Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Selasa 19 Mei 2026, 16:25 WIB
Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko, di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID Di sudut ruang roastery-nya di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, Muchtar Koswara (Mang Eko) tidak hanya menjual kopi. Ia menjual edukasi dan kepercayaan. Kepercayaan bahwa biji kopi yang ia sangrai, kemas, dan ia kirim ke puluhan kafe di Bandung dan luar Bandung itu memang layak untuk pengalaman ngopi terbaik.

Bagaimanapun kepercayaan, dalam dunia bisnis, tidak hanya dibangun dari kualitas produk. Pun dibangun dari kelancaran transaksi. Dari kecepatan konfirmasi pembayaran. Dari kemudahan yang tidak menyita waktu. Baik waktu pedagang maupun pembeli.

Jadi, bagaimana sebuah roastery kopi di kompleks perumahan Bandung Timur bertransformasi secara diam-diam, bukan hanya lewat program inkubasi bisnis atau pameran internasional, melainkan juga dari cara paling sederhana yang menyentuh operasional sehari-hari yakni alat bayar? Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan. 

3 Fitur dalam Satu Ekosistem

Mang Eko menggunakan tiga instrumen pembayaran digital dari BRI dalam kesehariannya: merchant QRIS, mesin EDC, dan aplikasi BRImo yang ia andalkan untuk pengelolaan keuangan.

Keputusan ini muncul dari kebutuhan riil seorang pelaku usaha yang bisnisnya bertumpu pada transaksi B2B (Business to Business), di mana nilai transaksi bisa jauh lebih besar dari sekadar secangkir kopi, dan kecepatan pencairan dana menunjang keberlangsungan usaha.

"Penggunaannya mudah, pencairannya cepat dibandingkan bank lain. Satu hari bisa tiga kali pencairan," ujar Mang Eko kepada ayobandung.id, pada 17 Mei 2026.

Tiga kali pencairan dalam sehari. Bagi usaha yang perputaran modalnya bergantung pada kecepatan arus kas (apalagi pasca-recovery pandemi seperti yang dialami Cikopi Mang Eko) angka itu menjadi napas. Rutinitas.

Untuk diingat: Mang Eko pernah berada di titik paling berat. Tahun 2021, ia dirawat sebulan penuh di ICU akibat COVID-19, tanpa asuransi, tanpa BPJS Kesehatan. Semua aset terkuras untuk biaya rumah sakit. Omzet yang sebelum pandemi mencapai Rp 3 miliar per tahun pernah jatuh ke Rp 300 juta. Tahun 2022, ia bahkan hampir menjual seluruh bisnisnya (toko online, media sosial, hingga peralatan) dengan harga Rp 2 miliar. Namun, beruntung baginya sekarang, kala itu ia tidak pernah menemukan pembeli dengan tawaran angka yang pas.

Dari lubang itu, Mang Eko bangkit. Dan ketika bangkit, ia butuh modal kerja yang bergerak cepat. Selain KUR BRI Rp 100 juta yang ia dapatkan pada 2023 untuk membeli bahan baku kopi berkualitas tinggi, pun butuh sistem pembayaran yang tidak membuatnya menunggu terlalu lama untuk mengakses uangnya sendiri. Baik baginya, kemudahan transaksi digital ini pun didapat dari bank yang sama.

Pun di Cikopi Mang Eko, pelanggan bukan hanya kafe-kafe yang datang secara rutin membeli 3 hingga 200 kilogram kopi per bulan. Ada juga pembeli retail yang datang langsung ke tokonya di Arcamanik, seperti pecinta kopi, mahasiswa yang belajar manual brew gratis di sana, atau pelanggan baru yang pertama kali mendengar namanya dari mulut ke mulut.

Untuk mereka, QRIS dan mesin EDC BRI menjadi jembatan transaksi yang paling praktis.

Mesin EDC+QRIS Dinamis milik BRI bukan perangkat biasa. Alat ini dapat menerima pembayaran menggunakan kartu debit, kartu kredit, kartu prepaid, sekaligus QRIS (semua dalam satu perangkat). Kompatibel dengan kartu Mastercard, Visa, GPN, hingga BRIZZI. Artinya, siapa pun yang datang ke Cikopi Mang Eko, dari pelanggan kafe yang membawa kartu debit BCA hingga pembeli yang lebih suka bayar lewat GoPay atau OVO, bisa terlayani tanpa hambatan.

Sejak 1 Desember 2024, BRI juga memberlakukan kebijakan MDR (Merchant Discount Rate) 0% untuk transaksi QRIS di bawah Rp500.000, lewat program QRIS UMI yang diperluas ke berbagai kategori usaha—dari mikro hingga menengah. Dalam empat bulan pertama program ini berjalan, lebih dari 150 ribu pengguna baru bergabung, membawa total pengguna BRI Merchant ke angka 270 ribu.

Dan angka itu terus tumbuh. Pada kuartal I 2026, BRI mencatat jumlah merchant aktif telah mencapai 323.700 dengan volume transaksi tumbuh 26,5% secara tahunan. Khusus QRIS, pertumbuhan bahkan lebih agresif: volume transaksi melonjak 76%, sementara jumlah transaksi meningkat 86,7% secara year-on-year menjadi 253 miliar transaksi hanya dalam tiga bulan pertama 2026.

Di tengah ledakan angka-angka itu, Mang Eko adalah satu dari ratusan ribu pelaku usaha yang menjadi denyut nadi ekosistem tersebut.

Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Harapan UMKM yang Terjawab

Saat ditanya soal inovasi apa yang ia harapkan dari QRIS & Mesin EDC dari BRI, Mang Eko menyebut satu hal spesifik: soundbox.

"Untuk inovasi, kalau bisa dibuatkan soundbox jadi ketika konsumen bayar akan ada konfirmasi suara langsung," ujarnya.

Harapan itu logis. Di toko yang sesibuk Cikopi Mang Eko (di mana pemiliknya sering mengobrol bersama tamu, mendampingi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, atau mengawasi proses roasting di ruang sebelah) sulit untuk terus memantau layar ponsel setiap kali ada transaksi masuk. Apalagi di tengah ramainya transaksi B2B, di mana satu konfirmasi pembayaran yang terlewat bisa berarti kopi dikirim tanpa kepastian dana diterima.

Mang Eko mungkin belum mengetahuinya, tapi BRI sebenarnya sudah punya jawabannya.

Aplikasi BRI merchant kini dilengkapi dengan fitur voice notification. Notifikasi suara yang secara otomatis menyebutkan nominal transaksi setiap kali pembayaran lewat QRIS atau EDC berhasil masuk. Merchant tidak perlu lagi mengecek layar, tidak perlu meminta pembeli menunjukkan bukti transfer, tidak perlu khawatir soal bukti pembayaran QRIS palsu yang selama ini menjadi keresahan banyak pedagang.

Fitur ini hadir tanpa biaya langganan tambahan dan tanpa memerlukan perangkat keras terpisah—cukup dari aplikasi BRI merchant di ponsel yang sudah ada. Sebuah solusi yang persis menjawab keresahan yang Mang Eko rasakan, bahkan sebelum ia sempat menyuarakannya secara formal.

Selain QRIS dan EDC, Mang Eko juga mengandalkan BRImo, super app perbankan BRI, untuk mengelola keuangan sehari-hari Cikopi Mang Eko.

"Aplikasinya sangat lengkap dan mudah untuk digunakan," katanya singkat. 

Namun di balik kesederhanaan penilaian itu, tersimpan sesuatu yang lebih dalam: kepercayaan seorang pengusaha yang sudah merasakan betapa mahalnya harga dari sistem yang tidak bisa diandalkan.

BRImo bukan sekadar aplikasi mobile banking. Ia adalah super app yang mengintegrasikan transfer, pembayaran tagihan, QRIS, pembelian produk digital, hingga fitur investasi dalam satu platform. Bagi Mang Eko yang mengelola bisnis sendirian, dari memantau pesanan kafe, mengatur stok biji kopi, hingga mengawasi arus kas, kemampuan untuk melakukan semua itu dari satu aplikasi bukan sekadar kenyamanan. Ia adalah efisiensi yang nyata.

Angka penggunanya berbicara sendiri. Hingga akhir 2025, BRImo telah digunakan oleh 45,9 juta pengguna aktif (tumbuh 18,9% dibanding tahun sebelumnya) dengan total nilai transaksi menembus Rp7.057 triliun sepanjang tahun. Pada Maret 2026, angka pengguna itu sudah menembus 47,8 juta, tumbuh 18,6% secara tahunan.

BRI membangun BRImo bukan sebagai aplikasi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai pusat dari ekosistem yang terhubung: dari ATM, mesin EDC merchant, QRIS BRI, hingga BRILink Agen yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam konteks Cikopi Mang Eko, ini berarti: QRIS yang ia gunakan untuk menerima pembayaran pelanggan, mesin EDC yang ia operasikan di kasir, dan BRImo yang ia buka setiap pagi untuk memeriksa mutasi rekening. Semuanya bekerja dalam satu sistem yang saling terhubung.

Digitalisasi yang Tidak Disadari

Ada hal menarik dari cara Mang Eko berbicara soal alat-alat digital yang ia gunakan. Ia tidak menyebutnya sebagai "transformasi digital". Ia tidak menggunakan kata-kata besar. Baginya, QRIS adalah "mudah". BRImo adalah "lengkap". EDC adalah "cepat cairnya".

Dan itulah, justru, tanda dari digitalisasi yang berhasil: ketika teknologi menjadi begitu menyatu dengan operasional sehari-hari, ia tidak lagi terasa seperti inovasi. Ia terasa seperti hal yang memang sudah seharusnya ada.

Mang Eko tidak pernah menyebut dirinya sebagai pelaku usaha yang melek digital. Ia lebih senang bicara tentang kopi (tentang karakter biji Malabar, tentang perbedaan proses wine dan natural, tentang bagaimana ia memilih green bean langsung dari kelompok tani di Puntang, Papandayan, dan Cikurai). Tapi tanpa disadari, ia menjalankan sebuah roastery B2B dengan lebih dari 50 kafe sebagai pelanggan tetap, produksi 1,2 hingga 1,86 ton per bulan, dan jalur ekspor ke Malaysia. Semuanya dengan infrastruktur digital yang terintegrasi rapi di punggungnya.

Ini selaras dengan apa yang dicatat dalam BRI Microfinance Outlook 2024: bahwa 90% pedagang di Indonesia kini telah mengadopsi pembayaran QRIS, dan bahwa UMKM berkontribusi 60% terhadap PDB nasional. Digitalisasi bukan lagi soal apakah, tapi soal seberapa dalam. (*)

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:18

Membaca di Kota yang Sibuk

Selama Hari Buku Nasional terus diperingati setiap tahun, budaya membaca justru perlahan semakin tersingkir di tengah kehidupan kota yang serba cepat.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 19:00

Demi Anak dan Istri, Setiap Hari Mang Amir Ngegas Motornya ‘Membelah Subuh’ Jualan Bubur Ayam

Mang Amir terus mengais rezeki dengan nge-gas motor Honda Beatnya menjajakan bubur ayam keliling komplek.

Mang Amir terus mengais rezeki dengan nge-gas motor Honda Beatnya menjajakan bubur ayam keliling komplek. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 18:20

Menelusuri Jejak Gastronomi Legendaris di Kota Bandung

Metamorfosis Bandung menjadi pusat kuliner bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan simfoni akulturasi yang telah berjalan selama lebih dari satu abad.

Suasana Kopi Purnama yang jadi tempat ngopi legendaris di Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Bob Yanuar)
Wisata & Kuliner 18 Mei 2026, 17:43

Jelajah Gunung Lembu Purwakarta, Jalur Batu Purba dengan View Waduk Jatiluhur

Jelajahi Gunung Lembu Purwakarta, monolit batu purba dengan jalur berbatu curam dan panorama Waduk Jatiluhur.

Pemandangan Waduk Jatiluhur dari Gunung Lembu, Purwakarta.
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 13:18

Dari 'Teknik' ke 'Rekayasa: Sekadar Ganti Nama atau Perubahan Paradigma?

Perubahan nomenklatur “Teknik” menjadi “Rekayasa” memunculkan diskusi tentang internasionalisasi, identitas keilmuan, dan arah pendidikan engineering di Indonesia.

Kemendiktisaintek tetapkan perubahan nama prodi "teknik" jadi "rekayasa". (Foto: Istimewa)
Wisata & Kuliner 18 Mei 2026, 11:36

Wisata Bukit Gronggong, Lanskap Kota Cirebon dari Koridor Perbukitan Selatan

Bukit Gronggong di Cirebon menawarkan panorama kota dari ketinggian, lengkap dengan kafe, kuliner, dan suasana malam dengan gemerlap lampu urban.

Bukit Gronggong, Cirebon. (Sumber: Pemkab Cirebon)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 11:14

Semula, Ada Pandai Kuningan di Sayang dan di Bojongsayang

Di Jawa Barat, banyak toponim yang memakai kata sayang.

Contoh bokor yang dibuat dari kuningan. Tempat pembuatannya disebut sayang. (Sumber: Istimewa)
Beranda 18 Mei 2026, 10:43

Saat Manusia Asing dengan Tanahnya Sendiri dan Nama Tempat Tinggalnya

T. Bachtiar menjelaskan bagaimana nama tempat menyimpan jejak alam dan budaya, sekaligus mengungkap krisis ingatan manusia terhadap ruang hidupnya.

Pemandangan kota Bandung, jembatan Pasupati dengan latar belakang Gunung Tangkuban Parahu, Rabu 20 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)