Cuplikan ucapan seorang menteri tentang masyarakat di desa yang jarang makan telur dan daging ayam turut mengundang perhatian serius dan perdebatan warganet di media sosial.
Benarkah demikian atas pernyataan tersebut? Jika menelisik aktivitas masyarakat di desa tidak benar kalimat yang disampaikan. Meski demikian menarik jika diuraikan tentang pola konsumsi masyarakat di desa yang cenderung lebih sering diabaikan. Upaya mendiskreditkan masyarakat di desa melalui frasa tersebut seolah tidak ada telur dan daging ayam yang sering dikonsumsi memunculkan pertanyaan yang sederhana.
Apakah masyarakat di desa tidak mampu membeli telur dan daging ayam? Apakah daya beli masyarakat di desa cenderung rendah?
Diperlukan gambaran sederhana juga tentang perilaku masyarakat di desa, hubungannya dengan masyarakat lain melalui berekonomi di daerah pedesaan.
Sesungguhnya perilaku masyarakat di desa tidak seperti yang dibayangkan oleh pejabat di kota.
Dimanapun desa dipijak, masyarakat berperilaku guyub bersama, satu luka maka dua lainnya menyembuhkan. Kesehatan masyarakat di desa tidak bisa dimaksudkan sehat sendiri melainkan saling membantu, bermasyarakat adalah bermaslahat. Dominasi bergotong-royong. Sikap saling membantu ini menjadi ketegasan bahwa masyarakat di desa melalui keputusan bersama.
Tidak ada yang bilang jika masyarakat di desa tidak bisa melihat kesendirian, mereka sudah menyatu sejak lahir. Ibaratnya kepedulian sosial yang terjadi pada tubuh masyarakat di desa benar adanya. Sebab telah menjadi anak kandung di dalam berbagai kegiatan.
Telak sudah jika masyarakat di desa selalu hadir mengusung semangat keakraban, sesama menjadi tubuh kesetiaan, tidak saling menyinggung tentang bagaimana mengendalikan masyarakat lainnya. Berpenampilan baik satu sama lainnya. Berpolitik dengan berpikir kesadaran saling mendukung.
Kebudayaan yang tertulis dan tidak tertulis menyatukan kebersamaan dan keberagaman masyarakat. Tidak mengabaikan kesatuan dan persatuan.
Berorientasi Nilai-nilai Pancasila
Di pedesaan, semua masyarakat saling menjaga nilai-nilai Pancasila. Kultur mereka tidak mewariskan kesesatan berpikir. Mereka tahu jika nilai-nilai Pancasila wajib diwujudkan ke dalam bermasyarakat sehari-hari.
Keadilan bermasyarakat adalah berbangsa menentukan jalan kebersamaan dan keberkahan.

Betapapun situasi kondisi di pedesaan, masyarakat mengajarkan bahwa nilai-nilai Pancasila sebagai kewajiban untuk melaksanakan kegiatan. Mereka tidak membutuhkan seminar atau diskusi berlama-lama di hotel, mereka cukup untuk membuat perubahan melalui masjid.
Tidak ada rapat berlebihan dengan anggaran besar, tidak pernah disebut menghabiskan banyak uang demi proyek asalkan bapak senang (ABS). Melainkan bermasyarakat di pedesaan sangat sportif dan berada pada posisi persatuan.
Ekonomi Kerakyatan Sebenarnya
Masyarakat di desa sudah mengimplementasikan keseluruhan tentang berekonomi kerakyatan. Mereka tidak mencari keuntungan besar. Mereka mengupas tentang ekonomi berdasarkan hukum ekonomi yang beradab.
Setiap panen dimulai, harga cabai, bawang merah, tomat, jagung dan lainnya diusahakan sebagai penentu untuk kemaslahatan umat. Mereka yang menentukan harga sesuai kebutuhan masyarakat lainnya.
Permainan harga kadang muncul akibat proses orang yang menginginkan keserakahan dan berlabel demi dapur ngebul. Akibatnya, masyarakat yang mengandalkan kekuatan ekonomi yang halal cenderung rugi. Kerugian yang dialami akibat orang-orang di luar desa, bersikap rakus dan menguntungkan sekelompoknya saja.
Misalnya di hari besar seperti menjelang ramadan atau idul fitri terus menggembosi berekonomi masyarakat di desa karena harga bahan pokok yang mahal.
Tanpa mengabaikan kondisi masyarakat di desa saat ini, sebenarnya berekonomi kerakyatan telah dirilis sejak lama, mengandalkan bermuamalah dengan kejujuran. Asas keterbukaan dalam bentuk berekonomi yang adil.
Ketahanan Pangan Bergizi
Idealnya masyarakat di desa tidak lagi khawatir tentang ketahanan pangan. Sebab keseharian mereka sudah menyatu dalam menjalankan misi bersama untuk bergerak di bidang kebutuhan pokok. Mereka menanam, berternak, bertani, dan aktivitas masyarakat yang mempunyai kesiapan untuk mendapatkan kesejahteraan.
Maka tidak perlu lagi narasi masyarakat di desa tidak mampu membeli telur dan daging ayam, mereka tidak mewariskan kemiskinan berdaya saing, tetapi mereka sudah mengalami perubahan melalui kebijakan yang tumpang tindih.
Sebab itu, sawah yang luas mulai hilang, karena ketika masyarakat di desa berjuang mempertahankan pangan, tetapi pemodal asing merencanakan untuk menginvasi lahan mereka.

Tetapi ada baiknya kebijakan pemerintah pusat untuk mendapatkan kesejahteraan masyarakat di desa tidak digulung oleh pemodal, investasi jangka panjang seharusnya diberikan kepada masyarakat di desa. Membangun keadaban bersama dengan berekonomi kerakyatan.
Ketercapaian pemerintah dapat dilihat ketika masyarakat di desa antusias untuk mempertahankan pangan yang aman dan amanah.
Tak lantas, demi program makan bergizi seorang menteri mengabaikan data sebenarnya, masyarakat di desa tidak mampu membeli telur dan daging ayam. Upaya merebut simpati justru menjadi blunder di kemudian hari. (*)