Ketika Hutan Terbakar, Masa Depan Ikut Terbakar

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Ilustrasi kebakaran hutan. (Sumber: Pexels | Foto: José Luis Photographer)
Ilustrasi kebakaran hutan. (Sumber: Pexels | Foto: José Luis Photographer)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya batang pohon dan tutupan hijau, melainkan juga habitat, keanekaragaman hayati, kesuburan tanah, tata air, kemampuan ekosistem menyerap karbon, serta ruang hidup masyarakat.

  • Salah satu dampak paling nyata dari kebakaran hutan adalah asap. Asap membawa partikulat halus dan berbagai polutan yang dapat mengganggu kualitas udara.

  • UNEP menekankan bahwa pembasahan kembali gambut merupakan tindakan penting untuk mencegah kebakaran berulang.

Akibat kebakaran hutan, dampaknya pasti menyebabkan kerusakan lingkungan hidup. Sejauh mana keseriusan kita untuk mengatasi kebakaran ini, dan menjaga habitat serta ekologi hutan bagi masa depan kehidupan makhluk hidup?

Kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar peristiwa ketika pepohonan dilalap api. Ia adalah sebuah proses ekologis yang dapat memutus rantai kehidupan dalam suatu bentang alam. Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya batang pohon dan tutupan hijau, melainkan juga habitat, keanekaragaman hayati, kesuburan tanah, tata air, kemampuan ekosistem menyerap karbon, serta ruang hidup masyarakat.

Karena itu, kebakaran hutan seharusnya tidak dipahami semata-mata sebagai persoalan pemadaman api. Api adalah gejala yang tampak di permukaan; akar persoalannya sering berada jauh lebih dalam: perubahan fungsi lahan, pembukaan hutan, pengeringan gambut, lemahnya pengawasan, konflik tata ruang, praktik pembakaran untuk membuka lahan, hingga perubahan iklim yang memperpanjang periode kering.

Dengan demikian, pertanyaan pentingnya bukan hanya: bagaimana memadamkan api? Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: mengapa sebuah ekosistem dapat dibuat sedemikian rentan sehingga api mudah muncul dan sulit dikendalikan?

Hutan pada hakikatnya adalah sistem kehidupan yang bekerja secara simultan. Pohon menyerap karbon, menghasilkan oksigen, menahan air, menjaga kelembapan tanah, mencegah erosi, menyediakan habitat bagi satwa, sekaligus menjadi bagian dari rantai pangan masyarakat.

Ketika tutupan hutan terbakar, fungsi-fungsi tersebut terganggu. Kerusakan pertama terjadi pada keanekaragaman hayati. Satwa kehilangan habitat, sumber makanan dan tempat berkembang biak. Sebagian satwa mungkin dapat melarikan diri, tetapi banyak organisme kecil, tumbuhan, mikroorganisme tanah, telur, dan anak satwa tidak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri.

Kebakaran juga menyebabkan perubahan struktur tanah. Lapisan organik yang selama bertahun-tahun terbentuk dapat hilang dalam waktu singkat. Ketika hujan turun setelah kebakaran, tanah yang kehilangan tutupan vegetasi menjadi lebih mudah tererosi. Sedimen kemudian terbawa ke sungai, menyebabkan pendangkalan dan menurunkan kualitas perairan.

Pada titik ini terlihat bahwa kebakaran hutan tidak berhenti ketika api padam. Api selesai, tetapi kerusakan ekologis dapat terus berlangsung. Persoalan menjadi jauh lebih kompleks ketika kebakaran terjadi di ekosistem gambut.

Ekosistem gambut memiliki karakter berbeda dari hutan pada tanah mineral. Gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik yang berlangsung selama waktu yang sangat panjang. Dalam kondisi alami, gambut menyimpan air dan karbon dalam jumlah besar.

Ketika gambut dikeringkan melalui kanal atau drainase, ekosistem tersebut berubah menjadi lebih mudah terbakar. Api bahkan dapat menjalar di bawah permukaan sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan. UNEP (United Nations Environment Programme) menjelaskan bahwa gambut yang terdegradasi dan dikeringkan sangat rentan terhadap kebakaran, sementara kebakaran gambut dapat membara jauh di bawah permukaan tanah.

Di sinilah paradoks ekologis muncul. Manusia mengeringkan gambut agar mudah dimanfaatkan. Namun ketika gambut kehilangan air, ia justru kehilangan fungsi ekologisnya dan menjadi bahan bakar.

Lebih jauh lagi, gambut yang terbakar bukan hanya kehilangan vegetasi. Karbon yang tersimpan selama ribuan tahun dilepaskan kembali ke atmosfer. Karena itu, kebakaran gambut memiliki hubungan langsung dengan persoalan perubahan iklim. UNEP menempatkan perlindungan dan pembasahan kembali gambut sebagai bagian penting dari upaya mengurangi risiko kebakaran sekaligus menjaga cadangan karbon.

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)

Salah satu dampak paling nyata dari kebakaran hutan adalah asap. Asap membawa partikulat halus dan berbagai polutan yang dapat mengganggu kualitas udara. Dampaknya tidak berhenti di wilayah administratif tempat kebakaran berlangsung. Angin dapat membawa asap ke kota-kota yang jauh bahkan melintasi batas negara.

Masyarakat yang tidak tinggal di sekitar hutan pun dapat menjadi korban. Sekolah dapat terganggu, aktivitas ekonomi terhambat, transportasi terganggu, dan kelompok rentan menghadapi risiko kesehatan yang lebih besar. UNEP mencatat bahwa asap kebakaran gambut memiliki dampak serius terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Karena itu, kerugian akibat kebakaran hutan tidak dapat dihitung hanya dari nilai kayu yang hilang. Perhitungan harus mencakup kerusakan ekosistem, emisi karbon, kesehatan masyarakat, kehilangan produktivitas, gangguan pendidikan, kerugian pertanian, kerusakan infrastruktur, serta biaya pemulihan ekologis.

Dengan kata lain, hutan yang dibakar murah pada awalnya dapat menjadi sangat mahal bagi negara dan masyarakat dalam jangka panjang. Karena itu, pengendalian kebakaran harus menggunakan pendekatan landscape management atau pengelolaan bentang alam.

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, perusahaan, akademisi, aparat penegak hukum, dan organisasi lingkungan harus bekerja dalam satu sistem data dan satu kerangka kerja ekologis.

Dokumen perencanaan kehutanan Indonesia juga menempatkan pengurangan degradasi lahan mineral, pengurangan degradasi gambut, restorasi gambut, serta perbaikan tata air gambut sebagai bagian dari aksi mitigasi karhutla.

Persoalan paling mendasar sebenarnya adalah cara manusia memandang hutan. Jika hutan hanya dilihat sebagai sumber kayu, lahan perkebunan, ruang investasi atau komoditas, maka tekanan terhadap hutan akan terus berlangsung. Tetapi jika hutan dilihat sebagai infrastruktur ekologis, perspektifnya berubah.

Hutan adalah pengatur air. Hutan adalah penyimpan karbon. Hutan adalah rumah keanekaragaman hayati. Hutan adalah pelindung tanah. Hutan adalah penyangga kehidupan masyarakat.

Bahkan secara ekonomi, keberadaan hutan memberikan manfaat yang sering tidak masuk ke dalam harga komoditas. Ketika hutan hilang, masyarakat harus membayar biaya yang sebelumnya diberikan secara gratis oleh alam: air yang lebih sulit dikendalikan, banjir, longsor, polusi udara, suhu yang meningkat, hilangnya produktivitas tanah, dan berbagai kerugian ekologis lainnya.

Kebakaran hutan pada akhirnya adalah persoalan tentang hubungan manusia dengan alam. Api mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi dampaknya dapat berlangsung puluhan tahun. Sebuah pohon dapat tumbuh kembali, tetapi ekosistem yang terbentuk selama puluhan bahkan ratusan tahun tidak selalu dapat dikembalikan dengan mudah.

Karena itu, penanganan kebakaran hutan harus keluar dari logika darurat semata. Kita membutuhkan politik pencegahan, ekonomi yang menghargai ekologi, penegakan hukum yang tegas, teknologi yang terintegrasi, restorasi yang ilmiah, dan masyarakat yang ditempatkan sebagai penjaga utama lanskapnya.

Khusus untuk gambut, prinsipnya harus lebih tegas: jangan biarkan gambut mengering. Mengembalikan air berarti mengurangi bahan bakar kebakaran sekaligus mengembalikan sebagian fungsi ekologisnya. UNEP juga menekankan bahwa pembasahan kembali gambut merupakan tindakan penting untuk mencegah kebakaran berulang.

Pada akhirnya, persoalan kebakaran hutan bukan hanya tentang bagaimana menyelamatkan pohon dari api. Ia adalah tentang menyelamatkan hubungan antara manusia, tanah, air, udara, satwa, dan masa depan. Sebab ketika hutan terbakar, yang menjadi abu bukan hanya kayu.

Yang terbakar adalah ingatan ekologis sebuah negeri—dan jika kita terus membiarkannya, suatu hari yang tersisa dari hutan mungkin hanya tinggal nama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)