Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Selasa 24 Feb 2026, 13:37 WIB
Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)

AYOBANDUNG.ID -- Bagi banyak orang di luar komunitas Muslim, Ramadan kerap diterjemahkan secara sederhana sebagai the Islamic fasting month. Terjemahan itu tidak keliru, tetapi terasa kurang memadai. Hanya menjelaskan praktiknya, belum penuh menyentuh makna.

Di Indonesia (rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia) Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Periode ini adalah perubahan ritme kota, pergeseran pola konsumsi, intensifikasi solidaritas sosial, dan bahkan transformasi bahasa sehari-hari. Jam kerja menyesuaikan.

Restoran lebih lengang di siang hari, lalu mendadak penuh menjelang matahari terbenam. Iklan televisi dan kampanye merek berubah menjadi lebih reflektif dan religius.

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting. Ia perlu memahami kosakata yang hidup di dalamnya.

***

Ramadan adalah bulan kesembilan dalam kalender Islam. Dalam Al-Qur'an, bulan ini disebut sebagai waktu turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad. Bagi umat Muslim, ia memiliki dimensi spiritual yang sangat mendalam.

Namun dalam konteks Indonesia, Ramadan juga memiliki dimensi publik yang kasat mata. Kota seperti Jakarta memperlihatkan perubahan pola aktivitas yang signifikan. Lalu lintas cenderung padat menjelang waktu berbuka. Pusat perbelanjaan lebih ramai di malam hari. Kantor-kantor menyesuaikan jam kerja agar karyawan dapat pulang lebih awal.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan praktik privat yang tersembunyi di ruang ibadah. Ia membentuk perilaku kolektif. Ia mengubah waktu sosial.

Dalam perspektif ekonomi, Ramadan bukan sekadar periode pengurangan konsumsi akibat puasa siang hari. Yang terjadi justru pergeseran konsumsi: dari siang ke malam, dari individu ke keluarga, dari kebutuhan rutin ke kebutuhan musiman. Permintaan makanan dan minuman melonjak menjelang berbuka. Industri ritel, transportasi, dan logistik mengalami peningkatan aktivitas.

Dengan kata lain, Ramadan adalah musim sosial-ekonomi tersendiri.

Puasa: Lebih dari Menahan Lapar

Puasa dalam bahasa Arab disebut sawm. Secara sederhana, ia berarti menahan diri dari makan, minum, dan beberapa aktivitas lain sejak fajar hingga matahari terbenam. Namun mengartikannya hanya sebagai praktik menahan lapar akan menghilangkan esensi terdalamnya.

Dalam banyak budaya Barat, fasting sering diasosiasikan dengan diet atau detoksifikasi tubuh. Puasa Ramadan memiliki orientasi berbeda. Ia adalah disiplin spiritual. Ia adalah latihan pengendalian diri. Ia juga memiliki dimensi sosial yang kuat: mengingatkan mereka yang berkecukupan tentang pengalaman mereka yang hidup dalam kekurangan.

Dimensi sosial ini terlihat jelas dalam praktik zakat (kewajiban berbagi sebagian harta kepada yang membutuhkan) yang intensitasnya meningkat selama Ramadan. Secara ekonomi, zakat berfungsi sebagai mekanisme redistribusi. Ia mengalirkan sumber daya dari kelompok berpenghasilan lebih tinggi ke kelompok rentan, menciptakan sirkulasi ekonomi yang lebih merata, meski bersifat musiman.

Dengan demikian, puasa bukanlah penurunan aktivitas ekonomi, melainkan reorientasi nilai di dalamnya.

Sahur, Imsak, dan Iftar: Bahasa Waktu yang Berbeda

Ramadan juga memperkenalkan kosakata waktu yang unik. Ada istilah imsak, penanda waktu menjelang fajar ketika seseorang harus berhenti makan dan bersiap memulai puasa. Ada sahur, yaitu makan dini hari sebelum matahari terbit. Dan ada iftar (dalam bahasa Indonesia disebut berbuka) yakni momen makan pertama setelah matahari terbenam.

Istilah-istilah ini tidak sekadar menunjuk pada jadwal makan. Ia membentuk pengalaman kolektif tentang waktu.

Sahur sering menjadi momen kebersamaan keluarga. Di banyak lingkungan, suara pengeras masjid atau bahkan tradisi warga membangunkan tetangga menjadi bagian dari suasana dini hari. Sementara itu, menjelang berbuka, kota-kota Indonesia mengalami intensitas yang berbeda. Jalanan lebih ramai. Orang-orang bergegas pulang. Restoran bersiap menyambut lonjakan tamu yang datang hampir bersamaan.

Iftar bukan sekadar makan malam. Ia adalah momen transisi emosional: dari menahan diri menuju pelepasan, dari sunyi siang hari menuju keramaian senja.

Dalam konteks ini, waktu selama Ramadan terasa berbeda, lebih terstruktur, lebih dinanti, dan lebih kolektif.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)

Takjil, Ngabuburit, dan Ruang Sosial Sementara

Indonesia menambahkan lapisan budaya lokal dalam praktik Ramadan. Salah satunya adalah istilah takjil, yang merujuk pada makanan ringan (biasanya manis) untuk membatalkan puasa. Di berbagai sudut kota, pasar takjil bermunculan secara musiman. Pedagang kecil memperoleh peluang ekonomi tambahan. Konsumen menikmati ragam kuliner khas yang mungkin hanya tersedia selama Ramadan.

Ada pula istilah ngabuburit, kata dalam bahasa Sunda yang kini digunakan secara luas di Indonesia. Artinya kurang lebih adalah menghabiskan waktu menjelang berbuka. Bentuknya beragam: berjalan sore, berburu takjil, mengikuti kajian, atau sekadar berkumpul bersama teman.

Tradisi buka bersama (sering disingkat bukber) menjadi fenomena sosial tersendiri. Teman sekolah, rekan kantor, komunitas, hingga keluarga besar menjadwalkan pertemuan khusus untuk berbuka bersama. Dalam praktiknya, bukber bukan hanya kegiatan religius. Ia adalah ruang pertemuan sosial, bahkan ruang negosiasi relasi profesional secara informal.

Dari sudut pandang ekonomi, Ramadan menciptakan ruang pasar sementara: peningkatan permintaan kuliner, jasa katering, hingga reservasi restoran. Dari sudut pandang budaya, ia memperkuat kohesi sosial.

Zakat dan Redistribusi Solidaritas

Salah satu istilah penting lain adalah zakat fitrah, bentuk zakat yang dibayarkan menjelang akhir Ramadan sebelum perayaan Idul Fitri. Biasanya dalam bentuk bahan makanan pokok atau nilai uang yang setara, zakat fitrah bertujuan memastikan bahwa semua orang dapat merayakan hari raya dengan layak.

Dalam masyarakat dengan tingkat ketimpangan ekonomi yang masih menjadi tantangan, praktik ini memiliki arti signifikan. Ia menciptakan arus redistribusi yang nyata, walau bersifat periodik. Lembaga sosial, masjid, dan organisasi kemanusiaan memainkan peran penting dalam mengelola dan menyalurkan dana tersebut.

Ramadan, dalam konteks ini, bukan hanya momentum spiritual. Ia juga menjadi momentum solidaritas ekonomi.

Lailatul Qadar: Puncak Spiritual

Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, intensitas ibadah meningkat. Banyak Muslim meyakini adanya satu malam istimewa yang disebut Lailatul Qadar, sering diterjemahkan sebagai The Night of Power. Malam ini diyakini memiliki nilai spiritual yang lebih baik daripada seribu bulan.

Masjid-masjid menjadi lebih ramai. Aktivitas membaca Al-Qur'an meningkat. Ada suasana refleksi dan kontemplasi yang lebih dalam dibanding hari-hari sebelumnya.

Bagi pembaca non-Muslim, penting untuk memahami bahwa dimensi ini menunjukkan kedalaman spiritual Ramadan. Ia bukan hanya tradisi sosial, melainkan perjalanan batin yang intens.

Idul Fitri: Penutup yang Menggerakkan Bangsa

Ramadan ditutup dengan perayaan Idul Fitri. Di Indonesia, momen ini identik dengan tradisi mudik—perjalanan kembali ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga. Mobilitas nasional meningkat drastis. Bandara, stasiun, dan jalan tol dipenuhi jutaan orang yang pulang.

Secara ekonomi, ini adalah salah satu periode pergerakan manusia terbesar dalam setahun. Konsumsi meningkat, distribusi barang melonjak, dan aktivitas transportasi mencapai puncaknya. Secara sosial, Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan dan memperbarui hubungan.

Dengan demikian, Ramadan tidak berakhir dalam keheningan. Ia ditutup dengan perayaan kolektif yang menggerakkan hampir seluruh lapisan masyarakat.

Baca Juga: 15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Menerjemahkan Ramadan sebagai fasting month memang membantu, tetapi tidak cukup. Di balik kata-kata seperti sahur, iftar, takjil, zakat, atau Lailatul Qadar, tersimpan pengalaman kolektif yang membentuk cara masyarakat Indonesia memahami waktu, solidaritas, dan konsumsi.

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah pintu masuk kebudayaan.

Memahami istilah-istilah Ramadan berarti memahami bagaimana jutaan orang mengatur ulang ritme hidupnya selama satu bulan: menahan diri di siang hari, berbagi dengan sesama, memperkuat relasi sosial, dan merefleksikan dimensi spiritual kehidupan.

Bagi pembaca non-Muslim atau warga negara asing yang tinggal di Indonesia, memahami kosakata ini bukan hanya soal etiket budaya. Ini adalah cara membaca masyarakat secara lebih utuh ; dan cara melihat bagaimana agama, ekonomi, dan tradisi lokal berkelindan dalam satu siklus tahunan yang bernama Ramadan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)
Seni Budaya 03 Mar 2026, 16:37

Sejarah Batik Pekalongan, Warisan Budaya dari Pantura Sejak 1802

Sejak awal 1800-an, batik di Pekalongan berkembang dari perdagangan pesisir hingga diakui UNESCO sebagai bagian jejaring kota kreatif dunia.

Kain sarung motif batik Pekalongan tahun 1980-an di Museum Honolulu. (Sumber: Wikimedia)