Teh Talua: Minuman Pelepas Rindu Perantau Minang yang Menetap di Bandung

3 menit baca
zilan zolila yusra
Ditulis oleh zilan zolila yusra diterbitkan
teh telor : minuman penambah stamina dan menghangatkan (Foto: zzy)
teh telor : minuman penambah stamina dan menghangatkan (Foto: zzy)

kota bandung yang terkenal dengan berbagai macam kulinernya dan selalu menghadirkan kejutan kuliner, salah satu nya minuman khas ranah Minang yang berhasil menempuh perjalanan dari Sumatera Barat hingga ke tanah Pasundan. Teh Talua, adalah minuman khas Padang yang sudah turun temurun menjadi salah satu minuman tradisional yang dapat menambah stamina, menghangatkan tubuh, sekaligus pelepas penat setelah bekerja seharian.

Kini, minuman khas ranah Minang itu sudah bisa ditemui di Bandung, tepatnya di Jalan Soekarno, sebelum Bundaran Cibiru dan menjadi pelepas rindu bagi perantau Minang yang menetap di kota ini.

Teh Talua bukan minuman biasa yang bukan hanya sekadar teh manis hangat yang dicampur telur, tetapi merupakan sebuah racikan budaya yang menyimpan makna mendalam khususnya bagi perantau minang. Di asalnya, minuman ini biasa disajikan saat malam hari, ketika pria Minang pulang dari ladang atau berdagang. Teh Talua dianggap sebagai teman setia untuk mengembalikan tenaga, memperbaiki suasana hati, sekaligus menghangatkan tubuh yang lelah. Kini, Teh Talua itu hadir kembali di Bandung meski jaraknya ribuan kilometer dari Padang.

Secara tradisional, Teh Talua dibuat dari campuran telur ayam kampung, gula pasir atau gula tebu, jeruk nipis, serta teh hitam pekat yang panas. Proses pembuatannya cukup unik dimana kuning telur dikocok bersama gula hingga berbusa, dan hampir mengembang seperti krim lembut. Buih itulah yang menjadi ciri khas minuman ini. Setelah cukup halus, barulah teh panas dituangkan perlahan, menghasilkan campuran berlapis bahkan ada yang menambahkan susu juga. Rasanya manis, legit, sedikit creamy, dan hangat.

Akan tetapi, pengalaman pertama mencicipi Teh Talua tak selalu mudah bagi orang yang belum kenal dengan racikan ini. Banyak orang terutama yang berasal dari luar Sumatera mengaku merasa mual saat pertama meminumnya. Tekstur creamy bercampur teh panas terkadang membuat tenggorokan perlu beradaptasi. Tetapi, sebagaimana banyak kuliner tradisional lainnya, rasa Teh Talua adalah sesuatu yang didapat dengan kebiasaan. Ketika sudah terbiasa, justru kenikmatan khasnya mulai terasa. Banyak orang yang awalnya menolak, kini justru menjadi pelanggan setia.

Bagi para perantau Minang di Bandung, keberadaan kedai Teh Talua di kawasan Soekarno Cibiru ini lebih dari sekadar tempat minum. Ia adalah ruang pelepas rindu meskipun sebentar. Di sana, mereka dapat sejenak kembali pada memori kampung halaman dengan suasana malam di Padang, percakapan hangat di kedai kecil, atau sekadar kebiasaan kumpul bersama keluarga maupun teman sesama perantau sambil menikmati minuman ini.

"Kalau saya lagi merasakan rindu kampung salah satu yang saya cari adalah teh talua karena cukup mengingatkan saya dengan kampung halaman dan suasananya apalagi minumnya bersama teman-teman perantau minang, dan melepas tawa, bercerita dengan bahasa minang serasa lagi berada di kampung sendiri" ujar seorang mahasiswa asal padang yang menetap di Cibiru.

Kata-katanya sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam. Tidak sedikit perantau yang mengakui bahwa secangkir Teh Talua mampu mengobati rindu yang terasa.

Menariknya, meskipun Teh Talua adalah minuman tradisional, ia memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Bandung yang terkenal suka mencoba hal-hal baru. Banyak yang penasaran dengan rasa minuman telur dalam teh. Ada yang datang karena ingin mencari pengalaman kuliner unik, dan ada juga yang datang setelah diajak oleh teman yang berasal dari minang.

Baca Juga: Mengurai Rindu yang Terbendung dengan Kuliner Minangkabau di Bandung

Tidak sedikit pula kalangan pekerja yang menjadikan Teh Talua sebagai “booster” untuk menambah energi setelah seharian bekerja. Teksturnya yang lembut dan efek hangatnya membuat tubuh cepat kembali semangat.

Bandung, sebagai kota yang ramah terhadap berbagai kuliner, menerima kehadiran Teh Talua dengan cukup baik. Bahkan beberapa kedai mulai mencoba memvariasikan minuman ini seperti menambahkan madu, menambahkan tape, rempah, atau susu. Namun bagi penikmat teh talua, yang terbaik tetaplah yang dibuat dengan cara tradisional yaitu dengan telur, gula, teh pekat, dan sedikit perasan jeruk nipis untuk menghilangkan amis. Tanpa tambahan apa pun, rasanya sudah menjadi perpaduan sempurna antara manis, creamy, dan hangat.

Kehadiran Teh Talua di Bandung adalah bukti bahwa kuliner tradisional punya kekuatan lintas daerah. Ia tidak hanya dapat menghangatkan tubuh, tetapi juga membawa cerita, identitas, dan sejarah panjang dari kampung asalnya. selain itu, ia membuktikan bahwa rasa bisa menjadi jembatan rindu.

Pada akhirnya, secangkir Teh Talua tidak hanya menjadi minuman penambah stamina, tetapi juga menjadi penghubung antara masa kini dan masa lalu, antara tanah rantau dan kampung halaman, antara rindu dan penerimaan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

zilan zolila yusra
jurnalis muda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)