Gunung Pangradinan: Ketika Pendakian Singkat Menjadi Perjalanan yang Berkesan

3 menit baca
siffa nurfauziah
Ditulis oleh siffa nurfauziah diterbitkan
Potret kebersamaan yang diambil saat berada di puncak Gunung Pangradinan (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)
Potret kebersamaan yang diambil saat berada di puncak Gunung Pangradinan (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)

Gunung Pangradinan di Kabupaten Bandung bukan hanya menawarkan jalur pendakian yang ramah bagi pemula. Di balik perjalanan singkat menuju sabananya, tersimpan cerita tentang bagaimana alam masih mampu mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tak saling mengenal.

Pukul empat pagi, saya berangkat dari Cimahi bersama saudara menuju Gunung Pangradinan, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung. Perjalanan dimulai dengan kereta menuju Stasiun Cicalengka, lalu dilanjutkan menggunakan Grab menuju basecamp. Rencana kami sederhana: mendaki secara tektok, menikmati suasana pagi, lalu pulang di hari yang sama. Tidak ada target mengejar matahari terbit, apalagi menaklukkan gunung yang tinggi.

Perjalanan justru berubah sejak tiba di stasiun. Tiga perempuan yang juga hendak menuju Pangradinan mengajak kami berbagi biaya Grab. Ajakan sederhana itu kami iyakan. Awalnya, kami mengira kebersamaan hanya berlangsung selama perjalanan menuju basecamp. Nyatanya, langkah yang dimulai dari sebuah kebetulan itu terus berlanjut hingga pendakian dimulai.

Sekitar pukul tujuh pagi, kami mulai menyusuri jalur yang masih lembap oleh embun. Percakapan yang awalnya canggung perlahan mencair di setiap tanjakan. Kami saling menunggu ketika ada yang tertinggal, saling menyemangati saat napas mulai tersengal, bahkan tanpa sadar sudah berjalan seperti teman lama yang telah berkali-kali mendaki bersama.

Kurang lebih satu jam kemudian, hamparan sabana Pangradinan menyambut kami. Padang rumput yang luas dengan latar perbukitan hijau membuat gunung berketinggian sekitar 1.236 meter di atas permukaan laut ini kerap dijuluki "Merbabu-nya Bandung". Namun, bagi saya, daya tarik Pangradinan hari itu bukan semata pemandangannya.

Di sudut sabana, kami berhenti di warung kecil yang menjual semangkuk cuanki hangat. Di tengah udara pegunungan yang sejuk, semangkuk kuah panas terasa menjadi pelengkap perjalanan yang sederhana. Obrolan mengalir tanpa dibuat-buat. Kami saling bertukar cerita tentang pekerjaan, kuliah, hingga alasan masing-masing memilih menghabiskan akhir pekan di gunung. Setelah itu, kami mengabadikan beberapa foto dan membuat konten bersama. Sulit rasanya percaya bahwa beberapa jam sebelumnya kami bahkan belum saling mengenal.

Pangradinan memang dikenal sebagai gunung yang ramah bagi pendaki pemula. Jalur menuju sabana dapat ditempuh sekitar 30–60 menit sehingga banyak dipilih sebagai destinasi pendakian singkat. Fenomena ini sejalan dengan kajian peneliti Universitas Padjadjaran dan Universitas Pendidikan Indonesia pada 2026 yang menunjukkan bahwa motivasi mendaki kini tidak lagi semata didorong oleh tantangan fisik. Bagi banyak orang, alam menjadi ruang untuk mencari ketenangan, melepas penat, dan memberi jeda dari rutinitas yang padat.

Namun, perjalanan hari itu mengajarkan sesuatu yang tidak saya temukan dalam data. Gunung ternyata tidak hanya menawarkan pemandangan, tetapi juga mempertemukan manusia. Di kota, kita sering berpapasan tanpa sempat saling menyapa. Di jalur pendakian, orang-orang yang bahkan belum mengetahui nama satu sama lain justru saling menunggu, saling menyemangati, dan memastikan semua tiba di tujuan dengan selamat.

Menjelang siang, kami kembali menuruni Pangradinan. Jalur yang tadi ramai mulai lengang, tetapi obrolan masih terus mengiringi langkah hingga kembali ke basecamp. Perjalanan yang awalnya direncanakan hanya untuk menikmati alam berubah menjadi cerita tentang pertemuan yang tidak pernah direncanakan.

Barangkali, itulah hadiah paling indah dari sebuah pendakian. Bukan semata sabana yang luas atau semangkuk cuanki hangat di atas gunung, melainkan keyakinan bahwa di tengah dunia yang sering membuat orang saling menjauh, alam masih menyimpan ruang bagi orang-orang asing untuk saling menguatkan. Sebab, seperti halnya mendaki, hidup tidak selalu membutuhkan orang yang berjalan paling cepat. Kadang, yang paling kita perlukan hanyalah seseorang yang bersedia berkata, "Ayo, sedikit lagi sampai."

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

siffa nurfauziah
mari berpikir tanpa batas

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)