Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

8 menit baca
Topik Mulyana
Ditulis oleh Topik Mulyana diterbitkan
Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)

Orang Sunda baru saja melewati har-hari penuh euforia. Gelar seni besar-besaran bertajuk Kirab Budaya Tatar Sunda “Napak Tilas Padjadjaran” dilangsungkan dari tanggal 2 hingga 18 Mei 2026 dengan melibatkan 10.000 peserta dari 27 Kabupaten dan Kota se-Jawa Barat. Gelaran akbar itu merupakan pengejawantahan dari Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 13 Tahun 2026 dan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 003.05/Kep. 159-Adpim/2026. Momentum itu konon dimaksudkan sebagai tonggak kebangkitan kesadaran kolektif masyarakat Sunda.

Tentu tidak semua orang Sunda ber-euforia. Di antaranya, sekadar menyebut beberapa nama, Maulana Yusuf Erwinsyah, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa; Ricky Andriawan Mardjadinata, budayawan Ciamis; dan Anton Solihin, pustakawan Batu Api Jatinangor. Yang pertama mengkritik acara kirab itu dari berbagai sisi, mulai dari landasan historis hingga anggaran; yang kedua mengkritik soal “Pajajaranisme” atau pemusatan budaya Sunda hanya pada satu tafsir tunggal; yang ketiga mengkritik—dengan nada keras—metodologi penetapan tanggal Milangkala Tatar Sunda melalui media ini.

Pemantik kontroversi di tataran metodologi adalah dijadikannya Naskah Wangsakerta sebagai referensi. Oleh banyak ahli sejarah kuna, naskah ini dianggap tidak valid, bahkan ada yang menyebutnya "palsu". Kontroversi mengenai naskah ini dapat dibaca dalam buku Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta yang disusun Edi S. Ekadjati (Pustaka Jaya, 2015). Menariknya, Prof. Dr. Nina Herlina, sejarawan Unpad yang kini menjadi Ketua Tim Peneliti Hari Jadi Tatar Sunda, termasuk pihak yang menolak Naskah Wangsakerta untuk dijadikan rujukan sejarah (Ekadjati, 2015: 208-210, 217-225).

Buku Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Topik Mulyana)
Buku Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Topik Mulyana)

Dalam sebuah unggahan video oleh akun Pikiran Rakyat Media Network di platform Instagram 1/5/2026, Ketua Tim Peneliti Hari Jadi Tatar Sunda (selanjutnya akan disebut Tim PHJTS) menyebut bahwa penentuan hari jadi Tatar Sunda itu berdasarkan prasasti tertua yang menyebutkan nama “Sunda”, yakni Prasasti Kebon Kopi II yang isinya menyebutkan bahwa Kerajaan Tarumanagara diubah namanya menjadi Kerajaan Sunda oleh Maharaja Trarusbawa. Sumber primer berupa prasasti ini kemudian dibandingkan dengan sumber berupa naskah, yakni Carita Parahyangan dan Pararatwan, yang menyebutkan bahwa Maharaja Trarusbawa diangkat menjadi Raja Sunda pada tanggal 9 Suklapaksa bulan Jesta 591 Saka, yang setelah dikonversikan ke tahun Masehi menjadi 18 Mei 669.

Setelah video tersebut dan berita-berita tertulis mengenai peresmian Hari Jadi (Milangkala) tatar Sunda beredar, muncullah beragam tanggapan, khususnya mengenai metodologi. Sebelum Anton Solihin memublikasikan artikel berjudul Hari Lahir Tatar Sunda 18 Mei 669: Sulit untuk Disimpulkan karena ‘Omong Kosong’ di ayobandung.id 15/5/2026, terlebih dahulu telah beredar di berbagai grup Whatsapp potongan gambar berita peresmian hari jadi Tatar Sunda dengan foto Dedi Mulyadi (KDM) sedang menunggangi kuda dengan tulisan Mimpi Basah Tatar Sunda: Klaim Berdasarkan Sumber Dongeng. Setelah saya telusuri, didapatilah unggahan lengkapnya. Gambar tersebut adalah pelengkap bagi unggahan teks sepanjang 5 paragraf berjudul “Tatar Sunda Berdiri di Atas Kehaluan Orang Sunda”. Sejujurnya, saya tidak heran dengan kedua fenomena ini. Wangsakerta dikenal sebagai naskah kontroversial, palsu, dongeng, dan kerap menjadi bahan olok-olokan sebagian orang Jawa terhadap orang Sunda dalam berbagai grup sejarah di platform Facebook jauh sebelum pro-kontra Milangkala Tatar Sunda.

Hemat saya, kehendak KDM untuk membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat Sunda sangatlah baik, bahkan dirasa urgen jika mengingat masifnya produk-produk budaya luar yang kian menggerus budaya lokal kita. Dalam pandangan Yuval Noah Harari, apa yang dilakukan KDM  adalah membangun mitologi. Mitologi dalam pengertian Harari tidaklah sebatas dongeng mengenai asal-usul suatu bangsa, melainkan satu di antara dua pondasi yang menopang negara. Mitologi adalah titik berangkat, sekaligus tujuan utama suatu bangsa untuk tumbuh dan berkembang. Tanpa mitologi, suatu bangsa tidak akan punya jatidiri sekaligus hampa akan cita-cita. Dalam konteks keindonesiaan, apa yang disebut sebagai empat pilar (Pancasila, UUD 45, NKRI, Bhineka Tunggal Ika) adalah mitologi bangsa-negara Indonesia. Demikian juga Burung Garuda dan bendera merah putih. Bukankah Garuda itu berasal dari sosok mitologis Hindu (tunggangan Dewa Wisnu) dan merah putih itu berdasarkan konsep Dewata Nawasangha-nya Majapahit? Melalui penetapan Milangkala Tatar Sunda plus kirab budaya yang panjang dan meriah itu, KDM sedang melakukan remitologisasi (suku) bangsa Sunda.

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar. Novel atau dongeng, meskipun karya fiksi, tetaplah diciptakan berdasarkan kaidah-kaidah naratif agar menjadi novel dan dongeng yang berhasil. Novel yang berhasil adalah yang memberikan kenikmatan sekaligus manfaat kepada pembacanya; memberikan semacam ekstase, merangsang inspirasi, dan menyulut motivasi. Apatah pula membangun mitologi bagi suatu entitas bangsa. Di sinilah temuan Tim PHJTS mesti diperbincangkan karena, menurut saya, tim tersebut kurang apik dalam memilih sumber dan menarik simpulan.

Prasasti Kebon Kopi II, yang disebut Tim PHJTS sebagai prasasti tertua yang menyebut “Sunda”, berbunyi: Ini sabdakalanda rakryan juru pangambat i kawihaji pañca pasāgi marsandeca ~ ba(r) pulihkan haji ri Sunda ([Batu peringatan] ini adalah ucapan Rakryan Juru Pangambat, pada tahun 854 bahwa tatanan pemerintahkan dikembalikan kepada penguasa di Sunda). Prasasti ini sama sekali tidak menyebut-nyebut nama Tarumanagara dan Maharaja Trarusbawa.

Adapun mengenai penanggalan (sengkalan; kronogram Jawa), berbunyi kawihaji pancya pasagi. Masing-masing melambangkan angka: kawihaji = 8, pancya = 5, dan pasagi = 4. Dalam kaidah sangkalan, hal itu disebut sangkalan lamba, penanggalan menggunakan rangkaian kata yang membentuk kalimat. Pada umumnya, sangkalan lamba dibaca terbalik sehingga, pada Prasasti Kebon Kopi II, didapatlah angka 458 (tahun saka) yang jika dikonversi ke tahun Masehi menjadi 536 M. Namun, F.D.K. Bosch, arkeolog yang pertama kali meneliti prasasti ini, berpendapat bahwa tahun tersebut terlalu tua untuk jenis tulisan yang digunakan. Maka, pembacaan yang benar adalah dari kiri ke kanan: 854 Ҫ atau 932 M (Ekadjati: 2005: 56, 88). Jika demikian halnya, maka ada prasasti yang lebih tua yang menyebut nama “Sunda”, yakni Prasasti Salingsingan. Prasasti yang ditemukan di Pekalongan, Jawa Tengah, ini memiliki sangkalan 802 Ҫ atau 880 M. Berikut dikutip baris ke-6: Sapradesa ning Mahujung, Karang, Taku, Jati, Luitan, Kuningan, Sunda, Hujung, Gangga sakweh ni tumut inatag mabuat hajya i watangan ... (semua desa di Manghujung, Karang, Taku, Jati, Luitan, Kuningan, Sunda, Hujung, Gangga, semuanya yang ikut diperintahkan bergotong-royong bekerja di watangan (balai).... Apakah Tim PHJTS tidak mengetahui prasasti ini atau sengaja tidak menggunakannya karena tidak berada di Tatar Sunda dan menyebut Sunda sebagai orang suruhan saja? Saya tidak tahu.

Prasasti Salingsingan/Prasasti Batu Kikil (Sumber: https://web.facebook.com/ | Foto: Rakai Luitan Pu Sindhu)
Prasasti Salingsingan/Prasasti Batu Kikil (Sumber: https://web.facebook.com/ | Foto: Rakai Luitan Pu Sindhu)

Pendapat kedua disampaikan Saleh Danasasmita, yakni bahwa penanggalan tersebut dibaca menurut kaidah pada umumnya: dari kanan ke kiri (angkanam vamato gatih) (Danasasmita, 2021: 8). Agak mengherankan karena Danasasmita menggunakan hasil terjemahan Bosch untuk prasasti tersebut, tetapi tidak mengikuti pendapat Bosch soal sangkalan. Rupanya, Danasasmita hendak mencocokkannya dengan Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa, salah satu judul naskah Wangsakerta. Mengutip Parwa I Sarga 1 naskah tersebut, Danasasmita menjelaskan bahwa pada tahun itu, yang berkuasa di Tarumanagara adalah Suryawarman (535-561 M). Raja ketujuh Tarumanagara itu mengikuti kebiasaan ayahnya, Candrawarman (515-535 M), yang kerap mengembalikan daerah-daerah yang dikuasainya kepada penguasa setempat sebagai hadiah atas kesetiaan mereka pada Tarumanagara (2021: 14). Dikembalikan kepada siapa, tidak disebutkan.

Metode inilah yang digunakan oleh Tim PHJTS. Dalam unggahan video yang telah disebutkan di atas, Ketua Tim PHJTS menyebutkan bahwa Kebon Kopi II berkenaan dengan penyerahan kedaulatan oleh Raja Tarumanagara kepada Maharaja Trarusbawa sekaligus sebagai penanda berdirinya Kerajaan Sunda. Tanggal penobatan Trarusbawa menjadi Raja Sunda ini, menurut Ketua Tim PHJTS, terdapat dalam naskah Carita Parahyangan dan Pararatwan, yakni tanggal 9 Suklapaksa (bagian terang) bukan Jesta 591 Ҫ (18 Mei 669 M). Carita Parahyangan yang dimaksud adalah Carita Parahyangan versi Wangsakerta (Fragmen Carita Parahyangan), bukan Carita Parahyangan naskah lontar yang disimpan di Perpustakaan Nasional dengan nomor Kropak 402, yang sama sekali tidak mencatat nama Trarusbawa. Penyebutan Pararatwan pun (mungkin maksudnya Pararatwan i Bhumi Jawadwipa) sepertinya kurang tepat karena peristiwa berikut tanggal penobatan itu terdapat dalam naskah Wangsakerta yang lain: Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara parwa 11 sarga 3 (berdasarkan info dari Ilham Nurwansah melalui unggahan Facebook 4/5/2026) atau dari buku Sejarah Jawa Barat (Yuganing Rajakawasa) susunan Yoseph Iskandar (Geger Sunten, 2001) halaman 157.

Meski sama-sama membandingkan dengan naskah Wangsakerta, versi Danasasmita lebih berterima jika melihat angka tahunnya. Sementara, dalam versi Tim PHJTS, terdapat kerancuan. Kebon Kopi versi Danasasmita berangka tahun 536 M, versi Bosch tahun 932 M, sementara pendirian kerajaan Sunda menurut Wangsakerta tahun 669 M. Dengan versi sangkalan yang mana pun, Kebon Kopi II tidak sesuai dengan Wangsakerta.

Bahwa Kebon Kopi II menandakan berdirinya Kerajaan Sunda, hal itu sudah diperkirakan oleh Claude Guillot dan M.C. Ricklefs. Namun, didirikan oleh siapa dan—lebih penting lagi—tanggal berapa, belum diketahui. Bukankah menentukan hari jadi (milangkala) mengacu pada tanggal?

Mengapa tidak mencari sumber primer lain yang sangkalannya lebih lengkap? Semisal Prasasti Sanghiang Tapak/Prasasti Sri Jayabupati/Prasasti Cicatih. Prasasti ini juga menyebut “Sunda”, bahkan sebagai nama wilayah/tatar/kerajaan: Prahajyan Sunda. Di samping itu, nama rajanya pun disebutkan, bahkan lengkap dengan gelarnya: Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa. Yang paling penting dari keduanya adalah adanya sangkalan yang lengkap: shakawarsatita 952 karttikamasa tithi dwadashi shuklapaksa. ha. ka. ra. wara tambir (Pada tahun Saka 952, bulan Kartika pada hari ke-12, bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, hari pertama, Wuku Tambir) yang menurut Danasasmita (2021: 20) bertepatan dengan 11 Oktober 1030. Meski berselisih 98 tahun dengan Kebon Kopi II (versi Bosch [dan menurut saya, inilah yang valid]), saya kira itu tak masalah karena yang dicari adalah tanggal, bukan tahun. Cicatih lebih terang-benderang dan, tak kalah pentingnya, terbebas dari Wangsakerta yang kontroversial dan kerap membuat orang Sunda ditertawakan.

Prasasti Sanghiang Tapak/Prasasti Cicatih (Sumber: https://web.facebook.com/ | Foto: Layung Jagat)
Prasasti Sanghiang Tapak/Prasasti Cicatih (Sumber: https://web.facebook.com/ | Foto: Layung Jagat)

Mari kita membangun kembali Mitologi Sunda dengan baik dan benar. Setelah itu, jangan lupa melupakan—mengutip lagi Harari—pilar kedua dari negara: birokrasi. Mitologi membangun jatidiri dan menetapkan cita-cita, birokrasi mewujudkannya step by step, secara manajerial. Apalah artinya memamerkan Mahkota Binokasih, mengaku keturunan Prabu Siliwangi, dan mengembalikan pamor Pajajaran jika masih tak mampu memperbaiki jalan yang rusak, merenovasi gedung sekolah yang nyaris ambruk, mengurangi angka pengangguran dan putus sekolah, serta menghentikan deforestasi yang kian masif itu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Topik Mulyana
Tentang Topik Mulyana
Dosen Fakultas Filsafat Unpar, Ketua Padepokan Bumi Ageung Saketi

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)