Suryakencana merupakan salah satu kawasan destinasi berbagai kuliner legendaris yang paling ramai dikunjungi di Bogor. Kawasan ini tidak hanya dikenal sebagai pusat kuliner, tetapi juga karena nilai sejarah dan budaya Tionghoa yang masih ada sampai saat ini. Pada masa Kolonial, kawasan ini adalah Jalan Perdagangan atau Handelsstraat yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Daendels pada tahun 1808.
Suryakencana mengalami perubahan fungsi kawasan dari pecinan lama menjadi pusat ekonomi di bidang kuliner yang terus berkembang. Banyak bangunan lama yang sekarang dialih fungsikan menjadi tempat makan, kafe, dan pusat perbelanjaan. Selain itu, pertumbuhan usaha kuliner yang terus berkembang seperti banyaknya pedagang kaki lima menimbulkan tantangan dalam hal penataan ruang, kenyamanan, dan kebersihan bagi pengunjung.
Pemerintah Kota Bogor melakukan penataan pada kawasan ini seperti perbaikan trotoar dan fasilitas umum. Menurut artikel dari Antara News 2024 tentang wisatawan yang mengunjungi Kota Bogor pada tahun 2024, disebutkan bahwa data wisatawan meningkat dengan jumlah kunjungan wisatawan mencapai sekitar 6,39 juta orang sepanjang bulan Januari hingga Desember 2024 . Namun, angka ini belum sepenuhnya mencakup kunjungan wisatawan ke kawasan Suryakencana.
Meskipun terjadi perubahan fungsi kawasan menjadi sebuah tempat kuliner, Suryakencana tetap mempertahankan identitas Budaya Tionghoa yang kini menjadi ciri khas kawasan ini. Awalnya kawasan ini terbentuk melalui kebijakan Wijikenstelsel pada masa kolonial yang mengelompokkan etnis Tionghoa dalam satu wilayah ekonomi dan permukiman. Akibat dari aktivitas perdagangan yang mendominasi itu meninggalkan jejak berupa arsitektur yang menunjukkan akulturasi antara Tionghoa dan Belanda.
Banyak bangunan lama seperti ruko yang kini dialihkan fungsi menjadi tempat makan, pusat perbelanjaan serta tempat ibadah seperti klenteng Vihara Dhanagun yang masih dipertahankan sebagai simbol budaya di Kawasan ini. Terdapat juga tradisi budaya Tionghoa seperti perayaan imlek dan Cap Go Meh yang masih terus dilestarikan. Walaupun terdapat perubahan alih fungsi dan arus modernisasi, tetapi Kawasan ini tidak menghilangkan nilai sejarah dan identitas budaya sebagai ciri khas daya tarik di Suryakencana.
Meningkatnya jumlah pengunjung ke Kawasan Suryakencana menimbulkan dampak terhadap perkembangan Kawasan ini. Banyaknya usaha kuliner yang semakin beragam seperti kafe dan juga pedagang kaki lima membuat Kawasan ini mengalami kepadatan dan keterbatasan lahan. Oleh karena itu, pemerintah setempat harus melakukaan penataan ulang di kawasan ini agar perekonomian usaha terus berjalan dengan kenyamanan lingkungan. Proses revitalisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor menjadi faktor utama dalam meningkatkan citra Suryakencana sebagai Kawasan destinasi kuliner dan budaya.
Pemerintah Kota Bogor melakukan penataan terhadap pedagang kaki lima agar tidak menghambat arus jalan dan juga penataan trotoar yang lebih luas untuk kenyamanan pejalan kaki. Dengan dilakukannya revitalisasi bertujuan agar kawasan ini menjadi lebih tertib dan bersih, membantu mempertahankan usaha-usaha kuliner legendris dan lebih banyak menarik pengunjung agar usaha kuliner terus berkembang pesat.
Perkembangan Suryakencana yang pada mulanya kawasan permukiman etnis Tionghoa menjadi destinasi surga kuliner legendaris di Bogor menunjukkan adanya perubahan yang terus berlanjut. Kawasan ini tidak hanya sebagai pusat kuliner, tetapi juga sebagai destinasi akulturasi budaya.
Upaya revitalisasi yang dilakukan oleh pemerintah Kota Bogor mampu menyeimbangkan antara pelestarian budaya dan modernisasi sehingga tidak menghilangkan budaya yang sudah lama ada. Perubahan ini menunjukkan bahwa proses revitalisasi tidak harus menghilangkan nilai Sejarah dan budaya. Sampai sekarang, Suryakencana tidak hanya dikenal sebagai pusat kuliner, tetapi juga sebagai pusat budaya. (*)
Referensi:
- Jannah, M. R., & Andryanto, S. D. (2023, November 19). Kisah Jalan Suryakencana, Surga Kuliner Kota Bogor di Lintasan Jalur Anyer-Panarukan. Tempo. https://www.tempo.co/hiburan/kisah-jalan-suryakencana-surga-kuliner-kota-bogor-di-lintasan-jalur-anyer-panarukan-119127
- Renaldi, M., Darmawan, F., & Rusli, M. (2025). REPRESENTASI BUDAYA TIONGHOA DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KAWASAN SURYA KENCANA KOTA BOGOR. Journal of Applied Science in Tourism Destination, 3(1), 1–9. https://doi.org/10.52352/jastd.v3i1.1900
- Salim, R., & Carina, N. (2023). REVITALISASI KAWASAN PECINAN SURYAKENCANA BOGOR SEBAGAI SEBUAH STRATEGI DALAM MENINGKATKAN CITRA KAWASAN. Jurnal Sains Teknologi Urban Perancangan Arsitektur (Stupa), 4(2), 1737–1750. https://doi.org/10.24912/stupa.v4i2.22250
- Setiawanto, B. (2024, December 30). Sebanyak 6,3 juta wisatawan ke Kota Bogor sepanjang 2024. Antara News. https://megapolitan.antaranews.com/berita/330982/sebanyak-63-juta-wisatawan-ke-kota-bogor-sepanjang-2024
- STRATEGI PEMASARAN KAWASAN PECINAN SURYAKENCANA BOGOR SEBAGAI DESTINASI WISATA BUDAYA. (2015). In Journal of Tourism Destination and Attraction: Vol. Vol III (Issue No. 1, pp. 21–22) [Journal-article].
- Sulivinio, S. (2021, March 25). Jalan Surya Kencana Bogor: Wisata penuh cerita halaman 1 - Kompasiana.com. KOMPASIANA. https://www.kompasiana.com/shirleysulivinio1723/605b5f2d8ede4845e61857e2/jalan-surya-kencana-bogor-wisata-penuh-cerita
