Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

6 menit baca
Felicia Giovanni Steven
Ditulis oleh Felicia Giovanni Steven diterbitkan Jumat 05 Jun 2026, 17:04 WIB
Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)

Mengubah sampah botol plastik bekas sehari-hari menjadi BBM terdengar seperti ide brilian yang sulit untuk ditolak. Di tengah maraknya penumpukan limbah plastik yang terus meningkat dan kebutuhan energi yang semakin besar, siapa yang tidak tertarik pada teknologi yang mampu mengubah plastik menjadi sumber energi baru? Namun, terdapat satu hal yang sering diabaikan: apakah berkurangnya sampah plastik benar-benar membuat  lingkungan menjadi lebih aman? Pertanyaan ini merupakan salah satu hal terpenting karena Indonesia masih menghadapi persoalan sampah yang belum terselesaikan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa tumpukan sampah Indonesia pada tahun 2024 mencapai 30,1 juta ton, tetapi hanya sekitar 60,22% yang berhasil dikelola, sedangkan sisanya masih berpotensi mencemari lingkungan. Data tersebut dirangkum dalam penelitian yang dilakukan oleh Hidayat dan Kusmiyati yang menyoroti masih besarnya tantangan pengelolaan sampah di Indonesia.

Tidak heran bahwa berbagai alternatif pengelolaan sampah mulai dikembangkan untuk mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya pengelolaan sampah plastik menjadi bahan bakar. Upaya ini menjadi banyak perbincangan publik karena masyarakat tentu berharap ada cara yang tidak hanya mampu mengurangi limbah, tetapi juga memberikan manfaat tambahan. Berbeda dengan metode pembuangan biasa yang hanya memindahkan sampah ke tempat lain, teknologi ini menawarkan kemungkinan untuk mengubah limbah menjadi sesuatu yang mempunyai nilai guna. Sebab itulah, banyak pihak mulai melihat pengolahan plastik menjadi bahan bakar sebagai solusi yang mampu menjawab persoalan sampah sekaligus kebutuhan energi.

Salah satu cara yang paling banyak digunakan untuk mengolah sampah plastik bekas menjadi bahan bakar yaitu dengan metode pirolisis. Melalui proses ini, sampah plastik dipanaskan dalam suhu tinggi di wadah tertutup dan minim oksigen hingga terurai menjadi uap hidrokarbon lalu didinginkan. Setelah didinginkan uap tersebut akan berubah wujud menjadi bahan bakar cair yang akan dimanfaatkan menjadi sumber energi. Menurut kajian yang dilakukan oleh Setyawan bersama tim penelitinya, teknologi ini menarik karena mampu memanfaatkan kandungan hidrokarbon yang memang terdapat dalam plastik sehingga limbah yang sebelumnya tidak bernilai dapat diolah kembali menjadi produk yang lebih berguna.

Tentu saja keberhasilan mengubah plastik menjadi bahan bakar tidak hanya membawa kabar baik saja, tetapi terdapat konsekuensi dibalik itu. Selama ini fokus masyarakat lebih tertuju kepada bahan bakar yang dihasilkan dan dalam menangani permasalahan sampah yang ada, sementara proses dibalik itu jarang dibahas secara mendalam. Padahal, persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan banyaknya sampah yang berhasil dikurangi, tetapi juga dampak yang muncul selama proses pengolahannya. Jika tidak dikelola dengan baik, teknologi yang bertujuan mengurangi limbah justru berpotensi menimbulkan bentuk pencemaran yang berbeda. Karena itu, keberhasilan pirolisis seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah bahan bakar yang dihasilkan, tetapi juga dari dampaknya terhadap lingkungan.

Penyebaran emisi gas  beracun ke lingkungan. (Sumber: pixabay | Foto: jwvein)
Penyebaran emisi gas beracun ke lingkungan. (Sumber: pixabay | Foto: jwvein)

Salah satu risiko yang perlu diperhatikan dalam metode ini ialah munculnya emisi gas yang berpotensi mencemari lingkungan. Ketika plastik dipanaskan pada suhu tinggi, proses tersebut tidak hanya menghasilkan bahan bakar cair, tetapi juga dapat menghasilkan berbagai zat pencemar ke udara. Berdasarkan analisis dampak lingkungan yang dipaparkan Farhah dan rekan-rekan, pengolahan sampah menjadi energi melalui proses termal (proses pemanasan) berpotensi menghasilkan karbon monoksida, nitrogen oksida, dan dioksin apabila tidak dikendalikan dengan baik. Beberapa zat tersebut juga berbahaya bagi lingkungan karena dapat menurunkan kualitas udara dan menimbulkan efek rumah kaca.

Pencemaran udara sering kali tidak mendapat perhatian masyarakat sebesar permasalahan pencemaran sampah karena dampaknya tidak dapat dilihat secara langsung. Padahal kualitas udara yang menurun dapat memengaruhi lingkungan dalam jangka panjang, terutama apabila emisi dilepaskan secara terus-menerus tanpa pengendalian yang memadai. Berbeda dengan tumpukan sampah yang mudah dilihat secara langsung oleh masyarakat, pencemaran udara sering kali baru disadari ketika dampaknya mulai dirasakan. Kondisi inilah yang membuat pengawasan terhadap emisi menjadi sama pentingnya dengan upaya mengurangi jumlah limbah plastik. Maka dari itu, keberhasilan mengurangi jumlah sampah plastik seharusnya tidak membuat risiko emisi baru dari proses pengolahannya diabaikan.

Tidak hanya dipengaruhi oleh proses pengolahannya, hasil pirolisis juga dapat berbeda bergantung pada jenis plastik yang digunakan sebagai bahan baku. Penelitian Hidayat dan Kusmiyati menunjukkan bahwa plastik PET dan PP memiliki karakteristik penguraian yang berbeda selama proses pirolisis. Dalam penelitian tersebut, PET menghasilkan volume minyak yang jauh lebih besar dibandingkan PP. Sementara itu, pada pirolisis PP masih ditemukan sisa residu plastik yang menunjukkan bahwa proses penguraian belum berlangsung secara sempurna. Temuan ini memperlihatkan bahwa efektivitas teknologi pirolisis tidak dapat disamaratakan untuk semua jenis plastik. Oleh karena itu, keberhasilan pengolahan sampah menjadi bahan bakar juga dipengaruhi oleh karakteristik bahan baku yang digunakan. Pemahaman terhadap perbedaan tersebut penting agar teknologi pirolisis dapat diterapkan secara lebih efektif sekaligus meminimalkan residu yang masih tersisa setelah proses berlangsung.

Selain menghasilkan bahan bakar, keberhasilan teknologi pirolisis juga dipengaruhi oleh bagaimana proses pengolahannya dijalankan. Kajian literatur mengenai pirolisis menunjukkan bahwa hasil proses dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti suhu operasi, waktu pirolisis, tekanan, jenis reaktor, dan penggunaan katalis. Perbedaan kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas produk yang dihasilkan maupun proses penguraiannya. Sebab itu, penerapan teknologi pirolisis tidak hanya membutuhkan bahan baku yang tersedia, tetapi juga pengelolaan proses yang tepat agar manfaat yang diperoleh dapat lebih optimal dan risiko lingkungan dapat ditekan.

Tidak hanya itu, keberhasilan teknologi ini juga sangat bergantung pada bagaimana proses pengolahannya diawasi. Tidak semua fasilitas pengolahan sampah memiliki teknologi yang sama dalam mengendalikan emisi yang dihasilkan selama proses berlangsung. Pada kondisi tertentu, keterbatasan peralatan maupun pengawasan dapat meningkatkan risiko pelepasan zat pencemar ke lingkungan. Akibatnya, manfaat yang diperoleh dari berkurangnya jumlah sampah dapat diikuti oleh munculnya masalah lingkungan yang baru apabila proses pengolahan tidak dilakukan secara bertanggung jawab. Karena itu, pengembangan teknologi pirolisis seharusnya tidak hanya berfokus pada kemampuan menghasilkan bahan bakar, tetapi juga pada upaya meminimalkan dampak yang mungkin ditimbulkan terhadap lingkungan.

Pengolahan sampah botol plastik menjadi bahan bakar memang menawarkan harapan baru dalam mengurangi jumlah limbah sekaligus menghasilkan energi alternatif. Namun, teknologi belum dapat langsung dianggap sebagai solusi lingkungan yang sepenuhnya aman karena masih menyimpan potensi pencemaran selama proses pengolahannya. Oleh sebab itu, pemanfaatan teknologi pirolisis perlu disertai pengawasan dan pengelolaan emisi yang memadai agar manfaat yang diperoleh tidak menimbulkan masalah baru bagi lingkungan. Pada akhirnya keberhasilan suatu teknologi tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya dalam mengurangi sampah, tetapi juga kemampuannya dalam menjaga kualitas lingkungan secara menyeluruh. Sebab, masyarakat tidak hanya butuh ruang hidup yang bersih dari tumpukan sampah, tetapi juga udara yang tetap aman untuk dihirup. (*)

Daftar Pustaka

  • Farhah, A. D., Chaerul, M., & Tomo, H. S. (2025). Dampak lingkungan dari teknologi  pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia: Perspektif life cycle assessment. Jurnal Serambi Engineering, 10(2), 12707–12718

  • Hidayat, A. T., & Kusmiyati. (2025). Pemanfaatan sampah plastik PET (Polyethylene Terephthalate) dan PP (Polypropylene) menggunakan proses pirolisis menjadi bahan  bakar minyak. Ranah Research: Journal of Multidisciplinary Research and        Development, 7(4).

  • Setyawan, A., & Widodo, B. (2023). Teknologi pirolisis untuk konversi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak hasil pirolisis. Rekayasa: Jurnal Penerapan Teknologi dan             Pembelajaran, 21(2).

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Felicia Giovanni Steven
Mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 16:46

Panduan Jelajah Dufan: Daftar Wahana Terbaik, Harga Tiket, dan Jam Operasional

Jelajahi Dunia Fantasi Jakarta dengan panduan lengkap berisi daftar wahana, harga tiket Dufan, jam buka, dan fasilitas yang tersedia.

Wisata Dufan. (Sumber: ancol.com)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 15:38

Menelusuri Jejak Stasiun Karees, Penghubung Bandung-Kopo yang Kini Terlupakan

Artikel ini mencoba untuk menelusuri jejak dan sejarah dari Stasiun Karees yang menjadi titik awal penghubung Kota Bandung dengan Kopo atau Soreang.

Jejak rel kereta api di Cibangkong (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 13:37

5 Kafe dan Resto Viral Terbaru di Bandung yang Wajib Dicoba

Rekomendasi tempat makan dan kafe viral Bandung dengan konsep unik, dessert estetik, hingga menu rumahan yang banyak dibicarakan.

The Deli Bakes, salah satu kafe favorit di Bandung. (Sumber: Taboo)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 12:45

Menilik Awal Pendakian Gunung Gede

Melihat jejak lawas pendakian awal Gunung Gede.

Pemandangan Indah Surya Kencana di Gunung Gede. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Moch Shezar Rachman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 10:18

ASGAR, dari Desa Banyuresmi sampai Menguasai Pulau Jawa

Mulai dari tahun 1930-an, memotong rambut punya peran sebagai penolong ekonomi bagi warga Garut.

Alat cukur merupakan simbol perjuangan ekonomi dan lahirnya identitas Asgar Garut (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock Project)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 09:48

Geografis-Historis Lembang: Rahasia di Balik Lokasi Wisata Favorit di Bandung

Lembang yang sekarang dikenal sebagai tempat favorit dengan penuh wisata, ternyata disebabkan oleh beberapa faktor.

Foto Rumah Ursone (Piknik Kopi) di Lembang (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hilman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 08:57

Jejak Gultik: Transformasi Makanan Pekerja Malam Menjadi Identitas Blok M

Bukan hanya enak, ini kisah sejarah di balik Gultik (Gulai Tikungan) Blok M dan awal kemunculannya yang legendaris.

Sajian kuliner legendaris Gultik Blok M (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 20:23

Dari Tangan ke Kaki: Mimpi Sepatu Cibaduyut yang Tak Boleh Mati

Koku Footwear bukan semata urusan bisnis. Banyak keterkaitan emosi soal kelangsungan sebuah legacy.

Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 04 Jun 2026, 19:21

Sop Iga Rp10.000 yang Tak Pernah Sepi, Kuliner Legendaris di Kadungora Garut

Sop iga Rp10 ribu di Kadungora jadi favorit musafir dengan rasa kaldu kuat dan harga yang tetap ramah.

Warung Sop Iga A4 di Kadungora, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 04 Jun 2026, 18:50

Tertarik Bisnis Kuliner? Sistem Waralaba Putus Ini Janjikan Keuntungan Penuh untuk Mitra

Memiliki usaha sendiri kian jadi jalur alternatif yang simple di tengah kebingungan memilih profesi apa yang bisa dijadikan sandaran untuk mencari pundi-pundi rupiah.

Ilustrasi. Industri bisnis waralaba kian ngetren di tengah berkembangnya zaman modern. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 04 Jun 2026, 18:50

Hikayat Kopo, Kawasan Ekonomi Bandung yang jadi Bahan Guyon Warganet

Di balik citra macet dan banjir, Kopo ternyata memiliki sejarah panjang sebagai kawasan ekonomi penting Bandung.

Situasi kemacetan lalu lintas di Kopo. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 18:01

Perjalanan Dua Era Pemerintahan Membuka Mata Indonesia terhadap Aksara

Menilik lembaran historis "Pemberantasan Buta Huruf" di Indonesia.

Pidato Presiden Soekarno pada "Pameran Bebas Buta Huruf" di Gelora Bung Karno, 1964. (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 17:11

Perjalanan 'Desa yang Biasa Saja' Berhasil Bangun Esensi Ekonomi daripada Sibuk Seremoni

Untuk memahami pencapaian Margamukti hari, perlu kembali ke kondisi beberapa tahun lalu, yang sejujurnya tidak terlalu indah untuk diceritakan.

Kantor Desa Margamukti, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Komunitas 04 Jun 2026, 16:58

Bertahan 15 Tahun, Komunitas Fingerboard di Kota Bandung Tak Kehilangan Pemain

Di tengah gempuran tren digital, komunitas fingerboard di Kota Bandung tetap bertahan lebih dari 15 tahun, menjadi ruang pertemanan, belajar, dan berbagi lintas generasi.

Anggota Bandung Fingerboard menghabiskan akhir pekan dengan bermain, berdiskusi, dan saling belajar berbagai trik fingerboard. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)