7 Gunung Tertinggi di Bandung: Antara Legenda dan Jalur Pendakian

7 menit baca
Rio Praja
Ditulis oleh Rio Praja diterbitkan
Foto Pemandangan Gunung Puntang diambil dari Gunung Batu Lemabang. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Rio Praja)
Foto Pemandangan Gunung Puntang diambil dari Gunung Batu Lemabang. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Rio Praja)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Tujuh gunung yang dijuluki Seven Summits Bandung Raya ini, bukan sekadar deretan puncak dengan ketinggian berbeda.

  • Dari Gunung Tangkuban Parahu yang lekat dengan legenda Sangkuriang hingga puncak-puncak lain yang menyimpan kisah dan karakter masing-masing.

Tulisan ini mengajak pembaca mengenal tujuh gunung tertinggi yang ada di kota Bandung — bukan hanya dari ketinggiannya, tetapi juga dari legenda dan cerita yang hidup di sepanjang jalurnya.

Tujuh gunung yang dijuluki Seven Summits Bandung Raya ini, bukan sekadar deretan puncak dengan ketinggian berbeda. Melainkan masing-masing dari keberadaan gunung tersebut menyimpan sejarah panjang, jalur pendakian dengan tantangan unik, dan legenda yang diyakini secara turun-temurun oleh masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Dari Gunung Tangkuban Parahu yang lekat dengan legenda Sangkuriang hingga puncak-puncak lain yang menyimpan kisah dan karakter masing-masing, gunung-gunung di Bandung menjadi ruang pertemuan antara alam, legenda, dan perjalanan manusia.

  1. Gunung Kendang 2.617 MDPL

    Gunung Kendang adalah gunung yang paling tinggi di kawasan Bandung Timur, nama kendang sendiri menurut masyarakat setempat diyakini diambil dari suara gemuruh dari perut gunung yang mirip pukulan alat musik kendang atau gendang. Gunung ini termasuk gunung berapi berbentuk kerucut atau komposit dengan lereng yang curam di bagian puncak dan lebih landai di bagian kaki gunung. Ketinggianya sekitar 2.617 meter di atas permukaan laut (mdpl). Berada di Desa Neglawangi, Kecamatan Kertasari. Jalur pendakian yang sulit dan memakan waktu yang cukup lama menjadikan gunung ini kurang populer di kalangan pendaki. Tak heran, hanya pendaki berpengalaman yang bisa menaklukan gunung tersebut. Trek pendakiannya perlu melewati perkebunan teh dan ladang sayur milik warga sebelum mamasuki hutan. Estimasi waktu menuju puncak sekitar 5 hingga 9 jam perjalanan.

    Jalur Pendakian

    Hanya ada dua jalur untuk mendaki gunung kendang yaitu: jalur pendakian via Desa Neglawangi, Kertasari dan via Kampung Lodaya, Kecamatan Kertasari.

    Legenda Masyarakat

    Gunung ini juga menyimpan legenda tentang Kala Paksa cerita cerita tentang cinta dan ratapannya seorang raksasa yang jatuh cinta kepada Dewi Rara seorang putri dari seorang petapa. Konon karena cintanya bertepuk sebelah tangan, raksasa tersebut dikurung di dalam Gunung Kendang oleh seorang yang sakti bernama Jaya. Masyarakat yang hidup di sekitar gunung beranggapan ketika bencana banjir bandang terjadi saat itu lah raksasa sedang bersedih dan menangis.

  2. Gunung Patuha 2.434 MDPL

    Gunung Patuha yang memiliki ketinggian 2.434 mdpl, adalah salah satu gunung tertinggi di kawasan Bandung Selatan. Nama patuha sendiri diyakini berasal dari kata “pak tua” berasal dari keyakinan masyarakat yang percaya bahwa gunung ini adalah gunung yang tertua di wilayah Bandung.

    Jalur Pendakian

    Pendakian ke puncak Patuha bisa dimulai dari Kampung Cipanganten, Kecamatan Rancabalu atau melalui kawasan wisata Kawah Putih. Berdasarkan catatan geologi, gunung patuha pernah mengalami dua kali letusan besar, letusan pertama menghasilkan Kawah Saat (kata Saat diambil dari bahasa Sunda yang berarti kering), sementara letusan kedua melahirkan Kawah Putih yang terkenal dan menjadi objek wisata hingga saat ini.

    Legenda Masyarakat

    Seperti gunung-gunung lainnya gunung Patuha menyimpan legenda yang diyakini oleh masyarakat sekitar. Pada masa penjajahan Belanda di Nusantara, penduduk setempat menganggap kawasan Gunung Patuha merupakan tempat angker dan tidak ada yang berani mendekati dan mendaki puncaknya karena takut mendapat bencana. Bahkan burung-burung yang melintas di atasnya akan mati secara tiba-tiba. Keyakinan tersebut baru bisa dipatahkan pada tahun 1837 oleh ahli geologi asal Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn, yang membuktikan bahwa burung-burung yang melintas dan mati tiba-tiba disebabkan oleh gas belerang dari kawahnya, bukan karena kekuatan gaib.

  3. Gunung Malabar 2.343 MDPL

    Gunung Malabar adalah salah satu gunung yang paling terkenal di wilayah Bandung Selatan. Nama gunung ini diyakini berasal dari kata Sunda kuno labar-lébér yang berarti meluber atau melebar. Hal ini merujuk pada bentuk gunung yang besar dengan lereng yang meluas ke segala arah, gunung ini memiliki beberapa puncak dan puncak tertingginya disebut Puncak Besar dengan ketinggian 2.343 mdpl.

    Jalur Pendakian

    Ada tiga jalur yang bisa digunakan untuk pendakian gunung malabar yaitu: Pertama, Pendakian via Cinyirun, Kampung Cinyirun, Pangalengan. Kedua, jalur pendakian via Kopi Magma, Ketiga, jalur pendakian via Gunung Puntang atau Gunung Haruman, Banjaran. Waktu tempuh rata-rata untuk mencapai Puncak Besar adalah sekitar 5 hingga 6 jam perjalanan.

    Legenda Masyarakat

    Legenda yang paling melekat pada Gunung Malabar adalah kaitannya dengan sosok legenda di masa lalu yaitu Prabu Siliwangi, raja dari Kerajaan Pajajaran. Nama "Malabar" dipercaya oleh sebagian masyarakat berasal dari kata babar yang berarti lahir. Konon, Prabu Siliwangi lahir di kawasan Gunung Malabar ini. Di gunung ini juga terdapat Sungai Cigeureuh, yang diyakini sebagai tempat pertama kali bayi Prabu Siliwangi dimandikan. Air Terjun Siliwangi yang ada di gunung malabar adalah sebuah air terjun (curug) yang disebut sebagai Curug Siliwangi, yang dipercaya sebagai tempat mandi sang raja di masa lalu. Selain legenda Kerajaan Pajajaran, Gunung Malabar juga menyimpan sejarah modern yang menarik. Di lerengnya terdapat sisa-sisa stasiun Radio Malabar, yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1923 sebagai pemancar radio jarak jauh terbesar di dunia pada masanya.

  4. Gunung Bukit Tunggul 2.209 MDPL

    Gunung Bukit Tunggul merupakan puncak tertinggi di kawasan Bandung Utara, secara geologis, gunung ini terbentuk dari sisa letusan Gunung Sunda Purba pada zaman prasejarah. Nama "Tunggul" sendiri merujuk pada bentuk puncaknya yang menyerupai sisa pangkal pohon besar yang telah ditebang.

    Jalur Pendakian

    Ada dua jalur alternatif yang banyak dipilih untuk mendaki gunung tersebut sampai ke puncak, jalur pendakian gunung bukit tunggul via taman bincarung yang berada di Kampung Pasir Angling, Desa Sutenjaya, Kecamatan Lembang dan pendakian via Perkebunan Kina Bukit Tunggul berada di Desa Cipajalu, Kecamatan Cilengkrang.

    Legenda Masyarakat

    Seperti gunung Tangkuban Parahu gunung Bukit Tunggul erat kaitannya dengan legenda Sangkuriang. Trek pendakian didominasi jalur menanjak terus menerus, melewati kebun warga, hutan pinus, punggungan bukit, sebelum masuk ke hutan. Waktu tempuh rata-rata untuk mencapai puncaknya adalah sekitar 2 hingga 4 jam perjalanan.

  5. Gunung Tangkuban Parahu 2.086 MDPL

    Gunung Tangkuban Parahu adalah ikon wisata alam Jawa Barat yang menyimpan cerita legenda dan fenomena geologi menarik. Terletak sekitar 20 km di utara Kota Bandung, gunung ini berada di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Subang. Secara geologis, gunung tangkuban parahu adalah gunung api aktif. Asal usul nama “Tangkuban Parahu” diambil dari bahasa Sunda yang berarti “Perahu Terbalik”, gunung ini sangat erat kaitannya dengan legenda Sangkuriang.

    Jalur Pendakian

    Terdapat tiga jalur untuk mencapai puncaknya yaitu: Pertama, jalur pencakian via Cikole. Kedua, jalur pendakian via Jayagiri. Ketiga, jalur pendakian via Trek 11 Sukawana.

    Legenda Masyarakat

    Diceritakan, Sangkuriang jatuh cinta pada ibunya sendiri, yang bernama Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan niatnya, Dayang Sumbi meminta Sangkuriang membuat sebuah perahu besar dalam waktu satu malam . Saat usahanya gagal karena fajar datang lebih cepat, Sangkuriang menendang perahu itu hingga jatuh terbalik dan berubah menjadi Gunung Tangkuban Parahu. Gunung Tangkuban Parahu memiliki sekitar 13 kawah, dengan tiga yang paling populer adalah Kawah Ratu, Kawah Upas, dan Kawah Domas.

  6. Gunung Burangrang 2.050 MDPL

    Gunung Burangrang memiliki ketinggian 2.050 mdpl, bersebelahan langsung dengan Gunung Tangkuban Parahu dan masih bagian dari hasil letusan Gunung Sunda Purba.

    Jalur Pendakian

    Ada tiga jalur yang bisa digunakan untuk pendakian Gunung Burangrang sampai ke puncak, Pertama, jalur pendakian via Legok Haji, Kampung Legok Haji, Desa Pasirlangu, Kedua, Jalur Komando, Desa Tugumukti, Kecamatan Cisarua, Ketiga, jalur pendakian via Desa Pesanggrahan, Kecamatan Bojong, kabupaten Purwakarta.

    Legenda Masyarakat

    Dalam legenda Sangkuriang, Gunung Burangrang dipercaya berasal dari tumpukan ranting kayu (dalam bahasa Sunda, rangrang berarti jarang) yang digunakan Sangkuriang untuk membuat perahu raksasa dalam upayanya meminang Dayang Sumbi. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang menendang perahu tersebut yang kemudian menjadi Gunung Tangkuban Perahu, sementara tumpukan rantingnya berubah menjadi Gunung Burangrang. Waktu tempuh rata-rata untuk mencapai puncaknya adalah sekitar 2 hingga 4 jam perjalanan. Medannya berupa tanah, akar pohon, dan beberapa tanjakan curam dengan pemandangan hutan pinus.

  7. Gunung Tambakruyung 1.994 MDPL

    Gunung Tambakruyung memiliki ketinggian 1.994 mdpl, secara administratif, puncaknya tepat berada di garis perbatasan antara Desa Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, dengan Desa Mekarwangi, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat. Asal usul nama “Tambakruyung” bukanlah sebutan asli masyarakat setempat. Secara turun-temurun, warga Kampung Waluri menyebut gunung ini dengan sebutan Gunung Guruyung atau Gunung Tambaga Guruyung. Nama ini berasal dari dua kata, yaitu "tambaga" yang berarti tembaga, dan "guruyung" yang berarti air yang berlimpah. Gunung ini memiliki dua puncak dengan medan yang didominasi oleh jalur setapak menanjak, melewati kebun kopi, hutan pinus, hingga vegetasi tropis yang cukup rapat.

    Jalur Pendakian

    Untuk mencapai puncak, pendaki biasanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan. Pendakian paling umum untuk mendaki puncaknya, bisa melalui Kampung Waluri, Desa Lebakmuncang, Ciwidey. Legenda yang berkaitan dengan gunung ini adalah adalah legenda tentang dua cabe besar yang konon berada di puncaknya.

    Legenda Masyarakat

    Menurut cerita yang beredar di masyarakat, kedua cabe tersebut berwarna hijau, dan dipercaya bahwa jika keduanya berubah menjadi merah, maka dunia akan mengalami kiamat. Hingga kini, kabarnya hanya satu cabe yang telah berubah warna . Terlepas dari mitos ini, masyarakat setempat memiliki beberapa pantangan (tabu) yang tidak dianjurkan selama pendakian, seperti berkata sompral (pongah/menantang), bersiul, dan bertepuk tangan.

    Tujuh gunung tersebut memperlihatkan bahwa alam tidak pernah berdiri sendiri. Di balik ketinggian dan jalur yang menantang, ada legenda yang diwariskan kepada masyarakat yang hidup di sekitarnya. Puncak mungkin menjadi tujuan bagi setiap pendaki, tetapi perjalananlah yang nantinya meninggalkan cerita. Sebab gunung tidak hanya meminta kita untuk menaklukkannya, melainkan mengajak kita untuk mengenal, menghargai, dan menjaga apa yang ada di dalamnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Rio Praja
Tentang Rio Praja
Mahasiswa Program Studi Agama-Agama | Menulis tentang manusia, agama, budaya, dan perjalanan.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)