Hanya dalam hitungan hari, seluruh Indonesia khususnya Jawa Barat, akan kembali menjumpai fenomena tahunan yang sangat khas: War Takjil dan Ngabuburit. Jalanan yang semula lengang, tiba-tiba menjelma menjadi lautan manusia yang rela beradu siku demi segelas es buah atau gorengan hangat. Memang melelahkan, tapi di situlah letak keseruan dan 'keberkahan' unik yang selalu kita rindukan setiap tahunnya.
Tapi kalau diperhatikan, zaman sekarang ada pergeseran yang cukup menarik. Di tengah hiruk-pikuk klakson yang saling bersahutan, sebagian orang mulai memilih untuk 'menepi'. Mereka adalah kelompok yang enggan beradu peluh di tengah kemacetan dan lebih memilih mencari ketenangan di ruang privat. Bagi mereka, definisi ngabuburit bukan lagi soal aktivitas fisik, melainkan sebuah perjalanan digital yang terasa lebih intim.
Pergeseran ini cuma bentuk pertahanan diri yang logis. Saat raga sudah mencapai batasnya setelah bekerja, yang kita cari bukan lagi keramaian sore yang bising, tapi jeda yang hening. Rasanya, drama antrean di luar sana terkadang terlalu mahal harganya untuk dibayar dengan sisa tenaga kita yang tinggal sedikit.
Itulah mengapa istilah 'Ngabuburead' atau ngabuburit dengan literasi digital mulai populer. Terdengar lebih keren, bukan? Di momen ini, waktu tunggu berbuka dialihkan untuk menyerap insight baru.
Karena perlu disadari, Ngabuburead di era sekarang bukan hanya soal membaca buku fisik, tapi juga 'membaca' keadaan dan menyerap ilmu lewat narasi visual di layar. Daripada sekadar doomscrolling tanpa tujuan yang hanya menguras baterai ponsel dan emosi, kita bisa memilih untuk 'mengisi ulang' isi kepala lewat tayangan berkualitas.
Bagi saya yang juga kerap merasa kewalahan dengan ritme harian, memilih 'menepi' secara digital bukan sekadar gaya hidup, melainkan cara untuk menjaga kewarasan. Saat ini, banyak sekali program di YouTube yang sangat layak menemani aktivitas ngabuburit digital ini. Sebut saja kanal Escape milik Raymond Chin. Program yang awalnya identik dengan diskusi bersama Ustadz Felix Siauw ini, kini semakin berwarna dengan kehadiran Varen dan Koiyocabe. Formasi mereka berhasil memperkenalkan perspektif segar tentang bagaimana Islam memberikan kemudahan di tengah tantangan hidup yang kian kompleks
Pada awalnya, menyimak tayangan ini mungkin terasa sedikit berat atau 'suntuk', namun setelah menuntaskan beberapa episode, waktu rasanya tidak berjalan lama karena penyampaiannya yang mengalir seperti obrolan di tongkrongan anak muda biasa. Saya pribadi merasa kehadiran sosok Varen dalam diskusi tersebut menjadi poin yang sangat menarik. Pertanyaan-pertanyaan polos namun mendasar yang ia ajukan sering kali mewakili kebingungan kita selama ini—hal-hal yang ingin kita tanyakan, tapi bingung harus mengadu kepada siapa. Melalui dialog yang santai, 'Ngabuburead' melalui kanal ini menjadi sangat bermakna.
Bergeser sedikit ke tayangan lainnya, jika kita merindukan diskusi lintas iman yang renyah namun tetap 'bergizi', program Log In milik Deddy Corbuzier tetap menjadi primadona. Bersama Habib Ja'far, penonton diajak menyelami keberagaman dengan cara yang tidak kaku—sangat cocok dengan napas masyarakat Jawa Barat yang dikenal toleran dan inklusif.
Fenomena ini mulai terlihat di berbagai sudut daerah; para pemuda yang memilih menepi dengan earphone terpasang demi menyimak tayangan yang berisi.
Baca Juga: Lembang Tempo Dulu
Tentu saja, daftar ini hanya sebagian kecil. Masih banyak podcast atau kanal YouTube lain yang isinya 'daging' semua dan siap menemani perjalanan puasa kita.
Tulisan ini bukan bermaksud membandingkan mana yang lebih baik, karena bagaimanapun, ngabuburit fisik di jalanan maupun 'Ngabuburead' secara digital memiliki keasyikannya sendiri.
Dua-duanya memang bagian dari warna Ramadan di Tanah Pasundan. Tapi di tengah dunia yang makin bising, memilih untuk memberi asupan berkualitas bagi pikiran adalah cara paling tulus bagi kita untuk mengapresiasi diri sendiri. Walhasil, apa pun pilihan kita sore ini—mau ikut beradu siku di riuhnya pasar takjil atau memilih menyelami insight baru lewat layar ponsel—pastikan jeda waktu tunggu itu tidak lewat begitu saja tanpa arti. (*)
