Jejak Gultik: Transformasi Makanan Pekerja Malam Menjadi Identitas Blok M

3 menit baca
Ilyasa Salsabila
Ditulis oleh Ilyasa Salsabila diterbitkan Jumat 05 Jun 2026, 08:57 WIB
Sajian kuliner legendaris Gultik Blok M (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)

Sajian kuliner legendaris Gultik Blok M (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)

Gultik atau Gulai Tikungan dikenal sebagai salah satu kuliner malam khas Jakarta Selatan yang hingga kini masih menjadi favorit berbagai kalangan. Berlokasi di kawasan strategis sekitar Jalan Mahakam dan Bulungan, Gultik mudah ditemukan di sudut-sudut jalan yang ramai dilalui. Citra yang melekat pada Gultik adalah sebagai hidangan sederhana yang ramah di kantong, sehingga dapat dinikmati oleh siapa saja.

Di sekitar tahun 1985 hingga 1990-an, harga seporsinya hanya sekitar Rp. 500, sementara saat ini berkisar antara Rp. 10.000 hingga Rp. 15.000. Harga yang relatif terjangkau ini membuat Gultik mampu menarik pelanggan dari beragam latar belakang sosial. Namun, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan: bagaimana mungkin hidangan yang pada awalnya ditujukan bagi pekerja malam justru berkembang menjadi tempat makan yang terbuka untuk siapa saja dan populer hingga saat ini?

Pada awal kemunculannya, Gultik merupakan hidangan sederhana yang disajikan khusus bagi para sopir bus dan truk yang beraktivitas di sekitar Terminal Blok M pada malam hari. Kehadiran Gultik tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan praktis para pekerja malam yang membutuhkan makanan cepat, murah, dan mengenyangkan.

Pemilihan lokasi di tikungan jalan bukanlah tanpa alasan. Titik tersebut menjadi tempat yang strategis karena mudah terlihat oleh pengendara yang melintas sekaligus memudahkan mereka untuk berhenti sejenak. Dari sinilah istilah "Gulai Tikungan" kemudian muncul dan disingkat menjadi Gultik. Dikutip dari Liputan Kompas, secara historis keberadaan Gultik juga berkaitan dengan arus perpindahan penduduk dari Jawa ke Jakarta pada tahun 1970-an, terutama pedagang asal Sukoharjo yang membawa tradisi kuliner ke ibu kota.

Berbeda dengan gulai khas Solo yang cenderung kental, Gultik hadir dengan kuah yang lebih encer dan disajikan bersama nasi, potongan daging sapi atau ayam, bawang goreng, serta kerupuk. Kesederhanaan inilah yang justru menjadi kekuatan utama Gultik sebagai makanan yang fungsional bagi kelas pekerja.

Potret atmosfer malam di Blok M, salah satu pusat keramaian ikonik Jakarta (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)
Potret atmosfer malam di Blok M, salah satu pusat keramaian ikonik Jakarta (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)

Seiring berjalannya waktu, Gultik tidak lagi terbatas sebagai konsumsi pekerja malam, tetapi mulai mengalami transformasi fungsi sosial. Memasuki era 1990-an, kawasan Blok M berkembang menjadi salah satu titik berkumpul anak muda dan mahasiswa. Kehadiran kelompok ini secara perlahan mengubah wajah Gultik dari sekadar tempat makan menjadi wadah orang-orang untuk berinteraksi. Harga yang tetap terjangkau serta lokasi yang mudah diakses menjadikan Gultik sebagai pilihan yang tepat untuk berkumpul tanpa batasan ekonomi yang ketat.

Di sinilah terjadi pergeseran penting: Gultik tidak hanya memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga menjadi tempat berbagi ruang antara berbagai kelompok sosial, mulai dari pekerja, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Pada masa kini, transformasi tersebut semakin cepat karena adanya media sosial. Popularitas Gultik kembali meningkat melalui berbagai platform digital, salah satunya lewat tren di TikTok seperti "Makan Gultik habis berapa piring?". Konten-konten semacam ini tidak hanya membuat nama Gultik menjadi semakin luas, tetapi juga membentuk citra baru sebagai kuliner yang "wajib dicoba".

Kehadiran food vlogger dan pengguna media sosial turut memperkuat posisi Gultik sebagai bagian dari gaya hidup. Namun, di balik popularitas tersebut, terdapat perubahan makna yang menarik untuk diperhatikan. Gultik yang dulu identik dengan kebutuhan pekerja malam kini juga menjadi bagian dari konsumsi simbolik anak muda, tanpa sepenuhnya kehilangan akar kesederhanaannya. Hal ini menunjukkan bahwa batas sosial antarpenikmat Gultik menjadi semakin hilang, sekaligus memperlihatkan bagaimana ruang kuliner dapat menjadi titik temu berbagai lapisan masyarakat.

Di tengah arus modernitas Jakarta yang terus berkembang, Gultik menunjukkan bahwa kuliner tradisional bisa bertahan dan tidak ditinggalkan meskipun zaman sudah berubah. Sebaliknya, ia mampu mengikuti perkembangan cara hidup masyarakat sekarang tanpa kehilangan karakter dasarnya sebagai makanan yang sederhana dan terjangkau.

Transformasi Gultik dari hidangan pekerja malam menjadi tempat berkumpulnya orang dari berbagai latar belakang menujukkan adanya perubahan kebiasaan makan dan cara kita menjaga warisan. Dengan demikian, Gultik bukan sekadar makanan, namun jugaa menjadi bukti adanya tempat nongkrong yang bisa didatangi oleh siapa saja.(*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ilyasa Salsabila
Mahasiswa S1 Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 16:46

Panduan Jelajah Dufan: Daftar Wahana Terbaik, Harga Tiket, dan Jam Operasional

Jelajahi Dunia Fantasi Jakarta dengan panduan lengkap berisi daftar wahana, harga tiket Dufan, jam buka, dan fasilitas yang tersedia.

Wisata Dufan. (Sumber: ancol.com)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 15:38

Menelusuri Jejak Stasiun Karees, Penghubung Bandung-Kopo yang Kini Terlupakan

Artikel ini mencoba untuk menelusuri jejak dan sejarah dari Stasiun Karees yang menjadi titik awal penghubung Kota Bandung dengan Kopo atau Soreang.

Jejak rel kereta api di Cibangkong (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 13:37

5 Kafe dan Resto Viral Terbaru di Bandung yang Wajib Dicoba

Rekomendasi tempat makan dan kafe viral Bandung dengan konsep unik, dessert estetik, hingga menu rumahan yang banyak dibicarakan.

The Deli Bakes, salah satu kafe favorit di Bandung. (Sumber: Taboo)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 12:45

Menilik Awal Pendakian Gunung Gede

Melihat jejak lawas pendakian awal Gunung Gede.

Pemandangan Indah Surya Kencana di Gunung Gede. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Moch Shezar Rachman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 10:18

ASGAR, dari Desa Banyuresmi sampai Menguasai Pulau Jawa

Mulai dari tahun 1930-an, memotong rambut punya peran sebagai penolong ekonomi bagi warga Garut.

Alat cukur merupakan simbol perjuangan ekonomi dan lahirnya identitas Asgar Garut (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock Project)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 09:48

Geografis-Historis Lembang: Rahasia di Balik Lokasi Wisata Favorit di Bandung

Lembang yang sekarang dikenal sebagai tempat favorit dengan penuh wisata, ternyata disebabkan oleh beberapa faktor.

Foto Rumah Ursone (Piknik Kopi) di Lembang (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hilman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 08:57

Jejak Gultik: Transformasi Makanan Pekerja Malam Menjadi Identitas Blok M

Bukan hanya enak, ini kisah sejarah di balik Gultik (Gulai Tikungan) Blok M dan awal kemunculannya yang legendaris.

Sajian kuliner legendaris Gultik Blok M (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 20:23

Dari Tangan ke Kaki: Mimpi Sepatu Cibaduyut yang Tak Boleh Mati

Koku Footwear bukan semata urusan bisnis. Banyak keterkaitan emosi soal kelangsungan sebuah legacy.

Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 04 Jun 2026, 19:21

Sop Iga Rp10.000 yang Tak Pernah Sepi, Kuliner Legendaris di Kadungora Garut

Sop iga Rp10 ribu di Kadungora jadi favorit musafir dengan rasa kaldu kuat dan harga yang tetap ramah.

Warung Sop Iga A4 di Kadungora, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 04 Jun 2026, 18:50

Tertarik Bisnis Kuliner? Sistem Waralaba Putus Ini Janjikan Keuntungan Penuh untuk Mitra

Memiliki usaha sendiri kian jadi jalur alternatif yang simple di tengah kebingungan memilih profesi apa yang bisa dijadikan sandaran untuk mencari pundi-pundi rupiah.

Ilustrasi. Industri bisnis waralaba kian ngetren di tengah berkembangnya zaman modern. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 04 Jun 2026, 18:50

Hikayat Kopo, Kawasan Ekonomi Bandung yang jadi Bahan Guyon Warganet

Di balik citra macet dan banjir, Kopo ternyata memiliki sejarah panjang sebagai kawasan ekonomi penting Bandung.

Situasi kemacetan lalu lintas di Kopo. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 18:01

Perjalanan Dua Era Pemerintahan Membuka Mata Indonesia terhadap Aksara

Menilik lembaran historis "Pemberantasan Buta Huruf" di Indonesia.

Pidato Presiden Soekarno pada "Pameran Bebas Buta Huruf" di Gelora Bung Karno, 1964. (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 17:11

Perjalanan 'Desa yang Biasa Saja' Berhasil Bangun Esensi Ekonomi daripada Sibuk Seremoni

Untuk memahami pencapaian Margamukti hari, perlu kembali ke kondisi beberapa tahun lalu, yang sejujurnya tidak terlalu indah untuk diceritakan.

Kantor Desa Margamukti, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Komunitas 04 Jun 2026, 16:58

Bertahan 15 Tahun, Komunitas Fingerboard di Kota Bandung Tak Kehilangan Pemain

Di tengah gempuran tren digital, komunitas fingerboard di Kota Bandung tetap bertahan lebih dari 15 tahun, menjadi ruang pertemanan, belajar, dan berbagi lintas generasi.

Anggota Bandung Fingerboard menghabiskan akhir pekan dengan bermain, berdiskusi, dan saling belajar berbagai trik fingerboard. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)