AYOBANDUNG.ID - Aroma tanah basah dan hawa panas dari tungku pembakaran menyambut siapa saja yang melangkah masuk ke sebuah bangunan tua di sudut Kiaracondong. Di antara deretan ruko modern dan hiruk-pikuk lalu lintas Bandung, pabrik keramik milik Dikdik Gumilar berdiri seperti peninggalan yang enggan lenyap. Lebih dari sekadar tempat produksi, lokasi ini menjadi benteng terakhir sebuah kejayaan yang kini hanya menyisakan satu nama: Keramik Haji Oma.
Dari Buruh Belanda hingga Mendirikan Pabrik Keramik
Sejarah panjang ini bermula jauh sebelum 1978, ketika Haji Itong Wanta—kakek Dikdik—bekerja sebagai buruh di pabrik keramik milik orang Belanda. Dari sana, ia mempelajari teknik pengolahan tanah liat, lalu membawanya pulang sebagai bekal membangun kemandirian.
Ilmu itu kemudian diwariskan kepada putranya, Haji Oma Rukman, ayah Dikdik, yang pada 1978 mendirikan pabrik keramik keluarga. Dari nama sang ayah itulah, usaha ini kemudian dikenal sebagai Keramik Haji Oma.
Dikdik, yang kini berusia 61 tahun, menjadi generasi ketiga yang menjaga api tungku tetap menyala. Sebagai anak sulung dari 15 bersaudara, ia tumbuh bersama aroma tanah liat dan suara pembakaran yang tak pernah benar-benar padam.
“Usia pabrik ini dari tahun ’78, tapi saya mulai mengelola sendiri dari tahun ’91,” kata Dikdik.
Baginya, meneruskan usaha ini bukan sekadar pilihan karier, melainkan sesuatu yang nyaris tak terpisahkan dari hidupnya. Ia besar di lingkungan pengrajin, di mana bekerja dengan tanah liat adalah bagian dari keseharian.

Kenangan Kejayaan yang Memudar
Ada masa ketika Kiaracondong menjadi magnet bagi pembeli dari Kalimantan hingga Irian Jaya. Kawasan ini pernah dikenal sebagai “Pusat Keramik”, dengan sekitar 30 pengrajin aktif.
Setiap pekan, truk-truk kontainer mengantre untuk mengangkut guci bergambar naga, vas besar, hingga replika keramik yang diekspor ke berbagai negara, termasuk Amerika, Belanda, dan Portugal.
Namun waktu bergerak cepat. Krisis ekonomi, ditambah peralihan bahan bakar dari minyak tanah ke gas, perlahan menekan para pengrajin. Biaya produksi melonjak, sementara pasar terus menyusut.
Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Bertahan di Tengah Keterbatasan
Kelangsungan pabrik Haji Oma tidak datang tanpa ujian berat. Salah satunya adalah pasokan tanah liat dari Sukabumi yang kerap tidak stabil karena faktor lingkungan.
“Tanah Sukabumi kan bahan galian. Komposisinya beda-beda terus. Pernah sampai tiga bulan hancur-hancuran. Datangin dua truk, akhirnya dibuang,” keluhnya.
Ketidakpastian bahan baku itu membuat proses produksi sering tersendat. Kesalahan kecil dalam komposisi bisa berujung pada keramik yang retak, pecah, atau tak layak jual.
Namun, di tengah berbagai kesulitan, pandemi COVID-19 justru membawa berkah tak terduga. Ketika banyak orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan mulai berkebun, permintaan pot bunga melonjak tajam.
“Barang di sini habis semua. Sampai produksi ditungguin pembeli. Waktu Covid, saya sampai bikin dua tungku di lantai tiga, saking banyaknya pesanan,” ujar Dikdik.

Menjaga Api Tetap Menyala
Kini, di usia yang tak lagi muda, Dikdik mulai memikirkan regenerasi. Ia merasa berat jika usaha yang telah berjalan selama tiga generasi harus berhenti di tangannya.
“Sayang juga kalau nggak ada penerus. Dari 30 pengrajin sekarang tinggal satu. Harapannya bisa berkembang dan diteruskan sama anak. Saya kan sudah faktor U, sudah pengin istirahat,” ucapnya.
Bagi Dikdik, Pabrik Haji Oma bukan semata soal keuntungan. Ia adalah ruang penyimpanan ingatan, kerja keras, dan warisan keluarga yang telah bertahan puluhan tahun.
Di tengah gempuran industri modern, pabrik kecil di Kiaracondong itu berdiri sebagai saksi hidup sebuah tradisi—nyawa terakhir kerajinan keramik yang masih bertahan di kawasan ini.
