AYOBANDUNG.ID - Suasana di Masjid Salman ITB pada sore hari pertama shaum Ramadan 1447 H, Jumat (20/2/2026), dipadati jemaah dari anak muda hingga orang tua. Berbeda dengan sejumlah masjid lain yang masih menempatkan perempuan di saf belakang laki-laki, dalam kajian di Masjid Salman sekat pemisah antara ikhwan (laki-laki) dan akhwat (perempuan) ditata sejajar. Hal kecil, namun menghadirkan pesan kesetaraan dalam kesempatan menimba ilmu.
Di layar besar yang terpasang di sisi kiri dan kanan ruangan, tampak Ustaz Hadian Akbar, seorang hafidz Al-Quran tunanetra yang diakui secara internasional, menyampaikan kajian Inspirasi Ramadan (IRAMA) bertema “Generasi Cinta Quran Membangun Masa Depan”.
Komunitas tunanetra juga hadir, tidak hanya sebagai penyimak, tetapi turut berbagi pengalaman tentang proses menghafal Al-Quran di hadapan ratusan jemaah.
Kajian IRAMA diselenggarakan selama 20 hari pertama bulan Ramadan oleh Panitia Pelaksana Program Ramadan dan Idul Adha (P3RI). Para pembicara dipilih bergantian dari berbagai latar belakang. Topiknya pun tidak melulu seputar agama, melainkan merambah isu gizi, ekonomi, kesehatan mental, hingga kepemimpinan.
Yazid Syauqi Al Ayyubi (19), Ketua P3RI, menjelaskan bahwa pemilihan narasumber dan tema kajian dilatarbelakangi keresahan pascademonstrasi terkait tunjangan DPR pada Agustus 2025 lalu.
“Pemilihan tema dan narasumbernya tuh berangkat dari (demo) itu, keresahan tadi, yang akhirnya dipilih jadi berbagai topik yang nanti dibahas di Inspirasi Ramadan selama 20 hari,” ungkap Yazid.
Menurutnya, tujuan kajian ini adalah meningkatkan kesadaran pemuda dan masyarakat terhadap isu-isu terkini, tanpa membatasi diri pada persoalan keagamaan semata.
Ustaz Hadian Akbar membuka rangkaian IRAMA dengan menekankan pentingnya inklusivitas dalam komunitas Al-Quran bagi tunanetra. Proses menghafal Al-Quran menjadi fokus utama, termasuk perjalanan panjang dan tantangan yang harus dilalui. Keajaiban Al-Quran dipandang sebagai anugerah universal yang dapat diakses siapa saja tanpa kecuali.
Ahmad Abu Al Fatih (22), moderator kajian sore itu, memahami dinamika acara. Ia memandu diskusi dengan empati terhadap kondisi narasumber.
“Tantangannya jelas, karena kondisi fisik beliau yang berbeda dengan kebanyakan orang, jadi aku harus bisa memposisikan diri seandainya aku berada di posisi yang sama,” ujar Ahmad, yang akrab disapa Mamad.

IRAMA hari pertama terasa berbeda dari kajian pada umumnya berkat sentuhan inklusif yang dihadirkan. Komunitas tunanetra yang hadir sebagai peserta pun diberi ruang untuk berbagi pengalaman. Jemaah tidak hanya mendengarkan ceramah, tetapi juga menyaksikan kisah nyata tentang perjuangan menghafal Al-Quran dari berbagai perspektif.
Kegiatan Ramadan di Masjid Salman tidak hanya berfokus pada kajian sore. Beragam agenda lain turut digelar, seperti Ramadan Day Care yang menyediakan pengawasan bagi anak-anak jemaah saat tarawih, program berbagi dan buka puasa bersama, serta salat tarawih berjemaah. Tarawih dipimpin imam yang telah ditunjuk, menambah kekhusyukan malam pertama puasa.
Ahmad memaknai Ramadan sebagai bulan Al-Quran. Ia berharap kajian IRAMA mampu mendorong jemaah semakin dekat dengan kitab suci. Sosok hafidz tunanetra seperti Ustaz Hadian, menurutnya, menjadi sumber inspirasi bagi anak muda maupun orang tua yang ingin memperdalam hafalan Al-Quran.
“Namanya bulan Ramadan adalah bulannya Al-Quran. Jadi dengan harapan menampilkan ceramah dari beliau, bisa memaksimalkan Ramadan agar lebih dekat dengan Al-Quran,” jelas Mamad.
Kajian IRAMA hari pertama berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif. Sejumlah jemaah masih bertahan selepas acara untuk berbincang dan berfoto bersama narasumber, sementara sebagian lain bersiap menyambut waktu berbuka yang kian mendekat.
