Bandung, Kota Kelahiran Media Kritis dan Visioner

4 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Majalah Aktuil terbitan 1970-an, pelopor majalah musik modern di Indonesia. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Majalah Aktuil terbitan 1970-an, pelopor majalah musik modern di Indonesia. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)

Membaca surat kabar atau majalah jauh sebelum hadirnya gawai, internet, dan perangkat digital pernah menjadi kegiatan yang begitu menyenangkan. Terlebih saat menunggu waktu berbuka puasa di bulan Ramadan. Tradisi ngabuburit bukan sekadar cara mengisi waktu, melainkan juga kesempatan menyegarkan pikiran sekaligus memperkaya wawasan.

Dalam sejarah pers Indonesia, Bandung menempati posisi istimewa. Kota ini bukan hanya ruang tumbuh budaya dan pendidikan, tetapi juga ladang subur bagi lahirnya media-media kritis dan visioner. Melalui jejak media seperti Medan Prijaji, Majalah Aktuil, Mahasiswa Indonesia, hingga Mimbar Demokrasi, kita diajak menelusuri keberanian berpikir dan dinamika intelektual yang pernah tumbuh subur di kota ini.

Nama perintis pers seperti Raden Mas Tirto Adisuryo maupun gagasan kebangsaan Soekarno menjadi pengingat bahwa membaca bukan sekadar aktivitas santai, melainkan jendela untuk memahami perjalanan bangsa.

Sejak awal abad ke-20, Bandung telah dikenal sebagai pelopor lahirnya media cetak unik dan berkarakter kuat. Kota ini melahirkan media yang berani berbeda, tajam bersuara, dan meninggalkan jejak penting dalam sejarah pers nasional.

Selain dikenal sebagai tempat terbitnya Medan Prijaji (1906) yang kerap disebut sebagai surat kabar pribumi pertama, Bandung juga menjadi kota lahirnya berbagai media bercorak khas. Salah satunya Majalah Aktuil, majalah musik legendaris era 1970-an yang menjadi pelopor pemberitaan musik modern di Indonesia. Majalah ini mengulas perkembangan musik mutakhir, baik nasional maupun internasional.

Penulis bersama redaktur Aktuil, Aah Sumardan dan Odang Danuatmadja, saat pemutaran film dokumenter Aktual of Aktuil di Bandung Creative Hub, tahun 2023. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Penulis bersama redaktur Aktuil, Aah Sumardan dan Odang Danuatmadja, saat pemutaran film dokumenter Aktual of Aktuil di Bandung Creative Hub, tahun 2023. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Pada masa itu, Bandung memang menjadi pusat geliat band-band populer seperti The Rollies, The Peels, Bimbo, Giant Step, Super Kid, hingga Harry Roesli bersama DKSB.

Di Jakarta, God Bless tengah berjaya, Surabaya memiliki AKA Band, sementara Malang dikenal lewat Bentoel dengan aksi panggungnya yang spektakuler. Sebagian besar mengusung musik keras yang kala itu sering dikategorikan sebagai underground.

Aktuil bukan hanya membahas musik secara tajam dan segar, tetapi juga membuka ruang sastra. Di bawah redaksi tokoh multitalenta Remy Sylado, majalah ini menghadirkan rubrik “puisi mbeling”, gaya puisi yang menyimpang dari pakem konvensional. Sayangnya, usia majalah ini tidak panjang, ia hanya bertahan hingga pertengahan 1970-an.

Selain majalah musik, Bandung juga melahirkan surat kabar politik berpengaruh. Yang paling fenomenal ialah Mahasiswa Indonesia (1966–1974), mingguan yang dikenal vokal mendorong perubahan politik. Media ini keras mengkritik sistem Orde Lama dan tetap tajam menyoroti kebijakan Orde Baru.

Dalam Pemilu 1971, mingguan ini terang-terangan memihak Golkar karena sejumlah redakturnya, seperti Rahman Tolleng dan Awan Karmawan Burhan, menjadi calon legislatif dari partai tersebut. Sikap ini memicu protes keras dari Arief Budiman, yang menilai media itu tak lagi independen. Dari redaksi mingguan inilah lahir slogan yang kemudian diadopsi sebagai jargon kampanye: “Politik No, Pembangunan Yes” atau “Parpol No, Golkar Yes.”

Surat kabar Mahasiswa Indonesia, media pers mahasiswa kritis dari Bandung era 1970-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Surat kabar Mahasiswa Indonesia, media pers mahasiswa kritis dari Bandung era 1970-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)

Selain itu, hadir pula Mimbar Demokrasi (MD), diterbitkan oleh eksponen Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia dan Himpunan Mahasiswa Islam. Beberapa tokoh yang terlibat antara lain Hasjrul Moehtar, Adi Sasono, dan Sakib Mahmud. Mereka membawa MD tampil sebagai media yang mengusung gagasan pembaruan politik.

Jika Mahasiswa Indonesia dikenal bernuansa sekular-sosialis, maka Mimbar Demokrasi cenderung berwarna Islamis. Tokoh-tokoh muda Islam seperti Nurcholish Madjid dan Endang Saifuddin Anshari kerap menulis di dalamnya. Seperti Aktuil, kedua media ini juga menyediakan ruang sastra, terutama cerpen dan puisi. Karya awal penyair Abdul Hadi WM dan Sutardji Calzoum Bachri, yang kala itu bermukim di Bandung, sering dimuat di sana.

Bahkan MD yang berkantor di Jalan Braga 51 pernah menerbitkan buku puisi Saini KM berjudul Anak Tanah Air (1969). Namun usia MD lebih pendek; pada awal 1969 media ini bubar akibat kesulitan manajemen.

Tradisi Bandung sebagai kota pers politik sesungguhnya telah berlangsung lama. Selain Medan Prijaji, di kota ini pernah terbit surat kabar Fikiran Rakjat (1935). Di media tersebut, Soekarno menuangkan gagasan kebangsaan yang kelak dihimpun dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi.

Surat kabar itu dipimpin oleh sastrawan sekaligus politikus Asmara Hadi, tokoh pendiri Partai Indonesia. Pada masa Orde Baru, partai ini dilarang karena dituduh berkolaborasi dengan Partai Komunis Indonesia.

Baca Juga: Nostalgia Dapur Ramadan Tempo Dulu ala Pembaca Mangle

Dari majalah musik progresif hingga surat kabar politik yang tajam, sejarah menunjukkan bahwa Bandung bukan sekadar kota budaya. Ia adalah laboratorium kreatif bagi pers Indonesia, tempat lahirnya media-media dengan karakter kuat, keberanian sikap, dan identitas yang tak mudah ditiru.

Jejak itulah yang menegaskan Bandung sebagai kota yang tak hanya melahirkan media, tetapi juga menumbuhkan tradisi keberanian berpikir dan berekspresi dalam dunia pers. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)