Perkembangan Kuliner Nasi Megono dalam Kehidupan Masyarakat Pekalongan

6 menit baca
Dien Tegar Wicaksono
Ditulis oleh Dien Tegar Wicaksono diterbitkan
Foto Nasi Megono yang biasa disajikan bersama keluarga. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Dien Tegar Wicaksono)
Foto Nasi Megono yang biasa disajikan bersama keluarga. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Dien Tegar Wicaksono)

Di tengah gempuran tren kuliner modern, makanan tradisional tetap menyimpan cerita yang tak termakan zaman. Salah satu yang menarik untuk ditelusuri adalah Nasi Megono, yaitu hidangan khas dari Pekalongan, Jawa Tengah, yang berbahan dasar nangka muda cincang yang dicampur dengan kelapa parut dan bumbu rempah. Pekalongan yang dikenal luas sebagai kota batik ternyata juga menyimpan kekayaan kuliner yang tak kalah menarik. Wisatawan yang datang ke kota ini pun kerap menyempatkan diri untuk mencicipi Nasi Megono. Nasi Megono tidak hanya kita temukan di Pekalongan.

Hidangan ini dapat kita temukan di daerah Batang, Pemalang, Wonosobo, dan Temanggung. Di Batang, megono umumnya dijumpai pada pagi hari dan menjadi menu sarapan favorit masyarakat setempat. Lebih dari sekadar hidangan pengisi perut, Nasi Megono kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.

Nasi Megono merupakan salah satu kuliner khas Pekalongan yang dikenal sebagai makanan sederhana. Kuliner ini terbuat dari nangka muda yang dicincang, lalu dicampur dengan kelapa parut dan diberi bumbu rempah seperti bawang merah, bawang putih, cabai, daun salam, dan lengkuas. Rasanya yang gurih dan sedikit pedas membuat makanan ini digemari oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahkan banyak pengunjung dari berbagai daerah yang datang ke Pekalongan sengaja menyempatkan diri untuk mencicipi Nasi Megono. Daya tarik utama yang membuat Nasi Megono tetap bertahan hingga saat ini adalah kesederhanaannya.

Dilansir dari artikel Good News From Indonesia yang terbit pada tahun 2022, kemunculan Nasi Megono bermula dari peradaban Jawa Kuno, yang menjadikan Nasi Megono sebagai lauk dari sebuah gunungan nasi yang digunakan sebagai sesaji sejak era Mataram Kuno. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa Nasi Megono berawal dari ekspedisi Mataram dalam menghadapi VOC di Batavia.

Ketika itu, rombongan pasukan Mataram yang sedang menuju ke Batavia mengalami kelelahan di wilayah Kabupaten Pekalongan. Penduduk setempat yang melihat hal itu lantas merasa kasihan dan berinisiatif untuk memberikan makanan. Namun, penduduk setempat hanya memiliki kerak nasi. Lalu dicarilah lauk tambahan untuk disandingkan dengan nasi, dan ditemukanlah nangka muda yang tumbuh melimpah di sekitar permukiman penduduk. Nangka muda itu lalu diolah dengan cara dicincang kecil-kecil dan dicampur dengan kelapa parut, serta diberi bumbu untuk memperkaya rasa.

Makanan ini kemudian disebut sebagai Megono yang merupakan singkatan dari “Merga Ono” yang berarti “Karena Ada” dalam bahasa Jawa. Pada masa itu, penduduk setempat memanfaatkan apa yang tersedia untuk menciptakan makanan sederhana yang mengenyangkan. Dari sinilah Nasi Megono berkembang sebagai bagian dari tradisi kuliner lokal yang terus diwariskan.

Repronegatief. De religieuze maaltijd 'selamatan', Java. (Sumber: Wereldmuseum Amsterdam)
Repronegatief. De religieuze maaltijd 'selamatan', Java. (Sumber: Wereldmuseum Amsterdam)

Nasi Megono memiliki peran penting dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Pekalongan. Makanan ini tidak hanya hadir dalam keseharian, tetapi juga dalam berbagai kegiatan sosial seperti selamatan. Di masa lampau, Nasi Megono selalu dijadikan menu dalam acara selamatan, baik saat masa panen maupun masa tanam. Bahan-bahan yang digunakan dalam proses pembuatannya diambil langsung dari alam sekitar. Hal ini menjadikan masyarakat memiliki hubungan yang erat dengan alam sekitarnya, sekaligus menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan. Selain acara selamatan untuk masa panen, ada juga acara selamatan tujuh bulan atau dikenal sebagai Mitoni. Mitoni adalah tradisi Jawa yang dilakukan saat ibu hamil memasuki usia tujuh bulan. Tujuan dari acara ini adalah untuk memohon perlindungan dan kesehatan bagi bayi serta ibunya yang sedang mengandung. Dalam proses ini, Nasi Megono menjadi salah satu hidangan yang dipersiapkan. Nasi Megono menjadi simbol berkah dan harapan agar proses kelahiran berlangsung dengan lancar dan bayinya terlahir dalam kondisi yang sehat (Ahmada, 2023).

Hal ini memperkuat nilai kebersamaan dan rasa syukur yang menjadi inti dari upacara tersebut. Upacara ini memiliki kemiripan dengan tradisi Ngaliwet yang berasal dari tanah Sunda. Dalam upacara ini, Nasi Megono biasanya disajikan dengan lauk tambahan seperti tempe goreng, ayam goreng, atau ikan, serta dilengkapi dengan sambal (Ahmada, 2023). Melalui hidangan sederhana ini, hubungan antarwarga dapat terjalin dengan lebih erat.

Acara Selamatan Tahun Baru Islam 1444 H 2022 M Atau Bulan Sura Di Musola Al Musoli Desa Karang Tanjung Alian Kebumen Jateng Indonesia (Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Acara_Selamatan_Tahun_Baru_Islam_1444_H_2022_M_Atau_Bulan_Sura_Di_Musola_Al_Musoli_Desa_Karang_Tanjung_Alian_Kebumen_Jateng_Indonesia.jpg | Foto: SATELIT BM)
Acara Selamatan Tahun Baru Islam 1444 H 2022 M Atau Bulan Sura Di Musola Al Musoli Desa Karang Tanjung Alian Kebumen Jateng Indonesia (Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Acara_Selamatan_Tahun_Baru_Islam_1444_H_2022_M_Atau_Bulan_Sura_Di_Musola_Al_Musoli_Desa_Karang_Tanjung_Alian_Kebumen_Jateng_Indonesia.jpg | Foto: SATELIT BM)

Seiring berjalannya waktu, Nasi Megono terus berkembang bukan hanya dalam cita rasa, tetapi juga dalam cara penyajiannya. Jika dulu hadir dalam tampilan yang sederhana, kini hidangan ini selalu disandingkan dengan berbagai lauk pendamping seperti ikan teri goreng, telur rebus, ayam suwir, tempe, hingga tahu.

Tak hanya itu, variasi baru pun mulai bermunculan, mulai dari megono orek tempe, megono buncis, hingga dalam bentuk rice bowl modern yang semakin memperkaya ragam pilihan bagi para penggemarnya. Yang menarik, meski dikenal sebagai makanan tradisional, Nasi Megono justru semakin relevan di tengah gaya hidup modern. Gen Z Pekalongan pun tak ragu menjadikannya sebagai comfort food, yaitu makanan rumahan yang dibuat dengan cara sederhana namun menghadirkan rasa yang akrab dan menenangkan, terutama saat jauh dari rumah. Bahkan, nasi megono mulai diangkat dalam festival kuliner atau event pariwisata lokal sebagai bagian dari identitas kuliner Pekalongan. Perubahan ini menunjukkan bahwa kuliner tradisional mampu beradaptasi dengan selera masyarakat modern. Meskipun demikian, cita rasa khasnya tetap dipertahankan sebagai identitas utama.

Hingga kini, Nasi Megono tetap bertahan sebagai makanan favorit masyarakat Pekalongan, bahkan di tengah gempuran makanan cepat saji yang semakin menjamur di setiap sudut kota. Di warung-warung tradisional, hidangan ini masih mudah ditemukan dengan harga yang sangat terjangkau. Banyak masyarakat yang menjadikan Nasi Megono sebagai menu sarapan utamanya karena dinilai simpel dan mengenyangkan.

Kini, Nasi Megono mulai diperkenalkan ke luar daerah melalui berbagai festival kuliner. Sejumlah restoran di luar Pekalongan pun mulai memasukkannya ke dalam menu sebagai bagian dari kekayaan kuliner Nusantara. Di sisi lain, warga Pekalongan yang merantau ke kota-kota besar turut andil dalam menyebarkan Nasi Megono lewat warung dan rumah makan yang mereka dirikan.

Foto Nasi Megono yang biasa diperdagangkan (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Dien Tegar Wicaksono)
Foto Nasi Megono yang biasa diperdagangkan (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Dien Tegar Wicaksono)

Pada akhirnya, Nasi Megono bukan sekadar hidangan sederhana yang mengenyangkan, melainkan sebuah perjalanan panjang budaya dan kehidupan masyarakat Pekalongan. Dari asal-usulnya yang lahir dari keterbatasan dan kreativitas masyarakat, hingga perannya dalam berbagai tradisi seperti selamatan dan mitoni, Nasi Megono telah menjelma menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan harapan.

Seiring perkembangan zaman, kuliner ini mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya dan tetap hadir dalam berbagai bentuk yang lebih modern, namun tetap mempertahankan cita rasa khasnya. Di tengah arus globalisasi dan dominasi makanan cepat saji, keberadaan Nasi Megono menjadi bukti bahwa warisan kuliner lokal masih memiliki tempat yang kuat di hati masyarakat. Oleh karena itu, menjaga dan melestarikan Nasi Megono bukan hanya tentang mempertahankan sebuah makanan, tetapi juga merawat identitas budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi. (*)

Daftar Pustaka

  • Ahmada, A. A. (2023). Sajian hidangan nasi megono dalam upacara tingkepan di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah (Skripsi, Universitas Negeri Surabaya).

  • Briliawan, B. D. (2022, December 12). Sego megono: Ransum Mataram, barokah sedekah, dan asal yang diperdebatkan. Good News From Indonesia. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/12/12/sego-megono-ransum mataram-barokah-sedekah-dan-asal-yang-diperdebatkan

  • Chilmi, M. N. (2025, Juni 14). Jejak sejarah megono, makanan penyelamat masyarakat khas Pekalongan. Radar Pekalongan. https://radarpekalongan.id/2025/06/14/jejak sejarah-megono-makanan-penyelamat-masyarakat-khas-pekalongan/

  • Nog eens do slametan ngesoor tanah "Samarangsch advertentie-blad". Samarang, 10-07-1896, p. 2. Geraadpleegd op Delpher op 04-05-2026,

  • Sofyan, M. A. (2020). Eksistensi megono sebagai identitas kultural: Sebuah kajian antropologi kuliner dalam dinamika variasi makanan global. Sosiologi Reflektif, 15(1), 45 62.

  • Unimma FM. (n.d.). Asal-usul nasi megono khas Pekalongan. https://unimmafm.com/asal usul-nasi-megono-khas-pekalongan/

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dien Tegar Wicaksono
Mahasiswa Ilmu Sejarah, Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 16:40

Romantisme Membaca Majalah Monitor : Ketika TVRI Menjadi Jendela Hiburan Keluarga

Membuka kembali Majalah Monitor Radio dan Televisi edisi Agustus 1980 seperti membuka jendela kecil menuju masa lalu.

Majalah Monitor edisi perdana, Agustus 1980, menjadi salah satu bacaan panduan bagi penonton dan pemirsa TVRI untuk mengetahui beragam acara televisi yang ditayangkan pada masa itu. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 15:14

Hari Lahir Kemenlu dan Bandung Gudangnya Diplomat Ulung

Banyaknya diplomat asal Kota Bandung yang berprestasi memberikan citra positif bangsa di mata dunia.

Ilustrasi Gedung Pancasila terkait dengan hari jadi Kementerian Luar Negeri, 19 Agustus (Sumber: galeri kemlu.go.id)
Wisata & Kuliner 20 Agu 2026, 13:22

Panduan Wisata Kebun Raya Kuningan: Taman Batu, Bunga Kuning, dan Udara Ciremai

Panduan lengkap Kebun Raya Kuningan, mulai dari harga tiket, jam buka, Rock Garden, Taman Kuning, hingga tips berkunjung ke kaki Gunung Ciremai.

Kebun Raya Kuningan.
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 13:01

DAMRI Leuwi Panjang—Cibiru: Antara Antusiasme Penumpang dan Berbagi Jatah dengan Angkot

Membicarakan transportasi umum di Bandung memang cukup rumit—baik pembagian rute maupun keterbatasan trayek yang bisa menjangkau setiap sudut Kota Bandung.

Antusiasme Pengguna DAMRI tidak sebanding dengan armada dan waktu yang disediakan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 11:14

Wujudkan Furnitur Fungsional yang Ergonomik untuk Mall di Bandung

Ada kecenderungan Mall yang kini banyak dikunjungi oleh masyarakat karena memiliki furnitur fungsional dan taman yang luas.

Kolase foto penulis disekitar furnitur fungsional Mall Sumaba (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Beranda 20 Agu 2026, 09:44

Menelusuri Jejak Ruang Terbuka Hijau di Kecamatan Arcamanik, Lapang Golf sampai Buruan Sae

Data BPS 2019–2024 mengungkap luas ruang terbuka hijau tiap kelurahan di Kecamatan Arcamanik, dari taman raksasa Sukamiskin hingga kebun warga Buruan Sae.

Pengendara melintasi jalan Pacuan Kuda Arcamanik pada Rabu, 19 Agustus 2026. Tampak jalan tersebut teduh karena masih ditumbuhi pohon-pohon berukuran besar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 08:25

Apakah Kita Sudah Benar-Benar Merdeka untuk Bersuara?

Di negara kita yang menganut sistem demokrasi seharusnya suara adalah bentuk dari aspirasi masyarakat.

Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu 17 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 07:45

Jet Kembali ke Bandung: Kebangkitan Husein atau Euforia Sesaat? 

Dalam bisnis penerbangan, satu pesawat penuh belum cukup untuk menyimpulkan sebuah rute akan sehat selamanya.

Pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 19 Agu 2026, 19:06

Media Lokal Minta Revisi UU Hak Cipta Tak Mengorbankan Distribusi Digital

Saat ini Kementerian Hukum RI mulai mendorong revisi Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Local Media Community (LMC). (Sumber: LMC)
Ayo Netizen 19 Agu 2026, 18:01

Cigenjlong Pernah Diguncang Gempa Sangat Kuat

Di balik tanjakan yang menantang pesepeda, Cigenjlong menyimpan jejak gempa dahsyat yang membentuk bentang alam sekaligus meninggalkan cerita dalam nama kampungnya.

Di balik tanjakan yang menantang pesepeda, Cigenjlong menyimpan jejak gempa dahsyat yang membentuk bentang alam sekaligus meninggalkan cerita dalam nama kampungnya. (Sumber: Dokumentasi T. Bachtiar)
Ayo Netizen 19 Agu 2026, 17:06

Peran Metode REBA dalam Menciptakan Lingkungan Kerja yang Ergonomis

Pentingnya postur kerja yang masih sering diabaikan, apabila permasalahan ini dibiarkan dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan risiko cedera yang serius

Ilustrasi lingkungan kerja. (Sumber: Pexels | Foto: Mandiri Abadi)
Ayo Netizen 19 Agu 2026, 16:16

Agustusannya Tetap Ramai dan Nasib Sial Yang Tak Kunjung Usai

Ketika lampu Agustusan padam, realitas pahit kembali menyapa tanpa permisi. Bagi mereka yang terjebak dalam “nasib sial yang tak kunjung usai”,

Pengibaran bendera Merah Putih berukuran 10×18 meter di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 19 Agu 2026, 15:28

Transformasi Pramuka di Ruang Digital

Pramuka dapat hadir di tengah oase dalam mendukung partisipasi isu strategi nasional. Sebab dari pramukalah kita mampu menggerakkan pemuda dalam menggapai karakter solutif dan adaptif.

Anak pramuka. (Sumber: Pexels | Foto: Muhaimin Abdul Aziz)
Ayo Netizen 19 Agu 2026, 15:02

Sejarah Lomba-Lomba Agustusan

Tradisi lomba Agustusan mulai populer sekitar 1950, setelah situasi Indonesia berangsur pulih pasca-Konferensi Meja Bundar 1949.

Kartu pos yang menggambarkan tradisi panjat pinang di negri ini sejak masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 19 Agu 2026, 13:09

Self-Reward Anak Muda dan Jebakan Mental Accounting

Belajar bagaimana mengelola keuangan yang baik, tapi keuangan sendiri masih berantakan. Artikel ini mengupas tentang self-reward impulsif anak muda lewat kacamata akuntansi.

Ilustrasi self reward. (Sumber: Pexels | Foto: Kristina Paukshtite)
Linimasa 19 Agu 2026, 13:06

Habis Karnaval Terbitlah Sampah, Sisi Lain Perayaan Kemerdekaan

Karnaval 17 Agustus di Cicalengka dan Nagreg meriah, tetapi menyisakan properti dan sampah yang harus dibersihkan setelah acara.

Tampkan salah satu sampah karnaval 17 Agustus 2026 di kawasan Cicalengka. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 19 Agu 2026, 12:26

Punahnya Angkot di Kota Bandung, Dalam 8 Tahun Susut Ribuan Unit

Jumlah angkot di Bandung terus menyusut. Dalam delapan tahun, ribuan unit menghilang. Apa yang terjadi dengan angkot dan bagaimana nasib transportasi publik Kota Bandung?

Suasana lengang di Terminal Cicaheum pada Rabu 22 April 2026. Di tahun 1990-an, angkot berbagai trayek ini berderet rapi dan panjang terutama di jam-jam sibuk. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)