Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

3 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Aroma tanah basah dan hawa panas dari tungku pembakaran menyambut siapa saja yang melangkah masuk ke sebuah bangunan tua di sudut Kiaracondong. Di antara deretan ruko modern dan hiruk-pikuk lalu lintas Bandung, pabrik keramik milik Dikdik Gumilar berdiri seperti peninggalan yang enggan lenyap. Lebih dari sekadar tempat produksi, lokasi ini menjadi benteng terakhir sebuah kejayaan yang kini hanya menyisakan satu nama: Keramik Haji Oma.

Dari Buruh Belanda hingga Mendirikan Pabrik Keramik

Sejarah panjang ini bermula jauh sebelum 1978, ketika Haji Itong Wanta—kakek Dikdik—bekerja sebagai buruh di pabrik keramik milik orang Belanda. Dari sana, ia mempelajari teknik pengolahan tanah liat, lalu membawanya pulang sebagai bekal membangun kemandirian.

Ilmu itu kemudian diwariskan kepada putranya, Haji Oma Rukman, ayah Dikdik, yang pada 1978 mendirikan pabrik keramik keluarga. Dari nama sang ayah itulah, usaha ini kemudian dikenal sebagai Keramik Haji Oma.

Dikdik, yang kini berusia 61 tahun, menjadi generasi ketiga yang menjaga api tungku tetap menyala. Sebagai anak sulung dari 15 bersaudara, ia tumbuh bersama aroma tanah liat dan suara pembakaran yang tak pernah benar-benar padam.

“Usia pabrik ini dari tahun ’78, tapi saya mulai mengelola sendiri dari tahun ’91,” kata Dikdik.

Baginya, meneruskan usaha ini bukan sekadar pilihan karier, melainkan sesuatu yang nyaris tak terpisahkan dari hidupnya. Ia besar di lingkungan pengrajin, di mana bekerja dengan tanah liat adalah bagian dari keseharian.

Pabrik keramik milik Dikdik Gumilar di kawasan Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Pabrik keramik milik Dikdik Gumilar di kawasan Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kenangan Kejayaan yang Memudar

Ada masa ketika Kiaracondong menjadi magnet bagi pembeli dari Kalimantan hingga Irian Jaya. Kawasan ini pernah dikenal sebagai “Pusat Keramik”, dengan sekitar 30 pengrajin aktif.

Setiap pekan, truk-truk kontainer mengantre untuk mengangkut guci bergambar naga, vas besar, hingga replika keramik yang diekspor ke berbagai negara, termasuk Amerika, Belanda, dan Portugal.

Namun waktu bergerak cepat. Krisis ekonomi, ditambah peralihan bahan bakar dari minyak tanah ke gas, perlahan menekan para pengrajin. Biaya produksi melonjak, sementara pasar terus menyusut.

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.

Bertahan di Tengah Keterbatasan

Kelangsungan pabrik Haji Oma tidak datang tanpa ujian berat. Salah satunya adalah pasokan tanah liat dari Sukabumi yang kerap tidak stabil karena faktor lingkungan.

“Tanah Sukabumi kan bahan galian. Komposisinya beda-beda terus. Pernah sampai tiga bulan hancur-hancuran. Datangin dua truk, akhirnya dibuang,” keluhnya.

Ketidakpastian bahan baku itu membuat proses produksi sering tersendat. Kesalahan kecil dalam komposisi bisa berujung pada keramik yang retak, pecah, atau tak layak jual.

Namun, di tengah berbagai kesulitan, pandemi COVID-19 justru membawa berkah tak terduga. Ketika banyak orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan mulai berkebun, permintaan pot bunga melonjak tajam.

“Barang di sini habis semua. Sampai produksi ditungguin pembeli. Waktu Covid, saya sampai bikin dua tungku di lantai tiga, saking banyaknya pesanan,” ujar Dikdik.

Seorang pekerja di pabrik keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Seorang pekerja di pabrik keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Menjaga Api Tetap Menyala

Kini, di usia yang tak lagi muda, Dikdik mulai memikirkan regenerasi. Ia merasa berat jika usaha yang telah berjalan selama tiga generasi harus berhenti di tangannya.

“Sayang juga kalau nggak ada penerus. Dari 30 pengrajin sekarang tinggal satu. Harapannya bisa berkembang dan diteruskan sama anak. Saya kan sudah faktor U, sudah pengin istirahat,” ucapnya.

Bagi Dikdik, Pabrik Haji Oma bukan semata soal keuntungan. Ia adalah ruang penyimpanan ingatan, kerja keras, dan warisan keluarga yang telah bertahan puluhan tahun.

Di tengah gempuran industri modern, pabrik kecil di Kiaracondong itu berdiri sebagai saksi hidup sebuah tradisi—nyawa terakhir kerajinan keramik yang masih bertahan di kawasan ini.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)