Tapa Sebelum Melobangi Gunung

4 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan Kamis 18 Jun 2026, 07:46 WIB
Sebuah spanduk di depan kantor ESDM Provinsi Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)

Sebuah spanduk di depan kantor ESDM Provinsi Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)

Di tengah gelombang tuntutan pembangunan dan transisi energi, sebuah spanduk terbentang dalam aksi penolakan pengembangan panas bumi di kawasan Gunung Gede Pangrango. Tulisan di atasnya tidak berisi slogan teknis, tidak pula memuat angka-angka produksi energi. Kalimat itu justru berbunyi sederhana: "Gubernur kedah tapa di Gunung Gede-Pangrango."

Bagi sebagian orang, kalimat tersebut mungkin terdengar seperti sindiran atau bahkan guyonan. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan kritik yang jauh lebih dalam daripada sekadar penolakan terhadap sebuah proyek. Ia mempertanyakan cara kita memahami pembangunan, cara kita memandang alam, dan cara para pengambil kebijakan menentukan masa depan sebuah wilayah yang menjadi sumber kehidupan banyak orang.

Di tengah era ketika hampir setiap keputusan dibenarkan oleh data, target investasi, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi, masyarakat justru mengajukan kata yang terdengar kuno: tapa. Sebuah istilah yang berasal dari tradisi perenungan, pengendalian diri, dan upaya memahami sesuatu secara lebih mendalam sebelum mengambil keputusan.

Pertanyaannya, mengapa dalam perdebatan mengenai energi dan pembangunan masyarakat justru berbicara tentang tapa?

Dalam tradisi Sunda, gunung tidak pernah dipandang hanya sebagai bentang alam. Ia bukan sekadar tanah yang dapat diukur luasnya atau ruang yang dapat dihitung nilai ekonominya. Gunung merupakan bagian dari tatanan kehidupan yang lebih besar. Dari lereng-lerengnya mengalir air yang menghidupi sawah dan permukiman. Dari hutannya lahir keseimbangan ekologis yang menjaga keberlangsungan hidup manusia. Dalam berbagai tradisi lisan maupun pandangan hidup masyarakat Sunda, gunung juga dipahami sebagai ruang yang mengajarkan kerendahan hati karena manusia menyadari dirinya hanyalah bagian kecil dari alam yang jauh lebih besar.

Karena itu, seruan agar seorang pemimpin "bertapa" di Gunung Gede Pangrango sesungguhnya dapat dibaca sebagai ajakan untuk memahami terlebih dahulu apa yang akan diputuskan. Sebelum sebuah kebijakan ditetapkan, sebelum alat-alat berat datang, dan sebelum tanah dibor untuk mencari energi, ada kebutuhan untuk mendengarkan suara yang sering kali tidak tercatat dalam dokumen perencanaan: suara ekologi, suara kebudayaan, dan suara masyarakat yang hidup bersama gunung tersebut.

Ironisnya, pembangunan modern sering bergerak dengan logika yang berbeda. Alam dipandang sebagai kumpulan sumber daya yang menunggu untuk dimanfaatkan. Hutan menjadi cadangan kayu. Sungai menjadi sumber air baku. Gunung menjadi cadangan energi. Nilai suatu kawasan kemudian ditentukan berdasarkan seberapa besar manfaat ekonominya dapat dikonversi menjadi angka pertumbuhan.

Cara pandang semacam ini memang menghasilkan efisiensi. Namun ia juga menyimpan bahaya. Ketika alam direduksi menjadi objek produksi, fungsi-fungsi lain yang jauh lebih penting sering kali terabaikan. Yang terlihat hanyalah potensi yang dapat diekstraksi, sementara hubungan ekologis yang menopang kehidupan justru luput dari perhatian.

Di sinilah kritik masyarakat terhadap rencana pengembangan panas bumi di kawasan Gunung Gede Pangrango menemukan relevansinya. Persoalannya bukan sekadar soal setuju atau tidak setuju terhadap energi terbarukan. Panas bumi memiliki peran penting dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan menghadapi krisis iklim global. Namun mendukung transisi energi tidak berarti menutup mata terhadap pertanyaan mengenai lokasi, dampak ekologis, dan proses pengambilan keputusan yang menyertainya.

Gunung Gede Pangrango bukan kawasan biasa. Ia merupakan salah satu benteng ekologis penting di Pulau Jawa yang menyimpan keanekaragaman hayati, menjaga siklus hidrologi, dan menjadi penyangga kehidupan bagi masyarakat di wilayah sekitarnya. Fungsi-fungsi tersebut sering kali tidak muncul dalam laporan keuntungan investasi, tetapi manfaatnya dirasakan setiap hari oleh jutaan orang yang bergantung pada air dan keseimbangan lingkungan yang dijaga oleh kawasan tersebut.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Di sisi lain, polemik ini juga memperlihatkan bagaimana kebijakan publik semakin didominasi oleh pendekatan teknokratis. Keputusan-keputusan besar sering kali disusun melalui studi kelayakan, perhitungan biaya-manfaat, dan target-target pembangunan yang tampak objektif. Semua itu memang penting. Namun persoalannya muncul ketika proses tersebut tidak memberi ruang yang cukup bagi pengetahuan lokal, pengalaman masyarakat, dan pertimbangan ekologis yang tidak selalu dapat diterjemahkan menjadi angka.

Akibatnya, pembangunan sering kali dipahami sebagai persoalan teknis semata, padahal ia juga merupakan persoalan politik dan kebudayaan. Siapa yang menentukan masa depan suatu wilayah? Pengetahuan siapa yang dianggap sah? Kepentingan siapa yang diprioritaskan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering kali tenggelam di balik bahasa teknis yang membuat sebuah kebijakan tampak netral, meskipun dampaknya sangat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

Di sinilah satire dalam spanduk tersebut menemukan maknanya. Masyarakat tentu tidak benar-benar meminta gubernur meninggalkan pekerjaannya untuk bertapa di puncak gunung. Yang mereka kritik adalah kecenderungan pengambilan keputusan yang terlalu cepat mengubah bentang alam menjadi objek perhitungan ekonomi tanpa terlebih dahulu memahami makna yang dikandungnya.

Mungkin yang dibutuhkan bukanlah wangsit dalam pengertian mistis, melainkan kebijaksanaan dalam pengertian politik. Kebijaksanaan untuk menyadari bahwa tidak semua nilai dapat diukur dengan megawatt, investasi, atau pertumbuhan ekonomi. Kebijaksanaan untuk memahami bahwa keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang energi bersih, tetapi juga tentang kemampuan menjaga ekosistem yang selama ini menopang kehidupan.

Transisi energi adalah kebutuhan. Namun keberlanjutan akan kehilangan maknanya jika ia dibangun dengan mengorbankan fondasi ekologis yang membuat kehidupan tetap mungkin berlangsung. Sebab energi dapat dicari di banyak tempat, tetapi tidak semua ekosistem dapat digantikan ketika telah rusak.

Karena itu, seruan agar pemimpin "bertapa" sebelum menggali gunung sesungguhnya bukan ajakan untuk kembali ke masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi dan ambisi pembangunan, masih ada satu hal yang tidak boleh ditinggalkan: kemampuan untuk berhenti sejenak, merenung, dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.

Sebab sebelum menggali perut gunung, barangkali yang lebih dahulu perlu digali adalah kedalaman pertimbangan kita sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 18 Jun 2026, 10:13

Ketika Transportasi Era Kolonial Lebih Visioner dari Hari Ini

Pengembangan transportasi yang visioner di masa kolonial perlu menjadi tolok ukur dalam menjaga relevansi dari orientasi pengembangan transportasi di masa kini.

Lokomotif CC 10 14 dan CC 10 30 melintas di petak Cibatu-Garut, 1972 (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY 2.0) | Foto: Frank Stamford)
Wisata & Kuliner 18 Jun 2026, 10:06

Panduan Jelajah Wisata Pangalengan Bandung: Itinerary dan Pilihan Destinasi Favorit

Panduan wisata Pangalengan lengkap dengan destinasi favorit, itinerary perjalanan, kuliner, dan rute terbaik.

Wayang Windu Panenjoan, Pangalengan. (Sumber: Tiktok @wayangwindupanenjoan)
Ayo Biz 18 Jun 2026, 09:10

Harapan dari Genangan Waduk, Desa Cisurat Bangkit dari ‘Mengkhawatirkan’ Jadi BRILian

Desa Cisurat tidak lagi meratapi dampak waduk, mereka sudah belajar hidup bersamanya dengan cara yang makin cerdas dan terencana.

Nelayan di Waduk Jatigede, Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung,id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 07:46

Tapa Sebelum Melobangi Gunung

"Gubernur kedah tapa di Gunung Gede-Pangrango."

Sebuah spanduk di depan kantor ESDM Provinsi Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 06:40

Merawat Cahaya di Tengah Rimba Digital

Hijrah digital mengajarkan tentang perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Sudah saatnya memastikan jemari kita menjadi jalan hadirnya kebaikan bagi sesama, kemaslahatan umat.

Ilustrasi muslimah sedang membaca alquran digital. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 06:24

Pesepeda Tewas di Jalan Soekarno-Hatta: Apakah Kita Terlalu Cepat Menyalahkan Korban?

Kecelakaan pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta mengingatkan bahwa keselamatan jalan bukan hanya soal perilaku pengguna, tetapi juga kualitas infrastruktur yang tersedia.

Polisi melakukan olah TKP. (Sumber: Dok. Unit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 20:29

Di Balik Publikasi Digital Program Operasi Katarak Gratis

Analisis publikasi digital program operasi katarak gratis Summarecon Agung dalam melihat konsistensi pesan, strategi komunikasi, dan pengelolaan citra perusahaan melalui berbagai media

Penulis sedang menganalisis teknik penulisan Summarecon Agung Tbk dari tiga platform.
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 20:09

Tamasya ke Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih, Oase Hijau di Tengah Kota Surabaya

Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih Surabaya merupakan bekas TPA yang disulap menjadi ruang terbuka hijau dengan taman tematik dan fasilitas rekreasi.

Taman Harmoni & Hutan Bambu Keputih jadi tempat wisata favorit di Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Linimasa 17 Jun 2026, 19:12

Hikayat Taman Alun-alun Regol, Dari Bantaran Sungai Tempat Pembuangan Sampah Menjadi Tumpuan UMKM Hingga Tak Terawat

Kisah Alun-alun Regol Bandung yang berubah dari bantaran sungai penuh sampah menjadi ruang publik lalu mulai meredup.

Alun-alun Regol, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 19:09

Toponimi Lembang (Bagian 2)

Dengan mempelajari ilmu Toponimi kita jadi lebih tahu akar sejarah sebuah kawasan, termasuk sejarah Lembang.

Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 18:01

Mampukah Mahasiswa Menjaga Konsentrasi Belajar dari Distraksi Media Sosial?

Media sosial bisa jadi teman belajar atau justru pengganggu konsentrasi. Tulisan ini membahas cara mahasiswa tetap fokus dan produktif tanpa harus meninggalkan dunia digital.

Ilustrasi gangguan media sosial. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 17:30

Rupiah Melemah, BBM Naik: Ibulah yang Paling Dulu Merasakan Dampaknya

Rupiah melemah, BBM naik, dan biaya hidup kian mencekik. Ibulah yang paling dulu merasakan dampaknya. Lalu, apa akar persoalan sebenarnya?

Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 17:05

Itinerary 1–2 Hari Surabaya: Telusur Sejarah, Kuliner Legendaris, dan Wajah Baru Kota Pahlawan

Rekomendasi itinerary Surabaya untuk 1–2 hari, mulai Tugu Pahlawan, Ampel, hingga kuliner legendaris.

Balai Kota Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:58

Seni sebagai Perlawanan: Dari Raden Saleh ke Era Digital

Peran seni sebagai perlawanan, baik pada masa Raden Saleh maupun era digital saat ini.

Ilustrasi lukisan karya Raden Saleh dan seni modern. (Sumber: istimewa)
Bandung 17 Jun 2026, 16:44

Menghidupkan Ekosistem F&B Lewat Industry Night 2026, Saat Komunitas dan Kolaborasi Menjadi Kunci Bertahan

Dinamika industri F&B kini tidak lagi sekadar bicara soal persaingan menu viral atau estetika visual semata, melainkan bergeser ke arah kekuatan kolektif yang digerakkan oleh komunitas.

Di Industry Night, batas-batas kompetisi dilebur menjadi energi positif yang mendorong lahirnya koneksi, inspirasi baru, serta pertumbuhan usaha yang berkelanjutan secara bersama-sama. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:33

Hubungan Dagang Banten dan Lampung dalam Perniagaan Lada Abad ke-17

Menengok kembali sejarah perdagangan lada abad ke-17 di Banten dan Lampung.

Ilustrasi gambar lada. (Sumber: disbun.kaltimprov.go.id)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:47

Topeng Banjet : Warisan Budaya yang Mulai Tergerus Waktu

Kesenian Topeng Banjet yang ada sejak awal abad ke-20 merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Karawang.

Topeng Banjet merupakan kesenian tradisional khas Karawang, Jawa Barat. (Sumber: Wonderful Indonesia)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:27

Geliat Industri vs Infrastruktur Sukabumi Utara: Jalan Pakuwon Mendesak untuk Dibenahi

Kami memahami bahwa perbaikan total membutuhkan waktu, namun kami tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian dan ancaman bahaya.

Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:48

Membangun Stigma Positif Kesadaran Kolektif dalam Pajak

Narasi tentang pajak, sering kali menjadi stigma negatif dalam kehidupan sosial. Apa karena masyarakat masih berpikir stereotip, atau tata kelola pajak yang dianggap kurang adil.

Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:27

Sebelum Selebgram Ada Japanisasi: Propaganda Kecantikan dari 1943

Ketika iklan makeup dijadikan daya tarik propaganda pada masa Pendudukan Jepang 1942-1945.

Iklan Bedak Virgin dalam majalah Djawa Baroe edisi 15 Juli 1945 (Sumber: Website : universiteitleiden.nl)