Ekspedisi Pamalayu: Invasi Militer Atau Jabat Tangan Diplomasi?

3 menit baca
Rahadeni Ratih kusumawardhani
Ditulis oleh Rahadeni Ratih kusumawardhani diterbitkan
Miniatur kapal Jung Java, sebuah kapal buatan pelaut Nusantara yang kabarnya telah berkelana keliling dunia hingga Madagaskar. (Sumber: Wikimedia Commons)
Miniatur kapal Jung Java, sebuah kapal buatan pelaut Nusantara yang kabarnya telah berkelana keliling dunia hingga Madagaskar. (Sumber: Wikimedia Commons)

*Disusun oleh Rahadeni, Taris, Kaneza, dan Feyza.

Ekspedisi Pamalayu sering kali disalahartikan sebagai upaya ekspansi wilayah yang agresif yang dilakukan oleh Kerajaan Singasari. Pandangan semacam ini kerap muncul akibat minimnya pemahaman terhadap konteks politik dan geopolitik Asia Tenggara pada abad ke-13, di mana ancaman ekspansi Mongol di bawah Kubilai Khan menjadi bayang-bayang yang menghantui hampir seluruh kerajaan di kawasan ini.

Namun, bagaimana kebenaran di balik ekspedisi ini? Apakah benar Kertanegara mengirimkan pasukannya ke tanah Melayu semata-mata demi memperluas kekuasaan Singasari, ataukah ada motif yang jauh lebih kompleks dan strategis di balik keputusan besar tersebut? Namun, bagaimana kebenaran di balik ekspedisi ini? Mari kita bedah dan mencari tau kebenaran dibalik terlaksananya Ekspedisi Pamalayu oleh raja Kertanegara.

Berdasarkan artikel di quipper.com Ekspedisi Pamalayu adalah perjalanan yang dilakukan pada tahun 1275 Masehi dan merupakan upaya raja Kertanegara untuk memperluas wilayah kekuasaan Singasari. Menurut Kitab Pararaton yang ditemukan pada 1600 M, Pamalayu berasal dari bahasa Jawa kuno yang memiliki arti perang melawan Melayu.

Tetapi untuk memahami motif sesungguhnya dari Ekspedisi Pamalayu, kita perlu mundur sejenak dan melihat peta geopolitik Asia Tenggara pada abad ke-13. Pada masa itu, Kekaisaran Mongol di bawah Kubilai Khan tengah berada di puncak kekuasaannya dan secara aktif memperluas pengaruh ke selatan.

Dilansir dari jurnal Unair “Analisis Aspek Diplomasi Kultural Dalam Ekspedisi Pamalayu 1275-1294 M”, Ekspedisi Pamalayu dilakukan dengan cara mengerahkan pasukan Singasari yang sebanyak-banyaknya ke Melayu hingga membuat situasi Istana Singasari hampir kosong. Hal itu dibuktikan dengan tulisan dari kitab Pararaton yang menyatakan bahwa pasukan Tumapel (Singasari) yang tersisa di istana tinggal sedikit, banyak yang dikirim ke Malayu. Raja Sri Kertanegara yang membawa bala tentara ke Kerajaan Malayu Dharmasraya dispektifkan sebagai ancaman penaklukan militer.

Dalam hal ini, kebijakan ekspedisi Pamalayu dikira kebijakan imperialis atau invasi militer. Namun, tidak ada bukti tulisan atau laporan yang ditemukan sejarawan yang menyatakan Ekspedisi Pamalayu dilakukan secara imperialis. Hal-hal yang terjadi dalam ekspedisi tersebut ada indikasi terjadi proses pembuatan kesepakatan antara dua pihak.

Bukti Ekspedisi Pamalayu

Artikel jurnal dengan judul "Ekspedisi Pamalayu Singasari dan Pengaruh Dalam Perluasan Wilayah" menjelaskan bahwa Ekspedisi Pamalayu tidak dapat dikategorikan secara langsung sebagai penaklukan murni maupun diplomasi damai sepenuhnya, melainkan kombinasi strategis antara diplomasi dan kekuatan militer.

Sisi diplomatiknya terlihat dari pengiriman Arca Amoghapasa sebagai hadiah simbolis, pemberian gelar kehormatan kepada penguasa Melayu, pernikahan politik antara Raden Wijaya dan Dara Petak, serta penyebaran pengaruh budaya dan agama Buddha Mahayana. Sedangkan sisi militernya ada, tapi bukan untuk menyerang Melayu, melainkan sebagai simbol supremasi Singasari dan alat pertahanan regional demi membangun blok anti-Mongol dan mengamankan jalur perdagangan Selat Malaka.

Arca Amoghapasa (Sumber: Museum Nasional Indonesia)
Arca Amoghapasa (Sumber: Museum Nasional Indonesia)

Website resmi Pemerintah Kabupaten Dharmasraya pernah membahas tentang Ekspedisi Pamalayu. Artikel pada website resmi tersebut menjelaskan Ekspedisi Pamalayu selama ini keliru dipahami sebagai penaklukan Singasari atas Melayu/Sumatera. Bukti arkeologi justru menunjukkan sebaliknya, pengiriman arca Amoghapasa pada 22 Agustus 1286 bukan simbol penaklukan, melainkan pemberian hadiah dari Raja Kertanegara kepada Kerajaan Dharmasraya.

Hal ini terbaca jelas dari prasasti pada lapik arca yang menyebut kata "hadiah" dan "semoga membuat gembira segenap rakyat Bhumi Malayu", bukan klaim atas wilayah. Amoghapasa sendiri dalam ajaran Buddha melambangkan belas kasih, bukan dominasi militer. Arkeolog Bambang Budi Utomo yang meneliti Dharmasraya sejak 1980-an pun menegaskan bahwa data arkeologi tidak mendukung narasi penaklukan.

Hubungan Diplomasi?

Setelah membaca berbagai sumber mengenai Ekspedisi Pamalayu, kesimpulannya ialah Raja kertanegara tidak memerintahkan ekspedisi pamalayu sebagai penaklukan, melainkan untuk aliansi.

Ekspedisi Pamalayu adalah bukti bahwa kekuatan Nusantara dibangun tidak hanya lewat peperangan, tapi juga lewat diplomasi, simbol budaya, dan kepentingan bersama. Kehadiran pasukan besar bukan untuk menyerang, melainkan proyeksi kekuatan demi membangun blok anti-Mongol dan mengamankan Selat Malaka. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 14:22

Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 10:47

Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Refleksi tingkat literasi Indonesia dalam momentum bulan bahasa tahun 2026.

Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 09:59

KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)