Dari Godin hingga Nyemen, 5 Istilah Lokal untuk Batal Puasa

3 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Ilustrasi makan masakan khas Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Masjid Pogung Raya)
Ilustrasi makan masakan khas Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Masjid Pogung Raya)

Bahasa selalu mencerminkan kebiasaan sosial masyarakat. Dalam praktik puasa Ramadan, muncul berbagai istilah tidak resmi yang digunakan untuk menyebut tindakan membatalkan puasa sebelum waktunya, baik secara diam-diam maupun sengaja.

Menariknya, kata-kata tersebut berasal dari daerah dan latar bahasa yang berbeda.

Berikut lima istilah yang cukup dikenal beserta asal-usulnya.

Godin

Istilah yang dikenal di kalangan penutur Sunda ini merujuk pada makan atau minum secara sembunyi-sembunyi saat puasa. Fokusnya bukan sekadar batal, tetapi pada tindakan menyelinap dan menghindari perhatian orang lain.

Nada kata ini sering terdengar ringan, bahkan kadang bercanda. Dalam percakapan santai, godin bisa diucapkan dengan nada menggoda atau menggoda balik, seolah menjadi bagian dari humor sosial yang akrab di bulan Ramadan.

Mokel

Di antara semua istilah, mokel mungkin yang paling dikenal luas. Kata ini berasal dari bahasa Jawa (terutama Jawa Timur) dan secara umum berarti membatalkan atau menghentikan sesuatu sebelum selesai. Dalam konteks Ramadan, maknanya mengerucut: membatalkan puasa sebelum waktunya, biasanya dengan makan atau minum.

Awalnya, penggunaan kata ini kuat di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, terutama dalam percakapan sehari-hari. Namun seiring waktu, mokel menyeberang batas daerah. Media sosial, pergaulan antardaerah, dan budaya populer membuatnya semakin umum digunakan bahkan oleh orang yang tidak memiliki latar bahasa Jawa.

Kini, mokel sering berfungsi sebagai istilah “payung” atau sebutan umum untuk segala bentuk batal puasa sebelum magrib, baik diam-diam maupun terang-terangan.

Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)

Mokah

Masih berakar dari tradisi bahasa Jawa Tengah, mokah punya nuansa yang sedikit berbeda. Kalau mokel sering diasosiasikan dengan tindakan diam-diam, mokah menekankan unsur kesengajaan.

Maknanya sederhana: membatalkan puasa dengan sadar. Tidak harus sembunyi-sembunyi. Yang penting, ada keputusan untuk berhenti berpuasa. Karena itu, kata ini terasa lebih lugas dan langsung, tanpa unsur humor yang kuat.

Dalam beberapa wilayah pesisir Jawa Tengah, istilah ini dikenal sebagai variasi lokal yang masih satu rumpun dengan mokel, tetapi dengan tekanan makna yang berbeda.

Budim

Berbeda dari yang lain, budim tidak berasal dari bahasa daerah tertentu. Kata ini lahir dari kebiasaan bahasa gaul yang gemar memendekkan frasa. Budim merupakan kependekan dari “buka diam-diam”.

Maknanya cukup jelas: berbuka sebelum waktunya tanpa diketahui orang lain. Kesederhanaan bentuknya membuat kata ini mudah menyebar. Ia tidak terikat wilayah, tidak terikat dialek, karena cukup dengan pola bahasa populer yang cepat, ringkas, dan mudah diingat.

Budim menunjukkan bahwa bahasa Ramadan tidak hanya tumbuh dari tradisi lama, tetapi juga dari kreativitas generasi sekarang.

Nyemen

Di kalangan anak muda Pulau Jawa, ada istilah lain yang terdengar lebih santai: nyemen. Kata ini merujuk pada tindakan menyicip atau makan sedikit saat puasa—biasanya dengan pembenaran ringan, seperti “cuma coba” atau “sedikit saja”.

Nuansa kata ini hampir selalu bercampur humor. Ia tidak terdengar seberat mokah atau setegas mokel. Justru di situlah daya tariknya: bahasa menjadi ruang negosiasi, tempat manusia berdamai dengan godaan melalui kata-kata yang terasa lebih ringan.

Baca Juga: Mapag Puasa

Kelima istilah itu menunjukkan satu hal yang sama: bahasa mengikuti kehidupan. Ketika suatu pengalaman cukup sering terjadi, masyarakat akan menamainya dengan kadang serius, kadang jenaka, kadang sangat spesifik.

Ada kata yang menekankan niat, ada yang menekankan cara, ada yang menekankan kadar tindakan. Bahkan ada yang lahir dari kebiasaan bercanda.

Semua itu memperlihatkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah cermin kebiasaan, emosi, dan cara masyarakat memahami perilaku sehari-hari. Dalam hal puasa, bahasa bahkan menjadi ruang kecil tempat disiplin, godaan, humor, dan budaya bertemu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)