Gultik atau Gulai Tikungan dikenal sebagai salah satu kuliner malam khas Jakarta Selatan yang hingga kini masih menjadi favorit berbagai kalangan. Berlokasi di kawasan strategis sekitar Jalan Mahakam dan Bulungan, Gultik mudah ditemukan di sudut-sudut jalan yang ramai dilalui. Citra yang melekat pada Gultik adalah sebagai hidangan sederhana yang ramah di kantong, sehingga dapat dinikmati oleh siapa saja.
Di sekitar tahun 1985 hingga 1990-an, harga seporsinya hanya sekitar Rp. 500, sementara saat ini berkisar antara Rp. 10.000 hingga Rp. 15.000. Harga yang relatif terjangkau ini membuat Gultik mampu menarik pelanggan dari beragam latar belakang sosial. Namun, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan: bagaimana mungkin hidangan yang pada awalnya ditujukan bagi pekerja malam justru berkembang menjadi tempat makan yang terbuka untuk siapa saja dan populer hingga saat ini?
Pada awal kemunculannya, Gultik merupakan hidangan sederhana yang disajikan khusus bagi para sopir bus dan truk yang beraktivitas di sekitar Terminal Blok M pada malam hari. Kehadiran Gultik tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan praktis para pekerja malam yang membutuhkan makanan cepat, murah, dan mengenyangkan.
Pemilihan lokasi di tikungan jalan bukanlah tanpa alasan. Titik tersebut menjadi tempat yang strategis karena mudah terlihat oleh pengendara yang melintas sekaligus memudahkan mereka untuk berhenti sejenak. Dari sinilah istilah "Gulai Tikungan" kemudian muncul dan disingkat menjadi Gultik. Dikutip dari Liputan Kompas, secara historis keberadaan Gultik juga berkaitan dengan arus perpindahan penduduk dari Jawa ke Jakarta pada tahun 1970-an, terutama pedagang asal Sukoharjo yang membawa tradisi kuliner ke ibu kota.
Berbeda dengan gulai khas Solo yang cenderung kental, Gultik hadir dengan kuah yang lebih encer dan disajikan bersama nasi, potongan daging sapi atau ayam, bawang goreng, serta kerupuk. Kesederhanaan inilah yang justru menjadi kekuatan utama Gultik sebagai makanan yang fungsional bagi kelas pekerja.

Seiring berjalannya waktu, Gultik tidak lagi terbatas sebagai konsumsi pekerja malam, tetapi mulai mengalami transformasi fungsi sosial. Memasuki era 1990-an, kawasan Blok M berkembang menjadi salah satu titik berkumpul anak muda dan mahasiswa. Kehadiran kelompok ini secara perlahan mengubah wajah Gultik dari sekadar tempat makan menjadi wadah orang-orang untuk berinteraksi. Harga yang tetap terjangkau serta lokasi yang mudah diakses menjadikan Gultik sebagai pilihan yang tepat untuk berkumpul tanpa batasan ekonomi yang ketat.
Di sinilah terjadi pergeseran penting: Gultik tidak hanya memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga menjadi tempat berbagi ruang antara berbagai kelompok sosial, mulai dari pekerja, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Pada masa kini, transformasi tersebut semakin cepat karena adanya media sosial. Popularitas Gultik kembali meningkat melalui berbagai platform digital, salah satunya lewat tren di TikTok seperti "Makan Gultik habis berapa piring?". Konten-konten semacam ini tidak hanya membuat nama Gultik menjadi semakin luas, tetapi juga membentuk citra baru sebagai kuliner yang "wajib dicoba".
Kehadiran food vlogger dan pengguna media sosial turut memperkuat posisi Gultik sebagai bagian dari gaya hidup. Namun, di balik popularitas tersebut, terdapat perubahan makna yang menarik untuk diperhatikan. Gultik yang dulu identik dengan kebutuhan pekerja malam kini juga menjadi bagian dari konsumsi simbolik anak muda, tanpa sepenuhnya kehilangan akar kesederhanaannya. Hal ini menunjukkan bahwa batas sosial antarpenikmat Gultik menjadi semakin hilang, sekaligus memperlihatkan bagaimana ruang kuliner dapat menjadi titik temu berbagai lapisan masyarakat.

Di tengah arus modernitas Jakarta yang terus berkembang, Gultik menunjukkan bahwa kuliner tradisional bisa bertahan dan tidak ditinggalkan meskipun zaman sudah berubah. Sebaliknya, ia mampu mengikuti perkembangan cara hidup masyarakat sekarang tanpa kehilangan karakter dasarnya sebagai makanan yang sederhana dan terjangkau.
Transformasi Gultik dari hidangan pekerja malam menjadi tempat berkumpulnya orang dari berbagai latar belakang menujukkan adanya perubahan kebiasaan makan dan cara kita menjaga warisan. Dengan demikian, Gultik bukan sekadar makanan, namun jugaa menjadi bukti adanya tempat nongkrong yang bisa didatangi oleh siapa saja.(*)
