Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Minggu 15 Feb 2026, 08:49 WIB
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Aroma tanah basah dan hawa panas dari tungku pembakaran menyambut siapa saja yang melangkah masuk ke sebuah bangunan tua di sudut Kiaracondong. Di antara deretan ruko modern dan hiruk-pikuk lalu lintas Bandung, pabrik keramik milik Dikdik Gumilar berdiri seperti peninggalan yang enggan lenyap. Lebih dari sekadar tempat produksi, lokasi ini menjadi benteng terakhir sebuah kejayaan yang kini hanya menyisakan satu nama: Keramik Haji Oma.

Dari Buruh Belanda hingga Mendirikan Pabrik Keramik

Sejarah panjang ini bermula jauh sebelum 1978, ketika Haji Itong Wanta—kakek Dikdik—bekerja sebagai buruh di pabrik keramik milik orang Belanda. Dari sana, ia mempelajari teknik pengolahan tanah liat, lalu membawanya pulang sebagai bekal membangun kemandirian.

Ilmu itu kemudian diwariskan kepada putranya, Haji Oma Rukman, ayah Dikdik, yang pada 1978 mendirikan pabrik keramik keluarga. Dari nama sang ayah itulah, usaha ini kemudian dikenal sebagai Keramik Haji Oma.

Dikdik, yang kini berusia 61 tahun, menjadi generasi ketiga yang menjaga api tungku tetap menyala. Sebagai anak sulung dari 15 bersaudara, ia tumbuh bersama aroma tanah liat dan suara pembakaran yang tak pernah benar-benar padam.

“Usia pabrik ini dari tahun ’78, tapi saya mulai mengelola sendiri dari tahun ’91,” kata Dikdik.

Baginya, meneruskan usaha ini bukan sekadar pilihan karier, melainkan sesuatu yang nyaris tak terpisahkan dari hidupnya. Ia besar di lingkungan pengrajin, di mana bekerja dengan tanah liat adalah bagian dari keseharian.

Pabrik keramik milik Dikdik Gumilar di kawasan Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Pabrik keramik milik Dikdik Gumilar di kawasan Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kenangan Kejayaan yang Memudar

Ada masa ketika Kiaracondong menjadi magnet bagi pembeli dari Kalimantan hingga Irian Jaya. Kawasan ini pernah dikenal sebagai “Pusat Keramik”, dengan sekitar 30 pengrajin aktif.

Setiap pekan, truk-truk kontainer mengantre untuk mengangkut guci bergambar naga, vas besar, hingga replika keramik yang diekspor ke berbagai negara, termasuk Amerika, Belanda, dan Portugal.

Namun waktu bergerak cepat. Krisis ekonomi, ditambah peralihan bahan bakar dari minyak tanah ke gas, perlahan menekan para pengrajin. Biaya produksi melonjak, sementara pasar terus menyusut.

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.

Bertahan di Tengah Keterbatasan

Kelangsungan pabrik Haji Oma tidak datang tanpa ujian berat. Salah satunya adalah pasokan tanah liat dari Sukabumi yang kerap tidak stabil karena faktor lingkungan.

“Tanah Sukabumi kan bahan galian. Komposisinya beda-beda terus. Pernah sampai tiga bulan hancur-hancuran. Datangin dua truk, akhirnya dibuang,” keluhnya.

Ketidakpastian bahan baku itu membuat proses produksi sering tersendat. Kesalahan kecil dalam komposisi bisa berujung pada keramik yang retak, pecah, atau tak layak jual.

Namun, di tengah berbagai kesulitan, pandemi COVID-19 justru membawa berkah tak terduga. Ketika banyak orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan mulai berkebun, permintaan pot bunga melonjak tajam.

“Barang di sini habis semua. Sampai produksi ditungguin pembeli. Waktu Covid, saya sampai bikin dua tungku di lantai tiga, saking banyaknya pesanan,” ujar Dikdik.

Seorang pekerja di pabrik keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Seorang pekerja di pabrik keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Menjaga Api Tetap Menyala

Kini, di usia yang tak lagi muda, Dikdik mulai memikirkan regenerasi. Ia merasa berat jika usaha yang telah berjalan selama tiga generasi harus berhenti di tangannya.

“Sayang juga kalau nggak ada penerus. Dari 30 pengrajin sekarang tinggal satu. Harapannya bisa berkembang dan diteruskan sama anak. Saya kan sudah faktor U, sudah pengin istirahat,” ucapnya.

Bagi Dikdik, Pabrik Haji Oma bukan semata soal keuntungan. Ia adalah ruang penyimpanan ingatan, kerja keras, dan warisan keluarga yang telah bertahan puluhan tahun.

Di tengah gempuran industri modern, pabrik kecil di Kiaracondong itu berdiri sebagai saksi hidup sebuah tradisi—nyawa terakhir kerajinan keramik yang masih bertahan di kawasan ini.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 02 Apr 2026, 20:42

Trah Sumedang, Belajar Mangkas Rambut ke Orang Garut dan di Bandung Sukses Buka Barbershop

Bisnis barbershop alias tukang pangkas rambut selalu ramai selama Ramadan dan bulan Syawal.

Pemangkas rambut asal Garut. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 02 Apr 2026, 19:02

Hikayat Brem dalam Lintasan Sejarah Kuliner Fermentasi Jawa dan Bali

Brem merupakan produk fermentasi tradisional yang telah dikenal sejak abad ke-10 di Jawa. Dari minuman ritual di Bali hingga camilan khas Madiun, brem mencerminkan panjangnya sejarah kuliner Nusantara

Brem, kuliner fermentasi Jawa dan Bali
Bandung 02 Apr 2026, 17:31

Siasat Bakmie Feng Taklukkan Pasar Cihapit: Harga Stabil, Rasa Jadi Andalan

Lagi di Bandung? Yuk, intip rahasia Bakmie Feng di Pasar Cihapit yang selalu ramai! Dari menu ayam khek hingga strategi harga yang bikin pelanggan setia.

Bakmie Feng berdiri mencolok dengan nuansa merah menyala di antara deretan kios kuliner Bandung di Pasar Cihapit. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 17:27

Membaca Majalah Remaja Tahun 1980-an

Mengenang kembali ketika tahun 1980-an muncul majalah-majalah remaja yang digemari para remaja khususnya di Kota Bandung.

Majalah Remaja Gadis edisi September 1980. (Sumber: Instagram | Foto: Koleksi Goeni)
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 16:25

Dari Ramadan, Lebaran, hingga Pendatang Urban: 5 Tips bagi Netizen Menulis di April 2026

Berikut tips praktis agar tulisanmu tepat sasaran.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 02 Apr 2026, 15:06

Sejarah Kupat Tahu Singaparna, Jejak Rasa Kuliner Legendaris dari Tasikmalaya

Kupat Tahu Singaparna lahir dari pasar tradisional Tasikmalaya, hasil perpaduan budaya, ekonomi rakyat, dan perjalanan kuliner sejak 1950-an.

Kupat tahu Singaparna.
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 14:56

4 Cara Mengubah Pengalaman Sehari-hari Menjadi Tulisan untuk Ayo Netizen

Kirimkan tulisanmu melalui akun penulis di Ayobandung.id dengan periode publikasi 1–30 April 2026.

Kirimkan tulisanmu melalui akun penulis di Ayobandung.id (Sumber: Pexels)
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 11:03

Kisah Beberapa Perkampungan Kota Bandung (Bagian 2)

Kawasan perkampungan tempat saya dilahirkan adalah kawasan yang memiliki sejarah panjang, yang mungkin tak banyak warga Bandung tau.

Kampung Apandi atau gang Apandi tahun 1900-1910. (Sumber: wereldculturn.nl)
Wisata & Kuliner 02 Apr 2026, 10:02

Perjalanan Kawah Putih, Ikon Wisata Kabupaten Bandung

Kawah Putih terus berinovasi dengan wahana baru sambil menjaga keindahan alamnya sebagai ikon wisata Kabupaten Bandung.

Objek wisata ikonik Kawah Putih, Ciwidey, Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 02 Apr 2026, 09:57

Buku Langka dan Keberuntungan Menanti di Jalan Kautamaan Istri

Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung, lapak buku bekas di Jalan Kautamaan Istri masih menjadi tempat berburu buku langka, di mana keberuntungan sering datang dari cover buku yang sudah usang.

Lapak buku Wawan menjadi sudut kecil bagi pemburu bacaan di tengah ramainya Jalan Kautamaan Istri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 02 Apr 2026, 08:44

Bandung dalam Kenangan Pendatang Era 90-an

Awal tahun 1990-an, Bandung selalu kedatangan wajah-wajah baru, terutama setelah Lebaran.

Mahasiswa di Bandung pada era 1990-an, para pendatang dari berbagai daerah. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 19:02

4 Cerita yang Bisa Kamu Tulis untuk Ayo Netizen April 2026

Berikut empat sudut cerita yang bisa jadi titik masuk tulisanmu.

Dalam tujuan mengapreasiasi kamu yang gemar menulis dengan etika orisinalitas, Ayobandung.id pun memberi total hadiah Rp1,5 juta setiap bulannya. (Sumber: Pexels/Lisa)
Wisata & Kuliner 01 Apr 2026, 17:32

Panduan Wisata Gunung Bromo: dari Rute, Biaya hingga Waktu Terbaik

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menawarkan lebih dari sekadar kawah. Ini panduan lengkap untuk merencanakan kunjungan yang efisien dan tidak boros.

Gunung Bromo (Sumber: freerangestock.com)
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 17:22

Cikuntul, Lahan Basah Tempat Burung Kuntul Berburu Pakan

Bagaimana keadaan Kecamatan Tempuran dan Kecamatan Kutawaluya sampai-sampai di daerah itu ada daerah yang diberi nama Cikuntul?

Kuntul kerbau (Bubulcus ibis) pada saat musim berbiak, dengan bulu yang menarik lawan jenis, jingga keemasan, dan warna putih sesudah musim berbiak. (Sumber: John MacKinnon (1993))
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 16:43

Di Balik Ramainya Kendaraan saat Mudik Lebaran, Ada Risiko Kecelakaan Pengemudi yang Minim Pengalaman

Di balik ramainya mudik Lebaran, hadir pengemudi minim pengalaman. Faktor manusia tetap menjadi kunci utama dalam risiko kecelakaan.

Sejumlah kendaraan melintas di Gerbang Tol Pasteur 1, Kota Cimahi pada Jumat, 27 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 01 Apr 2026, 16:15

Daya Tahan Ekonomi Jawa Barat di Tengah Eskalasi Geopolitik, Mengapa Dampaknya Belum Terasa?

Meskipun tensi Amerika Serikat-Israel dengan Iran meningkat, kredit perbankan nasional tetap tumbuh solid. OJK ungkap alasan mengapa dampak konflik Timur Tengah belum hantam perekonomian Jawa Barat.

Meskipun tensi Amerika Serikat-Israel dengan Iran meningkat, kredit perbankan nasional tetap tumbuh solid. OJK ungkap alasan mengapa dampak konflik Timur Tengah belum hantam perekonomian Jawa Barat.
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 15:28

Bandung di Mata Pendatang: Antara Bayangan dan Kenyataan (Tema Ayo Netizen April 2026)

Bandung memang punya daya tarik yang sulit dijelaskan dengan angka.

Suasana arus balik mulai terlihat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Selasa 24 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Komunitas 01 Apr 2026, 15:27

Di Antara Urbanisasi, Gender, dan Tabu: Membongkar Realitas Kota dalam Film "Selamat Pagi, Malam"

Film Selamat Pagi, Malam memotret Jakarta sebagai ruang kompleks tempat urbanisasi, isu gender, dan sisi tabu manusia saling berkelindan, menghadirkan realitas yang jauh dari hitam-putih.

Suasana nonton film “Selamat Pagi, Malam” di Museum Konferensi Asia Afrika, Selasa, 31 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 12:45

Tentang Radio, Bukan AI Setelah Lebaran Usai

Radio tetap menjadi ruang komunikasi paling autentik yang menjaga emosi, kepercayaan, dan partisipasi warga di tengah maraknya konten berbasis AI, termasuk pada momen Lebaran tahun ini.

Ilustrasi radio. (Sumber: Pexels | Foto: Đặng Thanh Tú)
Sejarah 01 Apr 2026, 12:02

Hikayat Selat Hormuz, Pintu Sempit yang Selalu Jadi Titik Panas Geopolitik Dunia

Sejak era perdagangan kuno hingga konflik modern, Selat Hormuz selalu menjadi titik strategis ekonomi dan geopolitik dunia.

Selat Hormuz, Iran.