Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

3 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Di tengah riuh peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional, ingatan seolah diajak menelusuri lorong waktu menuju lembar-lembar lama yang pernah menghidupkan bahasa Sunda lembaran yang semula terbit di Kota Bogor sebelum menemukan denyut barunya di Kota Bandung.

Miéling Poé Basa Indung yang diperingati setiap 21 Februari menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen pelestarian bahasa daerah, khususnya bahasa Sunda di Tatar Sunda, sebagai kekayaan budaya di tengah arus globalisasi. Peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan ajakan nyata untuk mencegah kepunahan bahasa ibu melalui berbagai langkah, dari forum ilmiah hingga pembiasaan penggunaan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda.

Dalam konteks itulah, menarik menengok eksistensi Majalah Mangle, majalah berbahasa Sunda yang tetap bertahan hingga kini. Kehadirannya bukan sekadar media bacaan, tetapi penanda penting perjalanan sejarah pers daerah sekaligus penjaga denyut literasi masyarakat Sunda.

Majalah Mangle era 1960-an saat masih terbit di Bogor. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Majalah Mangle era 1960-an saat masih terbit di Bogor. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Nama Mangle, yang berarti ranggeuyan kembang atau untaian bunga, pertama kali terbit pada 21 November 1957. Di balik kelahirannya berdiri sejumlah tokoh penting seperti Oetoen Moechtar, E. Rohamina Sudarmika, Wahyu Wibisana, Sukanda Kartasasmita, Saleh Danasasmita, Utay Moechtar, dan Alibasah Kartapranata. Dari tangan merekalah majalah ini tumbuh menjadi salah satu simbol ketahanan pers berbahasa daerah.

Sebelum kemunculannya, denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906). Namun masa pendudukan Jepang menjadi babak suram karena pembatasan bahasa daerah dalam penerbitan. Kebangkitan baru terjadi setelah kemerdekaan, terutama pada dekade 1950–1970-an ketika puluhan media Sunda bermunculan dan menandai masa keemasan pers berbahasa daerah.

Kebangkitan baru terjadi setelah Indonesia merdeka. Pada era 1950–1970-an, media berbahasa Sunda kembali bermekaran. Nama-nama seperti Pajajaran (1949), Panghegar (1952), Warga (1954), Candra (1954), Kiwari (1957), Sari (1963), Sangkuriang (1964), Campaka (1965), Kutawaringin (1966), Baranangsiang (1966), hingga Pelet (1966) turut meramaikan media cetak Sunda. Masa itu kemudian dikenang sebagai masa keemasan pers berbahasa daerah.

Penulis bersama sastrawan Sunda Aam Amilia dan Abdullah Mustappa di kediamannya. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Penulis bersama sastrawan Sunda Aam Amilia dan Abdullah Mustappa di kediamannya. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Namun, seiring berjalannya waktu, satu per satu media itu gugur. Kini, hanya Mangle dan Galura yang masih bertahan. Sementara nama-nama seperti Cupumanik, Seni Budaya, Ujung Galuh, Sunda Midang, Bina Da’wah, Iber, Balebat, Hanjuang Bodas, Logay, Panggugah, dan Sampurasun tinggal dikenang sebagai jejak sejarah.

Seiring waktu, sebagian besar media tersebut berhenti terbit. Kini hanya segelintir yang masih bertahan, menjadikan Mangle sebagai salah satu saksi hidup perjalanan panjang itu. Pada masa jayanya di era 1970-an, oplahnya pernah mencapai sekitar 150 ribu eksemplar per bulan angka yang menunjukkan kuatnya minat baca masyarakat terhadap media berbahasa daerah saat itu.

Lebih dari sekadar majalah, Mangle juga menjadi ruang lahirnya para pengarang Sunda. Di bawah kepemimpinan redaksi M.H. Rustandi Kartakusumah dan Gondewa, muncul nama-nama penulis seperti Rahmat M. Sas Karana, Tatang Sukanda, Us Tiarsa, dan Aam Amilia. Karya-karya mereka memperkaya khazanah sastra Sunda modern sekaligus memperkuat posisi majalah ini sebagai pusat kreativitas literasi daerah.

Baca Juga: Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Memasuki babak baru, pengelolaan majalah ini kini melibatkan Universitas Padjadjaran melalui Pusat Budaya Sunda Unpad. Peresmian pengelolaan berlangsung 20 Mei 2025 di Graha Sanusi Hardjadinata sebagai bagian dari penguatan peran kampus dalam pengembangan kebudayaan daerah. Secara kelembagaan, penerbitan tetap berada di bawah Mangle, sementara arah redaksional difokuskan pada konten kebudayaan dan pengetahuan.

Dengan konsep baru, majalah ini direncanakan terbit bulanan dalam format cetak dengan oplah terbatas. Desain dan rubrik diperbarui agar lebih merepresentasikan kebudayaan Sunda serta memberi ruang bagi penulis dari berbagai kalangan, baik akademisi maupun masyarakat umum.

Kini, di tengah derasnya arus digital dan perubahan pola baca, Mangle tetap teguh berdiri. Ia bukan sekadar produk media, melainkan cermin keteguhan budaya untuk terus hidup. Selama bahasa Sunda masih diucapkan dan dibaca, untaian bunga bernama Mangle akan terus mekar di taman pers Indonesia menjadi penanda bahwa bahasa ibu bukan sekadar warisan, melainkan sumber kehidupan kebudayaan yang tak lekang oleh waktu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)