Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

5 menit baca
Topik Mulyana
Ditulis oleh Topik Mulyana diterbitkan
Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Puasa merupakan salah satu ibadah inti bagi umat Islam. Di sisi lain, puasa merupakan ibadah yang kita dapati semua agama di dunia. Maka, dapat dikatakan bahwa puasa dalam Islam merupakan salah satu ibadah yang berdimensi universal. Dalam surat Al-baqarah 183, disebutkan bahwa Allah telah mewajibkan berpuasa kepada kaum beriman, sebagaimana telah diwajibkan kepada umat sebelumnya, agar mereka bertakwa.

Demikian juga dalam masyarakat Sunda pra-Islam, puasa merupakan hal lumrah yang mereka lakukan. Gambaran akrabnya masyarakat Sunda pra-Islam dengan puasa tampak pada naskah-naskah Sunda kuna (NSK) yang ditulis sebelum abad ke-17. Dalam naskah Sewaka Darma, terdapat frasa yang berbunyi sanyarah pupuasaan (Darsa, 2012). Selain itu, kata puasa juga terdapat dalam NSK koleksi Kabuyutan Ciburuy yang belum terkodifikasi, berbunyi: butik, baluk, puasa, sakweh sumadang tapa (Nurwansah, 2020). Dalam NSK paling populer, Sanghyang Siksakandang Karesian (SSK), memang tidak didapati istilah puasa. Namun, puasa dalam pengertian konseptual, yakni menahan diri, kita dapati di banyak bagian NSK yang tahun lalu ditetapkan sebagai Memory of World oleh UNESCO ini.

Pemaknaan  

Puasa dalam Islam disebut shaum, berarti ‘menahan diri’. Secara kontekstual, berarti menahan diri dari makan, minum, dan aktivitas seksual, dll. Dalam kitabnya, al Jami' li Ahkam al Qur’an, Al Qurthubi berpendapat, ketika seseorang sedikit makan, hawa nafsunya akan melemah, dorongan berbuat maksiat pun akan berkurang (Ramadhani, 2019: 46). Al Ghazali, ahli tasawuf kenamaan, berpendapat bahwa lapar adalah inti dari puasa. Dalam kitabnya, Ihya ‘Ulum al Din, beliau menyebutkan bahwa lapar akan memberikan efek penting dalam kehidupan manusia. Sumber segala bencana dan penyakit berasal dari nafsu perut, lapar mampu mengekangnya (Ramadhani, 2019: 47). Konsep-konsep puasa seperti itulah yang terdapat dalam SSK. 

Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian yang terbuat dari daun gebang (Corypha gebanga) koleksi Perpustakaan Nasional. (Sumber: Unesco)
Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian yang terbuat dari daun gebang (Corypha gebanga) koleksi Perpustakaan Nasional. (Sumber: Unesco)

Dasa Indriya, 10 Pintu Masuk Hawa Nafsu

Bagian awal SSK menjelaskan fungsi mempelajari naskah tersebut, yakni mewujudkan kesejahteraan kehidupan di bumi yang luas (pakeun ngretakeun bumi lamba di bumi tan parek). Indikator dari kesejahteraan hidup itu adalah terkendalinya kesepuluh anggota tubuh (dasa indriya) manusia yang disebut dengan dasa kreta. Untuk mencapainya, manusia harus mampu mengendalikannya berdasarkan aturan yang disebut dasa sila. Kesepuluh indera—telinga, mata, kulit, lidah, hidung, mulut, tangan, kaki, dubur, dan alat kelamin—tidak boleh digunakan secara sembarangan (Danasasmita, dkk., 1987). Jika dilanggar, kita akan terkena bencana (kenana dora bancana) yang menyebabkan hidup kita sengsara dan terhina (nemu mala na lunas papa naraka). 

Siwok Cante, Hasrat Makan-Minum

Penyajian makanan zaman kini di kafe-kafe yang dibuat semenarik mungkin agar menggugah selera konsumen. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Penyajian makanan zaman kini di kafe-kafe yang dibuat semenarik mungkin agar menggugah selera konsumen. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Bagian berikutnya disebut karma ning hulun, tugas dan aturan yang harus ditaati rakyat. Salah satunya menyebutkan, jika mendapatkan tugas dari raja, ia harus harus waspada terhadap empat hal yang dapat menggagalkannya: siwok cante (tergoda oleh hasrat makan minum), simur cante (membantu pihak yang dibenci raja), simar cante (mengambil dagangan tanpa disuruh pemiliknya), dan darma cante (berempati pada pesakitan). Keempatnya disebut catur yatna, ‘empat kewaspadaan’. 

Menarik bahwa tergoda oleh makan minum (kawujukan ku hakan inum), siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara. Seseorang yang sedang mengemban tugas negara memiliki fasilitas-fasilitas yang diberikan negara. Jika digunakan secara berlebihan atau tidak sesuai peruntukan, ia akan lalai sehingga gagal menunaikan tugas. Dalam hidup kekinian, siwok cante inilah yang barangkali menjadi pangkal korupsi atau yang dalam Islam disebut fasad (rusak).

Nyatu Tamba Ponyo, Disiplin Diri 

Di samping karma ning hulun, ada aturan tambahan yang disebut pangimbuh ning twah. Jika karma ning hulun banyak membahas aturan rakyat dalam hubungannya dengan majikan atau pejabat negara, pangimbuh ning twah membahas disiplin diri sendiri dan pendidikan keluarga. Salah satunya berbunyi jaga rang hees tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kanjongjonan (hendaknya kita tidur sekadar penghilang kantuk, minum tuak sekadar penghilang haus, makan sekadar penghilang lapar, jangan kita berlebih-lebihan). 

Memenuhi kebutuhan hidup haruslah secukupnya, tidak berlebih-lebihan. Hal ini berdampak luas dalam kehidupan sosial, sebagaimana disebutkan Al Ghazali di bagian awal tulisan ini. Tidur, makan, dan minum yang berlebihan akan menimbulkan penyakit bagi diri sendiri. Dikaitkan dengan tata kelola pangan dan lingkungan, jika konsumsi berlebihan, ada tuntutan untuk alih fungsi lahan yang berpotensi merusak lingkungan dan menimbulkan bencana. Disiplin diri berdampak pada peningkatan mutu sumber daya manusia dan efisiensi sumber daya alam.

Mengenai tuak, harus segera ditambahkan bahwa tuak yang disebutkan dalam SSK bukanlah tuak yang memabukkan mengingat tujuan meminumnya adalah menghilangkan haus (tamba hanaang). Masyarakat adat Baduy kerap membuat tuak dari pohon lengkuas yang rasanya tawar, seperti air mineral. Tuak yang dari pohon aren dan kelapa rasanya sedikit asam harus segera diminum, tidak boleh dibiarkan hingga mengalami fermentasi. Bagi mereka, mabuk-mabukan termasuk buyut atau perbuatan terlarang.

Wastu Siwong, Capaian Laku Puasa

Buku hasil transliterasi dan terjemahan kedua Sanghyang Siksakandang Karesian oleh Dinas Arsip Daerah Kota Cimahi 2024. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Buku hasil transliterasi dan terjemahan kedua Sanghyang Siksakandang Karesian oleh Dinas Arsip Daerah Kota Cimahi 2024. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Jika manusia mampu mengendalikan kesepuluh anggota tubuhnya, menghindari catur yatna, dan mendisiplinkan diri, ia akan menjadi wastu siwong, manusia paripurna. Wastu siwong adalah derajat manusia tertinggi, setelah janma wong (manusia bertabiat buruk) dan janma siwong (manusia bertabiat baik tapi bodoh). Wastu siwong adalah manusia yang manusia baik dan bijak; teguh dalam memegang prinsip serta memiliki pemahaman akan norma-norma sosial dan agama (teger di beunangna, nyaho wruh di sanghyang darma, nyaho di tato sanghyang ajnyana). 

Dalam Islam, wastu siwong berpadanan dengan al insaan al kamil. Dikaitkan dengan Al-baqarah 183, wastu siwong sinkron dengan konsep tattaquun, orang-orang yang bertakwa. Al Qurtubi memaknai takwa sebagai kemampuan menjaga diri dari perbuatan maksiat. Ramadhani (2019: 46) menyimpulkan bahwa orang beriman belum tentu bertakwa sehingga orang bertakwa lebih tinggi derajatnya daripada orang beriman.

Baca Juga: Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Dalam berbagai kebudayaan, puasa memegang peranan penting dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang mapan dan adiluhung. Puasa menjadi perilaku yang terbukti mampu menekan hasrat-hasrat mendasar manusia sehingga terhindar dari kerusakan sekaligus merangsang kreativitas dan upaya pemenuhan yang lebih luhur, seperti mengenali diri dan Tuhan. Leluhur Sunda, juga Nusantara pada umumnya, telah mencontohkan hal itu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Topik Mulyana
Tentang Topik Mulyana
Dosen Fakultas Filsafat Unpar, Ketua Padepokan Bumi Ageung Saketi

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)