras menjelang akhir 1926. Bataviaasch Nieuwsblad edisi 10 Desember 1926 melaporkan sekitar 170 orang ditahan di Bandung dan sekitarnya akibat gejolak komunis. Penjara Bandung hampir mencapai kapasitas maksimum, sementara para pemimpin yang dianggap layak untuk interniran dipindahkan ke tempat lain. Kota yang pada Januari 1925 dipenuhi rapat tenang kini dipenuhi tahanan.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Wisata Bandung Zaman Kolonial, Plesiran Orang Eropa dalam Lintasan Sejarah

Laporan Agustus 1927 yang dikutip oleh berbagai surat kabar Belanda melalui Aneta menutup rangkaian ini. Sebanyak 65 personel militer di Bandung, Cimahi, dan Batujajar ditangkap karena dugaan simpati terhadap komunisme. Aparat yang dulu sibuk mencatat rapat kini justru menjadi objek pencatatan.

"Hingga saat ini, di Bandung, Cimahi, dan Batujajar, 65 orang militer telah ditangkap atas dugaan memiliki kecenderungan atau simpati terhadap komunisme." demikian Algemeen Handelsblad.

Hikayat rapat komunis Bandung pada tahun baru 1925 dengan demikian tercatat dalam arsip pers sebagai kisah tentang kalender, lokasi, dan kelelahan administratif. Lima puluh rapat itu mungkin berlangsung singkat dan tenang, tetapi dampaknya panjang. Polisi kolonial dibuat berlari dari satu wijk ke wijk lain, sementara negara kolonial perlahan menyadari bahwa musuhnya tidak selalu berteriak, melainkan cukup berkumpul, berbicara, lalu pulang dengan tertib.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)