Bahasa Terus Tumbuh, tapi Negara Selalu Tertinggal? Membaca Ulang Arah KBBI di Era Digital

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Rabu 28 Jan 2026, 12:18 WIB
Ilustrasi seorang pemuda membaca buku. (Sumber: Pixabay | Foto: terski)

Ilustrasi seorang pemuda membaca buku. (Sumber: Pixabay | Foto: terski)

Sepanjang 2025, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menambah 3.259 entri baru. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah penanda bahwa bahasa Indonesia sedang bergerak cepat, menyerap bahasa daerah, istilah pergaulan, hingga kosakata dari ruang digital. Namun di balik dinamika itu, muncul paradoks: saat bahasa tumbuh semakin kompleks, infrastruktur kebahasaannya justru belum sepenuhnya siap menopang beban zaman.

Polemik tentang kapitil, galgah, perubahan ejaan Tailan, serta terpilihnya palum sebagai Kata Tahun Ini 2025 hanyalah permukaan dari persoalan yang lebih dalam: bagaimana negara mengelola bahasa sebagai sistem budaya sekaligus infrastruktur pengetahuan?

KBBI tidak lagi sekadar kamus. Ia telah berubah menjadi arena representasi sosial. Ketika palum dari bahasa Pakpak masuk sebagai kosakata nasional, negara mengirim pesan simbolik bahwa bahasa daerah bukan pinggiran, melainkan fondasi bahasa Indonesia.

Sebaliknya, masuknya kata cakapan seperti kapitil dan galgah menunjukkan keberanian institusi bahasa untuk merekam realitas sosial, bukan hanya norma ideal. Ini adalah praktik leksikografi modern: bahasa dipahami sebagai praktik hidup, bukan museum kata.

Namun keberanian ini juga membawa risiko politik budaya. Setiap kata baru menyentuh sensitivitas publik, identitas lokal, hingga moral sosial. Di titik ini, KBBI bukan hanya proyek akademik, melainkan kebijakan kebudayaan.

3.259 Entri Baru: Prestasi atau Beban?

Website KBBI Online yang mengalami gangguan (28 Januari 2026). (Sumber: Tangkapan Layar situs KBBI Online)
Website KBBI Online yang mengalami gangguan (28 Januari 2026). (Sumber: Tangkapan Layar situs KBBI Online)

Penambahan ribuan entri dalam satu tahun bisa dibaca sebagai prestasi produktivitas. Tetapi ia juga menimbulkan pertanyaan kritis: apakah ekosistem bahasa siap mengelola pertumbuhan ini?

Semakin banyak entri berarti semakin besar tanggung jawab kurasi, pembaruan makna, pelabelan ragam kata, serta edukasi publik. Tanpa dukungan sistem digital yang kuat, data kebahasaan berisiko menjadi tumpukan informasi yang sulit diakses dan dipahami.

Di sinilah persoalan infrastruktur muncul.

Gangguan akses pada website KBBI Daring dan Tesaurus Tematis Bahasa Indonesia bukan sekadar gangguan teknis. Ia mencerminkan masalah struktural: bahasa nasional belum sepenuhnya diperlakukan sebagai infrastruktur strategis.

Di era digital, kamus bukan lagi buku di rak perpustakaan. Ia adalah platform publik yang dipakai jutaan pengguna setiap hari: pelajar, jurnalis, akademisi, penulis, birokrat, hingga industri kreatif. Ketika platform ini tidak stabil, yang terganggu bukan hanya layanan, tetapi standar bahasa itu sendiri.

Ironisnya, di saat negara mendorong partisipasi publik dalam pengusulan kata secara daring, akses ke basis datanya justru rapuh. Ini menciptakan jurang antara kebijakan dan pelaksanaannya.

Bahasa bukan hanya simbol identitas. Ia adalah modal ekonomi budaya. Negara dengan sistem bahasa yang kuat memiliki keunggulan dalam produksi ilmu pengetahuan, diplomasi budaya, dan industri kreatif.

Ketika KBBI dan Tesaurus Tematis berfungsi optimal, mereka memperkuat kualitas penulisan akademik, pemberitaan media, produksi konten digital, hingga kebijakan publik. Sebaliknya, ketika infrastruktur bahasa lemah, kualitas komunikasi nasional ikut tergerus.

Dalam konteks ini, investasi pada kebahasaan bukan pengeluaran simbolik, melainkan investasi produktif jangka panjang.

Masalah Utama: Bukan Kata, tapi Tata Kelola

Ilustrasi buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Jaredd Craig)
Ilustrasi buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Jaredd Craig)

Perdebatan publik selama ini terjebak pada permukaan: apakah kapitil pantas, apakah Tailan layak, apakah palum relevan. Padahal persoalan inti ada pada tata kelola bahasa.

Yang dibutuhkan bukan sekadar menambah entri, tetapi membangun sistem yang transparan, mudah diakses, stabil secara teknis, dan komunikatif kepada publik. Tanpa itu, setiap pembaruan akan terus memicu resistensi, bukan karena isinya selalu salah, tetapi karena prosesnya terasa jauh dari masyarakat.

Baca Juga: Ketika Website KBBI dan Tesaurus Tumbang: Alarm Serius Infrastruktur Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia sedang bergerak cepat. Ia tumbuh dari desa ke kota, dari bahasa daerah ke ruang digital, dari percakapan TikTok hingga meja redaksi media nasional. Pertanyaannya: apakah negara bergerak secepat itu?

Jika KBBI ingin menjadi pilar bahasa modern, ia harus ditopang bukan hanya oleh pakar linguistik, tetapi juga oleh infrastruktur digital yang kuat dan kebijakan komunikasi publik yang cerdas.

Karena bahasa yang hidup membutuhkan sistem yang hidup pula. Tanpa itu, kita akan terus merayakan pertumbuhan kosakata, tetapi kehilangan fondasi yang menopangnya. (*)

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)