Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)

TUJUAN pendidikan bukan menghasilkan anak yang selalu menurut. Tujuannya adalah melahirkan individu yang kelak mampu mengatur dirinya sendiri ketika tidak ada guru, kepala sekolah, orang tua, atau aturan yang mengawasi. 

Mari kita bayangkan suasana berikut. Guru-guru datang lebih pagi. Mereka berdiri di depan gerbang, menyapa murid yang berdatangan. Anak-anak menghormat, lalu masuk dengan tertib. 

Di jam tertentu mereka mendengarkan lagu Indonesia Raya. Semua berjalan rapi. Sekilas, pendidikan karakter tampak sedang bekerja.

Tidak ada yang salah dengan itu. Anak-anak memang perlu belajar disiplin. Datang tepat waktu adalah kebiasaan baik. Menghormati lagu kebangsaan juga bukan sesuatu yang perlu dicurigai. 

Persoalannya justru muncul ketika pendidikan karakter berhenti hanya sebatas itu, yakni ketika ukuran keberhasilan sekolah terlalu mudah dilihat dari anak yang tertib, diam, patuh, dan mengikuti instruksi.

Manusia penurut

Insan yang baik bukan selalu individu yang penurut. Ada saat ketika seseorang justru harus berani mengatakan tidak. Contohnya, tidak kepada perundungan, tidak kepada diskriminasi, tidak kepada ajakan melakukan kekerasan, tidak kepada informasi palsu. 

Bahkan, dalam keadaan tertentu, tidak kepada perintah orang yang lebih berkuasa jika perintah itu jelas-jelas keliru. Di titik inilah, pendidikan karakter memasuki wilayah yang lebih sulit.

Sekolah karena itu tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan belaka. Sekolah juga harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Anak yang hanya belajar patuh akan memastikan keberadaan guru sebelum menentukan tindakannya. Adapun anak yang belajar bertanggung jawab akan bertanya kepada dirinya sendiri, apakah tindakan dia benar, meskipun tidak ada yang melihat.

Motivasi manusia

Revitalisasi sekolah merupakan program pemerintah saat ini yang layak untuk diapresiasi. (Sumber: Unsplash/Husniati Salma)
Revitalisasi sekolah merupakan program pemerintah saat ini yang layak untuk diapresiasi. (Sumber: Unsplash/Husniati Salma)

Self-Determination Theory (SDT), yang dikembangkan psikolog Edward L. Deci dan Richard M. Ryan sejak 1970-an dan dirumuskan secara lebih sistematis pada 1980-an, menempatkan kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sebagai unsur penting dalam motivasi manusia.

Kajian meta-analisis terbaru terhadap 36 intervensi pendidikan juga menemukan bahwa pendekatan yang mendukung otonomi dan kompetensi dapat meningkatkan motivasi intrinsik serta rasa mampu siswa.

Jangan salah, otonomi bukan berarti anak boleh melakukan apa saja. Anak tetap membutuhkan batas, struktur dan konsekuensi. Tetapi, ada perbedaan antara mengatakan, "Kamu harus melakukan ini karena saya guru," dan mengajak anak memahami alasan mengapa sesuatu harus dilakukan. Yang pertama menghasilkan kepatuhan terhadap otoritas. Yang kedua perlahan membangun kemampuan mengatur diri.

Disiplin sendiri bukan tujuan akhir pendidikan. Ia cuma alat. Anak dibiasakan datang tepat waktu agar belajar menghargai waktu, bukan sekadar agar tidak mendapat teguran guru. Anak belajar antre bukan karena guru mengawasi, tetapi karena ia memahami bahwa orang lain mempunyai hak yang sama. Anak belajar menjaga kebersihan bukan karena takut disetrap, tetapi karena menyadari bahwa ruang bersama adalah tanggung jawab bersama.

Ada pergeseran penting dari "saya melakukan karena disuruh" menjadi "saya melakukan karena saya memahami". Pendidikan yang baik mestinya membawa anak bergerak perlahan dari yang pertama menuju yang kedua.

Kalau setelah bertahun-tahun sekolah seorang anak masih membutuhkan ancaman, hukuman, pengawasan, dan perintah untuk melakukan hal yang benar, ada pertanyaan yang layak diajukan: sebenarnya karakter apa yang sedang kita bentuk lewat sekolah?

Data Indonesia memberikan gambaran yang menarik. Dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, sebanyak 86 persen siswa Indonesia mengatakan mereka merasa menjadi bagian dari sekolah. Angka itu bahkan lebih tinggi daripada rata-rata angka OECD sebesar 75 persen. Tetapi, pada saat yang sama, 16 persen siswa Indonesia mengaku merasa kesepian di sekolah dan 13 persen merasa seperti orang luar atau tersisih.

Angka tersebut penting karena sekolah yang tertib belum tentu sekolah yang membuat semua anak merasa diterima. Barisan siswa dapat rapi sementara seorang anak diam-diam merasa sendirian. Upacara bisa berlangsung khidmat sementara seorang murid takut masuk kelas karena diejek teman-temannya. Lagu kebangsaan bisa dinyanyikan bersama sementara anak yang berbeda agama, suku, bentuk tubuh atau kemampuan merasa tidak benar-benar menjadi bagian dari komunitas sekolah.

PISA 2022 justru memperlihatkan hubungan yang kuat antara rasa aman, rasa memiliki dan kesejahteraan siswa. Siswa yang merasa aman dan tidak banyak mengalami perundungan cenderung memiliki rasa memiliki terhadap sekolah yang lebih kuat, lebih percaya diri dalam belajar secara mandiri dan lebih puas terhadap kehidupannya.

PISA mencatat 25 persen siswi dan 30 persen siswa Indonesia melaporkan pernah menjadi korban tindakan perundungan setidaknya beberapa kali dalam sebulan. Pada lokasi tertentu di sekolah -- seperti koridor, kantin atau toilet -- 17 persen siswa Indonesia mengatakan mereka merasa tidak aman.

Angka tersebut membuat pengertian tentang disiplin perlu diperluas. Sekolah yang benar-benar disiplin bukan hanya sekolah yang berhasil membuat murid duduk tertib dan tenang, melainkan sekolah yang juga mampu mendisiplinkan kekuasaan orang dewasa. Guru tidak boleh mempermalukan murid. Murid yang lebih kuat tidak boleh menindas yang lebih lemah. Kelompok mayoritas tidak boleh menentukan harga diri kelompok minoritas.

Itu pula yang membuat pendidikan kebangsaan seharusnya tidak berhenti pada hafalan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Anak perlu mengalami makna nilai-nilai itu dalam kehidupan nyata sehari-hari. 

Bhinneka Tunggal Ika, misalnya, bukan terutama soal mampu menyebutkan maknanya. Ia baru menjadi pengetahuan yang hidup ketika seorang anak belajar duduk sebangku dengan teman yang berbeda dan tetap menghargainya.

Begitu pula nasionalisme. Rutin mendengarkan Indonesia Raya dapat menjadi ritual yang baik. Tetapi cinta Tanah Air akan jauh lebih dalam dan bermakna jika anak memahami bahwa Indonesia bukan hanya bendera, lagu dan upacara. Indonesia adalah juga tetangga yang berbeda agama, teman yang berbeda suku, warga miskin yang membutuhkan keadilan, lingkungan yang harus dijaga, serta orang yang pendapatnya tidak selalu sama dengan pendapat kita.

Maka, pendidikan karakter mesti pula bertemu dengan pendidikan demokrasi. Demokrasi tidak cukup diajarkan sebagai definisi dalam buku pelajaran. Anak perlu mengalami bagaimana pendapat berbeda diperlakukan. Ia perlu tahu bahwa kalah dalam pemilihan ketua kelas bukan berarti dipermalukan. Ia perlu belajar bahwa kritik tidak sama dengan pembangkangan. Ia perlu memahami bahwa kebebasan berbicara selalu mempunyai pasangan bernama tanggung jawab.

Guru mempunyai posisi penting dalam proses itu. Keteladanan guru memang dimulai dari hal sederhana -- datang tepat waktu, menyapa murid, memenuhi janji. Tetapi, teladan yang lebih dalam terlihat ketika guru menghadapi murid yang berbeda. Misalnnya, bagaimana ia memperlakukan anak yang lambat belajar, bagaimana ia menghadapi anak yang melakukan kesalahan, dan Apakah ia mau mengakui kalau dirinya keliru. Justru pada situasi semacam itulah anak belajar secara langsung tentang karakter.

Ukuran keberhasilan

Pada dasarnya, sekolah bukan pabrik yang memproduksi anak-anak dengan ukuran yang sama. Sekolah adalah tempat manusia muda belajar menjadi manusia: mampu berpikir ketika tidak ada yang menyuruh, mampu memilih ketika tidak ada yang mengawasi, mampu mengakui kesalahan ketika tidak ada yang menghukum, dan mampu menghargai orang lain meskipun berbeda dengan dirinya.

Disiplin diperlukan agar anak-anak memiliki struktur untuk mengatur dirinya sendiri, seperti tahu kapan harus bermain dan kapan harus belajar, mampu menunda kesenangan, menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya, serta memahami bahwa kebebasan selalu datang bersama konsekuensi. Adapun pengetahuan diperlukan agar mereka memiliki kemampuan. Tetapi, kebebasan berpikir juga diperlukan agar mereka tidak sekadar tahu apa yang harus dilakukan, melainkan mampu menentukan apa yang benar untuk dilakukan.

Ukuran keberhasilan pendidikan akhirnya sederhana, yakni apa yang dilakukan seorang anak ketika tidak ada lagi yang mengawasinya.

Setelah keluar dari pagar sekolah, tidak ada guru yang menyuruhnya datang tepat waktu, tidak ada kepala sekolah yang mengawasi, dan tidak ada pengeras suara yang mengingatkan tentang kewajiban, dan tersisa adalah dirinya sendiri, pengetahuan yang telah diperoleh, dan nilai-nilai yang telah tertanam.

Jika ia tetap mampu memilih yang benar tanpa diperintah, menghormati orang lain tanpa dipaksa, dan bertanggung jawab tanpa diawasi, barangkali di situlah pendidikan benar-benar berhasil. Dan disiplin telah berubah menjadi karakter. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)