Perjalanan Dua Era Pemerintahan Membuka Mata Indonesia terhadap Aksara

5 menit baca
Tsurayyaa 'Allaam Shf Rabbaanii
Ditulis oleh Tsurayyaa 'Allaam Shf Rabbaanii diterbitkan
Pidato Presiden Soekarno pada "Pameran Bebas Buta Huruf" di Gelora Bung Karno, 1964. (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)
Pidato Presiden Soekarno pada "Pameran Bebas Buta Huruf" di Gelora Bung Karno, 1964. (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)

Ki Hadjar Dewantara pernah berpesan: “Dengan membaca buku, pikiran kita dibuka; dengan menulis kita membuka pikiran orang lain”. Bagi Bapak Pendidikan kita, membaca dan menulis ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Tanpa membaca, kita tak punya isi untuk dituangkan, dan tanpa menulis, ide-ide hanya akan terkubur tanpa sempat menyentuh benak orang lain. Inilah esensi membaca sebagai "jendela dunia" yang semestinya kita jaga.

Namun ironisnya, di tengah derasnya arus transformasi digital, jendela itu justru kian tertutup debu. Teknologi dan kecerdasan buatan (AI) memang memudahkan kita meraih informasi secara instan. Tetapi di saat yang sama, ia memanjakan kita untuk malas mendalami teks. Data BPS (2025) mencatat, Tingkat Kegemaran Membaca masyarakat Indonesia hanya berada di angka 54,80%—sebuah skala yang masih tergolong rendah.

Ironi ini makin nyata di bangku sekolah. Meski data BPS menunjukkan angka melek huruf nasional (usia 15 tahun ke atas) telah mencapai 97,1%, ada kenyataan di lapangan yang kontras. Kebijakan wajib naik kelas dalam Kurikulum Merdeka justru menyisakan problematika tersendiri. Yakni, banyak siswa SMP bahkan SMA yang secara administratif terus naik kelas, tetapi secara fungsional belum sepenuhnya cakap membaca (Kompasiana, 2024). Indonesia tengah terjebak dalam paradoks literasi—bangsa yang hampir seluruhnya mampu mengeja huruf, tetapi gagal memahami apa yang mereka baca. Padahal, sejarah merekam bahwa melepaskan Indonesia dari belenggu buta aksara saja adalah perjuangan panjang para pendiri bangsa yang ditempuh dalam dua Era Pemerintahan—Soekarno dan Soeharto.

Pada awal masa kemerdekaan Indonesia, buta huruf merupakan masalah krusial yang menjadi perhatian penuh bagi era pemerintahan Presiden Soekarno. Berdasarkan Arsip Nasional RI, Dari 61 juta penduduk Indonesia pada tahun 1945, hanya ada 10% yang mampu membaca, berarti angka buta huruf pada saat itu mencapai 90% (ANRI, 2023). Berangkat dari keprihatinan atas kondisi tersebut, Presiden Soekarno mencanangkan program Pemberantasan Buta Huruf. Bung Karno tak sekadar melontarkan komando—di awal program, beliau terjun langsung menyulut api semangat masyarakat dengan mengajar di Yogyakarta pada 14 Maret 1948. Semangat ini segera menjalar secara masif ke pelbagai penjuru negeri melalui kursus-kursus Pemberantasan Buta Huruf yang menghidupkan malam dengan aktivitas belajar.

Kursus Pemberantasan Buta Huruf di Percetakan G.Kolff (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)
Kursus Pemberantasan Buta Huruf di Percetakan G.Kolff (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)

Selain itu, Dalam pelaksanaanya program ini menggandeng berbagai elemen masyarakat tak terkecuali perusahaan swasta, seperti percetakan G. Kolff yang menjadi tempat dilaksanakannya kursus PBH pada 3 Mei 1950.

Potret berkobarnya semangat masyarakat ini terabadikan dalam surat kabar Abadi (27 Februari 1951). Di Kalimantan Timur saja, terdapat 689 kursus PBH yang rata-rata muridnya berjumlah 20 orang. Pesertanya bukan pelajar sekolah, melainkan berdatangan dari kalangan orang dewasa—suami-istri, dan ibu yang tekun mengeja sembari menyusui buah hatinya. Kesungguhan mereka untuk keluar dari gulitanya buta aksara begitu kentara. Tak berhenti sampai di sana, langkah mereka diperkuat oleh kebijakan pemerintah, dimana untuk menambah kelancaran membaca dan khazanah pengetahuan, dibuka 22 perpustakaan yang ditempatkan di Kecamatan-kecamatan.

Hanya dalam waktu singkat sejak Januari 1949, lebih dari 7.000 rakyat telah menggenggam ijazah PBH Bagian I, disusul 2.000 lainnya yang berhasil menuntaskan tingkat lanjutan. Angka ini terus meroket hingga 24 Februari 1951. Sebuah momentum yang terekam dalam arsip foto ANRI memperlihatkan potret peserta PBH saat menerima selembar ijazah dari Bung Karno, ini menjadi bukti mulai meleknya mereka terhadap aksara. Sebagai buah manis yang dapat dipetik, pada tahun 1960, dedikasi kolektif ini berlabuh pada satu pencapaian yakni turunnya angka buta huruf menjadi 40%.

Namun, berselang 7 tahun kemudian, realitas pahit kembali muncul ke permukaan. Sebagaimana diwartakan surat kabar Abadi (26 Maret 1973), melalui hasil sensus penduduk 1971, terekam masih adanya 32 juta jiwa penyandang buta aksara—dengan 51% di antaranya adalah kaum perempuan. Meski pada tahun 1980 jumlahnya berhasil ditekan hingga 21 juta jiwa, angka tersebut tetaplah sebuah "gunung" yang tinggi untuk didaki. Masalahnya bukan sekadar kemampuan mengeja yang hilang, melainkan minimnya pembinaan lanjutan bagi mereka yang sudah melek huruf serta langkanya tenaga penggerak yang mampu menjaga api literasi tetap menyala.

Di Desa Suru Kecamatan Doko Kabupaten Blitar, Menteri Dikbud, didampingi oleh Gubernur Jatim Wahono dan Bupati Blitar Sardjono sedang menyaksikan peragaan permainan Simulasi Kejar Paket A yang dilakukan oleh ibu-ibu yang tergabung dalam program Kejar Paket A di Blitar. (Sumber: Sidak Monumen Pers Nasional | Foto: Priyadi)
Di Desa Suru Kecamatan Doko Kabupaten Blitar, Menteri Dikbud, didampingi oleh Gubernur Jatim Wahono dan Bupati Blitar Sardjono sedang menyaksikan peragaan permainan Simulasi Kejar Paket A yang dilakukan oleh ibu-ibu yang tergabung dalam program Kejar Paket A di Blitar. (Sumber: Sidak Monumen Pers Nasional | Foto: Priyadi)

Menanggapi permasalahan tersebut, pemerintah Presiden Soeharto segera menggalang sinergi masif antara negara dan masyarakat. Melalui Rencana Pembangunan Lima Tahun (Pelita) III, didobraklah sekat-sekat yang terbentuk karena sulitnya mengeja. Sebagaimana diwartakan surat kabar Berita Yudha (27 September 1983), negara membuka kesempatan bagi 8 juta masyarakat yang putus sekolah dan buta aksara untuk berpartisipasi ke dalam ekosistem pembelajaran. Tidak hanya melalui program Kejar Paket A, tetapi juga diperluas melalui Kejar Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Kejar Pendidikan Kejuruan Masyarakat, hingga Kejar Usaha. Hasilnya pun nyata—dalam kurun empat tahun masa Pelita III, lebih dari 2,8 juta orang berhasil menuntaskan program Kejar Paket A, sebuah langkah konkret dalam menyalakan cahaya di tengah gelapnya buta aksara. Buah manis lainnya yang dituai ialah berangsur turunnya angka buta huruf menjadi 15,9% pada 1990.

Perjalanan panjang dua Era Pemerintahan ini telah membuktikan bahwa membuka mata bangsa terhadap aksara adalah sebuah perjalanan yang tak main-main—mulai dari instruksi langsung Bung Karno di bawah kesederhanaan kelompok belajar pendidikan dasar di desa hingga program yang tersistematisasi melalui "Kejar" di era Soeharto. Indonesia telah berhasil bermigrasi dari gulita buta huruf menuju terangnya angka statistik melek aksara yang nyaris sempurna. Namun, di tengah banjir ijazah dan kemudahan teknologi hari ini, kita justru menghadapi ancaman "kegelapan jenis baru"—sebuah generasi yang sanggup mengeja teks namun gagal menangkap esensi, serta sistem pendidikan yang terkadang lebih mementingkan formalitas kenaikan kelas ketimbang ketajaman nalar. Lantas, Apakah kita benar-benar telah sampai pada cahaya, atau jangan-jangan kita sedang berjalan mundur menuju gulita yang lebih pekat di balik tirai digitalisasi? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)