Dalam diskursus pariwisata kontemporer di Indonesia, Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., berdiri sebagai figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional. Lahir di Bandung pada 20 Maret 1970, ia bukan sekadar akademisi, melainkan seorang arsitek strategi yang memandang gastronomi sebagai "pusaka budaya non-ragawi" dengan dimensi yang sangat luas.
Menurutnya, setiap hidangan adalah manifestasi identitas bangsa yang harus dijaga orisinalitas technofact-nya—yakni teknik dan bentuk tradisional yang diwariskan turun-temurun tanpa perubahan yang mencederai nilai historisnya.
Filosofinya melampaui aspek konsumsi; gastronomi diposisikan sebagai instrumen ketahanan pangan nasional melalui penggunaan bahan baku lokal endogen. Ia menegaskan bahwa pengembangan wisata gastronomi harus berorientasi pada kesejahteraan masyarakat (community welfare).
Dalam pandangannya, potensi "cuan" atau keuntungan ekonomi bukan sekadar target finansial, melainkan alat pengentasan kemiskinan dan pelestarian kearifan lokal yang mampu menciptakan pengalaman (experience) mendalam bagi wisatawan. Visi ini menyatukan idealisme pelestarian dengan realisme ekonomi pariwisata yang berkelanjutan.
Fondasi Keahlian Multidisiplin
Otoritas Dr. Dewi Turgarini dalam lanskap gastronomi nasional dibangun di atas fondasi pendidikan multidisiplin yang kuat. Ia mensinergikan data sejarah dengan metodologi manajemen pariwisata untuk membedah anatomi kuliner dari era prakolonial hingga pascakolonial. Salah satu kekuatan analisisnya adalah kemampuan melacak jejak kuliner hingga masa Kerajaan Galuh (sekitar 600 Masehi), sebagaimana terdokumentasi dalam naskah kuno, untuk membuktikan otentisitas tradisi Sunda.
Ia menempuh seluruh riwayat pendidikan formalnya di institusi terkemuka di Indonesia. Pendidikan tingginya dimulai dengan meraih gelar Sarjana (S1) Sejarah Indonesia dari Universitas Padjadjaran pada tahun 1996. Ia kemudian melanjutkan studi ke jenjang Magister (S2) Manajemen Administrasi Pariwisata di STP Bandung (Politeknik Pariwisata Bandung) dan lulus pada tahun 2006. Puncak pendidikan akademisnya diselesaikan pada tahun 2018 setelah berhasil meraih gelar Doktor (S3) Ilmu Pariwisata dari Universitas Gadjah Mada.
Kombinasi ini memungkinkannya melakukan dekonstruksi terhadap simbolisme kuliner, seperti keunikan "Tumpeng Sunda" yang menempatkan lauk-pauk di bagian dalam nasi sebagai representasi filosofi geografi dan sosial tertentu, berbeda dengan tumpeng modern yang mengekspos lauknya. Fondasi intelektual inilah yang ia transformasikan ke dalam kurikulum pendidikan tinggi untuk mencetak ahli gastronomi masa depan.
Kiprah Profesional sebagai Akademisi dan Praktisi Industri
Sebagai seorang pakar strategis, Dr. Dewi Turgarini memahami bahwa kesadaran wisata gastronomi di Indonesia baru mulai terakselerasi secara masif pada tahun 2011, menyusul tren kota gastronomi dunia yang muncul sejak 2004. Ia mengambil peran kunci dalam menjembatani teori akademik dengan dinamika pasar melalui posisi strategis di berbagai institusi.
Di dunia akademis, ia dikenal sebagai akademisi senior yang aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi ternama. Saat ini, ia mengabdi sebagai dosen senior di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, sekaligus dipercaya menjadi pengajar di Program Magister STIPRAM Yogyakarta.
Dedikasi akademisnya juga terlihat dari perannya sebagai promotor disertasi pada Program Doktor Pariwisata Universitas Trisakti. Dalam proses pengajarannya, ia dikenal visioner dengan memelopori beberapa mata kuliah inovatif, seperti Digitalisasi Gastronomi dan Seminar Kewirausahaan Gastronomi.
Selain aktif di dunia perkuliahan, ia juga merupakan seorang praktisi yang terjun langsung ke industri secara konkret. Ia adalah pemilik dari Indogastrotourism Tour & Travel, sebuah agen perjalanan yang tidak hanya melayani wisatawan, tetapi juga menjadi wadah baginya untuk mengaplikasikan hasil riset pasar secara langsung ke dalam produk nyata berupa paket-paket wisata yang unik dan berbasis data.
Kombinasi kuat antara teori akademis dan pengalaman lapangan ini membawa dirinya dipercaya memegang posisi strategis di organisasi profesi. Sejak tahun 2021, ia mengemban amanah sebagai bagian dari Dewan Kehormatan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), sebuah peran yang mengukuhkan posisi dan kontribusinya dalam kepemimpinan serta perkembangan industri pariwisata nasional.
Melalui pendekatan project-based learning, ia telah berhasil membimbing lima doktor di bidang gastronomi, memastikan bahwa regenerasi pakar terus berjalan beriringan dengan perkembangan industri.
Ekosistem 9 Komponen Gastronomi
Dalam upaya mewujudkan ketahanan pariwisata nasional, Dr. Dewi Turgarini merumuskan sebuah standarisasi strategis melalui 9 Komponen Gastronomi yang saling terintegrasi. Fondasi dari standarisasi ini dimulai dari bahan baku, yaitu penelusuran sumber pangan endogen yang berkualitas, yang kemudian diolah melalui proses memasak dengan melestarikan teknik tradisional sebagai bagian dari technofact.
Setelah matang, dilakukan proses mencicipi melalui evaluasi sensorik demi menjaga keseimbangan rasa autentik, sebelum akhirnya masuk ke tahap menghidangkan yang mengutamakan estetika presentasi agar mampu membawa narasi budaya yang kuat.
Selain aspek teknis penyajian, Dr. Dewi juga menekankan pentingnya dimensi intelektual dan narasi di balik sebuah hidangan. Melalui komponen meneliti, ia menerapkan pendekatan akademis terhadap sejarah dan teknik pangan. Hal ini diperkuat oleh komponen filosofi dan sejarah yang menggali cerita dan makna terdalam sebagai "jiwa" dari setiap resep, serta pengetahuan gizi yang melakukan analisis manfaat kesehatan berbasis kearifan lokal.
Integrasi ini memastikan bahwa kuliner tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga warisan budaya yang terukur. Akhirnya, muara dari seluruh komponen ini adalah aspek manusia dan pengalaman. Melalui komponen etika dan etiket, dirumuskan tata krama serta nilai spiritual yang mengatur interaksi saat makan.
Seluruh rangkaian proses dari hulu ke hilir ini dirancang untuk menciptakan komponen pengalaman, yaitu kesan emosional yang mendalam bagi para wisatawan. Dengan keterpaduan sembilan elemen ini, gastronomi Indonesia tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga pilar kokoh bagi ketahanan pariwisata nasional.
Secara analitis, komponen "Filosofi" serta "Etika dan Etiket" memberikan nilai tambah (value-added) yang membedakan gastronomi dari sekadar industri kuliner. Unsur-unsur ini mengubah aktivitas makan menjadi penghormatan suci terhadap alam dan pencipta, sebuah manifestasi nyata yang dapat kita telusuri melalui studi kasus Tumpeng Sunda.
Kolaborasi Multi-Stakeholder
Dr. Dewi Turgarini merumuskan sebuah kerangka kerja yang dikenal sebagai Standardized Gastronomic Model for National Tourism Resilience. Model ini merupakan pendekatan sistematis untuk membangun destinasi yang tangguh dan berkelanjutan. Strategi ini bertumpu pada 9 Komponen Gastronomi yang telah dipaparkan, meliputi: bahan baku, proses memasak, mencicipi, menghidangkan, meneliti, pengalaman, gizi, filosofi/sejarah, serta etika dan etiket.
Untuk mengaktivasi seluruh komponen tersebut, ia menginisiasi sebuah kolaborasi strategis yang melibatkan sembilan pemangku kepentingan, atau yang dikenal sebagai model Nona-Helix. Sinergi di sektor hulu dan hilir pariwisata digerakkan secara terintegrasi melalui peran pelaku usaha atau produsen makanan tradisional bersama pemasok bahan baku lokal yang menjaga rantai pasok. Di lapangan, pergerakan ini didukung penuh oleh pekerja sektor pariwisata, agen perjalanan, serta pemandu wisata yang berinteraksi langsung dengan wisatawan.
Di sisi lain, penguatan fondasi dan keberlanjutan ekosistem ini bertumpu pada keterlibatan akademisi sebagai peneliti dan penyusun model, serta NGO (organisasi non-pemerintah) yang ikut mengawal implementasinya. Aktivasi ini juga menyentuh akar rumput melalui pemberdayaan komunitas lokal, seperti Karang Taruna dan BUMDES.
Seluruh modal sosial ini kemudian diperkuat oleh pemerintah yang memberikan dukungan melalui regulasi dan kebijakan, serta pemanfaatan sektor Teknologi Informasi untuk melakukan digitalisasi promosi secara masif dan modern.
Meskipun digitalisasi melalui platform seperti YouTube dianggap penting, Dr. Dewi tetap menekankan bahwa "akar" pelestarian berada di unit keluarga batih. Pendidikan gastronomi di meja makan keluarga adalah benteng utama dalam menjaga memori kolektif bangsa.
Pengembangan Destinasi Binaan dan Manifestasi Pemikiran
Relevansi pemikiran Dr. Dewi Turgarini teruji melalui aksi nyata di lapangan. Ia mengintegrasikan teknik permakultur dalam pengembangan bahan baku di desa wisata guna menjamin keberlanjutan pasokan dan kesehatan pangan.
Pencapaian signifikannya meliputi: Pertama; Desa Wisata Hanjeli (Sukabumi), sebuah keberhasilan pembinaan yang berujung pada penghargaan Responsible Tourism Award Asia Tenggara 2024.
Kedua; Kampung Pasir Ipis (Lembang). Melalui proyek pengembangan intensif pada 2022-2023, ia merancang strategi mitigasi bencana untuk kawasan Sesar Lembang melalui "pangan darurat". Inovasi seperti rengginang oyek dikembangkan bukan hanya sebagai produk ekonomi, tetapi sebagai cadangan logistik pascabencana.
Ketiga; Gastronomy Wellness Tourism Days 2025. Pada 17–18 Januari 2025 di Yogyakarta, ia memimpin workshop eksplorasi jamu dan meditasi, membuktikan bahwa gastronomi tradisional adalah pilar utama dari wellness tourism.
Lebih dari itu, bagi Dr. Dewi Turgarini, literasi adalah sarana dokumentasi rasa agar tidak punah tertelan zaman. Karena itulah, ia menulis buku sebagai publikasi ilmiah. Karya-karyanya menjadi rujukan krusial bagi pengembangan pariwisata berbasis budaya di Indonesia.
Publikasi utamanya di antaranya: Pertama; buku berjudul Wisata Gastronomi: Pedoman, Pengelolaan, dan Pengembangan yang diterbitkan oleh penerbit PT Literasi Nusantara, Malang. Kedua; buku berjudul Profil Wisata Gastronomi Didital Indonesia yang diterbitkan oelh penerbit Referensi Cendekia, Bandung (2024).
Ketiga; buku berjudul Pengembangan dan Pengelolaan Produk Pangan Darurat Sebagai Mitigasi dan Pasca Bencana di Kampung Pasir Ipis Desa Jayagiri Lembang Sebagai Destinasi Wisata Gastronomi yang diterbitkan oleh Program Studi Manajemen Industri Katering, Fakultas Ilmu Pengetahuan Sosial, Universitas Pendidikan Indonesia (2023).
Keempat; buku berjudul Mandala Rasa, Profil Wisata Gastronomi di Provinsi Jawa Barat (2025) yang berisi pemetaan komprehensif atas potensi unik di wilayah Tatar Pasundan.
Dan keenam; buku berjudul Perencanaan dan Pengembangan Desa Sebagai Destinasi Wisata Gastronomi Berkelanjutan yang diterbitkan oleh penerbit Referensi Cendekia, Bandung (2026).

Dedikasi Dr. Dewi Turgarini telah membuahkan apresiasi luas, termasuk penghargaan sebagai Pelestari Kuliner Tradisional dari Disparbud Jawa Barat dan Kontributor Berprestasi UPI 2016. Namun, ia menyadari bahwa tantangan terbesar di masa depan terletak pada harmonisasi networking dan kerja sama lintas sektor yang seringkali terhambat oleh ego sektoral.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa gastronomi adalah keterampilan hidup (life skill) dan aset kearifan lokal yang tidak ternilai. Pesan kuat ia bagi generasi mendatang adalah "Jangan pernah melupakan makanan khas daerah sendiri. Ajarkan pada anak dan cucu, karena di sanalah martabat dan ketahanan kita sebagai bangsa bermula." Visi masa depan Indonesia bagi Dr. Dewi Turgarini adalah menjadi destinasi gastronomi dunia yang mandiri secara pangan dan sejahtera secara kolektif. (*)
