Tapa Sebelum Melobangi Gunung

4 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Sebuah spanduk di depan kantor ESDM Provinsi Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Sebuah spanduk di depan kantor ESDM Provinsi Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)

Di tengah gelombang tuntutan pembangunan dan transisi energi, sebuah spanduk terbentang dalam aksi penolakan pengembangan panas bumi di kawasan Gunung Gede Pangrango. Tulisan di atasnya tidak berisi slogan teknis, tidak pula memuat angka-angka produksi energi. Kalimat itu justru berbunyi sederhana: "Gubernur kedah tapa di Gunung Gede-Pangrango."

Bagi sebagian orang, kalimat tersebut mungkin terdengar seperti sindiran atau bahkan guyonan. Namun di balik kesederhanaannya tersimpan kritik yang jauh lebih dalam daripada sekadar penolakan terhadap sebuah proyek. Ia mempertanyakan cara kita memahami pembangunan, cara kita memandang alam, dan cara para pengambil kebijakan menentukan masa depan sebuah wilayah yang menjadi sumber kehidupan banyak orang.

Di tengah era ketika hampir setiap keputusan dibenarkan oleh data, target investasi, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi, masyarakat justru mengajukan kata yang terdengar kuno: tapa. Sebuah istilah yang berasal dari tradisi perenungan, pengendalian diri, dan upaya memahami sesuatu secara lebih mendalam sebelum mengambil keputusan.

Pertanyaannya, mengapa dalam perdebatan mengenai energi dan pembangunan masyarakat justru berbicara tentang tapa?

Dalam tradisi Sunda, gunung tidak pernah dipandang hanya sebagai bentang alam. Ia bukan sekadar tanah yang dapat diukur luasnya atau ruang yang dapat dihitung nilai ekonominya. Gunung merupakan bagian dari tatanan kehidupan yang lebih besar. Dari lereng-lerengnya mengalir air yang menghidupi sawah dan permukiman. Dari hutannya lahir keseimbangan ekologis yang menjaga keberlangsungan hidup manusia. Dalam berbagai tradisi lisan maupun pandangan hidup masyarakat Sunda, gunung juga dipahami sebagai ruang yang mengajarkan kerendahan hati karena manusia menyadari dirinya hanyalah bagian kecil dari alam yang jauh lebih besar.

Karena itu, seruan agar seorang pemimpin "bertapa" di Gunung Gede Pangrango sesungguhnya dapat dibaca sebagai ajakan untuk memahami terlebih dahulu apa yang akan diputuskan. Sebelum sebuah kebijakan ditetapkan, sebelum alat-alat berat datang, dan sebelum tanah dibor untuk mencari energi, ada kebutuhan untuk mendengarkan suara yang sering kali tidak tercatat dalam dokumen perencanaan: suara ekologi, suara kebudayaan, dan suara masyarakat yang hidup bersama gunung tersebut.

Ironisnya, pembangunan modern sering bergerak dengan logika yang berbeda. Alam dipandang sebagai kumpulan sumber daya yang menunggu untuk dimanfaatkan. Hutan menjadi cadangan kayu. Sungai menjadi sumber air baku. Gunung menjadi cadangan energi. Nilai suatu kawasan kemudian ditentukan berdasarkan seberapa besar manfaat ekonominya dapat dikonversi menjadi angka pertumbuhan.

Cara pandang semacam ini memang menghasilkan efisiensi. Namun ia juga menyimpan bahaya. Ketika alam direduksi menjadi objek produksi, fungsi-fungsi lain yang jauh lebih penting sering kali terabaikan. Yang terlihat hanyalah potensi yang dapat diekstraksi, sementara hubungan ekologis yang menopang kehidupan justru luput dari perhatian.

Di sinilah kritik masyarakat terhadap rencana pengembangan panas bumi di kawasan Gunung Gede Pangrango menemukan relevansinya. Persoalannya bukan sekadar soal setuju atau tidak setuju terhadap energi terbarukan. Panas bumi memiliki peran penting dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan menghadapi krisis iklim global. Namun mendukung transisi energi tidak berarti menutup mata terhadap pertanyaan mengenai lokasi, dampak ekologis, dan proses pengambilan keputusan yang menyertainya.

Gunung Gede Pangrango bukan kawasan biasa. Ia merupakan salah satu benteng ekologis penting di Pulau Jawa yang menyimpan keanekaragaman hayati, menjaga siklus hidrologi, dan menjadi penyangga kehidupan bagi masyarakat di wilayah sekitarnya. Fungsi-fungsi tersebut sering kali tidak muncul dalam laporan keuntungan investasi, tetapi manfaatnya dirasakan setiap hari oleh jutaan orang yang bergantung pada air dan keseimbangan lingkungan yang dijaga oleh kawasan tersebut.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Di sisi lain, polemik ini juga memperlihatkan bagaimana kebijakan publik semakin didominasi oleh pendekatan teknokratis. Keputusan-keputusan besar sering kali disusun melalui studi kelayakan, perhitungan biaya-manfaat, dan target-target pembangunan yang tampak objektif. Semua itu memang penting. Namun persoalannya muncul ketika proses tersebut tidak memberi ruang yang cukup bagi pengetahuan lokal, pengalaman masyarakat, dan pertimbangan ekologis yang tidak selalu dapat diterjemahkan menjadi angka.

Akibatnya, pembangunan sering kali dipahami sebagai persoalan teknis semata, padahal ia juga merupakan persoalan politik dan kebudayaan. Siapa yang menentukan masa depan suatu wilayah? Pengetahuan siapa yang dianggap sah? Kepentingan siapa yang diprioritaskan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering kali tenggelam di balik bahasa teknis yang membuat sebuah kebijakan tampak netral, meskipun dampaknya sangat nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

Di sinilah satire dalam spanduk tersebut menemukan maknanya. Masyarakat tentu tidak benar-benar meminta gubernur meninggalkan pekerjaannya untuk bertapa di puncak gunung. Yang mereka kritik adalah kecenderungan pengambilan keputusan yang terlalu cepat mengubah bentang alam menjadi objek perhitungan ekonomi tanpa terlebih dahulu memahami makna yang dikandungnya.

Mungkin yang dibutuhkan bukanlah wangsit dalam pengertian mistis, melainkan kebijaksanaan dalam pengertian politik. Kebijaksanaan untuk menyadari bahwa tidak semua nilai dapat diukur dengan megawatt, investasi, atau pertumbuhan ekonomi. Kebijaksanaan untuk memahami bahwa keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang energi bersih, tetapi juga tentang kemampuan menjaga ekosistem yang selama ini menopang kehidupan.

Transisi energi adalah kebutuhan. Namun keberlanjutan akan kehilangan maknanya jika ia dibangun dengan mengorbankan fondasi ekologis yang membuat kehidupan tetap mungkin berlangsung. Sebab energi dapat dicari di banyak tempat, tetapi tidak semua ekosistem dapat digantikan ketika telah rusak.

Karena itu, seruan agar pemimpin "bertapa" sebelum menggali gunung sesungguhnya bukan ajakan untuk kembali ke masa lalu. Ia adalah pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi dan ambisi pembangunan, masih ada satu hal yang tidak boleh ditinggalkan: kemampuan untuk berhenti sejenak, merenung, dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.

Sebab sebelum menggali perut gunung, barangkali yang lebih dahulu perlu digali adalah kedalaman pertimbangan kita sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)