Profil Dr. Dewi Turgarini: Pionir Wisata Gastronomi dan Pelestari Warisan Budaya Indonesia

7 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan Rabu 20 Mei 2026, 15:21 WIB
Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional. (Sumber: UPI)

Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional. (Sumber: UPI)

Dalam diskursus pariwisata kontemporer di Indonesia, Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., berdiri sebagai figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional. Lahir di Bandung pada 20 Maret 1970, ia bukan sekadar akademisi, melainkan seorang arsitek strategi yang memandang gastronomi sebagai "pusaka budaya non-ragawi" dengan dimensi yang sangat luas.

Menurutnya, setiap hidangan adalah manifestasi identitas bangsa yang harus dijaga orisinalitas technofact-nya—yakni teknik dan bentuk tradisional yang diwariskan turun-temurun tanpa perubahan yang mencederai nilai historisnya.

Filosofinya melampaui aspek konsumsi; gastronomi diposisikan sebagai instrumen ketahanan pangan nasional melalui penggunaan bahan baku lokal endogen. Ia menegaskan bahwa pengembangan wisata gastronomi harus berorientasi pada kesejahteraan masyarakat (community welfare).

Dalam pandangannya, potensi "cuan" atau keuntungan ekonomi bukan sekadar target finansial, melainkan alat pengentasan kemiskinan dan pelestarian kearifan lokal yang mampu menciptakan pengalaman (experience) mendalam bagi wisatawan. Visi ini menyatukan idealisme pelestarian dengan realisme ekonomi pariwisata yang berkelanjutan.

Fondasi Keahlian Multidisiplin

Otoritas Dr. Dewi Turgarini dalam lanskap gastronomi nasional dibangun di atas fondasi pendidikan multidisiplin yang kuat. Ia mensinergikan data sejarah dengan metodologi manajemen pariwisata untuk membedah anatomi kuliner dari era prakolonial hingga pascakolonial. Salah satu kekuatan analisisnya adalah kemampuan melacak jejak kuliner hingga masa Kerajaan Galuh (sekitar 600 Masehi), sebagaimana terdokumentasi dalam naskah kuno, untuk membuktikan otentisitas tradisi Sunda.

Ia menempuh seluruh riwayat pendidikan formalnya di institusi terkemuka di Indonesia. Pendidikan tingginya dimulai dengan meraih gelar Sarjana (S1) Sejarah Indonesia dari Universitas Padjadjaran pada tahun 1996. Ia kemudian melanjutkan studi ke jenjang Magister (S2) Manajemen Administrasi Pariwisata di STP Bandung (Politeknik Pariwisata Bandung) dan lulus pada tahun 2006. Puncak pendidikan akademisnya diselesaikan pada tahun 2018 setelah berhasil meraih gelar Doktor (S3) Ilmu Pariwisata dari Universitas Gadjah Mada.

Kombinasi ini memungkinkannya melakukan dekonstruksi terhadap simbolisme kuliner, seperti keunikan "Tumpeng Sunda" yang menempatkan lauk-pauk di bagian dalam nasi sebagai representasi filosofi geografi dan sosial tertentu, berbeda dengan tumpeng modern yang mengekspos lauknya. Fondasi intelektual inilah yang ia transformasikan ke dalam kurikulum pendidikan tinggi untuk mencetak ahli gastronomi masa depan.

Kiprah Profesional sebagai Akademisi dan Praktisi Industri

Sebagai seorang pakar strategis, Dr. Dewi Turgarini memahami bahwa kesadaran wisata gastronomi di Indonesia baru mulai terakselerasi secara masif pada tahun 2011, menyusul tren kota gastronomi dunia yang muncul sejak 2004. Ia mengambil peran kunci dalam menjembatani teori akademik dengan dinamika pasar melalui posisi strategis di berbagai institusi.

Di dunia akademis, ia dikenal sebagai akademisi senior yang aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi ternama. Saat ini, ia mengabdi sebagai dosen senior di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, sekaligus dipercaya menjadi pengajar di Program Magister STIPRAM Yogyakarta.

Dedikasi akademisnya juga terlihat dari perannya sebagai promotor disertasi pada Program Doktor Pariwisata Universitas Trisakti. Dalam proses pengajarannya, ia dikenal visioner dengan memelopori beberapa mata kuliah inovatif, seperti Digitalisasi Gastronomi dan Seminar Kewirausahaan Gastronomi.

Selain aktif di dunia perkuliahan, ia juga merupakan seorang praktisi yang terjun langsung ke industri secara konkret. Ia adalah pemilik dari Indogastrotourism Tour & Travel, sebuah agen perjalanan yang tidak hanya melayani wisatawan, tetapi juga menjadi wadah baginya untuk mengaplikasikan hasil riset pasar secara langsung ke dalam produk nyata berupa paket-paket wisata yang unik dan berbasis data.

Kombinasi kuat antara teori akademis dan pengalaman lapangan ini membawa dirinya dipercaya memegang posisi strategis di organisasi profesi. Sejak tahun 2021, ia mengemban amanah sebagai bagian dari Dewan Kehormatan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), sebuah peran yang mengukuhkan posisi dan kontribusinya dalam kepemimpinan serta perkembangan industri pariwisata nasional.

Melalui pendekatan project-based learning, ia telah berhasil membimbing lima doktor di bidang gastronomi, memastikan bahwa regenerasi pakar terus berjalan beriringan dengan perkembangan industri.

Ekosistem 9 Komponen Gastronomi

Dalam upaya mewujudkan ketahanan pariwisata nasional, Dr. Dewi Turgarini merumuskan sebuah standarisasi strategis melalui 9 Komponen Gastronomi yang saling terintegrasi. Fondasi dari standarisasi ini dimulai dari bahan baku, yaitu penelusuran sumber pangan endogen yang berkualitas, yang kemudian diolah melalui proses memasak dengan melestarikan teknik tradisional sebagai bagian dari technofact.

Setelah matang, dilakukan proses mencicipi melalui evaluasi sensorik demi menjaga keseimbangan rasa autentik, sebelum akhirnya masuk ke tahap menghidangkan yang mengutamakan estetika presentasi agar mampu membawa narasi budaya yang kuat.

Selain aspek teknis penyajian, Dr. Dewi juga menekankan pentingnya dimensi intelektual dan narasi di balik sebuah hidangan. Melalui komponen meneliti, ia menerapkan pendekatan akademis terhadap sejarah dan teknik pangan. Hal ini diperkuat oleh komponen filosofi dan sejarah yang menggali cerita dan makna terdalam sebagai "jiwa" dari setiap resep, serta pengetahuan gizi yang melakukan analisis manfaat kesehatan berbasis kearifan lokal.

Integrasi ini memastikan bahwa kuliner tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga warisan budaya yang terukur. Akhirnya, muara dari seluruh komponen ini adalah aspek manusia dan pengalaman. Melalui komponen etika dan etiket, dirumuskan tata krama serta nilai spiritual yang mengatur interaksi saat makan.

Seluruh rangkaian proses dari hulu ke hilir ini dirancang untuk menciptakan komponen pengalaman, yaitu kesan emosional yang mendalam bagi para wisatawan. Dengan keterpaduan sembilan elemen ini, gastronomi Indonesia tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga pilar kokoh bagi ketahanan pariwisata nasional.

Secara analitis, komponen "Filosofi" serta "Etika dan Etiket" memberikan nilai tambah (value-added) yang membedakan gastronomi dari sekadar industri kuliner. Unsur-unsur ini mengubah aktivitas makan menjadi penghormatan suci terhadap alam dan pencipta, sebuah manifestasi nyata yang dapat kita telusuri melalui studi kasus Tumpeng Sunda.

Kolaborasi Multi-Stakeholder

Dr. Dewi Turgarini merumuskan sebuah kerangka kerja yang dikenal sebagai Standardized Gastronomic Model for National Tourism Resilience. Model ini merupakan pendekatan sistematis untuk membangun destinasi yang tangguh dan berkelanjutan. Strategi ini bertumpu pada 9 Komponen Gastronomi yang telah dipaparkan, meliputi: bahan baku, proses memasak, mencicipi, menghidangkan, meneliti, pengalaman, gizi, filosofi/sejarah, serta etika dan etiket.

Untuk mengaktivasi seluruh komponen tersebut, ia menginisiasi sebuah kolaborasi strategis yang melibatkan sembilan pemangku kepentingan, atau yang dikenal sebagai model Nona-Helix. Sinergi di sektor hulu dan hilir pariwisata digerakkan secara terintegrasi melalui peran pelaku usaha atau produsen makanan tradisional bersama pemasok bahan baku lokal yang menjaga rantai pasok. Di lapangan, pergerakan ini didukung penuh oleh pekerja sektor pariwisata, agen perjalanan, serta pemandu wisata yang berinteraksi langsung dengan wisatawan.

Di sisi lain, penguatan fondasi dan keberlanjutan ekosistem ini bertumpu pada keterlibatan akademisi sebagai peneliti dan penyusun model, serta NGO (organisasi non-pemerintah) yang ikut mengawal implementasinya. Aktivasi ini juga menyentuh akar rumput melalui pemberdayaan komunitas lokal, seperti Karang Taruna dan BUMDES.

Seluruh modal sosial ini kemudian diperkuat oleh pemerintah yang memberikan dukungan melalui regulasi dan kebijakan, serta pemanfaatan sektor Teknologi Informasi untuk melakukan digitalisasi promosi secara masif dan modern.

Meskipun digitalisasi melalui platform seperti YouTube dianggap penting, Dr. Dewi tetap menekankan bahwa "akar" pelestarian berada di unit keluarga batih. Pendidikan gastronomi di meja makan keluarga adalah benteng utama dalam menjaga memori kolektif bangsa.

Pengembangan Destinasi Binaan dan Manifestasi Pemikiran

Relevansi pemikiran Dr. Dewi Turgarini teruji melalui aksi nyata di lapangan. Ia mengintegrasikan teknik permakultur dalam pengembangan bahan baku di desa wisata guna menjamin keberlanjutan pasokan dan kesehatan pangan.

Pencapaian signifikannya meliputi: Pertama; Desa Wisata Hanjeli (Sukabumi), sebuah keberhasilan pembinaan yang berujung pada penghargaan Responsible Tourism Award Asia Tenggara 2024.

Kedua; Kampung Pasir Ipis (Lembang). Melalui proyek pengembangan intensif pada 2022-2023, ia merancang strategi mitigasi bencana untuk kawasan Sesar Lembang melalui "pangan darurat". Inovasi seperti rengginang oyek dikembangkan bukan hanya sebagai produk ekonomi, tetapi sebagai cadangan logistik pascabencana.

Ketiga; Gastronomy Wellness Tourism Days 2025. Pada 17–18 Januari 2025 di Yogyakarta, ia memimpin workshop eksplorasi jamu dan meditasi, membuktikan bahwa gastronomi tradisional adalah pilar utama dari wellness tourism.

Lebih dari itu, bagi Dr. Dewi Turgarini, literasi adalah sarana dokumentasi rasa agar tidak punah tertelan zaman. Karena itulah, ia menulis buku sebagai publikasi ilmiah. Karya-karyanya menjadi rujukan krusial bagi pengembangan pariwisata berbasis budaya di Indonesia.

Publikasi utamanya di antaranya: Pertama; buku berjudul Wisata Gastronomi: Pedoman, Pengelolaan, dan Pengembangan yang diterbitkan oleh penerbit PT Literasi Nusantara, Malang. Kedua; buku berjudul Profil Wisata Gastronomi Didital Indonesia yang diterbitkan oelh penerbit Referensi Cendekia, Bandung (2024).

Ketiga; buku berjudul Pengembangan dan Pengelolaan Produk Pangan Darurat Sebagai Mitigasi dan Pasca Bencana di Kampung Pasir Ipis Desa Jayagiri Lembang Sebagai Destinasi Wisata Gastronomi yang diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Industri Katering, Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia (2023).

Keempat; buku berjudul Mandala Rasa, Profil Wisata Gastronomi di Provinsi Jawa Barat (2025) yang berisi pemetaan komprehensif atas potensi unik di wilayah Tatar Pasundan.

Dan keenam; buku berjudul Perencanaan dan Pengembangan Desa Sebagai Destinasi Wisata Gastronomi Berkelanjutan yang diterbitkan oleh penerbit Referensi Cendekia, Bandung (2026).

Dedikasi Dr. Dewi Turgarini telah membuahkan apresiasi luas, termasuk penghargaan sebagai Pelestari Kuliner Tradisional dari Disparbud Jawa Barat dan Kontributor Berprestasi UPI 2016. Namun, ia menyadari bahwa tantangan terbesar di masa depan terletak pada harmonisasi networking dan kerja sama lintas sektor yang seringkali terhambat oleh ego sektoral.

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa gastronomi adalah keterampilan hidup (life skill) dan aset kearifan lokal yang tidak ternilai. Pesan kuat ia bagi generasi mendatang adalah "Jangan pernah melupakan makanan khas daerah sendiri. Ajarkan pada anak dan cucu, karena di sanalah martabat dan ketahanan kita sebagai bangsa bermula." Visi masa depan Indonesia bagi Dr. Dewi Turgarini adalah menjadi destinasi gastronomi dunia yang mandiri secara pangan dan sejahtera secara kolektif. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)