Menyusuri Bukit Plangon: Saat Sejarah dan Kepercayaan Menjaga Alam

2 menit baca
Nanda Aulia
Ditulis oleh Nanda Aulia diterbitkan Rabu 10 Jun 2026, 15:31 WIB
Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)

Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)

Di Bukit Plangon, monyet ekor panjang hidup bebas di antara pepohonan dan makam tua. Bagi sebagian orang, pemandangan ini mungkin terlihat biasa. Namun, di balik itu, tersimpan kisah menarik tentang bagaimana kepercayaan lokal turut menjaga kelestarian lingkungan.

Bukit Plangon yang terletak di Desa Babakan, Cirebon, dikenal sebagai kawasan hutan yang masih relatif alami. Monyet ekor panjang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar sekaligus daya tarik bagi pengunjung. Kehadiran mereka mencerminkan hubungan yang khas antara manusia dan alam di kawasan tersebut.

Monyet ekor panjang yang hidup di kawasan Plangon (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2025)
Monyet ekor panjang yang hidup di kawasan Plangon (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2025)

Kawasan ini juga memiliki nilai historis yang kuat. Dalam tradisi lokal, Bukit Plangon dikaitkan dengan tokoh-tokoh penyebar Islam di Cirebon pada abad ke-15, seperti Pangeran Panjunan (Sayyid Abdul Rahman) dan Pangeran Kejaksan (Sayyid Abdul Rahim). Keduanya dikenal memiliki pengaruh besar dalam proses dakwah di wilayah Cirebon, sebagaimana tercatat dalam sumber tradisional seperti Babad Cirebon. Keberadaan makam yang dihormati oleh masyarakat di kawasan ini semakin memperkuat nilai spiritualnya.

Nama “Plangon” sendiri memiliki beberapa penafsiran. Ada yang mengaitkannya dengan istilah “Tegal Klangenan”, yang berarti tempat untuk menenangkan diri, serta “Pelangonan” yang bermakna tempat peristirahatan. Dalam tradisi lokal, nama ini juga dikaitkan dengan kisah Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan yang menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat singgah atau kontemplasi (uzlah). Hal ini menunjukkan bahwa sejak lama Bukit Plangon dipandang sebagai ruang yang memiliki nilai spiritual.

Yang menarik, kesakralan tersebut membentuk cara masyarakat memperlakukan lingkungan. Monyet-monyet di Bukit Plangon tidak hanya dianggap sebagai hewan liar, tetapi juga sebagai penjaga simbolik kawasan makam. Dari kepercayaan ini, lahir norma tidak tertulis, seperti larangan merusak vegetasi atau mengganggu keberadaan monyet.

Secara tidak langsung, kepercayaan tersebut berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem.  Mitos yang sering dianggap sebagai cerita turun-temurun justru menjadi bentuk kearifan lokal yang berdampak nyata terhadap pelestarian lingkungan.

Bukit Plangon pada akhirnya bukan hanya tentang tempat, tetapi juga tentang cara pandang. Ia menunjukkan bahwa hubungan antara sejarah, spiritualitas, serta penghormatan terhadap leluhur dapat menjadi kunci untuk menjaga alam tetap lestari, bahkan di tengah tantangan lingkungan. (*)

REFERENSI:

  • Wafa Amatullah. 2023. Asal-usul Plangon Cirebon, Wisata Keramat dan Kerajaan Monyet. iNews Cirebon.

  • Bima Bagaskara. 2026. Bukit Plangon Cirebon dan Legenda 99 Monyet Penjaga Kawasan Hijau. Detik Jabar.

  • Miratul Hayati Assalam. 2024. Pesona Hutan Plangon Cirebon, Tempat Berjumpa dengan Kera Liar. Cirebon Jawapos.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nanda Aulia
Tentang Nanda Aulia
Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran yang tertarik pada sejarah, sosial budaya, dan dunia kepenulisan.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jun 2026, 15:31

Menyusuri Bukit Plangon: Saat Sejarah dan Kepercayaan Menjaga Alam

Bukit Plangon menjadi contoh bagaimana nilai spiritual dan kearifan lokal berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 14:48

Kesadaran Masyarakat terhadap Penggunaan Kain Wol dengan Fashion Old Money

Penerapan gaya old money dan pemakaian kain wol menjadi strategi yang sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan fashion cepat di Indonesia.

Ilustrasi kain wol. (Sumber: Pexels | Foto: Vlada Karpovich)
Wisata & Kuliner 10 Jun 2026, 14:33

Jelajah TMII, Panduan Lengkap Wisata, Harga Tiket, dan Wahana Terbaru

Panduan lengkap berkunjung ke TMII Jakarta, mulai dari harga tiket, museum, anjungan daerah, Jagat Satwa Nusantara, hingga cara menjelajahi kawasan seluas 150 hektare.

Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Biz 09 Jun 2026, 16:27

Kisah para Juara 1 BRIncubator, Konsisten Berdayakan Pekerja Lokal

Program inkubasi bergengsi dari BRI itu setiap tahunnya mengangkat segelintir UMKM ke panggung yang lebih besar.

Koku Footwear terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Beranda 09 Jun 2026, 16:05

Bandung Raya di Ambang Krisis Sampah, TPA Sarimukti Diperkirakan Penuh Oktober 2026

TPA Sarimukti diperkirakan penuh pada Oktober 2026, memicu ancaman krisis sampah di Bandung Raya yang masih bergantung pada pembuangan akhir dan minim pengolahan dari sumbernya.

Kendaraan pengangkut sampah terparkir di Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu 6 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 15:08

Sesat Logika, Tantangan dalam Berbahasa

Transformasi digital telah membuka ruang publik semakin luas, tetapi membawa dampak pada kerusakan bahasa akibat kesalahan-kesalahan penafsiran masyarakat

Ilustrasi rak buku. (Sumber: Pexels | Foto: Yazid N)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 14:21

Sedia Payung sebelum Perusahaan Melakukan Pengrumahan Sementara hingga Tutup Permanen

Secara hukum lock out merupakan hak pengusaha untuk menolak pekerja masuk dalam rangka perselisihan industrial, namun pelaksanaannya wajib mematuhi aturan hukum yang berlaku.

Ilustrasi penutupan perusahaan atau lock out. (Sumber: Meta AI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:28

Dari Tambang ke Kanvas: Jejak Warna Biru dari Timur

Warna biru punya sejarah panjang yang dimulai dari ketiadaan, mari kita lihat perjalanannya.

Lapis Lazuli (Sumber: WikiMedia | Foto: Hannes Grobe)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 13:02

#NowForClimate: Bersepeda sebagai Aksi Nyata untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

#NowForClimate mengingatkan bahwa aksi iklim dapat dimulai dari pilihan moda transportasi sehari-hari.

Dampak global jika semua orang di dunia bersepeda sebanyak rata-rata orang Denmark dan Belanda. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 11:03

Mabrur, Kabur, dan Syukur

Boneka unta yang dipeluk kakek bukan sekadar cendera mata. Melainkan bahasa kasih sayang yang sederhana.

Oleh-oleh haji dan umrah di salah satu toko kawasan Pasar Baru Trade Center, Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Jumat 29 Mei 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)