Bandung dalam Bayang-Bayang Begal: Realitas atau Efek Viral?

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Tersangka Begal di Kawasan Cicendo Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)
Tersangka Begal di Kawasan Cicendo Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)

BELAKANGAN ini, kata ‘begal’ seperti mendapatkan panggung yang lebih besar.  Kata ini muncul dan diperbincangkan serta dibagikan dari satu layar gawai ke layar gawai lain.

Pertanyaannya adalah: apakah begal memang meningkat secara signifikan di Kota Bandung, atau kita hanya semakin sering saja  mendengar tentangnya?

Ditilik dari sisi pemberitaan, setiap kejadian yang dramatis -- terutama yang melibatkan kekerasan -- umumnya memiliki nilai berita tinggi. Ia mudah menarik perhatian, mudah dibagikan, dan mudah memicu emosi.

Peluang viral

Dalam logika media modern, terutama media digital, perhatian adalah mata uang. Semakin mengerikan sebuah peristiwa, semakin besar peluangnya untuk viral. Begal, dengan segala unsur ketegangan dan ancamannya, menjadi “konten” yang kuat dan nyaris "sempurna".

Di sisi lain, media juga tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Mereka melaporkan apa yang terjadi. Ketika kasus begal muncul, ada kewajiban untuk memberitakannya. Mengabaikannya justru bisa dianggap menutup-nutupi realitas.

Maka, mulai muncullah ketegangan antara realitas objektif dan realitas yang dirasakan. Data kriminalitas mungkin menunjukkan kenaikan yang tidak terlalu drastis, tetapi persepsi publik bisa saja melonjak-lonjak jauh lebih tinggi.

Dalam kacamata psikologi, hal tersebut dikenal sebagai availability heuristic, yakni ketika kita menilai sesuatu lebih sering terjadi hanya karena kita lebih sering mendengarnya. 

Jika kemudian begal menjadi terasa “di mana-mana”, maka ia bukan karena selalu ada, melainkan karena selalu hadir dalam percakapan warga.

Dan media sosial memperkuat efek tersebut. Satu kejadian di satu titik Kota Badung bisa terasa seperti ancaman yang menyelimuti seluruh Bandung. Video pendek, narasi dramatis, dan komentar emosional mempercepat penyebaran rasa takut di kalangan warga.

Ketakutan tersebut  tidak sepenuhnya irasional. Ia punya dasar. Namun, ia juga diperbesar oleh cara informasi sekarang ini yang bergerak cepat, masif, dan sering kali tanpa konteks.

Kota besar seperti Bandung memang rentan terhadap dinamika semacam itu. Harus diakui, pertumbuhan kota yang cepat tidak selalu diikuti oleh distribusi keamanan yang merata.

Sekadar ilustrasi misalnya, ada wilayah yang terang dan ramai, tetapi ada juga wilayah-wilayah yang terasa kosong, gelap, dan terpinggirkan. Di titik-titik inilah cerita tentang begal dan kengeriannya bisa mudah lahir.

Masalahnya, ketika narasi-narasi ihwal begal itu menyebar, batas antara lokasi spesifik dan keseluruhan kota menjadi kabur. Satu ruas jalan yang rawan bisa saja membawa persepsi bahwa seluruh kota terasa berbahaya.

Kondisi ekonomi

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)

Aksi kriminalitas tak jarang dikaitkan dengan aspek ekonomi. Faktanya, tekanan hidup di kota, ketimpangan, dan keterbatasan akses pekerjaan bisa menjadi latar belakang munculnya kriminalitas jalanan. 

Namun, penting untuk berhati-hati agar tidak menyederhanakan persoalan. Tidak semua pelaku kejahatan berasal dari kondisi ekonomi sulit, dan sebaliknya, tidak semua orang yang hidup dalam kesulitan memilih jalan kriminal. 

Ada juga faktor lain yang ikut bermain, mulai dari lingkungan sosial, peluang, hingga pilihan individual. Di titik inilah respons aparat menjadi penting sekaligus membentuk persepsi publik. 

Ketika, misalnya, pendekatan yang ditekankan adalah “tindakan tegas”, pesan yang sampai ke masyarakat bukan cuma soal penegakan hukum, tetapi juga tentang tingkat ancaman yang sedang dihadapi. 

Pesan "tindakan tegas" itu bisa memberi rasa aman bagi sebagian orang, namun pada saat yang sama juga memperkuat kesan bahwa situasi kriminalitas memang sedang serius, bahkan mendekati genting.

Di sisi lain, pesan “tindakan tegas” juga bisa berpotensi berubah menjadi tindakan yang berlebihan. Dalam praktiknya, ia bisa bergeser dan diterjemahkan secara beragam, bahkan berlebihan, terutama ketika bertemu dengan emosi publik yang sedang tegang. 

Ketika batas antara penegakan hukum dan pelampiasan kemarahan menjadi kabur, ruang bagi tindakan yang melampaui kewajaran pun bisa terbuka.

Karena itu, menjaga garis tipis antara kewaspadaan dan kepanikan menjadi krusial. Kewaspadaan membuat warga lebih siap dan peduli, tetapi kepanikan justru dapat melumpuhkan nalar, memperbesar prasangka, dan mendorong reaksi yang tidak proporsional.

Satu ekosistem

Media, aparat, dan masyarakat sebenarnya berada dalam satu ekosistem yang sama. Cara satu pihak merespons akan mempengaruhi cara pihak lain merespons balik.

Narasi tentang begal yang mengemuka belakangan ini di Kota Bandung tak melulu menyakut soal kejahatan itu sendiri, melainkan pula menyangkut soal bagaimana kita memaknainya -- apakah narasi itu menjadi peringatan yang proporsional, atau bayangan yang membesar ketakutan kita tanpa kendali.

Kota ikut dibangun dan dibentuk dari rasa aman. Dan rasa aman tidak hanya ditentukan oleh angka statistik, tetapi oleh cerita-cerita yang beredar di antara warganya.

Jika cerita yang dominan adalah ketakutan, maka, bahkan kota yang relatif aman pun bisa terasa terus mencekam. Sebaliknya, ketika narasi yang beredar lebih seimbang, warga dapat tetap waspada tanpa kehilangan rasa percaya mereka -- percaya bahwa ruang publik masih layak dihuni, dan percaya bahwa mekanisme keamanan tetap berjalan sebagaimana mestinya. 

Oleh karenanya, yang dibutuhkan bukan sekadar penindakan, tetapi juga penataan narasi, yakni bagaimana media melaporkan, bagaimana aparat berkomunikasi, dan bagaimana warga berbagi informasi menjadi sama pentingnya.

Persoalan begal tidak semata bergantung pada berapa banyak begal yang ditangkap, tetapi juga bergantung pada bagaimana kita, sebagai warga kota, memilih untuk melihat, memahami, dan merespons realitas yang ada secara rasional. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)