Merawat Ingatan di Tanah Pasundan, Alasan Warga Tetap Tegak dalam Aksi Kamisan Bandung

5 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Memasuki tahun ke-12, Aksi Kamisan Bandung terus menjaga konsisten menyampaikan aspirasi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Ahmad Nazar)
Memasuki tahun ke-12, Aksi Kamisan Bandung terus menjaga konsisten menyampaikan aspirasi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Ahmad Nazar)

AYOBANDUNG.ID - Di depan landmark bersejarah Jawa Barat, payung-payung hitam terbuka. Sebagian menaungi orator, sebagiannya lagi dibiarkan terbuka di depan peserta aksi. “Menolak Lupa, Melawan Impunitas!” tertulis di salah satu sisi payung tersebut. Tertera tulisan kritik lain dengan warna hitam yang menjadi ciri khas dari segala atribut yang mewarnai suasana aksi.

Aksi Kamisan Bandung telah berlangsung sejak 18 Juli 2013. Selama 12 tahun membentangkan payung hitam di Tanah Pasundan, Aksi Kamisan hadir sebagai simbol konsistensi perlawanan dalam menyelesaikan berbagai persoalan, khususnya kasus Hak Asasi Manusia (HAM) masa lalu hingga masa kini.

Dari Jakarta ke Bandung: Menjaga Nyala Api Ingatan

Aksi Kamisan pertama hadir pada 18 Januari 2007 di Jakarta, digelar setiap hari Kamis dan terus menjamur di setiap kota di Indonesia. Aksi Kamisan muncul awalnya sebagai bentuk protes para keluarga korban Tragedi 1965, Semanggi I, Semanggi II, Trisakti, Tragedi 13-15 Mei 1998, kasus Talangsari, kasus Tanjung Priok, dan pembunuhan aktivis Munir.

Sejak saat itu, aksi ini menjadi simbol kesetiaan warga sipil dalam "Merawat Ingatan" terhadap ketidakadilan yang terus terjadi. Tradisi diam dengan payung hitam berkembang menjadi bentuk perlawanan yang sederhana, namun terus berlangsung hingga ratusan kali.

Di Bandung, salah satu inisiatornya adalah Wanggi Hoed, seorang pantomim asal Cirebon yang berkuliah dan berkarier di Bandung. Berawal dari Jakarta, sampai sudah 12 tahun di Bandung, Aksi Kamisan hadir tidak hanya untuk merawat ingatan lama kasus HAM masa lalu, namun turut menjadi ruang dalam merespons isu daerah kontemporer.

Bandung, sebagai salah satu kota dengan warga yang terus merawat ingatan dan bersuara menyampaikan ketidakadilan, hadir melalui Aksi Kamisan ke-429 sebagai ruang kolektif sipil dalam menyampaikan aspirasi terkait kebijakan pemangku negara yang dinilai tidak sesuai dengan urgensi publik.

12 tahun konsisten beraksi, Aksi Kamisan Bandung tetap merawat ingatan dan menagih keadilan di bawah payung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
12 tahun konsisten beraksi, Aksi Kamisan Bandung tetap merawat ingatan dan menagih keadilan di bawah payung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Menilik Isu Lokal Kontemporer

Bukan hanya merawat ingatan lama terkait kasus HAM masa lalu, Aksi Kamisan Bandung memperluas cakupannya ke isu-isu lokal kontemporer yang relevan di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Pada Kamis, 23 April 2026, tema “Efisiensi dan Urgensi ala KDM” menjadi salah satu yang diangkat, seiring dengan perdebatan rencana penggabungan Gedung Sate dengan Lapangan Gasibu.

Beberapa isu lain yang diangkat tidak hanya mengenai hal itu. Namun, isu mengenai gaji guru honorer di Sukabumi dan banyaknya penangkapan tahanan politik pasca-demonstrasi Agustus lalu turut menjadi isu yang digelorakan di Aksi Kamisan Bandung ke-429 ini. Meskipun jumlah peserta tidak banyak, suara yang disampaikan begitu beragam. Bukan hanya tentang kebijakan, tetapi juga tentang bagaimana warga memahami kehadiran mereka di ruang protes itu.

Melawan lupa dengan merawat ingatan kolektif menjadi alasan utama bagi Turfa untuk tetap konsisten meluangkan waktu di sela kesibukan kuliahnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Melawan lupa dengan merawat ingatan kolektif menjadi alasan utama bagi Turfa untuk tetap konsisten meluangkan waktu di sela kesibukan kuliahnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Bagi Muhammad Turfa (21), kehadirannya bukanlah kali pertama. Ia menganggap Aksi Kamisan sebagai wadah untuk mempertahankan ingatan kolektif mengenai berbagai masalah yang terus terjadi.

“Dengan adanya Aksi Kamisan itu kan salah satu cara merawat ingatan. Kata Budiman Sudjatmiko, cara melawan itu dengan merawat ingatan,” kata Turfa saat ditanya alasan tetap hadir di Aksi Kamisan Bandung.

Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa, ia meluangkan waktu untuk hadir ketika memungkinkan, menjadikan aksi ini sebagai bagian dari sikap, bukan sekadar momentum. Sementara itu, Ahmad Siddik (23) memahami kehadirannya sebagai cara dia untuk menyampaikan aspirasi. Ia merasa kegelisahan yang dialaminya tidak terlepas dari konteks yang lebih luas, terutama terkait dengan kebijakan efisiensi anggaran yang menurutnya berdampak langsung pada pendidikan.

“Kritik itu bukan berarti benci. Justru bentuk harapan supaya pemerintah lebih mendengar suara masyarakat,” tegasnya.

Bagi Ahmad, kritik melalui Aksi Kamisan adalah bentuk harapan tulus agar pemerintah lebih peka mendengar aspirasi dan kegelisahan masyarakat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bagi Ahmad, kritik melalui Aksi Kamisan adalah bentuk harapan tulus agar pemerintah lebih peka mendengar aspirasi dan kegelisahan masyarakat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Ia berpendapat bahwa pemotongan anggaran untuk pendidikan bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar yang seharusnya dilindungi oleh negara. Dalam pandangannya, kebijakan ini bukan hanya sekadar angka, tetapi mencerminkan sikap pemerintah terhadap kebutuhan warga.

Bagi beberapa peserta, tema “efisiensi dan urgensi” bukan hanya sekadar slogan, tetapi mencerminkan ketidakcocokan antara kebijakan dan kebutuhan nyata masyarakat. Gian (25), salah satu peserta sekaligus komika, menilai proyek penggabungan Gedung Sate dan Gasibu sebagai sesuatu yang terlalu simbolis.

“Temanya diangkat karena keresahan di masyarakat. Pemerintah bilang efisiensi, tapi di saat yang sama ada program baru yang justru dipertanyakan,” ujar Gian saat ditemui setelah Aksi Kamisan selesai. “Kayak kelihatan terlalu simbolik gitu. Masyarakat tuh sebenarnya perlunya tuh hal-hal yang berkelanjutan, bukan yang cuma instan,” lanjutnya.

Gian menyuarakan kegelisahan publik melalui nada satir, menuntut kebijakan pemerintah yang lebih menyentuh urgensi nyata daripada sekadar proyek simbolis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Gian menyuarakan kegelisahan publik melalui nada satir, menuntut kebijakan pemerintah yang lebih menyentuh urgensi nyata daripada sekadar proyek simbolis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Ia juga menekankan kurangnya keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Menurutnya, kebijakan publik seharusnya tidak hanya berasal dari pihak atas, tetapi juga melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi dan warga yang terdampak.

“Indikatornya sederhana, ada nggak manfaat yang langsung dirasakan masyarakat? Kalau nggak ada, berarti belum menyentuh urgensi publik,” kata Gian.

Pandangan yang sama juga disampaikan oleh Ricky N. Sas, pencetus petisi penolakan proyek tersebut. Ia mengaku pada awalnya ragu untuk membuat petisi, namun akhirnya menganggapnya sebagai cara untuk mengukur partisipasi publik.

"Pemerintah Indonesia tidak takut pada petisi, tetapi kita perlu mengetahui seberapa besar partisipasi publik dalam memahami masalah ini," kata Ricky.

Sebagai penduduk Bandung, kekhawatirannya muncul dari pengalaman sehari-hari sebagai pengguna jalan. Ia berpendapat, penghapusan fungsi jalan di area itu dapat memperburuk kemacetan jika tidak ada perencanaan yang jelas.

Tetap Hadir, Meski Tidak Selalu Diperhatikan

Walaupun mereka sadar bahwa suara mereka mungkin tidak langsung memicu perubahan, para peserta tetap memilih untuk hadir. Bagi mereka, aksi bukan hanya tentang hasil, melainkan tentang merawat ingatan dan keberlanjutan suara.

“Kalau sudah didengar, ngapain ada aksi lagi?” ujar Ahmad sambil tertawa.

Ia merasakan bahwa berbagai kejadian dan tuntutan yang diangkat dalam aksi sering kali belum mendapatkan tanggapan yang memadai. Namun, hal itu justru menjadi motivasi untuk terus hadir, bukan untuk mundur.

Gian merasakan hal yang sama. Ia yakin suara mereka mungkin saja terdengar, walaupun belum tentu mendapatkan respons nyata dari pemerintah. Ia juga menekankan pembagian peran antara masyarakat dan pemimpin dalam mencari solusi.

“Saya ini masyarakat yang bayar pajak, harusnya yang memikirkan solusi itu pemimpinnya,” kata Gian di akhir percakapan sembari tersenyum dengan nada satirnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)