Profil Dr. Dewi Turgarini: Pionir Wisata Gastronomi dan Pelestari Warisan Budaya Indonesia

7 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional. (Sumber: UPI)
Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional. (Sumber: UPI)

Dalam diskursus pariwisata kontemporer di Indonesia, Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., berdiri sebagai figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional. Lahir di Bandung pada 20 Maret 1970, ia bukan sekadar akademisi, melainkan seorang arsitek strategi yang memandang gastronomi sebagai "pusaka budaya non-ragawi" dengan dimensi yang sangat luas.

Menurutnya, setiap hidangan adalah manifestasi identitas bangsa yang harus dijaga orisinalitas technofact-nya—yakni teknik dan bentuk tradisional yang diwariskan turun-temurun tanpa perubahan yang mencederai nilai historisnya.

Filosofinya melampaui aspek konsumsi; gastronomi diposisikan sebagai instrumen ketahanan pangan nasional melalui penggunaan bahan baku lokal endogen. Ia menegaskan bahwa pengembangan wisata gastronomi harus berorientasi pada kesejahteraan masyarakat (community welfare).

Dalam pandangannya, potensi "cuan" atau keuntungan ekonomi bukan sekadar target finansial, melainkan alat pengentasan kemiskinan dan pelestarian kearifan lokal yang mampu menciptakan pengalaman (experience) mendalam bagi wisatawan. Visi ini menyatukan idealisme pelestarian dengan realisme ekonomi pariwisata yang berkelanjutan.

Fondasi Keahlian Multidisiplin

Otoritas Dr. Dewi Turgarini dalam lanskap gastronomi nasional dibangun di atas fondasi pendidikan multidisiplin yang kuat. Ia mensinergikan data sejarah dengan metodologi manajemen pariwisata untuk membedah anatomi kuliner dari era prakolonial hingga pascakolonial. Salah satu kekuatan analisisnya adalah kemampuan melacak jejak kuliner hingga masa Kerajaan Galuh (sekitar 600 Masehi), sebagaimana terdokumentasi dalam naskah kuno, untuk membuktikan otentisitas tradisi Sunda.

Ia menempuh seluruh riwayat pendidikan formalnya di institusi terkemuka di Indonesia. Pendidikan tingginya dimulai dengan meraih gelar Sarjana (S1) Sejarah Indonesia dari Universitas Padjadjaran pada tahun 1996. Ia kemudian melanjutkan studi ke jenjang Magister (S2) Manajemen Administrasi Pariwisata di STP Bandung (Politeknik Pariwisata Bandung) dan lulus pada tahun 2006. Puncak pendidikan akademisnya diselesaikan pada tahun 2018 setelah berhasil meraih gelar Doktor (S3) Ilmu Pariwisata dari Universitas Gadjah Mada.

Kombinasi ini memungkinkannya melakukan dekonstruksi terhadap simbolisme kuliner, seperti keunikan "Tumpeng Sunda" yang menempatkan lauk-pauk di bagian dalam nasi sebagai representasi filosofi geografi dan sosial tertentu, berbeda dengan tumpeng modern yang mengekspos lauknya. Fondasi intelektual inilah yang ia transformasikan ke dalam kurikulum pendidikan tinggi untuk mencetak ahli gastronomi masa depan.

Kiprah Profesional sebagai Akademisi dan Praktisi Industri

Sebagai seorang pakar strategis, Dr. Dewi Turgarini memahami bahwa kesadaran wisata gastronomi di Indonesia baru mulai terakselerasi secara masif pada tahun 2011, menyusul tren kota gastronomi dunia yang muncul sejak 2004. Ia mengambil peran kunci dalam menjembatani teori akademik dengan dinamika pasar melalui posisi strategis di berbagai institusi.

Di dunia akademis, ia dikenal sebagai akademisi senior yang aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi ternama. Saat ini, ia mengabdi sebagai dosen senior di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, sekaligus dipercaya menjadi pengajar di Program Magister STIPRAM Yogyakarta.

Dedikasi akademisnya juga terlihat dari perannya sebagai promotor disertasi pada Program Doktor Pariwisata Universitas Trisakti. Dalam proses pengajarannya, ia dikenal visioner dengan memelopori beberapa mata kuliah inovatif, seperti Digitalisasi Gastronomi dan Seminar Kewirausahaan Gastronomi.

Selain aktif di dunia perkuliahan, ia juga merupakan seorang praktisi yang terjun langsung ke industri secara konkret. Ia adalah pemilik dari Indogastrotourism Tour & Travel, sebuah agen perjalanan yang tidak hanya melayani wisatawan, tetapi juga menjadi wadah baginya untuk mengaplikasikan hasil riset pasar secara langsung ke dalam produk nyata berupa paket-paket wisata yang unik dan berbasis data.

Kombinasi kuat antara teori akademis dan pengalaman lapangan ini membawa dirinya dipercaya memegang posisi strategis di organisasi profesi. Sejak tahun 2021, ia mengemban amanah sebagai bagian dari Dewan Kehormatan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), sebuah peran yang mengukuhkan posisi dan kontribusinya dalam kepemimpinan serta perkembangan industri pariwisata nasional.

Melalui pendekatan project-based learning, ia telah berhasil membimbing lima doktor di bidang gastronomi, memastikan bahwa regenerasi pakar terus berjalan beriringan dengan perkembangan industri.

Ekosistem 9 Komponen Gastronomi

Dalam upaya mewujudkan ketahanan pariwisata nasional, Dr. Dewi Turgarini merumuskan sebuah standarisasi strategis melalui 9 Komponen Gastronomi yang saling terintegrasi. Fondasi dari standarisasi ini dimulai dari bahan baku, yaitu penelusuran sumber pangan endogen yang berkualitas, yang kemudian diolah melalui proses memasak dengan melestarikan teknik tradisional sebagai bagian dari technofact.

Setelah matang, dilakukan proses mencicipi melalui evaluasi sensorik demi menjaga keseimbangan rasa autentik, sebelum akhirnya masuk ke tahap menghidangkan yang mengutamakan estetika presentasi agar mampu membawa narasi budaya yang kuat.

Selain aspek teknis penyajian, Dr. Dewi juga menekankan pentingnya dimensi intelektual dan narasi di balik sebuah hidangan. Melalui komponen meneliti, ia menerapkan pendekatan akademis terhadap sejarah dan teknik pangan. Hal ini diperkuat oleh komponen filosofi dan sejarah yang menggali cerita dan makna terdalam sebagai "jiwa" dari setiap resep, serta pengetahuan gizi yang melakukan analisis manfaat kesehatan berbasis kearifan lokal.

Integrasi ini memastikan bahwa kuliner tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga warisan budaya yang terukur. Akhirnya, muara dari seluruh komponen ini adalah aspek manusia dan pengalaman. Melalui komponen etika dan etiket, dirumuskan tata krama serta nilai spiritual yang mengatur interaksi saat makan.

Seluruh rangkaian proses dari hulu ke hilir ini dirancang untuk menciptakan komponen pengalaman, yaitu kesan emosional yang mendalam bagi para wisatawan. Dengan keterpaduan sembilan elemen ini, gastronomi Indonesia tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga pilar kokoh bagi ketahanan pariwisata nasional.

Secara analitis, komponen "Filosofi" serta "Etika dan Etiket" memberikan nilai tambah (value-added) yang membedakan gastronomi dari sekadar industri kuliner. Unsur-unsur ini mengubah aktivitas makan menjadi penghormatan suci terhadap alam dan pencipta, sebuah manifestasi nyata yang dapat kita telusuri melalui studi kasus Tumpeng Sunda.

Kolaborasi Multi-Stakeholder

Dr. Dewi Turgarini merumuskan sebuah kerangka kerja yang dikenal sebagai Standardized Gastronomic Model for National Tourism Resilience. Model ini merupakan pendekatan sistematis untuk membangun destinasi yang tangguh dan berkelanjutan. Strategi ini bertumpu pada 9 Komponen Gastronomi yang telah dipaparkan, meliputi: bahan baku, proses memasak, mencicipi, menghidangkan, meneliti, pengalaman, gizi, filosofi/sejarah, serta etika dan etiket.

Untuk mengaktivasi seluruh komponen tersebut, ia menginisiasi sebuah kolaborasi strategis yang melibatkan sembilan pemangku kepentingan, atau yang dikenal sebagai model Nona-Helix. Sinergi di sektor hulu dan hilir pariwisata digerakkan secara terintegrasi melalui peran pelaku usaha atau produsen makanan tradisional bersama pemasok bahan baku lokal yang menjaga rantai pasok. Di lapangan, pergerakan ini didukung penuh oleh pekerja sektor pariwisata, agen perjalanan, serta pemandu wisata yang berinteraksi langsung dengan wisatawan.

Di sisi lain, penguatan fondasi dan keberlanjutan ekosistem ini bertumpu pada keterlibatan akademisi sebagai peneliti dan penyusun model, serta NGO (organisasi non-pemerintah) yang ikut mengawal implementasinya. Aktivasi ini juga menyentuh akar rumput melalui pemberdayaan komunitas lokal, seperti Karang Taruna dan BUMDES.

Seluruh modal sosial ini kemudian diperkuat oleh pemerintah yang memberikan dukungan melalui regulasi dan kebijakan, serta pemanfaatan sektor Teknologi Informasi untuk melakukan digitalisasi promosi secara masif dan modern.

Meskipun digitalisasi melalui platform seperti YouTube dianggap penting, Dr. Dewi tetap menekankan bahwa "akar" pelestarian berada di unit keluarga batih. Pendidikan gastronomi di meja makan keluarga adalah benteng utama dalam menjaga memori kolektif bangsa.

Pengembangan Destinasi Binaan dan Manifestasi Pemikiran

Relevansi pemikiran Dr. Dewi Turgarini teruji melalui aksi nyata di lapangan. Ia mengintegrasikan teknik permakultur dalam pengembangan bahan baku di desa wisata guna menjamin keberlanjutan pasokan dan kesehatan pangan.

Pencapaian signifikannya meliputi: Pertama; Desa Wisata Hanjeli (Sukabumi), sebuah keberhasilan pembinaan yang berujung pada penghargaan Responsible Tourism Award Asia Tenggara 2024.

Kedua; Kampung Pasir Ipis (Lembang). Melalui proyek pengembangan intensif pada 2022-2023, ia merancang strategi mitigasi bencana untuk kawasan Sesar Lembang melalui "pangan darurat". Inovasi seperti rengginang oyek dikembangkan bukan hanya sebagai produk ekonomi, tetapi sebagai cadangan logistik pascabencana.

Ketiga; Gastronomy Wellness Tourism Days 2025. Pada 17–18 Januari 2025 di Yogyakarta, ia memimpin workshop eksplorasi jamu dan meditasi, membuktikan bahwa gastronomi tradisional adalah pilar utama dari wellness tourism.

Lebih dari itu, bagi Dr. Dewi Turgarini, literasi adalah sarana dokumentasi rasa agar tidak punah tertelan zaman. Karena itulah, ia menulis buku sebagai publikasi ilmiah. Karya-karyanya menjadi rujukan krusial bagi pengembangan pariwisata berbasis budaya di Indonesia.

Publikasi utamanya di antaranya: Pertama; buku berjudul Wisata Gastronomi: Pedoman, Pengelolaan, dan Pengembangan yang diterbitkan oleh penerbit PT Literasi Nusantara, Malang. Kedua; buku berjudul Profil Wisata Gastronomi Didital Indonesia yang diterbitkan oelh penerbit Referensi Cendekia, Bandung (2024).

Ketiga; buku berjudul Pengembangan dan Pengelolaan Produk Pangan Darurat Sebagai Mitigasi dan Pasca Bencana di Kampung Pasir Ipis Desa Jayagiri Lembang Sebagai Destinasi Wisata Gastronomi yang diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Industri Katering, Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia (2023).

Keempat; buku berjudul Mandala Rasa, Profil Wisata Gastronomi di Provinsi Jawa Barat (2025) yang berisi pemetaan komprehensif atas potensi unik di wilayah Tatar Pasundan.

Dan keenam; buku berjudul Perencanaan dan Pengembangan Desa Sebagai Destinasi Wisata Gastronomi Berkelanjutan yang diterbitkan oleh penerbit Referensi Cendekia, Bandung (2026).

Dedikasi Dr. Dewi Turgarini telah membuahkan apresiasi luas, termasuk penghargaan sebagai Pelestari Kuliner Tradisional dari Disparbud Jawa Barat dan Kontributor Berprestasi UPI 2016. Namun, ia menyadari bahwa tantangan terbesar di masa depan terletak pada harmonisasi networking dan kerja sama lintas sektor yang seringkali terhambat oleh ego sektoral.

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa gastronomi adalah keterampilan hidup (life skill) dan aset kearifan lokal yang tidak ternilai. Pesan kuat ia bagi generasi mendatang adalah "Jangan pernah melupakan makanan khas daerah sendiri. Ajarkan pada anak dan cucu, karena di sanalah martabat dan ketahanan kita sebagai bangsa bermula." Visi masa depan Indonesia bagi Dr. Dewi Turgarini adalah menjadi destinasi gastronomi dunia yang mandiri secara pangan dan sejahtera secara kolektif. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 12:36

Romantisme Membaca Majalah Vista September 1983: Ketika Radio, Kaset, Bioskop dan Idola Menghidupkan Kenangan

Membaca Vista hari ini seperti memutar kembali sebuah kaset lama.

Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)