Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Minggu 15 Feb 2026, 07:26 WIB
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)

Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung. Bagaimana tidak bulan Ramadan 1447 Hijriyah diperkirakan akan dimulai sekitar 18-19 Februari 2026 dan berlangsung selama hampir satu bulan penuh, berakhir dengan Idul fitri sekitar 20-21 Maret 2026.

Apa yang membuat Ramadan kali ini begitu menarik adalah irisan waktu dengan beberapa momen keagamaan dan budaya lain yang berada berdekatan dalam kalender Umum—Masehi. Pada tahun ini, Tahun Baru Imlek diperingati pada 17 Februari 2026 dan dirayakan secara publik di banyak wilayah, Bandung adalah salah satunya. Pada periode yang berdekatan pula, Cap Go Meh sebagai puncak dari rangkaian perayaan musim semi, jatuh hampir ketika umat muslim baru memasuki minggu pertama Ramadan. Ini akan menjadi tradisi munggahan, momen menyambut bulan puasa, yang menyenangkan bukan? Tahun yang baru untuk bulan yang baru, dua hal dalam satu waktu.

Tidak hanya itu, tak jauh dari tanggal boboran siam, kita juga memperingati Nyepi, Hari Suci Keheningan yang jatuh pada 19 Maret 2026. Sebuah tahun baru dengan versi yang berbeda, khidmat dalam catur tapa brata penyepian yang terdiri atas amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Dua agama, dua budaya, satu ajaran pokok soal pengendalian diri menuju kemenangan yang hakiki.

Berbarengan dengan momen-momen tersebut, kalender 2026 juga menghadirkan Rabu Abu (Ash Wednesday) pada 18 Februari 2026, menandai awal masa Prapaskah bagi umat Kristen Barat yang berlangsung hingga Paskah pada 5 April 2026. Dalam periode Prapaskah ini, umat Katolik dan Protestan melakukan puasa—mengurangi jumlah makanan—dan pantang, misalnya menahan diri dari daging pada hari-hari tertentu, sebagai bentuk refleksi rohani, pengendalian diri, dan solidaritas dengan sesama. Menariknya, Rabu Abu ini hampir bersamaan dengan awal Ramadan, sehingga Bandung untuk kesekian kalinya akan menyaksikan simultansi spiritual lintas tradisi. Ialah pengendalian nafsu, pertobatan, dan disiplin batin menjadi tema bersama.

Kumpul-Kumpul dan Kontrol Ego

Di tengah irisan waktu yang unik ini, salah satu momen yang paling terasa adalah kebersamaan keluarga. Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh mengingatkan kita akan pentingnya menghidupkan tradisi leluhur, berkumpul, dan saling memberi penghormatan antar generasi. Di sisi lain, Ramadan dan Prapaskah menambahkan dimensi rohani, waktu untuk introspeksi diri, bersyukur, dan memperkuat ikatan keluarga melalui ritual dan doa bersama. Ada ziarah kubur, salah tarawih, buka puasa bersama, termasuk menerima komuni, bergereja, sampai tiba saatnya bersama-sama masuk ke dalam Pekan Suci. Begitupun Nyepi, kita menjalani tapa brata bebarengan, saling menjaga, berbagi makanan sederhana, dan merayakan tahun baru dengan refleksi serta kesadaran kolektif.

Suaana Jalan Cibadak, Kota Bandung, menjelang perayaan Imlek. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Suaana Jalan Cibadak, Kota Bandung, menjelang perayaan Imlek. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Momen kontrol ego dan disiplin diri menjadi inti kedua dalam periode ini. Imlek-Cap Go Meh, Ramadan, Nyepi, dan Prapaskah menuntut kita menahan nafsu, menegakkan pantang, dan fokus pada kesadaran batin. Yang menarik, pengendalian diri ini bukan sekadar isolasi dari dunia, melainkan cara untuk terhubung lebih baik dengan orang lain. Saat kita menahan nafsu, mengurangi konsumsi, atau menghentikan aktivitas tertentu, kita justru membuka ruang bagi empati, kesabaran, dan solidaritas sosial-ekologis. Ritual-ritual ini mengajarkan bahwa menghilangkan ego pribadi bisa memperkuat keterlibatan dalam komunitas, karena kita belajar memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan orang lain.

Pada satu titik, irisan momen-momen ini seyogyanya membentuk ritme spiritual yang harmonis di Bandung. Kota yang kian ringkih karena tekanan urbanisasi dan modernisasi dapat melihat peluang untuk menguatkan jaringan yang retak melalui praktik-praktik budaya dan keagamaan. Kumpul keluarga menghidupkan nilai tradisi etis dan keterikatan sosial, sementara disiplin spiritual—puasa, pantang, penyepian, etika—mengajarkan pengelolaan diri dan perhatian pada sesama. Kedua dimensi ini saling melengkapi bahwa kita belajar mengendalikan ego sekaligus memperluas kepedulian, sehingga keberagaman agama dan budaya di Bandung bukan menjadi sumber ketegangan, tetapi panggilan untuk saling menguatkan dan membangun komunitas yang sadar lagi bertanggung jawab.

Keterhubungan dengan Alam

Di tengah pusara ini, Bandung hadir sebagai kota kontemporer yang menunjukkan wajahnya yang lapuk secara ekologis. Pembangunan infrastruktur, polusi udara, bencana alam, kemiskinan struktural, dan tekanan terhadap ruang hijau membuat kota yang dikenal “dilingkung gunung” ini menjadi rentan. Sungai Citarum dan Cikapundung yang dulunya bersih kini tercemar, lereng-lereng di sekitarnya terus kehilangan vegetasi, dan kita makin terlempar dan merasa asing di dalamnya. Maka dengan Melihat fenomena ini, irisan momen keagamaan—Imlek-Cap Go Meh, Ramadan, Nyepi, dan Prapaskah—sejatinya bisa menjadi cermin yang lebih luas. Keterikatan dengan keluarga dan pengendalian diri yang kita praktikkan tidak hanya berlaku pada level manusia, tetapi juga merambah kesadaran ekologis.

Puasa dengan segara versinya membuka ruang untuk merenungkan dampak tindakan manusia terhadap alam. Ketika umat muslim menahan lapar dan dahaga, atau umat Hindu menjalani hari dalam keheningan, kita diajak menghargai keteraturan alami, mensyukuri udara, api, air, dan tanah yang menopang hidup. Demikian pula, Imlek dan Cap Go Meh mengajarkan kesabaran, disiplin, dan keharmonisan sosial—nilai yang bisa diterapkan pada bagaimana kita menjaga ruang kota dan ruang hijau bersama. Begitupun pantang Prapaskah menjadi masa-masa terindah untuk kita bertobat secara ekologis, menantikan karya keselamatan kosmik.

Baca Juga: Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Kebersamaan keluarga dan komunitas, yang kita rasakan melalui berbagai perayaan dan peringatan, juga bisa memicu kecintaan pada lingkungan hidup. Berkumpul di taman, membersihkan lingkungan sekitar, atau sekadar menikmati udara pagi bersama orang tua dan anak-anak menjadi ritual yang menyatukan manusia dan alam. Di Bandung, kota yang sering menghadapi banjir atau polusi, momen-momen spiritual ini bisa diubah menjadi pengingat bahkan sebuah panggilan bagi solidaritas lintas umat. Bahwa kontrol ego dan disiplin diri tidak hanya soal keselamatan manusia, tapi juga dengan semesta tempat kita berpijak.

Akhirnya, interseksionalitas momen religius, budaya, dan situasi alam ini menegaskan bahwa kesadaran ekologis, sosial, dan spiritual tidak bisa dipisahkan. Mengendalikan ego dalam puasa, menghormati tradisi leluhur, dan menguatkan ikatan keluarga menjadi satu kesatuan yang menuntun kita untuk memperhatikan alam yang menua, kota yang makin padat, dan runag hidup yang semakin kompleks. Bandung, dengan semua keragaman agama dan budaya, mengundang kita untuk membangun harmoni itu. Keselarasan yang menumbuhkan kesalehan, kemanusiaan, kesadaran akan tradisi, kepekaan zaman, dan aksi keberlanjutan yang lestari. Selamat memasuki masa-masa ibadah yang syahdu ini, kiranya kita diberikan keluasan nurani untuk mengambil refleksi, terlibat lebih banyak, dan berbuat lebih layak. Untuk Bandung dan pengisinya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

Asyik Numpeng

Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB
Asyik Numpeng

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)