Awal Penemuan Teh dan Awal Penanamannya di Indonesia

5 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Petani memanen teh di perkebunan teh PTPN VIII, Rancabali, CIwidey, Kabupaten Bandung, Kamis 13 November 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Petani memanen teh di perkebunan teh PTPN VIII, Rancabali, CIwidey, Kabupaten Bandung, Kamis 13 November 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Tanaman teh pertama kali ditemukan di daratan Cina, diperkirakan di Provinsi Szechwan. Daerah tersebut berbatasan dengan wilayah Cina bagian barat daya, bagian timur laut India, Birma, Siam dan Indocina.

  • Teh dengan nama latin Camellia Sinensis berasal dari daratan Cina, oleh orang-orang Belanda dan Inggris teh dibawa ke Jepang, Indonesia, Sri Lanka dan negara-negara lainnya.

  • Masa keemasan perkebunan teh terjadi setelah pihak swasta diperbolehkan untuk mengelola perkebunan-perkebunan teh yaitu pada tahun 1910 hingga 1930-an.

Sejak kecil saya sangat akrab dengan buku dan perpustakaan. Almarhumah ibu saya adalah seorang peneliti dari Balai Tanaman dan Sayuran, Lembang dan sejak kecil saya sering ikut beliau bekerja. Selain menghabiskan waktu di kebun-kebun percobaan, saya juga banyak menghabiskan waktu di perpustakaan kantor tersebut. Hingga masa COVID-19 melanda negeri ini, saya masih terus mendatangi perpustakaan kantor dan saya banyak menemukan buku-buku sejarah tumbuhan, salah satunya adalah teh. Tulisan ini saya himpun dari beberapa buku dan catatan ilmiah yang saya temukan di perpustakaan Balai Pertanian Tanaman dan sayuran, Cikole, Lembang.

Tanaman teh pertama kali ditemukan di daratan Cina, diperkirakan di Provinsi Szechwan. Daerah tersebut berbatasan dengan wilayah Cina bagian barat daya, bagian timur laut India, Birma, Siam dan Indocina.

Awal ditemukan tanaman teh diceritakan dalam sebuah legenda, ada beberapa versi dalam cerita legenda tentang pertama kali ditemukannya tanaman teh. Dalam satu legenda diceritakan bahwa dalam suatu perjalanan ke hutan, seorang raja Cina menyempatkan diri untuk beristirahat melepas lelah. Sambil beristirahat mereka mempersiapkan air hangat untuk diminum, secara tak terduga terbanglah sehelai daun dan masuklah pada cangkir tersebut. Pada saat Raja menghirup minuman tersebut, ia merasakan minuman yang penuh kesegaran, maka sejak itulah dikenal minuman teh di Cina.

Nama yang cukup populer untuk teh di Cina adalah Cha, dalam sebuah legenda disebutkan bahwa masa itu bertepatan dengan masa sesudah pemerintahan dinasti Han atau kira-kira pada tahun 221-265 masehi.

Pada awal penemuannya, minuman ini dipergunakan bangsa Cina untuk pengobatan yang sangat mujarab bagi berbagai penyakit. Pada tahun 589 Masehi masa permulaan dinasti Sui untuk pertama kalinya minuman teh disajikan sebagai hidangan yang bermakna sosial dan religius.

Perkembangan lebih lanjut adalah penyebaran tanaman teh ke wilayah-wilayah lain di dunia. Pada tahun 593 masehi, segala pengetahuan tentang teh telah menyebar ke Jepang seiring dengan perkembangan budaya Cina serta penyebaran ajaran agama Budha. Pada awal pengenalan teh di Jepang, para pendeta menyebutnya sebagai “obat keramat” yang selanjutnya menjadi minuman yang sangat disukai dan disajikan dalam berbagai acara. 

Cara-cara penyajian dan tata cara meminum teh telah menghasilkan bentuk seni yang berfungsi juga sebagai sarana ritual. Bahkan masyarakat Jepang sangat mengagungkan apa yang mereka namakan Cha no yu atau upacara minum teh.

Kebiasaan minum teh di kalangan orang Eropa diperkenalkan oleh para pendeta Jesuit yang datang ke Cina dan Jepang pada abad ke-16, dari tiga hidangan minuman yang dikenalkan di Eropa yaitu cacao, teh dan kopi. Untuk pertama kali cacao diperkenalkan di Eropa oleh bangsa Spanyol pada tahun 1528. Minuman teh dari Cina dibawa oleh bangsa Belanda kepada bangsa Eropa pada 1610, dan kira-kira lima tahun berselang pada 1615, pedagang-pedagang dari Venesia memperkenalkan kopi ke Eropa.

Pada tahun 1635 minuman teh menjadi sajian yang disukai di lingkungan istana di negeri Belanda. Sementara itu di Inggris kebiasaan minum teh menjadi mode di lingkungan istana setelah kedatangan Catherine of Braganza, permaisuri Charles II, yang sangat menyukai minuman teh. Kira-kira pada pertengahan abad ke-17, teh dikenal di benua Amerika. Sesuai dengan tradisi minum teh yang dibawa dari negara asal dengan peralatan minum teh, mengakibatkan percepatan perkembangan industri-industri keramik di berbagai negara.

Awal Penanaman Teh di Indonesia

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)

Teh dengan nama latin Camellia Sinensis berasal dari daratan Cina, oleh orang-orang Belanda dan Inggris teh dibawa ke Jepang, Indonesia, Sri Lanka dan negara-negara lainnya. Data mengenai teh di Cina ternyata sudah ada ribuan tahun sebelum Kristus.

Secara botanis ada dua jenis tanaman teh yang dikenal yaitu Thea Sinensis dan Thea Assamica. Beberapa data menyebutkan bahwa tanaman teh di Indonesia telah ada sejak 1684. Dalam sebuah buku yang berjudul All About Tea karya W.H. Ukers, menyebutkan bahwa pada tahun 1694 Andreas Cleyer telah mulai melakukan penanaman teh di Jawa dengan bibit yang diambil dari Jepang. Pada saat pertama kali diperkenalkan di Indonesia, tanaman teh hanya dikenal sebagai tanaman hias saja. Pada saat itu belum ada upaya untuk mengembangkannya sebagai tanaman perkebunan.

Valentijn, seorang pendeta dan penulis sejarah memberitakan bahwa pada tahun 1694 telah melihat pohon-pohon teh di kebun belakang bekas pesanggrahan Gubernur Jendral J. Camphuys di Jakarta. Tanaman inilah yang didatangkan pada tahun 1684. Pengembangan tanaman teh pada saat itu masih bersifat uji coba, hanya dipergunakan sebagai tanaman hias saja dan kurang ada relevansinya dengan tanaman perkebunan teh yang telah dilakukan sekarang.

Pada tahun 1728 pemerintah Hindia Belanda menganggap perlu didatangkan biji-biji teh dari negara Cina dan menyemaikannya di Jawa dalam upaya budidaya. Meskipun demikian upaya ini juga ternyata belum mendatangkan hasil yang memuaskan.

Pada permulaan abad ke-19 mulai ada titik terang dalam pengenalan tanaman teh ini sebagai tanaman perkebunan. Seorang ahli bedah dari Jerman diperintahkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mengirim beberapa tanaman Jepang ke Hindia Belanda. Perintah resmi tersebut disertai dengan bukti tertulis surat keputusan gubernur jendral tahun 1824. Tindakan ini dianggap sebagai langkah awal tanaman teh di Indonesia. Sebenarnya langkah ini juga boleh dibilang masih berupa uji coba karena belum nampak hasilnya. Baru pada 1826 diadakan pengiriman biji-biji tahap kedua, meskipun demikian menurut beberapa sumber penulisan mengenai perkebunan teh, tahun 1824 tetap dicatat sebagai awal mula dari pengenalan tanaman teh di Jawa.

Pendelegasian perintah kepada Van Seibold dianggap sebagai tindakan pertama yang mendasari perkembangan budidaya teh di Indonesia. Dalam pelaksanaan Cultuurstelsel di bawah pengawasan Gubernur Jenderal Van Den Bosch, tanaman teh mengalami masa budidaya yang relatif baru dicoba untuk ditangani pemerintah Hindia Belanda. Budidaya teh di tengah pelaksanaan tanam paksa ini merupakan tanaman yang belum diusahakan secara besar-besaran. Data-data tahun 1833 mencatat penggunaan tanah yang dipergunakan untuk tanaman ekspor antara lain tebu 32.722 bau, nila (indigo) 22.141 bau, teh 324 bau, tembakau 286 bau, kayu manis 30 bau dan kapas 5 bau. (satu bau sama dengan 7000 meter).

Daerah-daerah yang mula-mula mengadakan percobaan meliputi Banten, Priangan, Karawang, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Jepara, Surabaya, Besuki, Banyumas, Bagelen dan Kedu. Di dekat pertanaman-pertanaman itu didirikan pabrik pengolahan, sedangkan hasilnya disetorkan kepada pabrik pengemasan di Jatinegara. Kondisi ini yang belum memungkinkan dan tanpa didukung oleh mekanisme yang memadai, mengakibatkan banyak terjadinya kegagalan.

Pada tahun 1839 tercatat biaya rata-rata sebesar f1,17 untuk tiap Kg, sedangkan penjualan ke Amsterdam hanya mencapai f0,81. Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah menghapuskan budidaya teh di semua keresidenan kecuali di Priangan, Cirebon dan Bagelen. Masa keemasan perkebunan teh terjadi setelah pihak swasta diperbolehkan untuk mengelola perkebunan-perkebunan teh yaitu pada tahun 1910 hingga 1930-an. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)