Asyik Numpeng

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Jumat 13 Feb 2026, 18:32 WIB
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)

Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)

Saat asyik membaca Pikiran Rakyat, tiba-tiba notifikasi masuk ke ponsel. Seorang konten kreator asal Bungbulang, Garut Pakidulan, membagikan video berjudul “Jelang Ramadan Mamah Bikin Tumpeng.” Sederhana, pendek dan menggetarkan hati.

Dalam reel itu tampak dapur jadoel, bersahaja dan sarat makna. Seorang ibu dengan tekun menyiapkan tumpeng nasi kuning. Tangannya terampil menyusun nasi hangat berwarna keemasan ke dalam tampah anyaman bambu (aseupan, kukusan), membentuk kerucut yang menjadi ciri khas numpeng ala lembur. Aroma gurih nasi bercampur wangi kunyit dan santan memenuhi ruangan, menghadirkan suasana hangat yang tak bisa dibeli oleh kemewahan.

Peralatan memasak tampak seadanya. Lauk pauk (asin, ikan teri) alakadarnya. Tak ada bakakak ayam, apalagi opor. Namun justru di situlah letak kemewahannya. Ada ketulusan, bukan kelimpahan.

Lantunan sholawat Ilahilas Tulil Firdaus, syair Abu Nawas mengiringi suasana sahdu. Rindu kampung halaman terus menyeruak. Terbayang jelas suasana jelang Ramadan, ibu-ibu PKK, majelis taklim (pengajian) memasak bersama, dapur Nenek (Mamah Isah) yang riuh, syukuran sederhana, selametan sambil khataman Alquran di Masjid Darussalam, berbagi tumpeng kepada sanak saudara, handai tolan, hingga mengirimkan nasi untuk Ajengan. Sungguh indahnya berbagi. 

Ilustrasi masakan khas Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Dudygr)
Ilustrasi masakan khas Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Dudygr)

Menjaga Tradisi, Menyusun Niat Suci

Untuk di wilayah Kandangwesi yang terkenal dengan sale dan opaknya, menjelang Ramadan selalu ada suasana yang berbeda. Hadir tradisi numpeng, lengkap dengan kunyit yang diparut, santan yang diperas perlahan, dan nasi yang dimasak (hawu), menggunakan langseng, hingga berwarna kuning keemasan.

Numpeng bukan sekadar membuat nasi kuning. Justru salah satu cara masyarakat pedesaan dalam menyusun niat sebelum memasuki bulan suci. Ritual sunyi yang berbicara pelan tentang hormat, keterhubungan, dan kesinambungan hidup.

Menariknya, nasi kuning itu tidak untuk diri sendiri, tapi dibuat untuk diberikan kepada orang tua, kakak tertua, dan ajengan. Dalam memberi, orang-orang lembur sedang mengingat asal-usulnya. Hidup bermula dari tangan yang lebih dulu memberi, dari doa yang lebih awal dipanjatkan.

Proses membuat tumpeng sarat pelajaran hidup. Beras dicuci bersih, seakan mengajarkan niat yang harus dibersihkan. Kunyit diparut, santan diperas, bumbu disiapkan tanpa tergesa-gesa. Semua dimasak perlahan dan penuh kehati-hatian. Jangan terburu-buru. Tidak boleh lalai, abai dan pastinya dibumbi cabai.

Tumpeng dibentuk menjulang seperti gunung kecil sebagai simbol harapan agar hidup terus naik menuju kebaikan, keabadian, namun tetap berpijak pada bumi dan kerendahan hati.

Ketika nasi kuning itu diantarkan menggunakan tampan, boboko, nyiru, rantang, tak banyak kata diucapkan. Ingat, yang berpindah bukan hanya makanan, melainkan restu, doa, dan harapan. Orang tua menerimanya dengan mata yang menyimpan kenangan masa lalu. Kakak tertua merengkuhnya dengan tanggung jawab yang diwariskan. Ajengan berbalas terima kasih melalui doa yang terus mengalir diucapkan (dipanjatkan) untuk kampung dan generasi setelahnya.

Walhasil, dalam numpeng, hierarki bukan soal kuasa, melainkan tentang siapa yang lebih dahulu menjaga dan merawat khazanah Nusantara yang membanggakan ini.

Dalam liputan berjudul “Sudah Ada Sejak Zaman Dahulu Kala, Ini Sejarah dan Filosofi Tumpeng Nasi Kuning”, dijelaskan nasi berwarna kuning yang dibentuk kerucut dan disajikan bersama aneka lauk, lalapan yang dikenal sebagai tumpeng. Hidangan khas dalam berbagai perhelatan penting. Tumpeng lazim hadir pada saat acara ulang tahun, (ulang tahun) pernikahan, tasyakuran, kenduri, hajatan, hingga upacara adat lainnya.

Kehadiran tumpeng dalam momen-momen khusus bukan tanpa alasan. Sarat makna dan filosofi, sehingga tidak dibuat secara sembarangan. Pasalnya, setiap bentuk, warna, lauk pauk yang menyertainya memiliki simbol dan pesan tersendiri.

1. Melambangkan Gunung

Bentuk tumpeng yang mengerucut ke atas melambangkan gunung. Ini dipandang sebagai tempat tertinggi, dekat dengan langit, dan secara simbolik dekat dengan Tuhan. Dalam kepercayaan Hindu, gunung dipercaya sebagai tempat bersemayam para dewa dan Sang Hyang (Parahyangan).

Ragam bentuk kerucut ini menjadi simbol ungkapan rasa syukur dan permohonan keselamatan kepada Tuhan dan para dewa. Tumpeng tidak hanya bermakna kuliner, tetapi bernuansa spiritual.

2. Warna Kuning pada Nasi Tumpeng

Warna kuning pada tumpeng berasal dari kunyit. Ini melambangkan kekayaan dan kemakmuran, serupa dengan warna emas sebagai simbol kejayaan, bak warna padi menguning yang siap dipanen sebagai lambang kesejahteraan. Kuning erat dikaitkan dengan Dewi Sri, dewi padi dalam tradisi agraris Nusantara. Harapannya, agar penyelenggara hajatan akan dilimpahi kemakmuran dan keberkahan rizki.

Di masyarakat Bali, warna kuning melambangkan perwujudan Dewa Mahadewa yang sakral. Warna kuning menjadi dominan dalam perayaan Hari Raya Kuningan umat Hindu Bali.

3. Makna Kata Tumpeng

Dalam bahasa Jawa, kata tumpeng sering dimaknai sebagai akronim dari “tumapaking panguripan, tumindak lempeng, tumuju Pangeran”, berarti hidup yang tertata, berjalan lurus, dan menuju Tuhan.

Ada pula tafsir lain, “yen metu kudu mempeng” yang berarti “jika keluar harus bersungguh-sungguh dan penuh semangat.” Kata metu bisa dimaknai sebagai manusia yang lahir ke dunia maupun keluar rumah untuk mencari nafkah. Dengan demikian, tumpeng menjadi simbol etos hidup yang lurus, tekun, dan penuh daya juang.

4. Filosofi pada Lauk Pauk

Tidak hanya bentuk dan warna, lauk pauk dalam tumpeng menyimpan makna terdalam. Telur, melambangkan awal kehidupan yang disajikan utuh dengan cangkangnya mengandung pesan etos kerja. Sesuatu harus dikerjakan dengan ulet, teliti dan hati-hati, sebagaimana saat mengupas telur agar tidak rusak.

Urap, yang terdiri dari berbagai sayuran, berasal dari ungkapan Jawa “urip iku urup” yang berarti hidup itu harus memberi manfaat, saling menerangi. Setiap sayuran memiliki simbol tersendiri mulai dari Kangkung (dari kata jinangkung) bermakna perlindungan. Tauge (thukul atau tukulan) melambangkan pertumbuhan kehidupan. Kacang panjang menyimbolkan pemikiran jauh ke depan.

Biasanya lauk pauk berjumlah tujuh macam, yang dimaknai sebagai pitulungan (permohonan) pertolongan kepada Tuhan. Secara lebih luas, susunan lauk dalam tumpeng ini menggambarkan harmoni ekosistem kehidupan. Sayuran mewakili alam tumbuhan, lauk hewani melambangkan alam fauna. (Ayo Yogya, Senin, 25 Juli 2022 | 11:30 WIB)

Prosesi pemotongan tumpeng memiliki tata cara. Bagian puncak diberikan kepada orang yang dituakan (dihormati) sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan rasa syukur. Tumpeng, pada akhirnya, bukan sekadar hidangan tradisional. Justru simbol doa, syukur, etos hidup, serta harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Kalau kita bicara makanan Sunda, hampir pasti yang pertama kali muncul di kepala adalah lalapan. (Sumber: Unsplash | Foto: Keriliwi)

Merayakan Kebersamaan, Ramadan Hadir

Inilah puncak dari semua momen yang paling ditunggu anak-anak, ya makan berjamaah di Masjid Darussalam. Botram. Balakecrakan. Setelah khatam Alquran, mereka duduk beralas tikar, menyantap nasi kuning dengan tangan kecil yang sedang belajar arti kebersamaan, kehidupan, dan kepedulian.

Di selasar masjid, ruang sakral dan ruang sosial menyatu. Makan bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi menjadi mengikat persaudaraan, kehangatan, silaturahim. Alquran yang selesai dibaca seakan turun menjadi doa di piring-piring sederhana, daun cau yang dipajang memenjang. Bengkung ngariung bongkok ngaronyok!

Baca Juga: Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Secara filosofis, numpeng mengingatkan Ramadan tidak disambut dengan kemewahan, melainkan dengan keterhubungan. Ibadah tidak berdiri sendiri. Justru tumbuh dari tradisi saling memberi dan saling mendoakan.

Nasi kuning memang akan habis dimakan. Tetapi maknanya menetap, hadir, menjiwai, mendarah daging. Semuanya mengajarkan tentang waktu, tradisi yang diwariskan, ihwal kampung yang menjaga dirinya sendiri, dan soal manusia yang belajar menjadi utuh sebelum meminta ampun.

Nah, di daerah yang terkenal dengan kisah Dalem Boncel ini, sebelum lapar berpuasa datang, masyarakat lebih dulu mengenyangkan makna dan merayakan kebersamaan. Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 15:21

Profil Dr. Dewi Turgarini: Pionir Wisata Gastronomi dan Pelestari Warisan Budaya Indonesia

Dalam diskursus pariwisata kontemporer di Indonesia, Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., berdiri sebagai figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional.

Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional. (Sumber: UPI)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)