Perjalanan Dua Era Pemerintahan Membuka Mata Indonesia terhadap Aksara

5 menit baca
Tsurayyaa 'Allaam Shf Rabbaanii
Ditulis oleh Tsurayyaa 'Allaam Shf Rabbaanii diterbitkan Kamis 04 Jun 2026, 18:01 WIB
Pidato Presiden Soekarno pada "Pameran Bebas Buta Huruf" di Gelora Bung Karno, 1964. (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)

Pidato Presiden Soekarno pada "Pameran Bebas Buta Huruf" di Gelora Bung Karno, 1964. (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)

Ki Hadjar Dewantara pernah berpesan: “Dengan membaca buku, pikiran kita dibuka; dengan menulis kita membuka pikiran orang lain”. Bagi Bapak Pendidikan kita, membaca dan menulis ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Tanpa membaca, kita tak punya isi untuk dituangkan, dan tanpa menulis, ide-ide hanya akan terkubur tanpa sempat menyentuh benak orang lain. Inilah esensi membaca sebagai "jendela dunia" yang semestinya kita jaga.

Namun ironisnya, di tengah derasnya arus transformasi digital, jendela itu justru kian tertutup debu. Teknologi dan kecerdasan buatan (AI) memang memudahkan kita meraih informasi secara instan. Tetapi di saat yang sama, ia memanjakan kita untuk malas mendalami teks. Data BPS (2025) mencatat, Tingkat Kegemaran Membaca masyarakat Indonesia hanya berada di angka 54,80%—sebuah skala yang masih tergolong rendah.

Ironi ini makin nyata di bangku sekolah. Meski data BPS menunjukkan angka melek huruf nasional (usia 15 tahun ke atas) telah mencapai 97,1%, ada kenyataan di lapangan yang kontras. Kebijakan wajib naik kelas dalam Kurikulum Merdeka justru menyisakan problematika tersendiri. Yakni, banyak siswa SMP bahkan SMA yang secara administratif terus naik kelas, tetapi secara fungsional belum sepenuhnya cakap membaca (Kompasiana, 2024). Indonesia tengah terjebak dalam paradoks literasi—bangsa yang hampir seluruhnya mampu mengeja huruf, tetapi gagal memahami apa yang mereka baca. Padahal, sejarah merekam bahwa melepaskan Indonesia dari belenggu buta aksara saja adalah perjuangan panjang para pendiri bangsa yang ditempuh dalam dua Era Pemerintahan—Soekarno dan Soeharto.

Pada awal masa kemerdekaan Indonesia, buta huruf merupakan masalah krusial yang menjadi perhatian penuh bagi era pemerintahan Presiden Soekarno. Berdasarkan Arsip Nasional RI, Dari 61 juta penduduk Indonesia pada tahun 1945, hanya ada 10% yang mampu membaca, berarti angka buta huruf pada saat itu mencapai 90% (ANRI, 2023). Berangkat dari keprihatinan atas kondisi tersebut, Presiden Soekarno mencanangkan program Pemberantasan Buta Huruf. Bung Karno tak sekadar melontarkan komando—di awal program, beliau terjun langsung menyulut api semangat masyarakat dengan mengajar di Yogyakarta pada 14 Maret 1948. Semangat ini segera menjalar secara masif ke pelbagai penjuru negeri melalui kursus-kursus Pemberantasan Buta Huruf yang menghidupkan malam dengan aktivitas belajar.

Kursus Pemberantasan Buta Huruf di Percetakan G.Kolff (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)
Kursus Pemberantasan Buta Huruf di Percetakan G.Kolff (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)

Selain itu, Dalam pelaksanaanya program ini menggandeng berbagai elemen masyarakat tak terkecuali perusahaan swasta, seperti percetakan G. Kolff yang menjadi tempat dilaksanakannya kursus PBH pada 3 Mei 1950.

Potret berkobarnya semangat masyarakat ini terabadikan dalam surat kabar Abadi (27 Februari 1951). Di Kalimantan Timur saja, terdapat 689 kursus PBH yang rata-rata muridnya berjumlah 20 orang. Pesertanya bukan pelajar sekolah, melainkan berdatangan dari kalangan orang dewasa—suami-istri, dan ibu yang tekun mengeja sembari menyusui buah hatinya. Kesungguhan mereka untuk keluar dari gulitanya buta aksara begitu kentara. Tak berhenti sampai di sana, langkah mereka diperkuat oleh kebijakan pemerintah, dimana untuk menambah kelancaran membaca dan khazanah pengetahuan, dibuka 22 perpustakaan yang ditempatkan di Kecamatan-kecamatan.

Hanya dalam waktu singkat sejak Januari 1949, lebih dari 7.000 rakyat telah menggenggam ijazah PBH Bagian I, disusul 2.000 lainnya yang berhasil menuntaskan tingkat lanjutan. Angka ini terus meroket hingga 24 Februari 1951. Sebuah momentum yang terekam dalam arsip foto ANRI memperlihatkan potret peserta PBH saat menerima selembar ijazah dari Bung Karno, ini menjadi bukti mulai meleknya mereka terhadap aksara. Sebagai buah manis yang dapat dipetik, pada tahun 1960, dedikasi kolektif ini berlabuh pada satu pencapaian yakni turunnya angka buta huruf menjadi 40%.

Namun, berselang 7 tahun kemudian, realitas pahit kembali muncul ke permukaan. Sebagaimana diwartakan surat kabar Abadi (26 Maret 1973), melalui hasil sensus penduduk 1971, terekam masih adanya 32 juta jiwa penyandang buta aksara—dengan 51% di antaranya adalah kaum perempuan. Meski pada tahun 1980 jumlahnya berhasil ditekan hingga 21 juta jiwa, angka tersebut tetaplah sebuah "gunung" yang tinggi untuk didaki. Masalahnya bukan sekadar kemampuan mengeja yang hilang, melainkan minimnya pembinaan lanjutan bagi mereka yang sudah melek huruf serta langkanya tenaga penggerak yang mampu menjaga api literasi tetap menyala.

Di Desa Suru Kecamatan Doko Kabupaten Blitar, Menteri Dikbud, didampingi oleh Gubernur Jatim Wahono dan Bupati Blitar Sardjono sedang menyaksikan peragaan permainan Simulasi Kejar Paket A yang dilakukan oleh ibu-ibu yang tergabung dalam program Kejar Paket A di Blitar. (Sumber: Sidak Monumen Pers Nasional | Foto: Priyadi)
Di Desa Suru Kecamatan Doko Kabupaten Blitar, Menteri Dikbud, didampingi oleh Gubernur Jatim Wahono dan Bupati Blitar Sardjono sedang menyaksikan peragaan permainan Simulasi Kejar Paket A yang dilakukan oleh ibu-ibu yang tergabung dalam program Kejar Paket A di Blitar. (Sumber: Sidak Monumen Pers Nasional | Foto: Priyadi)

Menanggapi permasalahan tersebut, pemerintah Presiden Soeharto segera menggalang sinergi masif antara negara dan masyarakat. Melalui Rencana Pembangunan Lima Tahun (Pelita) III, didobraklah sekat-sekat yang terbentuk karena sulitnya mengeja. Sebagaimana diwartakan surat kabar Berita Yudha (27 September 1983), negara membuka kesempatan bagi 8 juta masyarakat yang putus sekolah dan buta aksara untuk berpartisipasi ke dalam ekosistem pembelajaran. Tidak hanya melalui program Kejar Paket A, tetapi juga diperluas melalui Kejar Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Kejar Pendidikan Kejuruan Masyarakat, hingga Kejar Usaha. Hasilnya pun nyata—dalam kurun empat tahun masa Pelita III, lebih dari 2,8 juta orang berhasil menuntaskan program Kejar Paket A, sebuah langkah konkret dalam menyalakan cahaya di tengah gelapnya buta aksara. Buah manis lainnya yang dituai ialah berangsur turunnya angka buta huruf menjadi 15,9% pada 1990.

Perjalanan panjang dua Era Pemerintahan ini telah membuktikan bahwa membuka mata bangsa terhadap aksara adalah sebuah perjalanan yang tak main-main—mulai dari instruksi langsung Bung Karno di bawah kesederhanaan kelompok belajar pendidikan dasar di desa hingga program yang tersistematisasi melalui "Kejar" di era Soeharto. Indonesia telah berhasil bermigrasi dari gulita buta huruf menuju terangnya angka statistik melek aksara yang nyaris sempurna. Namun, di tengah banjir ijazah dan kemudahan teknologi hari ini, kita justru menghadapi ancaman "kegelapan jenis baru"—sebuah generasi yang sanggup mengeja teks namun gagal menangkap esensi, serta sistem pendidikan yang terkadang lebih mementingkan formalitas kenaikan kelas ketimbang ketajaman nalar. Lantas, Apakah kita benar-benar telah sampai pada cahaya, atau jangan-jangan kita sedang berjalan mundur menuju gulita yang lebih pekat di balik tirai digitalisasi? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Tsurayyaa 'Allaam Shf Rabbaanii
Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 04 Jun 2026, 20:23

Dari Tangan ke Kaki: Mimpi Sepatu Cibaduyut yang Tak Boleh Mati

Koku Footwear bukan semata urusan bisnis. Banyak keterkaitan emosi soal kelangsungan sebuah legacy.

Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 04 Jun 2026, 19:21

Sop Iga Rp10.000 yang Tak Pernah Sepi, Kuliner Legendaris di Kadungora Garut

Sop iga Rp10 ribu di Kadungora jadi favorit musafir dengan rasa kaldu kuat dan harga yang tetap ramah.

Warung Sop Iga A4 di Kadungora, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 04 Jun 2026, 18:50

Tertarik Bisnis Kuliner? Sistem Waralaba Putus Ini Janjikan Keuntungan Penuh untuk Mitra

Memiliki usaha sendiri kian jadi jalur alternatif yang simple di tengah kebingungan memilih profesi apa yang bisa dijadikan sandaran untuk mencari pundi-pundi rupiah.

Ilustrasi. Industri bisnis waralaba kian ngetren di tengah berkembangnya zaman modern. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 04 Jun 2026, 18:50

Hikayat Kopo, Kawasan Ekonomi Bandung yang jadi Bahan Guyon Warganet

Di balik citra macet dan banjir, Kopo ternyata memiliki sejarah panjang sebagai kawasan ekonomi penting Bandung.

Situasi kemacetan lalu lintas di Kopo. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 18:01

Perjalanan Dua Era Pemerintahan Membuka Mata Indonesia terhadap Aksara

Menilik lembaran historis "Pemberantasan Buta Huruf" di Indonesia.

Pidato Presiden Soekarno pada "Pameran Bebas Buta Huruf" di Gelora Bung Karno, 1964. (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 17:11

Perjalanan 'Desa yang Biasa Saja' Berhasil Bangun Esensi Ekonomi daripada Sibuk Seremoni

Untuk memahami pencapaian Margamukti hari, perlu kembali ke kondisi beberapa tahun lalu, yang sejujurnya tidak terlalu indah untuk diceritakan.

Kantor Desa Margamukti, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Komunitas 04 Jun 2026, 16:58

Bertahan 15 Tahun, Komunitas Fingerboard di Kota Bandung Tak Kehilangan Pemain

Di tengah gempuran tren digital, komunitas fingerboard di Kota Bandung tetap bertahan lebih dari 15 tahun, menjadi ruang pertemanan, belajar, dan berbagi lintas generasi.

Anggota Bandung Fingerboard menghabiskan akhir pekan dengan bermain, berdiskusi, dan saling belajar berbagai trik fingerboard. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 16:16

Kilas Balik Kepopuleran Mobil Toyota Corolla di Indonesia Era 70-an

Mengulik masa lalu dan daya tarik Toyota Corolla pada sebagian generasi awal, sedan legendaris di Indonesia yang kini menjadi memori kolektif generasi lawas

Toyota Corolla 1970-1975. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 15:53

Bencana Kebakaran, Masalah Tata Ruang dan Mesin Damkar Otonom

Mitigasi penanggulangan kebakaran perlu platform digital informasi perkotaan yang mampu menyajikan data-data fisik bangunan

Kebakaran kios di terminal Leuwipanjang Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 15:06

Perkembangan Film Genre Horor pada Masa Orde Baru dan Masa Kini di Indonesia

Mengulik perjalanan film horor Indonesia pada masa orde baru hingga masa kini.

ilustrasi film horor. (Sumber: Unsplash | Foto: Syarafina Yusof)
Wisata & Kuliner 04 Jun 2026, 14:16

Panduan Wisata ke Kepulauan Seribu, Surga Tropis di Utara Jakarta

Panduan lengkap wisata Kepulauan Seribu mulai dari pilihan pulau, harga kapal, snorkeling, penginapan, hingga waktu terbaik berkunjung dari Jakarta.

Kepulauan Seribu. (Sumber: Facebook Taman Nasional Kepulauan Seribu)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 12:37

Dari 'Vrijman' Jadi 'Premanisme', Warisan Kolonial yang Susah Diberantas

Jejak premanisme di Indonesia, dari arsip kolonial hingga kehidupan masa kini.

ilustrasi premanisme dan hukum. (Sumber: Ilustrasi oleh Penulis)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 11:34

Jejak Kenikmatan Kopi Pulau Jawa yang Tumbuh pada Masa Kolonial

Perkembangan penanaman dan penyebaran kopi di pulau jawa sekaligus dampaknya bagi perekonomian Hindia Belanda.

Kebun Kopi Karanganyar (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 10:56

Perjalanan Pempek sebagai Makanan Tradisional yang Tetap Populer di Era Modern

Pempek merupakan makanan khas Sumatera Selatan yang memiliki sejarah panjang dan mengakar dalam budaya masyarakat.

Pempek merupakan makanan khas Sumatera Selatan. (Sumber: Pexels | Foto: faizdila)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 09:04

Peran Komunitas dalam Perkembangan Skena Musik Indie di Kota Kembang

Bagi kota ini arti musik lebih dari sekedar hiburan, lebih dari sekadar komunitas.

Event musik yang diselenggarakan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Naufal Dzaki)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 08:25

Melacak Asal-usul Mainan Tradisional Gasing dari Indonesia

Apa itu gasing, jenis dan bentuk, dan bagaimana mainan ini bisa bertahan hingga sekarang?

Macam-macam bentuk mainan gasing. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Nazril Ihsan Fadillah)
Bandung 03 Jun 2026, 22:07

Strategi 4K Diuji, Inflasi Mei 2026 Jawa Barat Tembus di Angka 3,07 Persen

Laju inflasi Jawa Barat tercatat 0,24% secara mtm. Capaian itu membawa inflasi tahunan berada di angka 3,07% secara yoy, angka krusial dalam menjaga stabilitas daya beli masyarakat pasca-hari raya.

Ilustrasi. Laju inflasi Jawa Barat tercatat 0,24% secara mtm. Capaian itu membawa inflasi tahunan berada di angka 3,07% secara yoy, angka krusial dalam menjaga stabilitas daya beli masyarakat pasca-hari raya. (Sumber: Ist)
Bandung 03 Jun 2026, 21:37

Wajah Ganda Keuangan Jabar: Cetak Rekor Investor Saham, tapi BPR Megap-Megap dan Terjerat Pinjol

OJK Jawa Barat menyampaikan bahwa kinerja sektor jasa keuangan (SJK) di Jawa Barat hingga Triwulan I 2026 tetap menunjukkan ketahanan yang baik di tengah dinamika ekonomi global dan nasional.

OJK Jawa Barat menyampaikan bahwa kinerja sektor jasa keuangan (SJK) di Jawa Barat hingga Triwulan I 2026 tetap menunjukkan ketahanan yang baik di tengah dinamika ekonomi global dan nasional. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 03 Jun 2026, 19:57

Jejak Kampung Batik Trusmi: Dari Warisan Kesultanan hingga Menjadi Fashion Modern

Teknik membatik di Desa Trusmi dan motif-motif batik yang ada di Batik Trusmi atau Batik Cirebon.

Tugu ikonik "Selamat Datang Di Kawasan Batik Trusmi". (Sumber: cirebonkab.go.id)
Wisata & Kuliner 03 Jun 2026, 19:29

Panduan Berkunjung ke Kebun Teh Taraju Tasikmalaya, Hamparan Hijau Warisan Kolonial di Selatan Priangan

Kebun Teh Taraju menawarkan panorama hijau Priangan Selatan, pabrik teh kolonial 1909, tea walk, hingga suasana pegunungan yang sejuk.

Kebun Teh Taraju Tasikmalaya. (Sumber: Instagram @Instagram/wisata_taraju)