Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung. Bagaimana tidak bulan Ramadan 1447 Hijriyah diperkirakan akan dimulai sekitar 18-19 Februari 2026 dan berlangsung selama hampir satu bulan penuh, berakhir dengan Idul fitri sekitar 20-21 Maret 2026.

Apa yang membuat Ramadan kali ini begitu menarik adalah irisan waktu dengan beberapa momen keagamaan dan budaya lain yang berada berdekatan dalam kalender Umum—Masehi. Pada tahun ini, Tahun Baru Imlek diperingati pada 17 Februari 2026 dan dirayakan secara publik di banyak wilayah, Bandung adalah salah satunya. Pada periode yang berdekatan pula, Cap Go Meh sebagai puncak dari rangkaian perayaan musim semi, jatuh hampir ketika umat muslim baru memasuki minggu pertama Ramadan. Ini akan menjadi tradisi munggahan, momen menyambut bulan puasa, yang menyenangkan bukan? Tahun yang baru untuk bulan yang baru, dua hal dalam satu waktu.

Tidak hanya itu, tak jauh dari tanggal boboran siam, kita juga memperingati Nyepi, Hari Suci Keheningan yang jatuh pada 19 Maret 2026. Sebuah tahun baru dengan versi yang berbeda, khidmat dalam catur tapa brata penyepian yang terdiri atas amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Dua agama, dua budaya, satu ajaran pokok soal pengendalian diri menuju kemenangan yang hakiki.

Berbarengan dengan momen-momen tersebut, kalender 2026 juga menghadirkan Rabu Abu (Ash Wednesday) pada 18 Februari 2026, menandai awal masa Prapaskah bagi umat Kristen Barat yang berlangsung hingga Paskah pada 5 April 2026. Dalam periode Prapaskah ini, umat Katolik dan Protestan melakukan puasa—mengurangi jumlah makanan—dan pantang, misalnya menahan diri dari daging pada hari-hari tertentu, sebagai bentuk refleksi rohani, pengendalian diri, dan solidaritas dengan sesama. Menariknya, Rabu Abu ini hampir bersamaan dengan awal Ramadan, sehingga Bandung untuk kesekian kalinya akan menyaksikan simultansi spiritual lintas tradisi. Ialah pengendalian nafsu, pertobatan, dan disiplin batin menjadi tema bersama.

Kumpul-Kumpul dan Kontrol Ego

Di tengah irisan waktu yang unik ini, salah satu momen yang paling terasa adalah kebersamaan keluarga. Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh mengingatkan kita akan pentingnya menghidupkan tradisi leluhur, berkumpul, dan saling memberi penghormatan antar generasi. Di sisi lain, Ramadan dan Prapaskah menambahkan dimensi rohani, waktu untuk introspeksi diri, bersyukur, dan memperkuat ikatan keluarga melalui ritual dan doa bersama. Ada ziarah kubur, salah tarawih, buka puasa bersama, termasuk menerima komuni, bergereja, sampai tiba saatnya bersama-sama masuk ke dalam Pekan Suci. Begitupun Nyepi, kita menjalani tapa brata bebarengan, saling menjaga, berbagi makanan sederhana, dan merayakan tahun baru dengan refleksi serta kesadaran kolektif.

Suaana Jalan Cibadak, Kota Bandung, menjelang perayaan Imlek. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Suaana Jalan Cibadak, Kota Bandung, menjelang perayaan Imlek. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Momen kontrol ego dan disiplin diri menjadi inti kedua dalam periode ini. Imlek-Cap Go Meh, Ramadan, Nyepi, dan Prapaskah menuntut kita menahan nafsu, menegakkan pantang, dan fokus pada kesadaran batin. Yang menarik, pengendalian diri ini bukan sekadar isolasi dari dunia, melainkan cara untuk terhubung lebih baik dengan orang lain. Saat kita menahan nafsu, mengurangi konsumsi, atau menghentikan aktivitas tertentu, kita justru membuka ruang bagi empati, kesabaran, dan solidaritas sosial-ekologis. Ritual-ritual ini mengajarkan bahwa menghilangkan ego pribadi bisa memperkuat keterlibatan dalam komunitas, karena kita belajar memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan orang lain.

Pada satu titik, irisan momen-momen ini seyogyanya membentuk ritme spiritual yang harmonis di Bandung. Kota yang kian ringkih karena tekanan urbanisasi dan modernisasi dapat melihat peluang untuk menguatkan jaringan yang retak melalui praktik-praktik budaya dan keagamaan. Kumpul keluarga menghidupkan nilai tradisi etis dan keterikatan sosial, sementara disiplin spiritual—puasa, pantang, penyepian, etika—mengajarkan pengelolaan diri dan perhatian pada sesama. Kedua dimensi ini saling melengkapi bahwa kita belajar mengendalikan ego sekaligus memperluas kepedulian, sehingga keberagaman agama dan budaya di Bandung bukan menjadi sumber ketegangan, tetapi panggilan untuk saling menguatkan dan membangun komunitas yang sadar lagi bertanggung jawab.

Keterhubungan dengan Alam

Di tengah pusara ini, Bandung hadir sebagai kota kontemporer yang menunjukkan wajahnya yang lapuk secara ekologis. Pembangunan infrastruktur, polusi udara, bencana alam, kemiskinan struktural, dan tekanan terhadap ruang hijau membuat kota yang dikenal “dilingkung gunung” ini menjadi rentan. Sungai Citarum dan Cikapundung yang dulunya bersih kini tercemar, lereng-lereng di sekitarnya terus kehilangan vegetasi, dan kita makin terlempar dan merasa asing di dalamnya. Maka dengan Melihat fenomena ini, irisan momen keagamaan—Imlek-Cap Go Meh, Ramadan, Nyepi, dan Prapaskah—sejatinya bisa menjadi cermin yang lebih luas. Keterikatan dengan keluarga dan pengendalian diri yang kita praktikkan tidak hanya berlaku pada level manusia, tetapi juga merambah kesadaran ekologis.

Puasa dengan segara versinya membuka ruang untuk merenungkan dampak tindakan manusia terhadap alam. Ketika umat muslim menahan lapar dan dahaga, atau umat Hindu menjalani hari dalam keheningan, kita diajak menghargai keteraturan alami, mensyukuri udara, api, air, dan tanah yang menopang hidup. Demikian pula, Imlek dan Cap Go Meh mengajarkan kesabaran, disiplin, dan keharmonisan sosial—nilai yang bisa diterapkan pada bagaimana kita menjaga ruang kota dan ruang hijau bersama. Begitupun pantang Prapaskah menjadi masa-masa terindah untuk kita bertobat secara ekologis, menantikan karya keselamatan kosmik.

Baca Juga: Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Kebersamaan keluarga dan komunitas, yang kita rasakan melalui berbagai perayaan dan peringatan, juga bisa memicu kecintaan pada lingkungan hidup. Berkumpul di taman, membersihkan lingkungan sekitar, atau sekadar menikmati udara pagi bersama orang tua dan anak-anak menjadi ritual yang menyatukan manusia dan alam. Di Bandung, kota yang sering menghadapi banjir atau polusi, momen-momen spiritual ini bisa diubah menjadi pengingat bahkan sebuah panggilan bagi solidaritas lintas umat. Bahwa kontrol ego dan disiplin diri tidak hanya soal keselamatan manusia, tapi juga dengan semesta tempat kita berpijak.

Akhirnya, interseksionalitas momen religius, budaya, dan situasi alam ini menegaskan bahwa kesadaran ekologis, sosial, dan spiritual tidak bisa dipisahkan. Mengendalikan ego dalam puasa, menghormati tradisi leluhur, dan menguatkan ikatan keluarga menjadi satu kesatuan yang menuntun kita untuk memperhatikan alam yang menua, kota yang makin padat, dan runag hidup yang semakin kompleks. Bandung, dengan semua keragaman agama dan budaya, mengundang kita untuk membangun harmoni itu. Keselarasan yang menumbuhkan kesalehan, kemanusiaan, kesadaran akan tradisi, kepekaan zaman, dan aksi keberlanjutan yang lestari. Selamat memasuki masa-masa ibadah yang syahdu ini, kiranya kita diberikan keluasan nurani untuk mengambil refleksi, terlibat lebih banyak, dan berbuat lebih layak. Untuk Bandung dan pengisinya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)