Di Tengah Gelombang Kecerdasan Buatan, Tantangan Terbesar Menjaga Makna Manusia

4 menit baca
Octarian Wirahadi Kusuma
Ditulis oleh Octarian Wirahadi Kusuma diterbitkan
Kecerdasan buatan. (Sumber: Pexels | Foto: Airam Dato-on)
Kecerdasan buatan. (Sumber: Pexels | Foto: Airam Dato-on)

Ketika pemerintah, perusahaan, dan masyarakat berlomba memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), perhatian kita sering tertuju pada satu hal: pekerjaan apa yang akan hilang. Di Indonesia, kekhawatiran tersebut mulai muncul seiring meningkatnya otomatisasi layanan, penggunaan algoritma dalam pengambilan keputusan, serta transformasi digital yang menjangkau hampir seluruh sektor kehidupan. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar sesungguhnya bukanlah pekerjaan apa yang hilang, melainkan bagaimana manusia akan dimaknai di tengah perubahan tersebut.

Perdebatan mengenai masa depan manusia dalam era teknologi bukanlah hal baru. Dalam bukunya Homo Deus, Yuval Noah Harari memperkenalkan istilah useless class, yaitu kelompok manusia yang berpotensi tersisih dari sistem ekonomi karena tidak lagi memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh perkembangan teknologi. Terlepas dari berbagai kritik terhadap pandangannya, gagasan tersebut mengandung satu kegelisahan penting: bagaimana nasib manusia ketika ukuran kebermanfaatannya semakin ditentukan oleh produktivitas?

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika berbagai aktivitas manusia mulai diterjemahkan ke dalam data, indikator, dan ukuran-ukuran kinerja. Efisiensi menjadi kata kunci zaman. Produktivitas menjadi ukuran keberhasilan. Dalam banyak kasus, identitas seseorang perlahan direduksi menjadi angka-angka yang dapat dihitung, dibandingkan, dan dievaluasi. Padahal, kehidupan manusia tidak pernah sesederhana itu.

Seorang guru di daerah terpencil mungkin tidak menghasilkan keuntungan ekonomi yang besar, tetapi ia membentuk masa depan generasi berikutnya. Seorang ibu rumah tangga mungkin tidak tercatat sebagai tenaga kerja formal, tetapi ia menopang kehidupan keluarga dan masyarakat. Seorang relawan yang mengajar anak-anak di lingkungan marginal mungkin tidak masuk dalam statistik pertumbuhan ekonomi, tetapi keberadaannya menghadirkan nilai sosial yang nyata.

Di sinilah persoalan relevansi menjadi penting. Relevansi manusia tidak pernah tunggal. Ia hidup dalam berbagai ruang sekaligus: ekonomi, sosial, budaya, keluarga, dan moralitas.

Reduksi Manusia

Perubahan teknologi pada dasarnya bukanlah masalah. Sepanjang sejarah, manusia selalu beradaptasi dengan inovasi baru. Tantangan sesungguhnya muncul ketika logika teknologi dan ekonomi menjadi satu-satunya cara dalam memahami manusia.

Gejala ini dapat ditemukan dalam berbagai bidang kehidupan. Pendidikan, misalnya, semakin sering dipahami sebagai instrumen untuk memasok kebutuhan pasar kerja. Pertanyaan yang muncul bukan lagi "manusia seperti apa yang ingin dibentuk", melainkan "tenaga kerja seperti apa yang dibutuhkan".

Tentu saja kebutuhan dunia kerja penting. Namun pendidikan yang hanya berorientasi pada pasar berisiko kehilangan fungsi dasarnya sebagai sarana pembentukan karakter, kebijaksanaan, dan kemampuan memahami kehidupan secara utuh.

Kecenderungan serupa juga terlihat dalam kehidupan sosial. Tidak jarang relasi antarindividu dinilai berdasarkan manfaat praktis yang dapat diperoleh. Secara perlahan, logika utilitas merembes ke ruang-ruang yang sebelumnya dibangun atas dasar solidaritas dan kebersamaan. Akibatnya, ukuran keberhasilan manusia menjadi semakin sempit.

 Negara, Data, dan Tata Kelola

Dalam masyarakat modern, negara memiliki peran penting dalam mengelola kehidupan bersama. Melalui data kependudukan, sistem pendidikan, program perlindungan sosial, dan berbagai kebijakan publik lainnya, negara berusaha memastikan pelayanan dapat diberikan secara lebih efektif dan tepat sasaran.

Indonesia pun bergerak ke arah tersebut. Digitalisasi pelayanan publik, integrasi data sosial-ekonomi, dan berbagai upaya reformasi birokrasi merupakan bagian dari usaha meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan.

Namun, semakin banyak aspek kehidupan yang diadministrasikan, semakin besar pula tantangan untuk memastikan bahwa manusia tidak dipahami semata-mata sebagai objek data.

Data memang membantu pengambilan keputusan. Akan tetapi, data tidak selalu mampu menangkap seluruh kompleksitas kehidupan manusia. Tidak semua pengalaman hidup dapat diterjemahkan ke dalam indikator statistik. Tidak semua nilai dapat dihitung melalui ukuran produktivitas.

Karena itu, modernisasi tata kelola perlu berjalan beriringan dengan kesadaran bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibandingkan kategori administratif yang melekat padanya.

Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)

Merawat Solidaritas

Di tengah perubahan yang cepat, masyarakat sesungguhnya memiliki sumber daya penting yang sering kali terlupakan: solidaritas sosial.

Indonesia memiliki tradisi panjang dalam hal ini. Gotong royong, kerja bakti, musyawarah kampung, hingga berbagai bentuk bantuan sukarela yang muncul saat bencana menunjukkan bahwa kehidupan bersama tidak sepenuhnya digerakkan oleh logika pasar ataupun negara.

Dalam tradisi pemikiran Ibn Khaldun, kekuatan semacam ini dikenal sebagai asabiyah, yaitu ikatan sosial yang memungkinkan suatu komunitas bertahan dan berkembang. Dalam konteks kekinian, maknanya dapat diterjemahkan sebagai kemampuan masyarakat untuk membangun rasa saling percaya dan kepedulian terhadap sesama.

Tantangannya, solidaritas tersebut kini berhadapan dengan budaya kompetisi yang semakin kuat. Setiap individu didorong untuk bersaing, mengejar pencapaian, dan membuktikan dirinya secara personal. Tidak ada yang salah dengan kompetisi. Namun ketika seluruh aspek kehidupan dipahami semata-mata sebagai arena persaingan, ruang bagi kepedulian kolektif menjadi semakin sempit.

Menjadi Manusia

Pada akhirnya, perdebatan mengenai relevansi tidak dapat diselesaikan hanya dengan ukuran ekonomi atau teknologi. Relevansi manusia selalu lebih luas daripada sekadar fungsi yang dijalankannya.

Seseorang mungkin kehilangan pekerjaan karena perubahan teknologi. Seseorang mungkin tidak lagi dianggap produktif menurut ukuran tertentu. Namun hal itu tidak serta-merta menghilangkan nilai kemanusiaannya.

Karena itu, tantangan terbesar di era disrupsi bukanlah bagaimana manusia bersaing dengan mesin. Tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan bahwa di tengah kemajuan teknologi, efisiensi birokrasi, dan pertumbuhan ekonomi, manusia tetap dipandang sebagai tujuan, bukan sekadar alat.

Sebab ketika relevansi hanya diukur dari kegunaan, kita berisiko kehilangan sesuatu yang paling mendasar: kemampuan untuk melihat manusia sebagai manusia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 14:22

Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 10:47

Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Refleksi tingkat literasi Indonesia dalam momentum bulan bahasa tahun 2026.

Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 09:59

KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)