Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

7 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko, di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID – Di sudut ruang roastery-nya di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, Muchtar Koswara (Mang Eko) tidak hanya menjual kopi. Ia menjual edukasi dan kepercayaan. Kepercayaan bahwa biji kopi yang ia sangrai, kemas, dan ia kirim ke puluhan kafe di Bandung dan luar Bandung itu memang layak untuk pengalaman ngopi terbaik.

Bagaimanapun kepercayaan, dalam dunia bisnis, tidak hanya dibangun dari kualitas produk. Pun dibangun dari kelancaran transaksi. Dari kecepatan konfirmasi pembayaran. Dari kemudahan yang tidak menyita waktu. Baik waktu pedagang maupun pembeli.

Jadi, bagaimana sebuah roastery kopi di kompleks perumahan Bandung Timur bertransformasi secara diam-diam, bukan hanya lewat program inkubasi bisnis atau pameran internasional, melainkan juga dari cara paling sederhana yang menyentuh operasional sehari-hari yakni alat bayar? Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan. 

3 Fitur dalam Satu Ekosistem

Mang Eko menggunakan tiga instrumen pembayaran digital dari BRI dalam kesehariannya: merchant QRIS, mesin EDC, dan aplikasi BRImo yang ia andalkan untuk pengelolaan keuangan.

Keputusan ini muncul dari kebutuhan riil seorang pelaku usaha yang bisnisnya bertumpu pada transaksi B2B (Business to Business), di mana nilai transaksi bisa jauh lebih besar dari sekadar secangkir kopi, dan kecepatan pencairan dana menunjang keberlangsungan usaha.

"Penggunaannya mudah, pencairannya cepat dibandingkan bank lain. Satu hari bisa tiga kali pencairan," ujar Mang Eko kepada ayobandung.id, pada 17 Mei 2026.

Tiga kali pencairan dalam sehari. Bagi usaha yang perputaran modalnya bergantung pada kecepatan arus kas (apalagi pasca-recovery pandemi seperti yang dialami Cikopi Mang Eko) angka itu menjadi napas. Rutinitas.

Untuk diingat: Mang Eko pernah berada di titik paling berat. Tahun 2021, ia dirawat sebulan penuh di ICU akibat COVID-19, tanpa asuransi, tanpa BPJS Kesehatan. Semua aset terkuras untuk biaya rumah sakit. Omzet yang sebelum pandemi mencapai Rp 3 miliar per tahun pernah jatuh ke Rp 300 juta. Tahun 2022, ia bahkan hampir menjual seluruh bisnisnya (toko online, media sosial, hingga peralatan) dengan harga Rp 2 miliar. Namun, beruntung baginya sekarang, kala itu ia tidak pernah menemukan pembeli dengan tawaran angka yang pas.

Dari lubang itu, Mang Eko bangkit. Dan ketika bangkit, ia butuh modal kerja yang bergerak cepat. Selain KUR BRI Rp 100 juta yang ia dapatkan pada 2023 untuk membeli bahan baku kopi berkualitas tinggi, pun butuh sistem pembayaran yang tidak membuatnya menunggu terlalu lama untuk mengakses uangnya sendiri. Baik baginya, kemudahan transaksi digital ini pun didapat dari bank yang sama.

Pun di Cikopi Mang Eko, pelanggan bukan hanya kafe-kafe yang datang secara rutin membeli 3 hingga 200 kilogram kopi per bulan. Ada juga pembeli retail yang datang langsung ke tokonya di Arcamanik, seperti pecinta kopi, mahasiswa yang belajar manual brew gratis di sana, atau pelanggan baru yang pertama kali mendengar namanya dari mulut ke mulut.

Untuk mereka, QRIS dan mesin EDC BRI menjadi jembatan transaksi yang paling praktis.

Mesin EDC+QRIS Dinamis milik BRI bukan perangkat biasa. Alat ini dapat menerima pembayaran menggunakan kartu debit, kartu kredit, kartu prepaid, sekaligus QRIS (semua dalam satu perangkat). Kompatibel dengan kartu Mastercard, Visa, GPN, hingga BRIZZI. Artinya, siapa pun yang datang ke Cikopi Mang Eko, dari pelanggan kafe yang membawa kartu debit BCA hingga pembeli yang lebih suka bayar lewat GoPay atau OVO, bisa terlayani tanpa hambatan.

Sejak 1 Desember 2024, BRI juga memberlakukan kebijakan MDR (Merchant Discount Rate) 0% untuk transaksi QRIS di bawah Rp500.000, lewat program QRIS UMI yang diperluas ke berbagai kategori usaha—dari mikro hingga menengah. Dalam empat bulan pertama program ini berjalan, lebih dari 150 ribu pengguna baru bergabung, membawa total pengguna BRI Merchant ke angka 270 ribu.

Dan angka itu terus tumbuh. Pada kuartal I 2026, BRI mencatat jumlah merchant aktif telah mencapai 323.700 dengan volume transaksi tumbuh 26,5% secara tahunan. Khusus QRIS, pertumbuhan bahkan lebih agresif: volume transaksi melonjak 76%, sementara jumlah transaksi meningkat 86,7% secara year-on-year menjadi 253 miliar transaksi hanya dalam tiga bulan pertama 2026.

Di tengah ledakan angka-angka itu, Mang Eko adalah satu dari ratusan ribu pelaku usaha yang menjadi denyut nadi ekosistem tersebut.

Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Harapan UMKM yang Terjawab

Saat ditanya soal inovasi apa yang ia harapkan dari QRIS & Mesin EDC dari BRI, Mang Eko menyebut satu hal spesifik: soundbox.

"Untuk inovasi, kalau bisa dibuatkan soundbox jadi ketika konsumen bayar akan ada konfirmasi suara langsung," ujarnya.

Harapan itu logis. Di toko yang sesibuk Cikopi Mang Eko (di mana pemiliknya sering mengobrol bersama tamu, mendampingi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, atau mengawasi proses roasting di ruang sebelah) sulit untuk terus memantau layar ponsel setiap kali ada transaksi masuk. Apalagi di tengah ramainya transaksi B2B, di mana satu konfirmasi pembayaran yang terlewat bisa berarti kopi dikirim tanpa kepastian dana diterima.

Mang Eko mungkin belum mengetahuinya, tapi BRI sebenarnya sudah punya jawabannya.

Aplikasi BRI merchant kini dilengkapi dengan fitur voice notification. Notifikasi suara yang secara otomatis menyebutkan nominal transaksi setiap kali pembayaran lewat QRIS atau EDC berhasil masuk. Merchant tidak perlu lagi mengecek layar, tidak perlu meminta pembeli menunjukkan bukti transfer, tidak perlu khawatir soal bukti pembayaran QRIS palsu yang selama ini menjadi keresahan banyak pedagang.

Fitur ini hadir tanpa biaya langganan tambahan dan tanpa memerlukan perangkat keras terpisah—cukup dari aplikasi BRI merchant di ponsel yang sudah ada. Sebuah solusi yang persis menjawab keresahan yang Mang Eko rasakan, bahkan sebelum ia sempat menyuarakannya secara formal.

Selain QRIS dan EDC, Mang Eko juga mengandalkan BRImo, super app perbankan BRI, untuk mengelola keuangan sehari-hari Cikopi Mang Eko.

"Aplikasinya sangat lengkap dan mudah untuk digunakan," katanya singkat. 

Namun di balik kesederhanaan penilaian itu, tersimpan sesuatu yang lebih dalam: kepercayaan seorang pengusaha yang sudah merasakan betapa mahalnya harga dari sistem yang tidak bisa diandalkan.

BRImo bukan sekadar aplikasi mobile banking. Ia adalah super app yang mengintegrasikan transfer, pembayaran tagihan, QRIS, pembelian produk digital, hingga fitur investasi dalam satu platform. Bagi Mang Eko yang mengelola bisnis sendirian, dari memantau pesanan kafe, mengatur stok biji kopi, hingga mengawasi arus kas, kemampuan untuk melakukan semua itu dari satu aplikasi bukan sekadar kenyamanan. Ia adalah efisiensi yang nyata.

Angka penggunanya berbicara sendiri. Hingga akhir 2025, BRImo telah digunakan oleh 45,9 juta pengguna aktif (tumbuh 18,9% dibanding tahun sebelumnya) dengan total nilai transaksi menembus Rp7.057 triliun sepanjang tahun. Pada Maret 2026, angka pengguna itu sudah menembus 47,8 juta, tumbuh 18,6% secara tahunan.

BRI membangun BRImo bukan sebagai aplikasi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai pusat dari ekosistem yang terhubung: dari ATM, mesin EDC merchant, QRIS BRI, hingga BRILink Agen yang tersebar di seluruh Indonesia. Dalam konteks Cikopi Mang Eko, ini berarti: QRIS yang ia gunakan untuk menerima pembayaran pelanggan, mesin EDC yang ia operasikan di kasir, dan BRImo yang ia buka setiap pagi untuk memeriksa mutasi rekening. Semuanya bekerja dalam satu sistem yang saling terhubung.

Digitalisasi yang Tidak Disadari

Ada hal menarik dari cara Mang Eko berbicara soal alat-alat digital yang ia gunakan. Ia tidak menyebutnya sebagai "transformasi digital". Ia tidak menggunakan kata-kata besar. Baginya, QRIS adalah "mudah". BRImo adalah "lengkap". EDC adalah "cepat cairnya".

Dan itulah, justru, tanda dari digitalisasi yang berhasil: ketika teknologi menjadi begitu menyatu dengan operasional sehari-hari, ia tidak lagi terasa seperti inovasi. Ia terasa seperti hal yang memang sudah seharusnya ada.

Mang Eko tidak pernah menyebut dirinya sebagai pelaku usaha yang melek digital. Ia lebih senang bicara tentang kopi (tentang karakter biji Malabar, tentang perbedaan proses wine dan natural, tentang bagaimana ia memilih green bean langsung dari kelompok tani di Puntang, Papandayan, dan Cikurai). Tapi tanpa disadari, ia menjalankan sebuah roastery B2B dengan lebih dari 50 kafe sebagai pelanggan tetap, produksi 1,2 hingga 1,86 ton per bulan, dan jalur ekspor ke Malaysia. Semuanya dengan infrastruktur digital yang terintegrasi rapi di punggungnya.

Ini selaras dengan apa yang dicatat dalam BRI Microfinance Outlook 2024: bahwa 90% pedagang di Indonesia kini telah mengadopsi pembayaran QRIS, dan bahwa UMKM berkontribusi 60% terhadap PDB nasional. Digitalisasi bukan lagi soal apakah, tapi soal seberapa dalam. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)