Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung. Bagaimana tidak bulan Ramadan 1447 Hijriyah diperkirakan akan dimulai sekitar 18-19 Februari 2026 dan berlangsung selama hampir satu bulan penuh, berakhir dengan Idul fitri sekitar 20-21 Maret 2026.
Apa yang membuat Ramadan kali ini begitu menarik adalah irisan waktu dengan beberapa momen keagamaan dan budaya lain yang berada berdekatan dalam kalender Umum—Masehi. Pada tahun ini, Tahun Baru Imlek diperingati pada 17 Februari 2026 dan dirayakan secara publik di banyak wilayah, Bandung adalah salah satunya. Pada periode yang berdekatan pula, Cap Go Meh sebagai puncak dari rangkaian perayaan musim semi, jatuh hampir ketika umat muslim baru memasuki minggu pertama Ramadan. Ini akan menjadi tradisi munggahan, momen menyambut bulan puasa, yang menyenangkan bukan? Tahun yang baru untuk bulan yang baru, dua hal dalam satu waktu.
Tidak hanya itu, tak jauh dari tanggal boboran siam, kita juga memperingati Nyepi, Hari Suci Keheningan yang jatuh pada 19 Maret 2026. Sebuah tahun baru dengan versi yang berbeda, khidmat dalam catur tapa brata penyepian yang terdiri atas amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mencari hiburan). Dua agama, dua budaya, satu ajaran pokok soal pengendalian diri menuju kemenangan yang hakiki.
Berbarengan dengan momen-momen tersebut, kalender 2026 juga menghadirkan Rabu Abu (Ash Wednesday) pada 18 Februari 2026, menandai awal masa Prapaskah bagi umat Kristen Barat yang berlangsung hingga Paskah pada 5 April 2026. Dalam periode Prapaskah ini, umat Katolik dan Protestan melakukan puasa—mengurangi jumlah makanan—dan pantang, misalnya menahan diri dari daging pada hari-hari tertentu, sebagai bentuk refleksi rohani, pengendalian diri, dan solidaritas dengan sesama. Menariknya, Rabu Abu ini hampir bersamaan dengan awal Ramadan, sehingga Bandung untuk kesekian kalinya akan menyaksikan simultansi spiritual lintas tradisi. Ialah pengendalian nafsu, pertobatan, dan disiplin batin menjadi tema bersama.
Kumpul-Kumpul dan Kontrol Ego
Di tengah irisan waktu yang unik ini, salah satu momen yang paling terasa adalah kebersamaan keluarga. Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh mengingatkan kita akan pentingnya menghidupkan tradisi leluhur, berkumpul, dan saling memberi penghormatan antar generasi. Di sisi lain, Ramadan dan Prapaskah menambahkan dimensi rohani, waktu untuk introspeksi diri, bersyukur, dan memperkuat ikatan keluarga melalui ritual dan doa bersama. Ada ziarah kubur, salah tarawih, buka puasa bersama, termasuk menerima komuni, bergereja, sampai tiba saatnya bersama-sama masuk ke dalam Pekan Suci. Begitupun Nyepi, kita menjalani tapa brata bebarengan, saling menjaga, berbagi makanan sederhana, dan merayakan tahun baru dengan refleksi serta kesadaran kolektif.

Momen kontrol ego dan disiplin diri menjadi inti kedua dalam periode ini. Imlek-Cap Go Meh, Ramadan, Nyepi, dan Prapaskah menuntut kita menahan nafsu, menegakkan pantang, dan fokus pada kesadaran batin. Yang menarik, pengendalian diri ini bukan sekadar isolasi dari dunia, melainkan cara untuk terhubung lebih baik dengan orang lain. Saat kita menahan nafsu, mengurangi konsumsi, atau menghentikan aktivitas tertentu, kita justru membuka ruang bagi empati, kesabaran, dan solidaritas sosial-ekologis. Ritual-ritual ini mengajarkan bahwa menghilangkan ego pribadi bisa memperkuat keterlibatan dalam komunitas, karena kita belajar memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan orang lain.
Pada satu titik, irisan momen-momen ini seyogyanya membentuk ritme spiritual yang harmonis di Bandung. Kota yang kian ringkih karena tekanan urbanisasi dan modernisasi dapat melihat peluang untuk menguatkan jaringan yang retak melalui praktik-praktik budaya dan keagamaan. Kumpul keluarga menghidupkan nilai tradisi etis dan keterikatan sosial, sementara disiplin spiritual—puasa, pantang, penyepian, etika—mengajarkan pengelolaan diri dan perhatian pada sesama. Kedua dimensi ini saling melengkapi bahwa kita belajar mengendalikan ego sekaligus memperluas kepedulian, sehingga keberagaman agama dan budaya di Bandung bukan menjadi sumber ketegangan, tetapi panggilan untuk saling menguatkan dan membangun komunitas yang sadar lagi bertanggung jawab.
Keterhubungan dengan Alam
Di tengah pusara ini, Bandung hadir sebagai kota kontemporer yang menunjukkan wajahnya yang lapuk secara ekologis. Pembangunan infrastruktur, polusi udara, bencana alam, kemiskinan struktural, dan tekanan terhadap ruang hijau membuat kota yang dikenal “dilingkung gunung” ini menjadi rentan. Sungai Citarum dan Cikapundung yang dulunya bersih kini tercemar, lereng-lereng di sekitarnya terus kehilangan vegetasi, dan kita makin terlempar dan merasa asing di dalamnya. Maka dengan Melihat fenomena ini, irisan momen keagamaan—Imlek-Cap Go Meh, Ramadan, Nyepi, dan Prapaskah—sejatinya bisa menjadi cermin yang lebih luas. Keterikatan dengan keluarga dan pengendalian diri yang kita praktikkan tidak hanya berlaku pada level manusia, tetapi juga merambah kesadaran ekologis.
Puasa dengan segara versinya membuka ruang untuk merenungkan dampak tindakan manusia terhadap alam. Ketika umat muslim menahan lapar dan dahaga, atau umat Hindu menjalani hari dalam keheningan, kita diajak menghargai keteraturan alami, mensyukuri udara, api, air, dan tanah yang menopang hidup. Demikian pula, Imlek dan Cap Go Meh mengajarkan kesabaran, disiplin, dan keharmonisan sosial—nilai yang bisa diterapkan pada bagaimana kita menjaga ruang kota dan ruang hijau bersama. Begitupun pantang Prapaskah menjadi masa-masa terindah untuk kita bertobat secara ekologis, menantikan karya keselamatan kosmik.
Baca Juga: Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota
Kebersamaan keluarga dan komunitas, yang kita rasakan melalui berbagai perayaan dan peringatan, juga bisa memicu kecintaan pada lingkungan hidup. Berkumpul di taman, membersihkan lingkungan sekitar, atau sekadar menikmati udara pagi bersama orang tua dan anak-anak menjadi ritual yang menyatukan manusia dan alam. Di Bandung, kota yang sering menghadapi banjir atau polusi, momen-momen spiritual ini bisa diubah menjadi pengingat bahkan sebuah panggilan bagi solidaritas lintas umat. Bahwa kontrol ego dan disiplin diri tidak hanya soal keselamatan manusia, tapi juga dengan semesta tempat kita berpijak.
Akhirnya, interseksionalitas momen religius, budaya, dan situasi alam ini menegaskan bahwa kesadaran ekologis, sosial, dan spiritual tidak bisa dipisahkan. Mengendalikan ego dalam puasa, menghormati tradisi leluhur, dan menguatkan ikatan keluarga menjadi satu kesatuan yang menuntun kita untuk memperhatikan alam yang menua, kota yang makin padat, dan runag hidup yang semakin kompleks. Bandung, dengan semua keragaman agama dan budaya, mengundang kita untuk membangun harmoni itu. Keselarasan yang menumbuhkan kesalehan, kemanusiaan, kesadaran akan tradisi, kepekaan zaman, dan aksi keberlanjutan yang lestari. Selamat memasuki masa-masa ibadah yang syahdu ini, kiranya kita diberikan keluasan nurani untuk mengambil refleksi, terlibat lebih banyak, dan berbuat lebih layak. Untuk Bandung dan pengisinya. (*)
