Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Minggu 22 Feb 2026, 09:36 WIB
Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Di tengah riuh peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional, ingatan seolah diajak menelusuri lorong waktu menuju lembar-lembar lama yang pernah menghidupkan bahasa Sunda lembaran yang semula terbit di Kota Bogor sebelum menemukan denyut barunya di Kota Bandung.

Miéling Poé Basa Indung yang diperingati setiap 21 Februari menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen pelestarian bahasa daerah, khususnya bahasa Sunda di Tatar Sunda, sebagai kekayaan budaya di tengah arus globalisasi. Peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan ajakan nyata untuk mencegah kepunahan bahasa ibu melalui berbagai langkah, dari forum ilmiah hingga pembiasaan penggunaan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda.

Dalam konteks itulah, menarik menengok eksistensi Majalah Mangle, majalah berbahasa Sunda yang tetap bertahan hingga kini. Kehadirannya bukan sekadar media bacaan, tetapi penanda penting perjalanan sejarah pers daerah sekaligus penjaga denyut literasi masyarakat Sunda.

Majalah Mangle era 1960-an saat masih terbit di Bogor. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Majalah Mangle era 1960-an saat masih terbit di Bogor. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Nama Mangle, yang berarti ranggeuyan kembang atau untaian bunga, pertama kali terbit pada 21 November 1957. Di balik kelahirannya berdiri sejumlah tokoh penting seperti Oetoen Moechtar, E. Rohamina Sudarmika, Wahyu Wibisana, Sukanda Kartasasmita, Saleh Danasasmita, Utay Moechtar, dan Alibasah Kartapranata. Dari tangan merekalah majalah ini tumbuh menjadi salah satu simbol ketahanan pers berbahasa daerah.

Sebelum kemunculannya, denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906). Namun masa pendudukan Jepang menjadi babak suram karena pembatasan bahasa daerah dalam penerbitan. Kebangkitan baru terjadi setelah kemerdekaan, terutama pada dekade 1950–1970-an ketika puluhan media Sunda bermunculan dan menandai masa keemasan pers berbahasa daerah.

Kebangkitan baru terjadi setelah Indonesia merdeka. Pada era 1950–1970-an, media berbahasa Sunda kembali bermekaran. Nama-nama seperti Pajajaran (1949), Panghegar (1952), Warga (1954), Candra (1954), Kiwari (1957), Sari (1963), Sangkuriang (1964), Campaka (1965), Kutawaringin (1966), Baranangsiang (1966), hingga Pelet (1966) turut meramaikan media cetak Sunda. Masa itu kemudian dikenang sebagai masa keemasan pers berbahasa daerah.

Penulis bersama sastrawan Sunda Aam Amilia dan Abdullah Mustappa di kediamannya. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Penulis bersama sastrawan Sunda Aam Amilia dan Abdullah Mustappa di kediamannya. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Namun, seiring berjalannya waktu, satu per satu media itu gugur. Kini, hanya Mangle dan Galura yang masih bertahan. Sementara nama-nama seperti Cupumanik, Seni Budaya, Ujung Galuh, Sunda Midang, Bina Da’wah, Iber, Balebat, Hanjuang Bodas, Logay, Panggugah, dan Sampurasun tinggal dikenang sebagai jejak sejarah.

Seiring waktu, sebagian besar media tersebut berhenti terbit. Kini hanya segelintir yang masih bertahan, menjadikan Mangle sebagai salah satu saksi hidup perjalanan panjang itu. Pada masa jayanya di era 1970-an, oplahnya pernah mencapai sekitar 150 ribu eksemplar per bulan angka yang menunjukkan kuatnya minat baca masyarakat terhadap media berbahasa daerah saat itu.

Lebih dari sekadar majalah, Mangle juga menjadi ruang lahirnya para pengarang Sunda. Di bawah kepemimpinan redaksi M.H. Rustandi Kartakusumah dan Gondewa, muncul nama-nama penulis seperti Rahmat M. Sas Karana, Tatang Sukanda, Us Tiarsa, dan Aam Amilia. Karya-karya mereka memperkaya khazanah sastra Sunda modern sekaligus memperkuat posisi majalah ini sebagai pusat kreativitas literasi daerah.

Baca Juga: Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Memasuki babak baru, pengelolaan majalah ini kini melibatkan Universitas Padjadjaran melalui Pusat Budaya Sunda Unpad. Peresmian pengelolaan berlangsung 20 Mei 2025 di Graha Sanusi Hardjadinata sebagai bagian dari penguatan peran kampus dalam pengembangan kebudayaan daerah. Secara kelembagaan, penerbitan tetap berada di bawah Mangle, sementara arah redaksional difokuskan pada konten kebudayaan dan pengetahuan.

Dengan konsep baru, majalah ini direncanakan terbit bulanan dalam format cetak dengan oplah terbatas. Desain dan rubrik diperbarui agar lebih merepresentasikan kebudayaan Sunda serta memberi ruang bagi penulis dari berbagai kalangan, baik akademisi maupun masyarakat umum.

Kini, di tengah derasnya arus digital dan perubahan pola baca, Mangle tetap teguh berdiri. Ia bukan sekadar produk media, melainkan cermin keteguhan budaya untuk terus hidup. Selama bahasa Sunda masih diucapkan dan dibaca, untaian bunga bernama Mangle akan terus mekar di taman pers Indonesia menjadi penanda bahwa bahasa ibu bukan sekadar warisan, melainkan sumber kehidupan kebudayaan yang tak lekang oleh waktu. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04 WIB

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.
Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08 WIB

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.
Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02 WIB

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.
Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43 WIB

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.
Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36 WIB

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).
Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 22 Feb 2026, 07:10 WIB

Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang
Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Biz 21 Feb 2026, 21:53 WIB

Konektivitas Singapore Airlines Group Jadi Motor Penggerak Pariwisata Inbound Indonesia

Ia menyebutkan bahwa Indonesia, bersama China dan Australia, merupakan pasar penerimaan pariwisata (tourism receipt) utama bagi Singapura.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: singaporeair)
Beranda 21 Feb 2026, 14:48 WIB

Wajah Ramadan yang Dinamis di Masjid Salman ITB

Di balik padatnya rangkaian ibadah, terdapat enam program yang dirancang untuk menjawab kebutuhan jemaah dari beragam latar belakang.
Kegiatan Ramadan di Masjid Salman ITB menjelang waktu berbuka puasa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 21 Feb 2026, 10:41 WIB

Di Balik Jepretan Kamera di Dago: Antara Faktor Ekonomi dan Privasi Pelari

Namun di balik kemudahan itu, ada sisi lain yang tak selalu terlihat. Jika ada pelari yang keberatan, ia memil
Seorang fotografer mengabdikan para pelari di daerah Dago, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Feb 2026, 21:17 WIB

5 Aktivitas Ngabeubeurang yang Berfaedah

Dengan melakukan aktivitas ngabeubeurang, kita belajar ihwal puasa bukan sekadar ritual tahunan.
Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 20 Feb 2026, 18:55 WIB

Dari Godin hingga Nyemen, 5 Istilah Lokal untuk Batal Puasa

Istilah untuk membatalkan puasa sebelum waktunya, baik secara diam-diam maupun sengaja.
Ilustrasi makan masakan khas Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Masjid Pogung Raya)
Bandung 20 Feb 2026, 16:48 WIB

Rasa Legit Klepon di Tengah Munculnya Takjil Modern, Rana Rusmana Pilih Bertahan Sejak 2006

Klepon bukan sekedar jajanan kue basah biasa yang kerap ditemui di area pasar kaget saja, namun keberadaannya sudah dikenal dalam potret gastronomi nusantara pada masa-masa tradisional.
Klepon bukan sekedar jajanan kue basah biasa yang kerap ditemui di area pasar kaget saja, namun keberadaannya sudah dikenal dalam potret gastronomi nusantara pada masa-masa tradisional. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 20 Feb 2026, 16:14 WIB

Benarkah Guru Honorer Sudah Sejahtera?

Realitas memaparkan, masih banyak guru honorer yang gajinya di bawah standar.
Gambar mengajar di kelas (Sumber: / | Foto: pixabay.com)
Bandung 20 Feb 2026, 16:10 WIB

Wangi Uang Baru di Tanah Pasundan: Menjaga Tradisi "Deudeul" saat Lebaran di Tengah Arus Digitalisasi

Lembaran Rupiah yang masih kaku dan bersih bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol kehormatan dalam tradisi deudeul atau memberikan uang jajan kepada sanak saudara saat Lebaran.
Lembaran Rupiah yang masih kaku dan bersih bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol kehormatan dalam tradisi deudeul atau memberikan uang jajan kepada sanak saudara saat Lebaran. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Feb 2026, 14:25 WIB

Cincin Api Pasifik dan Negara Rawan Gempa Bumi

Jepang dikenal sebagai negara maju dengan teknologi canggih, namun juga kerap diguncang gempa bumi.
Ilustrasi rumah setelah bencana gempa bumi. (Sumber: Pixabay/Angelo_Giordano)
Ayo Netizen 20 Feb 2026, 12:48 WIB

Lingkaran Setan Proyek Utilitas Kota dan Optimasi Padat Karya Pekerjaan Umum

Menyambut bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, persoalan proyek utilitas kota Bandung perlu segera dituntaskan.
Ilustrasi galian kabel di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 20 Feb 2026, 10:43 WIB

Jejak Bahasa Ramadan, Harmoni Arab dan Lokal dalam Religiusitas

Kosakata Ramadan di Indonesia sebenarnya terbagi dalam dua arus besar.
Masjid Al-Jabbar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 20 Feb 2026, 06:39 WIB

Baru Lahir, @ceritahegarmanah Langsung Tancap Gas Angkat UMKM dan Cerita Warga Lokal

Hegarmanah—yang dalam bahasa Sunda berarti hati yang bersih dan tulus—pelan-pelan menemukan wajah digitalnya.
Wina Elia, admin homeless media @ceritahegarmanah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Feb 2026, 05:34 WIB

Berkat Teknologi Retort Industri Makanan Kian Berkembang

Perkembangan teknologi retort di Kota Bandung saat ini pesat karena didorong oleh inovasi kuliner
Ilustrasi menu makanan hasil teknologi retort. (Sumber: Istimewa)