Merawat Cahaya di Tengah Rimba Digital

6 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Kamis 18 Jun 2026, 06:40 WIB
Ilustrasi muslimah sedang membaca alquran digital. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)

Ilustrasi muslimah sedang membaca alquran digital. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)

Udara malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Bada salat Isya, saat asyik membaca Hijrah Sehari-hari Milenial, karya Adzka dan Azky yang disunting Ahmad Muhibi dan diterbitkan Yayasan Islam Cinta Indonesia (2019).

Suasana tenang itu tiba-tiba terusik oleh ketukan di pintu. "Assalamualaikum."

Kubergegas membuka pintu. Di hadapan berdiri Aa Akil, anak kedua (11 tahun) yang baru pulang dari pengajian. Ya, tidak seperti biasanya, malam itu wajahnya tampak murung.

Sambil mengusap kepalanya, kubertanya pelan, "Kunaon, Aa?"

Peserta melakukan pawai obor pada peringatan Bandung Lautan Api 2019 saat melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Sabtu (23/3/2019) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Peserta melakukan pawai obor pada peringatan Bandung Lautan Api 2019 saat melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Sabtu (23/3/2019) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Drama Pawai Obor

Dengan nada kecewa, menjawab, "Bah, pawai obornya jadi tidak ada. Kalau mau ikut, harus gabung ke pengajian lain dan izin dulu ke orang tua. Tadi Yasku ikut ke Al-Barokah."

"Aa henteu ngiring?" tanyaku.

"Enggak, di sini saja," jawabnya singkat sambil mengambil koran yang tergeletak di meja. Ya seperti kebiasaannya, terus larut membuka halaman demi halaman, mencari rubrik favoritnya, Tunggu Dulu dan Gelora.

Selang beberapa menit membaca, matanya tertuju pada saru berita tentang ancaman digital. Dengan raut penasaran, menunjukkan halaman itu, "Kok bisa ya, Bah?" tanyanya.

"Muhun," jawabku singkat.

Setelah itu justru pikiran tenggelam dalam renungan. Anak-anak memang sering kali belajar dari tektek bengek yang sederhana. Kekecewaan karena pawai obor yang batal hanya berlangsung semalam. Besok pagi bisa jadi sudah terlupakan. Tetapi rasa ingin tahu yang muncul saat membaca berita, bisa menjadi cahaya yang bertahan lebih lama daripada nyala obor itu sendiri.

Obor sesungguhnya bukan hanya yang menyala di ujung bambu dan menerangi jalan pada malam hari. Obor bisa berupa pengetahuan yang menyalakan pikiran. Hadir dalam bentuk buku yang dibaca, koran yang dibuka, pertanyaan polos bocil yang sedang berusaha memahami dunia.

Sungguh malam itu, menyaksikan dua cahaya yang berbeda. Pertama, padam sebelum sempat dinyalakan. Alih-alih pawai obor yang batal digelar. Kedua, justru menyala diam-diam. Dengan terus merawat rasa ingin tahu anak yang tumbuh dari lembaran koran yang dibaca.

Walhasil, dalam hidup ini, tak semua obor harus berarak di jalanan. Justru sebagian cukup menyala di dalam kepala dan hati, menerangi langkah seseorang jauh lebih lama daripada cahaya yang tampak oleh mata.

Hijrah digital sejatinya adalah tentang menjaga diri, menjaga hati, dan menjaga nilai-nilai Islam tetap hidup dalam dunia yang serba cepat, instan, dan sering kali bising. (Sumber: www.ump.ac.id)

Ancaman Digital, Kian Mengikat

Setiap kali Muharam datang, umat Islam diajak menengok perjalanan hijrah Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah. Peristiwa itu bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan titik balik peradaban yang mengubah cara berpikir, hidup, dan membangun masyarakat yang lebih bermartabat.

Hijrah sesungguhnya tidak pernah berhenti pada kisah sejarah. Melainkan terus hidup dalam setiap zaman, menuntut manusia untuk berani meninggalkan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik.

Untuk di era digital kita hidup dalam dunia yang terhubung oleh layar dan jaringan internet. Dalam hitungan detik, informasi dapat menjangkau ribuan, bahkan jutaan orang. Meskipun kemajuan teknologi menghadirkan tantangan baru.

Pasalnya, ruang digital yang seharusnya menjadi sarana berbagi ilmu dan kebaikan sering kali berubah menjadi arena pertengkaran, ujaran kebencian, fitnah, dan penyebaran hoaks.

Betapa tidak, penggunaan internet di kalangan anak-anak Indonesia melonjak signifikan dalam empat tahun terakhir. Data tahun 2024 mencatat 73,90% anak usia 5-17 tahun telah mengakses internet, meningkat tajam dari 49,59% pada 2020.

Rupanya, pada saat yang sama, ancaman di ruang digital terhadap anak kian beragam, mulai dari perundungan siber, eksploitasi seksual, hingga penyalahgunaan data pribadi.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menguraikan lonjakan akses digital itu harus segera diimbangi dengan penguatan perlindungan anak. Dengan memastikan ruang digital yang aman bagi anak bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kewajiban negara dan tanggung jawab kita bersama.

Jumlah anak Indonesia saat ini mencapai sekitar 79,9 juta jiwa (28,38%) dari total penduduk. Besarnya proporsi itu menjadikan perlindungan anak di ruang digital sebagai isu strategis nasional yang tidak bisa ditunda.

Perpres Nomor 87 Tahun 2025 menjadi landasan kebijakan nasional perlindungan anak diranah digital hingga 2029. Kebijakan itu berfokus pada tiga strategi utama, pencegahan, penanganan, dan kolaborasi lintas sektor. Implementasi peta jalan itu membutuhkan sinergi seluruh kementerian dan lembaga sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menyatakan perkembangan teknologi informasi menghadirkan peluang dan tantangan serius bagi tumbuh kembang anak.

Selama ini, Kemendikdasmen telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, yang ditindaklanjuti melalui Keputusan Menteri Nomor 17 Tahun 2026 tentang Pedoman Penyelenggaraan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Kebijakan ini hadir untuk memperkuat aspek keadaban dan keamanan digital yang berlaku bagi seluruh warga sekolah. Ruang lingkup perlindungannya mencakup aktivitas di ruang digital dan media daring yang berkaitan dengan proses pendidikan maupun interaksi antarwarga sekolah.

Kemendikdasmen terus berkomitmen mengintegrasikan materi perlindungan anak di ranah digital ke dalam pembelajaran, meningkatkan kapasitas pendidik, serta memperluas edukasi keamanan digital kepada peserta didik dan orangtua. Teknologi harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan ancaman. (Pikiran Rakyat edisi 11 Juni 2026).

Sebarkan Kebaikan, Bukan Kebencian! ✨💜 Jangan biarkan dunia maya dipenuhi kebencian! (Sumber: Instagram @olimpiade_update)

Ayo Sebarkan Cinta

Tugas kita sebagai generasi muslim milenial adalah menyebarkan ajaran “rahmatan lilalamin” kepada kawan, kerabat, keluarga, tetangga, bangsa, negara, dan antar umat beragama, antar sesama manusia. Dalam bahasa lain, kita harus mampu mengubah akhlak buruk menjadi akhlak baik dan mulia kepada setiap penghuni di muka bumi tanpa terkecuali.

Sebab, “hijrah” itu merupakan perubahan konsep, falsafah, dan praktik hidup dari tidak baik menjadi baik.

“Hijrah” kontekstual ialah hijrah yang tidak dilakukan dengan keserampangan sikap dan tindakan. Namun, dengan kedewasaan berpikir, kebijaksanaan bersikap, dan keramahan bertindak. Sehingga kita tidak mudah terjebak dengan radikalisme, ekstrimisme dan tindakan barbar dalam hidup ini.

Harapannya, tidak ada lagi milenial muslim Indonesia yang memahami bahwa “hijrah” ialah berbondong-bondong berangkat ke Suriah bergabung dengan ISIS.

Nggak ada lagi anak muda yang memutuskan pindah kewarganegaraan, karena alasan sistem Negara Republik Indonesia tidak berlandaskan Syariah Islam. Nggak ada lagi yaa!

Nggak ada lagi anak muda yang punya paham berjihad itu dengan memanggul senjata dan menebarkan teror dimana-mana.sebagai generasi muda, kita harus yakin bahwa jihad kita adalah menebarkan cinta dan damai kepada sesama.

Paling tidak ada sembilan ikhtiar praktis mulai dari hijrah hidup lebih baik, tentang cinta, teladani akhlak Nabi, bergaul dengan ramah, berdamai dengan diri sendiri, saling sayang, sahabatan meski beda agama, sebar cinta di medsos sampai toleran itu keren. (Adzka dan Azky, 2019: 15-23).

Bila hijrah fisik Nabi dahulu melahirkan peradaban Madinah yang penuh persaudaraan, maka hijrah digital hari ini diharapkan mampu melahirkan ruang-ruang virtual yang lebih sehat, santun, dan manusiawi.

Pasalnya, setiap kata yang kita tulis, setiap unggahan yang kita sebarkan, dan setiap jejak digital yang kita tinggalkan harus menjadi bagian dari amal yang harus dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, hijrah digital mengajarkan tentang perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Sudah saatnya memastikan jemari kita menjadi jalan hadirnya kebaikan bagi sesama, kemaslahatan umat. Agar pelita itu tak padam di tengah belantara digital. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Biz 18 Jun 2026, 09:10

Harapan dari Genangan Waduk, Desa Cisurat Bangkit dari ‘Mengkhawatirkan’ Jadi BRILian

Desa Cisurat tidak lagi maratapi dampak waduk, mereka sudah belajar hidup bersamanya dengan cara yang makin cerdas dan terencana.

Nelayan di Waduk Jatigede, Desa Cisurat, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung,id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 07:46

Tapa Sebelum Melobangi Gunung

"Gubernur kedah tapa di Gunung Gede-Pangrango."

Sebuah spanduk di depan kantor ESDM Provinsi Jawa Barat (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 06:40

Merawat Cahaya di Tengah Rimba Digital

Hijrah digital mengajarkan tentang perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Sudah saatnya memastikan jemari kita menjadi jalan hadirnya kebaikan bagi sesama, kemaslahatan umat.

Ilustrasi muslimah sedang membaca alquran digital. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)
Ayo Netizen 18 Jun 2026, 06:24

Pesepeda Tewas di Jalan Soekarno-Hatta: Apakah Kita Terlalu Cepat Menyalahkan Korban?

Kecelakaan pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta mengingatkan bahwa keselamatan jalan bukan hanya soal perilaku pengguna, tetapi juga kualitas infrastruktur yang tersedia.

Polisi melakukan olah TKP. (Sumber: Dok. Unit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 20:29

Di Balik Publikasi Digital Program Operasi Katarak Gratis

Analisis publikasi digital program operasi katarak gratis Summarecon Agung dalam melihat konsistensi pesan, strategi komunikasi, dan pengelolaan citra perusahaan melalui berbagai media

Penulis sedang menganalisis teknik penulisan Summarecon Agung Tbk dari tiga platform.
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 20:09

Tamasya ke Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih, Oase Hijau di Tengah Kota Surabaya

Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih Surabaya merupakan bekas TPA yang disulap menjadi ruang terbuka hijau dengan taman tematik dan fasilitas rekreasi.

Taman Harmoni & Hutan Bambu Keputih jadi tempat wisata favorit di Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Linimasa 17 Jun 2026, 19:12

Hikayat Taman Alun-alun Regol, Dari Bantaran Sungai Tempat Pembuangan Sampah Menjadi Tumpuan UMKM Hingga Tak Terawat

Kisah Alun-alun Regol Bandung yang berubah dari bantaran sungai penuh sampah menjadi ruang publik lalu mulai meredup.

Alun-alun Regol, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 19:09

Toponimi Lembang (Bagian 2)

Dengan mempelajari ilmu Toponimi kita jadi lebih tahu akar sejarah sebuah kawasan, termasuk sejarah Lembang.

Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 18:01

Mampukah Mahasiswa Menjaga Konsentrasi Belajar dari Distraksi Media Sosial?

Media sosial bisa jadi teman belajar atau justru pengganggu konsentrasi. Tulisan ini membahas cara mahasiswa tetap fokus dan produktif tanpa harus meninggalkan dunia digital.

Ilustrasi gangguan media sosial. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 17:30

Rupiah Melemah, BBM Naik: Ibulah yang Paling Dulu Merasakan Dampaknya

Rupiah melemah, BBM naik, dan biaya hidup kian mencekik. Ibulah yang paling dulu merasakan dampaknya. Lalu, apa akar persoalan sebenarnya?

Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 17:05

Itinerary 1–2 Hari Surabaya: Telusur Sejarah, Kuliner Legendaris, dan Wajah Baru Kota Pahlawan

Rekomendasi itinerary Surabaya untuk 1–2 hari, mulai Tugu Pahlawan, Ampel, hingga kuliner legendaris.

Balai Kota Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:58

Seni sebagai Perlawanan: Dari Raden Saleh ke Era Digital

Peran seni sebagai perlawanan, baik pada masa Raden Saleh maupun era digital saat ini.

Ilustrasi lukisan karya Raden Saleh dan seni modern. (Sumber: istimewa)
Bandung 17 Jun 2026, 16:44

Menghidupkan Ekosistem F&B Lewat Industry Night 2026, Saat Komunitas dan Kolaborasi Menjadi Kunci Bertahan

Dinamika industri F&B kini tidak lagi sekadar bicara soal persaingan menu viral atau estetika visual semata, melainkan bergeser ke arah kekuatan kolektif yang digerakkan oleh komunitas.

Di Industry Night, batas-batas kompetisi dilebur menjadi energi positif yang mendorong lahirnya koneksi, inspirasi baru, serta pertumbuhan usaha yang berkelanjutan secara bersama-sama. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:33

Hubungan Dagang Banten dan Lampung dalam Perniagaan Lada Abad ke-17

Menengok kembali sejarah perdagangan lada abad ke-17 di Banten dan Lampung.

Ilustrasi gambar lada. (Sumber: disbun.kaltimprov.go.id)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:47

Topeng Banjet : Warisan Budaya yang Mulai Tergerus Waktu

Kesenian Topeng Banjet yang ada sejak awal abad ke-20 merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Karawang.

Topeng Banjet merupakan kesenian tradisional khas Karawang, Jawa Barat. (Sumber: Wonderful Indonesia)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:27

Geliat Industri vs Infrastruktur Sukabumi Utara: Jalan Pakuwon Mendesak untuk Dibenahi

Kami memahami bahwa perbaikan total membutuhkan waktu, namun kami tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian dan ancaman bahaya.

Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:48

Membangun Stigma Positif Kesadaran Kolektif dalam Pajak

Narasi tentang pajak, sering kali menjadi stigma negatif dalam kehidupan sosial. Apa karena masyarakat masih berpikir stereotip, atau tata kelola pajak yang dianggap kurang adil.

Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:27

Sebelum Selebgram Ada Japanisasi: Propaganda Kecantikan dari 1943

Ketika iklan makeup dijadikan daya tarik propaganda pada masa Pendudukan Jepang 1942-1945.

Iklan Bedak Virgin dalam majalah Djawa Baroe edisi 15 Juli 1945 (Sumber: Website : universiteitleiden.nl)
Beranda 17 Jun 2026, 08:59

Cerita Pekerja Informal yang Ngalong di Tengah Cuaca Dingin Kota Bandung yang Kian Menggigit

Cerita para pekerja informal di Bandung yang terpaksa "ngalong" demi mencari nafkah di tengah cuaca Kota Bandung yang kian menggigit.

Di tengah udara dingin yang menggigit, Raja tetap setia berjualan cilok kuah hingga menjelang subuh di kawasan Dago Cikapayang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 08:01

Maradona, Malvinas, Juni dan Bandung

Sebuah memori siaran pertandingan Piala Dunia 1986 yang memunculkan legenda sepak bola dunia Maradona serta serunya masyarakat Bandung menonton saat itu

Ilustrasi Maradona. (Sumber: Flickr | Foto: Diego3336)