Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

6 menit baca
Felicia Giovanni Steven
Ditulis oleh Felicia Giovanni Steven diterbitkan
Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)
Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)

Mengubah sampah botol plastik bekas sehari-hari menjadi BBM terdengar seperti ide brilian yang sulit untuk ditolak. Di tengah maraknya penumpukan limbah plastik yang terus meningkat dan kebutuhan energi yang semakin besar, siapa yang tidak tertarik pada teknologi yang mampu mengubah plastik menjadi sumber energi baru? Namun, terdapat satu hal yang sering diabaikan: apakah berkurangnya sampah plastik benar-benar membuat  lingkungan menjadi lebih aman? Pertanyaan ini merupakan salah satu hal terpenting karena Indonesia masih menghadapi persoalan sampah yang belum terselesaikan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa tumpukan sampah Indonesia pada tahun 2024 mencapai 30,1 juta ton, tetapi hanya sekitar 60,22% yang berhasil dikelola, sedangkan sisanya masih berpotensi mencemari lingkungan. Data tersebut dirangkum dalam penelitian yang dilakukan oleh Hidayat dan Kusmiyati yang menyoroti masih besarnya tantangan pengelolaan sampah di Indonesia.

Tidak heran bahwa berbagai alternatif pengelolaan sampah mulai dikembangkan untuk mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya pengelolaan sampah plastik menjadi bahan bakar. Upaya ini menjadi banyak perbincangan publik karena masyarakat tentu berharap ada cara yang tidak hanya mampu mengurangi limbah, tetapi juga memberikan manfaat tambahan. Berbeda dengan metode pembuangan biasa yang hanya memindahkan sampah ke tempat lain, teknologi ini menawarkan kemungkinan untuk mengubah limbah menjadi sesuatu yang mempunyai nilai guna. Sebab itulah, banyak pihak mulai melihat pengolahan plastik menjadi bahan bakar sebagai solusi yang mampu menjawab persoalan sampah sekaligus kebutuhan energi.

Salah satu cara yang paling banyak digunakan untuk mengolah sampah plastik bekas menjadi bahan bakar yaitu dengan metode pirolisis. Melalui proses ini, sampah plastik dipanaskan dalam suhu tinggi di wadah tertutup dan minim oksigen hingga terurai menjadi uap hidrokarbon lalu didinginkan. Setelah didinginkan uap tersebut akan berubah wujud menjadi bahan bakar cair yang akan dimanfaatkan menjadi sumber energi. Menurut kajian yang dilakukan oleh Setyawan bersama tim penelitinya, teknologi ini menarik karena mampu memanfaatkan kandungan hidrokarbon yang memang terdapat dalam plastik sehingga limbah yang sebelumnya tidak bernilai dapat diolah kembali menjadi produk yang lebih berguna.

Tentu saja keberhasilan mengubah plastik menjadi bahan bakar tidak hanya membawa kabar baik saja, tetapi terdapat konsekuensi dibalik itu. Selama ini fokus masyarakat lebih tertuju kepada bahan bakar yang dihasilkan dan dalam menangani permasalahan sampah yang ada, sementara proses dibalik itu jarang dibahas secara mendalam. Padahal, persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan banyaknya sampah yang berhasil dikurangi, tetapi juga dampak yang muncul selama proses pengolahannya. Jika tidak dikelola dengan baik, teknologi yang bertujuan mengurangi limbah justru berpotensi menimbulkan bentuk pencemaran yang berbeda. Karena itu, keberhasilan pirolisis seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah bahan bakar yang dihasilkan, tetapi juga dari dampaknya terhadap lingkungan.

Penyebaran emisi gas  beracun ke lingkungan. (Sumber: pixabay | Foto: jwvein)
Penyebaran emisi gas beracun ke lingkungan. (Sumber: pixabay | Foto: jwvein)

Salah satu risiko yang perlu diperhatikan dalam metode ini ialah munculnya emisi gas yang berpotensi mencemari lingkungan. Ketika plastik dipanaskan pada suhu tinggi, proses tersebut tidak hanya menghasilkan bahan bakar cair, tetapi juga dapat menghasilkan berbagai zat pencemar ke udara. Berdasarkan analisis dampak lingkungan yang dipaparkan Farhah dan rekan-rekan, pengolahan sampah menjadi energi melalui proses termal (proses pemanasan) berpotensi menghasilkan karbon monoksida, nitrogen oksida, dan dioksin apabila tidak dikendalikan dengan baik. Beberapa zat tersebut juga berbahaya bagi lingkungan karena dapat menurunkan kualitas udara dan menimbulkan efek rumah kaca.

Pencemaran udara sering kali tidak mendapat perhatian masyarakat sebesar permasalahan pencemaran sampah karena dampaknya tidak dapat dilihat secara langsung. Padahal kualitas udara yang menurun dapat memengaruhi lingkungan dalam jangka panjang, terutama apabila emisi dilepaskan secara terus-menerus tanpa pengendalian yang memadai. Berbeda dengan tumpukan sampah yang mudah dilihat secara langsung oleh masyarakat, pencemaran udara sering kali baru disadari ketika dampaknya mulai dirasakan. Kondisi inilah yang membuat pengawasan terhadap emisi menjadi sama pentingnya dengan upaya mengurangi jumlah limbah plastik. Maka dari itu, keberhasilan mengurangi jumlah sampah plastik seharusnya tidak membuat risiko emisi baru dari proses pengolahannya diabaikan.

Tidak hanya dipengaruhi oleh proses pengolahannya, hasil pirolisis juga dapat berbeda bergantung pada jenis plastik yang digunakan sebagai bahan baku. Penelitian Hidayat dan Kusmiyati menunjukkan bahwa plastik PET dan PP memiliki karakteristik penguraian yang berbeda selama proses pirolisis. Dalam penelitian tersebut, PET menghasilkan volume minyak yang jauh lebih besar dibandingkan PP. Sementara itu, pada pirolisis PP masih ditemukan sisa residu plastik yang menunjukkan bahwa proses penguraian belum berlangsung secara sempurna. Temuan ini memperlihatkan bahwa efektivitas teknologi pirolisis tidak dapat disamaratakan untuk semua jenis plastik. Oleh karena itu, keberhasilan pengolahan sampah menjadi bahan bakar juga dipengaruhi oleh karakteristik bahan baku yang digunakan. Pemahaman terhadap perbedaan tersebut penting agar teknologi pirolisis dapat diterapkan secara lebih efektif sekaligus meminimalkan residu yang masih tersisa setelah proses berlangsung.

Selain menghasilkan bahan bakar, keberhasilan teknologi pirolisis juga dipengaruhi oleh bagaimana proses pengolahannya dijalankan. Kajian literatur mengenai pirolisis menunjukkan bahwa hasil proses dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti suhu operasi, waktu pirolisis, tekanan, jenis reaktor, dan penggunaan katalis. Perbedaan kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas produk yang dihasilkan maupun proses penguraiannya. Sebab itu, penerapan teknologi pirolisis tidak hanya membutuhkan bahan baku yang tersedia, tetapi juga pengelolaan proses yang tepat agar manfaat yang diperoleh dapat lebih optimal dan risiko lingkungan dapat ditekan.

Tidak hanya itu, keberhasilan teknologi ini juga sangat bergantung pada bagaimana proses pengolahannya diawasi. Tidak semua fasilitas pengolahan sampah memiliki teknologi yang sama dalam mengendalikan emisi yang dihasilkan selama proses berlangsung. Pada kondisi tertentu, keterbatasan peralatan maupun pengawasan dapat meningkatkan risiko pelepasan zat pencemar ke lingkungan. Akibatnya, manfaat yang diperoleh dari berkurangnya jumlah sampah dapat diikuti oleh munculnya masalah lingkungan yang baru apabila proses pengolahan tidak dilakukan secara bertanggung jawab. Karena itu, pengembangan teknologi pirolisis seharusnya tidak hanya berfokus pada kemampuan menghasilkan bahan bakar, tetapi juga pada upaya meminimalkan dampak yang mungkin ditimbulkan terhadap lingkungan.

Pengolahan sampah botol plastik menjadi bahan bakar memang menawarkan harapan baru dalam mengurangi jumlah limbah sekaligus menghasilkan energi alternatif. Namun, teknologi belum dapat langsung dianggap sebagai solusi lingkungan yang sepenuhnya aman karena masih menyimpan potensi pencemaran selama proses pengolahannya. Oleh sebab itu, pemanfaatan teknologi pirolisis perlu disertai pengawasan dan pengelolaan emisi yang memadai agar manfaat yang diperoleh tidak menimbulkan masalah baru bagi lingkungan. Pada akhirnya keberhasilan suatu teknologi tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya dalam mengurangi sampah, tetapi juga kemampuannya dalam menjaga kualitas lingkungan secara menyeluruh. Sebab, masyarakat tidak hanya butuh ruang hidup yang bersih dari tumpukan sampah, tetapi juga udara yang tetap aman untuk dihirup. (*)

Daftar Pustaka

  • Farhah, A. D., Chaerul, M., & Tomo, H. S. (2025). Dampak lingkungan dari teknologi  pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia: Perspektif life cycle assessment. Jurnal Serambi Engineering, 10(2), 12707–12718

  • Hidayat, A. T., & Kusmiyati. (2025). Pemanfaatan sampah plastik PET (Polyethylene Terephthalate) dan PP (Polypropylene) menggunakan proses pirolisis menjadi bahan  bakar minyak. Ranah Research: Journal of Multidisciplinary Research and        Development, 7(4).

  • Setyawan, A., & Widodo, B. (2023). Teknologi pirolisis untuk konversi sampah plastik menjadi bahan bakar minyak hasil pirolisis. Rekayasa: Jurnal Penerapan Teknologi dan             Pembelajaran, 21(2).

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Felicia Giovanni Steven
Mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)