Jejak Gultik: Transformasi Makanan Pekerja Malam Menjadi Identitas Blok M

3 menit baca
Ilyasa Salsabila
Ditulis oleh Ilyasa Salsabila diterbitkan
Sajian kuliner legendaris Gultik Blok M (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)
Sajian kuliner legendaris Gultik Blok M (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)

Gultik atau Gulai Tikungan dikenal sebagai salah satu kuliner malam khas Jakarta Selatan yang hingga kini masih menjadi favorit berbagai kalangan. Berlokasi di kawasan strategis sekitar Jalan Mahakam dan Bulungan, Gultik mudah ditemukan di sudut-sudut jalan yang ramai dilalui. Citra yang melekat pada Gultik adalah sebagai hidangan sederhana yang ramah di kantong, sehingga dapat dinikmati oleh siapa saja.

Di sekitar tahun 1985 hingga 1990-an, harga seporsinya hanya sekitar Rp. 500, sementara saat ini berkisar antara Rp. 10.000 hingga Rp. 15.000. Harga yang relatif terjangkau ini membuat Gultik mampu menarik pelanggan dari beragam latar belakang sosial. Namun, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan: bagaimana mungkin hidangan yang pada awalnya ditujukan bagi pekerja malam justru berkembang menjadi tempat makan yang terbuka untuk siapa saja dan populer hingga saat ini?

Pada awal kemunculannya, Gultik merupakan hidangan sederhana yang disajikan khusus bagi para sopir bus dan truk yang beraktivitas di sekitar Terminal Blok M pada malam hari. Kehadiran Gultik tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan praktis para pekerja malam yang membutuhkan makanan cepat, murah, dan mengenyangkan.

Pemilihan lokasi di tikungan jalan bukanlah tanpa alasan. Titik tersebut menjadi tempat yang strategis karena mudah terlihat oleh pengendara yang melintas sekaligus memudahkan mereka untuk berhenti sejenak. Dari sinilah istilah "Gulai Tikungan" kemudian muncul dan disingkat menjadi Gultik. Dikutip dari Liputan Kompas, secara historis keberadaan Gultik juga berkaitan dengan arus perpindahan penduduk dari Jawa ke Jakarta pada tahun 1970-an, terutama pedagang asal Sukoharjo yang membawa tradisi kuliner ke ibu kota.

Berbeda dengan gulai khas Solo yang cenderung kental, Gultik hadir dengan kuah yang lebih encer dan disajikan bersama nasi, potongan daging sapi atau ayam, bawang goreng, serta kerupuk. Kesederhanaan inilah yang justru menjadi kekuatan utama Gultik sebagai makanan yang fungsional bagi kelas pekerja.

Potret atmosfer malam di Blok M, salah satu pusat keramaian ikonik Jakarta (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)
Potret atmosfer malam di Blok M, salah satu pusat keramaian ikonik Jakarta (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)

Seiring berjalannya waktu, Gultik tidak lagi terbatas sebagai konsumsi pekerja malam, tetapi mulai mengalami transformasi fungsi sosial. Memasuki era 1990-an, kawasan Blok M berkembang menjadi salah satu titik berkumpul anak muda dan mahasiswa. Kehadiran kelompok ini secara perlahan mengubah wajah Gultik dari sekadar tempat makan menjadi wadah orang-orang untuk berinteraksi. Harga yang tetap terjangkau serta lokasi yang mudah diakses menjadikan Gultik sebagai pilihan yang tepat untuk berkumpul tanpa batasan ekonomi yang ketat.

Di sinilah terjadi pergeseran penting: Gultik tidak hanya memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga menjadi tempat berbagi ruang antara berbagai kelompok sosial, mulai dari pekerja, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Pada masa kini, transformasi tersebut semakin cepat karena adanya media sosial. Popularitas Gultik kembali meningkat melalui berbagai platform digital, salah satunya lewat tren di TikTok seperti "Makan Gultik habis berapa piring?". Konten-konten semacam ini tidak hanya membuat nama Gultik menjadi semakin luas, tetapi juga membentuk citra baru sebagai kuliner yang "wajib dicoba".

Kehadiran food vlogger dan pengguna media sosial turut memperkuat posisi Gultik sebagai bagian dari gaya hidup. Namun, di balik popularitas tersebut, terdapat perubahan makna yang menarik untuk diperhatikan. Gultik yang dulu identik dengan kebutuhan pekerja malam kini juga menjadi bagian dari konsumsi simbolik anak muda, tanpa sepenuhnya kehilangan akar kesederhanaannya. Hal ini menunjukkan bahwa batas sosial antarpenikmat Gultik menjadi semakin hilang, sekaligus memperlihatkan bagaimana ruang kuliner dapat menjadi titik temu berbagai lapisan masyarakat.

Di tengah arus modernitas Jakarta yang terus berkembang, Gultik menunjukkan bahwa kuliner tradisional bisa bertahan dan tidak ditinggalkan meskipun zaman sudah berubah. Sebaliknya, ia mampu mengikuti perkembangan cara hidup masyarakat sekarang tanpa kehilangan karakter dasarnya sebagai makanan yang sederhana dan terjangkau.

Transformasi Gultik dari hidangan pekerja malam menjadi tempat berkumpulnya orang dari berbagai latar belakang menujukkan adanya perubahan kebiasaan makan dan cara kita menjaga warisan. Dengan demikian, Gultik bukan sekadar makanan, namun jugaa menjadi bukti adanya tempat nongkrong yang bisa didatangi oleh siapa saja.(*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ilyasa Salsabila
Mahasiswa S1 Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)