Swarabakti dan Epentesis: Ketika Huruf “E” Menyelinap ke Dalam Kata

3 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Ilustrasi huruf “e”. (Sumber: Pexels | Foto: Ann H)
Ilustrasi huruf “e”. (Sumber: Pexels | Foto: Ann H)

AYOBANDUNG.ID -- Bahasa Indonesia sering terlihat sederhana, tetapi di balik kesederhanaannya tersimpan proses linguistik yang cukup rumit. Salah satu yang paling menarik adalah kebiasaan menyisipkan bunyi vokal di tengah kata. Kita mengenalnya lewat pasangan seperti putra–putera, Sumatra–Sumatera, samudra–samudera, hingga bentuk lama manteri–menteri. Dalam kajian linguistik, fenomena ini disebut epentesis, atau dalam istilah yang lebih populer di Indonesia: swarabakti.

Epentesis adalah proses penyisipan bunyi vokal untuk memudahkan pelafalan. Secara alamiah, manusia cenderung menghindari rangkaian konsonan yang terasa berat di lidah. Ketika dua konsonan bertemu, penutur sering “menambahkan” vokal sebagai jembatan bunyi. Dalam bahasa Indonesia, vokal yang paling sering muncul adalah “e” pepet.

Dari sudut fonetik, hal ini masuk akal. Rangkaian bunyi seperti “tr” pada kata putra atau “dr” pada samudra tidak selalu mudah diucapkan, terutama bagi penutur yang terbiasa dengan pola suku kata terbuka. Maka muncullah bentuk putera dan samudera dalam praktik tutur dan tulisan lama. Proses ini bukan kesalahan spontan, melainkan adaptasi alami manusia terhadap sistem bunyi bahasa.

Swarabakti juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah bahasa Indonesia. Sejak masa Melayu Klasik hingga awal pembentukan bahasa Indonesia modern, banyak kosakata diserap dari Sanskerta, Arab, dan bahasa Eropa. Dalam proses penyerapan itu, penutur lokal menyesuaikan bunyi asing agar lebih sesuai dengan pola fonetik Nusantara. Penambahan vokal menjadi salah satu strategi yang paling umum.

Namun, arah kebijakan bahasa berubah ketika negara mulai serius membakukan ejaan. Sejak diberlakukannya Ejaan Yang Disempurnakan pada 1972 dan diperbarui melalui PUEBI, prinsip efisiensi bahasa semakin ditekankan. Penulisan diarahkan agar lebih ringkas dan konsisten. Dalam kerangka ini, bentuk seperti putra, Sumatra, dan samudra dipilih sebagai bentuk baku, sementara variasi dengan tambahan “e” secara bertahap dipinggirkan.

Ada cerita menarik tentang huruf “e” dimulai dalam kata 'putra vs. putera' ataupun 'Sumatra vs. Sumatera'. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Ada cerita menarik tentang huruf “e” dimulai dalam kata 'putra vs. putera' ataupun 'Sumatra vs. Sumatera'. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)

Meski begitu, bahasa tidak pernah sepenuhnya tunduk pada kebijakan. Dalam praktik sosial, bentuk-bentuk lama masih bertahan. Sumatera tetap hidup dalam nama provinsi dan identitas wilayah. Samudera masih digunakan dalam nama perusahaan dan karya sastra. Bahkan dalam percakapan sehari-hari, banyak orang tetap merasa lebih “alami” mengucapkan versi dengan vokal tambahan.

Di sinilah terlihat tarik-menarik antara kaidah dan kebiasaan. Bahasa baku bergerak menuju penyederhanaan, sementara masyarakat mempertahankan bentuk yang sudah mengakar secara budaya. Swarabakti menjadi bukti bahwa bahasa bukan hanya sistem aturan, tetapi juga ruang memori kolektif.

Fenomena ini menjadi semakin relevan dalam dunia jurnalistik. Media massa berada di garis depan dalam membentuk kebiasaan bahasa publik. Di satu sisi, redaksi dituntut patuh pada PUEBI dan KBBI. Di sisi lain, mereka harus berhadapan dengan realitas nama resmi, istilah populer, dan preferensi pembaca.

Ambil contoh samudra dan samudera. Dalam penulisan berita umum, jurnalis idealnya menggunakan bentuk baku samudra. Namun ketika meliput lembaga bernama “Samudera Nusantara” atau merek dagang tertentu, bentuk tersebut tidak bisa diubah karena menyangkut identitas resmi. Hal serupa terjadi pada Sumatra dan Sumatera. Dalam konteks geografis administratif, nama daerah tidak tunduk pada kaidah ejaan umum.

Situasi ini menuntut kepekaan bahasa. Jurnalis perlu membedakan antara kesalahan ejaan dan penggunaan nama diri. Mereka juga perlu konsisten dalam narasi editorial agar media tidak terlihat ambigu atau tidak profesional. Konsistensi ejaan bukan sekadar soal estetika, tetapi bagian dari kredibilitas institusi pers.

Baca Juga: Bahasa Terus Tumbuh, tapi Negara Selalu Tertinggal? Membaca Ulang Arah KBBI di Era Digital

Tantangan semakin besar di era digital. Mesin pencari dan media sosial sering “mengabadikan” bentuk yang paling sering diketik pengguna, bukan yang paling benar secara kaidah. Akibatnya, bentuk tidak baku bisa tampak lebih dominan di ruang daring. Dalam kondisi ini, media memiliki peran strategis sebagai penyeimbang: tidak hanya mengejar klik, tetapi juga menjaga kualitas bahasa publik.

Pada akhirnya, swarabakti mengajarkan satu hal penting: bahasa Indonesia hidup dalam negosiasi terus-menerus antara sejarah, kebijakan, dan kebiasaan masyarakat. Huruf “e” yang sering menyelinap ke tengah kata bukan sekadar gangguan linguistik, melainkan penanda perjalanan panjang bahasa kita.

Memahami proses ini membuat kita lebih bijak dalam berbahasa. Bukan sekadar memilih mana yang benar atau salah, tetapi memahami mengapa suatu bentuk muncul, bertahan, atau ditinggalkan. Dan di tengah perubahan zaman, mungkin itulah tugas utama penulis dan jurnalis: menjaga keseimbangan antara ketepatan bahasa dan realitas sosial pembacanya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)