Merawat Ingatan di Tanah Pasundan, Alasan Warga Tetap Tegak dalam Aksi Kamisan Bandung

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Sabtu 25 Apr 2026, 18:58 WIB
Memasuki tahun ke-12, Aksi Kamisan Bandung terus menjaga konsisten menyampaikan aspirasi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Ahmad Nazar)

Memasuki tahun ke-12, Aksi Kamisan Bandung terus menjaga konsisten menyampaikan aspirasi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Ahmad Nazar)

AYOBANDUNG.ID - Di depan landmark bersejarah Jawa Barat, payung-payung hitam terbuka. Sebagian menaungi orator, sebagiannya lagi dibiarkan terbuka di depan peserta aksi. “Menolak Lupa, Melawan Impunitas!” tertulis di salah satu sisi payung tersebut. Tertera tulisan kritik lain dengan warna hitam yang menjadi ciri khas dari segala atribut yang mewarnai suasana aksi.

Aksi Kamisan Bandung telah berlangsung sejak 18 Juli 2013. Selama 12 tahun membentangkan payung hitam di Tanah Pasundan, Aksi Kamisan hadir sebagai simbol konsistensi perlawanan dalam menyelesaikan berbagai persoalan, khususnya kasus Hak Asasi Manusia (HAM) masa lalu hingga masa kini.

Dari Jakarta ke Bandung: Menjaga Nyala Api Ingatan

Aksi Kamisan pertama hadir pada 18 Januari 2007 di Jakarta, digelar setiap hari Kamis dan terus menjamur di setiap kota di Indonesia. Aksi Kamisan muncul awalnya sebagai bentuk protes para keluarga korban Tragedi 1965, Semanggi I, Semanggi II, Trisakti, Tragedi 13-15 Mei 1998, kasus Talangsari, kasus Tanjung Priok, dan pembunuhan aktivis Munir.

Sejak saat itu, aksi ini menjadi simbol kesetiaan warga sipil dalam "Merawat Ingatan" terhadap ketidakadilan yang terus terjadi. Tradisi diam dengan payung hitam berkembang menjadi bentuk perlawanan yang sederhana, namun terus berlangsung hingga ratusan kali.

Di Bandung, salah satu inisiatornya adalah Wanggi Hoed, seorang pantomim asal Cirebon yang berkuliah dan berkarier di Bandung. Berawal dari Jakarta, sampai sudah 12 tahun di Bandung, Aksi Kamisan hadir tidak hanya untuk merawat ingatan lama kasus HAM masa lalu, namun turut menjadi ruang dalam merespons isu daerah kontemporer.

Bandung, sebagai salah satu kota dengan warga yang terus merawat ingatan dan bersuara menyampaikan ketidakadilan, hadir melalui Aksi Kamisan ke-429 sebagai ruang kolektif sipil dalam menyampaikan aspirasi terkait kebijakan pemangku negara yang dinilai tidak sesuai dengan urgensi publik.

12 tahun konsisten beraksi, Aksi Kamisan Bandung tetap merawat ingatan dan menagih keadilan di bawah payung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
12 tahun konsisten beraksi, Aksi Kamisan Bandung tetap merawat ingatan dan menagih keadilan di bawah payung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Menilik Isu Lokal Kontemporer

Bukan hanya merawat ingatan lama terkait kasus HAM masa lalu, Aksi Kamisan Bandung memperluas cakupannya ke isu-isu lokal kontemporer yang relevan di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Pada Kamis, 23 April 2026, tema “Efisiensi dan Urgensi ala KDM” menjadi salah satu yang diangkat, seiring dengan perdebatan rencana penggabungan Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu.

Beberapa isu lain yang diangkat tidak hanya mengenai hal itu. Namun, isu mengenai gaji guru honorer di Sukabumi dan banyaknya penangkapan tahanan politik pasca-demonstrasi Agustus lalu turut menjadi isu yang digelorakan di Aksi Kamisan Bandung ke-429 ini. Meskipun jumlah peserta tidak banyak, suara yang disampaikan begitu beragam. Bukan hanya tentang kebijakan, tetapi juga tentang bagaimana warga memahami kehadiran mereka di ruang protes itu.

Melawan lupa dengan merawat ingatan kolektif menjadi alasan utama bagi Turfa untuk tetap konsisten meluangkan waktu di sela kesibukan kuliahnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Melawan lupa dengan merawat ingatan kolektif menjadi alasan utama bagi Turfa untuk tetap konsisten meluangkan waktu di sela kesibukan kuliahnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Bagi Muhammad Turfa (21), kehadirannya bukanlah kali pertama. Ia menganggap Aksi Kamisan sebagai wadah untuk mempertahankan ingatan kolektif mengenai berbagai masalah yang terus terjadi.

“Dengan adanya Aksi Kamisan itu kan salah satu cara merawat ingatan. Kata Budiman Sudjatmiko, cara melawan itu dengan merawat ingatan,” kata Turfa saat ditanya alasan tetap hadir di Aksi Kamisan Bandung.

Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa, ia meluangkan waktu untuk hadir ketika memungkinkan, menjadikan aksi ini sebagai bagian dari sikap, bukan sekadar momentum. Sementara itu, Ahmad Siddik (23) memahami kehadirannya sebagai cara dia untuk menyampaikan aspirasi. Ia merasa kegelisahan yang dialaminya tidak terlepas dari konteks yang lebih luas, terutama terkait dengan kebijakan efisiensi anggaran yang menurutnya berdampak langsung pada pendidikan.

“Kritik itu bukan berarti benci. Justru bentuk harapan supaya pemerintah lebih mendengar suara masyarakat,” tegasnya.

Bagi Ahmad, kritik melalui Aksi Kamisan adalah bentuk harapan tulus agar pemerintah lebih peka mendengar aspirasi dan kegelisahan masyarakat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bagi Ahmad, kritik melalui Aksi Kamisan adalah bentuk harapan tulus agar pemerintah lebih peka mendengar aspirasi dan kegelisahan masyarakat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Ia berpendapat bahwa pemotongan anggaran untuk pendidikan bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar yang seharusnya dilindungi oleh negara. Dalam pandangannya, kebijakan ini bukan hanya sekadar angka, tetapi mencerminkan sikap pemerintah terhadap kebutuhan warga.

Bagi beberapa peserta, tema “efisiensi dan urgensi” bukan hanya sekadar slogan, tetapi mencerminkan ketidakcocokan antara kebijakan dan kebutuhan nyata masyarakat. Gian (25), salah satu peserta sekaligus komika, menilai proyek penggabungan Gedung Sate dan Gasibu sebagai sesuatu yang terlalu simbolis.

“Temanya diangkat karena keresahan di masyarakat. Pemerintah bilang efisiensi, tapi di saat yang sama ada program baru yang justru dipertanyakan,” ujar Gian saat ditemui setelah Aksi Kamisan selesai. “Kayak kelihatan terlalu simbolik gitu. Masyarakat tuh sebenarnya perlunya tuh hal-hal yang berkelanjutan, bukan yang cuma instan,” lanjutnya.

Gian menyuarakan kegelisahan publik melalui nada satir, menuntut kebijakan pemerintah yang lebih menyentuh urgensi nyata daripada sekadar proyek simbolis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Gian menyuarakan kegelisahan publik melalui nada satir, menuntut kebijakan pemerintah yang lebih menyentuh urgensi nyata daripada sekadar proyek simbolis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Ia juga menekankan kurangnya keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Menurutnya, kebijakan publik seharusnya tidak hanya berasal dari pihak atas, tetapi juga melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi dan warga yang terdampak.

“Indikatornya sederhana, ada nggak manfaat yang langsung dirasakan masyarakat? Kalau nggak ada, berarti belum menyentuh urgensi publik,” kata Gian.

Pandangan yang sama juga disampaikan oleh Ricky N. Sas, pencetus petisi penolakan proyek tersebut. Ia mengaku pada awalnya ragu untuk membuat petisi, namun akhirnya menganggapnya sebagai cara untuk mengukur partisipasi publik.

"Pemerintah Indonesia tidak takut pada petisi, tetapi kita perlu mengetahui seberapa besar partisipasi publik dalam memahami masalah ini," kata Ricky.

Sebagai penduduk Bandung, kekhawatirannya muncul dari pengalaman sehari-hari sebagai pengguna jalan. Ia berpendapat, penghapusan fungsi jalan di area itu dapat memperburuk kemacetan jika tidak ada perencanaan yang jelas.

Tetap Hadir, Meski Tidak Selalu Diperhatikan

Walaupun mereka sadar bahwa suara mereka mungkin tidak langsung memicu perubahan, para peserta tetap memilih untuk hadir. Bagi mereka, aksi bukan hanya tentang hasil, melainkan tentang merawat ingatan dan keberlanjutan suara.

“Kalau sudah didengar, ngapain ada aksi lagi?” ujar Ahmad sambil tertawa.

Ia merasakan bahwa berbagai kejadian dan tuntutan yang diangkat dalam aksi sering kali belum mendapatkan tanggapan yang memadai. Namun, hal itu justru menjadi motivasi untuk terus hadir, bukan untuk mundur.

Gian merasakan hal yang sama. Ia yakin suara mereka mungkin saja terdengar, walaupun belum tentu mendapatkan respons nyata dari pemerintah. Ia juga menekankan pembagian peran antara masyarakat dan pemimpin dalam mencari solusi.

“Saya ini masyarakat yang bayar pajak, harusnya yang memikirkan solusi itu pemimpinnya,” kata Gian di akhir percakapan sembari tersenyum dengan nada satirnya.

News Update

Beranda 25 Apr 2026, 18:58

Merawat Ingatan di Tanah Pasundan, Alasan Warga Tetap Tegak dalam Aksi Kamisan Bandung

12 tahun konsisten, Aksi Kamisan Bandung tetap jadi ruang bagi warga untuk merawat ingatan kolektif dan menyuarakan ketidakadilan lewat payung hitam yang tak pernah lelah membentang.

Memasuki tahun ke-12, Aksi Kamisan Bandung terus menjaga konsisten menyampaikan aspirasi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Ahmad Nazar)
Linimasa 25 Apr 2026, 14:16

Riwayat Cieunteung Baleendah, Dulu Langganan Kini Pengendali Banjir

Cieunteung kini berubah dari langganan banjir menjadi kawasan pengendali banjir lewat kolam retensi di Baleendah.

Kolam retensi Cieunteung, Baleendah, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 24 Apr 2026, 20:49

Melawan Arus Impor, Komitmen Nadya Nizar Jaga Ekosistem Tekstil Lokal Lewat Nadjani

Nadjani tidak hanya fokus pada profit semata, tetapi juga mengusung misi besar untuk menjaga ekosistem industri tekstil dalam negeri di tengah terjangan produk impor yang kian masif.

Brand lokal Nadjani tumbuh dan berkembang menjadi salah satu pemain utama dalam industri modest fashion Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 24 Apr 2026, 20:40

Perubahan Pesat pada Bandung: Sesuai Harapan atau Sekadar Omongan?

Kritik terhadap rencana percepatan pembangunan infrastruktur dan transportasi di Kota Bandung yang mungkin masih menyisakan ketidakjelasan antara harapan perubahan dan realisasi di lapangan.

Kontras Bandung lama dan baru, sisi kiri menggambarkan kota yang padat dan klasik, sementara sisi kanan menampilkan bayangan kota modern yang sedang dibangun menuju perubahan. (Sumber: Ilustrasi Dihasilkan oleh Gemini AI)
Wisata & Kuliner 24 Apr 2026, 20:40

Wisata Berendam Kawah Rengganis Ciwidey, Panduan Lengkap dari Rute hingga Tiket

Panduan lengkap Kawah Rengganis Ciwidey, mulai lokasi, tiket masuk, pilihan berendam air panas, hingga tips berkunjung di kawasan kawah Gunung Patuha.

Wisata Kawah Rengganis. (Sumber: Instagram @wisataciwidey)
Bandung 24 Apr 2026, 20:11

Desain "Cheer Up" ala Nadya Nizar, Mengintip Dapur Kreatif di Balik Hype Brand Nadjani

Di balik deretan pakaian penuh warna yang menjadi ciri khas brand Nadjani, tersimpan kisah tentang seorang Nadya Amatullah Nizar yang tak pernah memadamkan api kreativitasnya.

Di balik deretan pakaian penuh warna yang menjadi ciri khas brand Nadjani, tersimpan kisah tentang seorang Nadya Amatullah Nizar yang tak pernah memadamkan api kreativitasnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 24 Apr 2026, 19:47

Modal Rp10 Juta Jadi Miliaran, Intip Rahasia Sukses Nadya Nizar Besarkan Brand Nadjani Tanpa Pinjam Bank

Di tengah gempuran produk impor, muncul sosok Nadya Amatullah Nizar, pemilik jenama Nadjani, yang membuktikan bahwa modal kecil bukan penghalang untuk membangun kerajaan modest fashion.

Di tengah gempuran produk impor, muncul sosok Nadya Amatullah Nizar, pemilik jenama Nadjani, yang membuktikan bahwa modal kecil bukan penghalang untuk membangun kerajaan modest fashion. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 24 Apr 2026, 17:00

Kisah Kaum Urban: Hikayat Urang Pasar (Bagian 2) ‘Bank Himpunan Saudara’

Kisah dalam tulisan ini berdasarkan data-data tertulis dalam buku 100 tahun Bank Saudara yang diterbitkan oleh Yayasan Yusuf Panigoro.

Pasar baru bandung pasca kemerdekaan. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 24 Apr 2026, 16:35

Danau Cikijing Purba di Majalengka

Pada masa lalu, Cikijing merupakan danau alami yang luas.

Kijing air tawar (Pilsbryoconcha exilis) ini cangkangnya keras, tapi daging lunak. Bentuknya gepeng, warnanya putih gading. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 24 Apr 2026, 15:56

Taat Rambu dan Marka: Bukan Sekadar Aturan, tapi Keselamatan

Fenomena pelanggaran lalu lintas di Bandung menunjukkan kepatuhan masih situasional. Taat rambu dan marka adalah kunci keselamatan, bukan sekadar aturan.

Sejumlah Polwan memberikan sosialisasi budaya tertib berlalu lintas kepada pengguna jalan di Pos Aria Graha, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Humas Polda Jabar)
Ayo Netizen 24 Apr 2026, 14:56

Mustikarasa: Monumen Gastronomi dan Manifesto Politik Kedaulatan Pangan

Buku Mustikarasa berdiri bukan sekadar sebagai kumpulan instruksi dapur atau kookboek biasa.

Buku Mustikarasa. (Sumber: Istimewa)
Wisata & Kuliner 24 Apr 2026, 13:59

Panduan Wisata Darajat Pass Garut: Biaya Tiket, Wahana, dan Pilihan Waktu Berkunjung

Panduan lengkap Darajat Pass Garut, mulai lokasi, harga tiket, fasilitas kolam air panas, waterpark, hingga tips berkunjung di kawasan geothermal Pasirwangi.

Wisata Darajat Pass Garut. (Sumber: YouTube Neria & Family)
Beranda 24 Apr 2026, 13:57

Menelusuri Bandung Lewat Novel Ateis: Saat Sastra Turun ke Jalan

Menelusuri jejak sejarah dan ruang budaya Bandung lewat novel Ateis. Sebuah kolaborasi sastra dan walking tour untuk merawat ingatan kota di tiap langkah kaki.

Hawe Setiawan membedah peta rahasia Bandung di balik lembaran novel Ateis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Apr 2026, 13:39

No Viral, No Justice: Di Sinilah Logika Diperlukan!

Mengkritisi fenomena No Viral, No Justice dengan menunjukkan bahwa di balik kekuatan “keramaian” di ruang digital, tersembunyi kesesatan berpikir.

Ilustrasi tempat kejadian perkaru kasus kriminal. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 24 Apr 2026, 11:55

Menyusuri Jalanan Bandung di Hari Transportasi Nasional

Bandung adalah kota yang akrab dengan jalan-jalan legendaris.

Keramaian kawasan Cikapundung Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas kota. (Foto: Agus Wahyudi)
Sejarah 24 Apr 2026, 11:03

Tugu PLP, Saksi Sejarah Penumpasan DI/TII dan G30S di Kaki Gunung Guntur

Tugu PLP di Garut jadi saksi penumpasan DI/TII dan G30S, kini berdiri sunyi di kaki Gunung Guntur usai lama terlupakan.

Tugu PLP atau Pusat Latihan Penembakan di Kampung Seureuh, Desa Pasawahan, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut.  (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 24 Apr 2026, 10:14

Program CIRATA GEULIS PLN Nusantara Power Raih PROPER EMAS 2026

Program CIRATA GEULIS dari PLN Nusantara Power UP Cirata meraih PROPER Emas atas inovasi pengelolaan limbah dan pemberdayaan masyarakat di Waduk Cirata.

Program CIRATA GEULIS PLN Nusantara Power UP Cirata meraih PROPER EMAS 2026 berkat inovasi pengelolaan limbah, eceng gondok, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Beranda 24 Apr 2026, 10:11

Srikandi PLN Nusantara Power UP Cirata Edukasi Hidup Sehat Anak TK Budiman di Hari Kartini

Peringati Hari Kartini, Srikandi PLN Nusantara Power UP Cirata gelar edukasi hidup sehat dan bagikan snack bergizi untuk anak TK Budiman di Purwakarta.

Srikandi PLN Nusantara Power UP Cirata mengedukasi anak-anak TK Budiman di Purwakarta tentang kebiasaan hidup sehat sambil membagikan snack bergizi dalam rangka peringatan Hari Kartini.
Ayo Netizen 24 Apr 2026, 09:39

Bandung lahirkan Puisi Mbeling dan Pengadilan Puisi

Kota Bandung oleh pendatang bernama Remy Sylado dijadikan tempat lahirnya puisi mbeling yang memunculkan juga Pengadilan Puisi di tahun 1970-an.

Jembatan ikonik Jalan Asia Afrika dibuka untuk umum. (Sumber: Ayobandung.com/Magang Foto | Foto: Ilham Ahmad Nazar)
Ayo Netizen 24 Apr 2026, 08:06

'Kuliah di Bandung itu Keren' dari Perspektif Mahasiswa Sumatera

Bandung selalu menarik dari sudut pandang orang asing, begitu juga sangat menarik bagi mahasiswa perantauan.

Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)