Saat asyik membaca Pikiran Rakyat, tiba-tiba notifikasi masuk ke ponsel. Seorang konten kreator asal Bungbulang, Garut Pakidulan, membagikan video berjudul “Jelang Ramadan Mamah Bikin Tumpeng.” Sederhana, pendek dan menggetarkan hati.
Dalam reel itu tampak dapur jadoel, bersahaja dan sarat makna. Seorang ibu dengan tekun menyiapkan tumpeng nasi kuning. Tangannya terampil menyusun nasi hangat berwarna keemasan ke dalam tampah anyaman bambu (aseupan, kukusan), membentuk kerucut yang menjadi ciri khas numpeng ala lembur. Aroma gurih nasi bercampur wangi kunyit dan santan memenuhi ruangan, menghadirkan suasana hangat yang tak bisa dibeli oleh kemewahan.
Peralatan memasak tampak seadanya. Lauk pauk (asin, ikan teri) alakadarnya. Tak ada bakakak ayam, apalagi opor. Namun justru di situlah letak kemewahannya. Ada ketulusan, bukan kelimpahan.
Lantunan sholawat Ilahilas Tulil Firdaus, syair Abu Nawas mengiringi suasana sahdu. Rindu kampung halaman terus menyeruak. Terbayang jelas suasana jelang Ramadan, ibu-ibu PKK, majelis taklim (pengajian) memasak bersama, dapur Nenek (Mamah Isah) yang riuh, syukuran sederhana, selametan sambil khataman Alquran di Masjid Darussalam, berbagi tumpeng kepada sanak saudara, handai tolan, hingga mengirimkan nasi untuk Ajengan. Sungguh indahnya berbagi.

Menjaga Tradisi, Menyusun Niat Suci
Untuk di wilayah Kandangwesi yang terkenal dengan sale dan opaknya, menjelang Ramadan selalu ada suasana yang berbeda. Hadir tradisi numpeng, lengkap dengan kunyit yang diparut, santan yang diperas perlahan, dan nasi yang dimasak (hawu), menggunakan langseng, hingga berwarna kuning keemasan.
Numpeng bukan sekadar membuat nasi kuning. Justru salah satu cara masyarakat pedesaan dalam menyusun niat sebelum memasuki bulan suci. Ritual sunyi yang berbicara pelan tentang hormat, keterhubungan, dan kesinambungan hidup.
Menariknya, nasi kuning itu tidak untuk diri sendiri, tapi dibuat untuk diberikan kepada orang tua, kakak tertua, dan ajengan. Dalam memberi, orang-orang lembur sedang mengingat asal-usulnya. Hidup bermula dari tangan yang lebih dulu memberi, dari doa yang lebih awal dipanjatkan.
Proses membuat tumpeng sarat pelajaran hidup. Beras dicuci bersih, seakan mengajarkan niat yang harus dibersihkan. Kunyit diparut, santan diperas, bumbu disiapkan tanpa tergesa-gesa. Semua dimasak perlahan dan penuh kehati-hatian. Jangan terburu-buru. Tidak boleh lalai, abai dan pastinya dibumbi cabai.
Tumpeng dibentuk menjulang seperti gunung kecil sebagai simbol harapan agar hidup terus naik menuju kebaikan, keabadian, namun tetap berpijak pada bumi dan kerendahan hati.
Ketika nasi kuning itu diantarkan menggunakan tampan, boboko, nyiru, rantang, tak banyak kata diucapkan. Ingat, yang berpindah bukan hanya makanan, melainkan restu, doa, dan harapan. Orang tua menerimanya dengan mata yang menyimpan kenangan masa lalu. Kakak tertua merengkuhnya dengan tanggung jawab yang diwariskan. Ajengan berbalas terima kasih melalui doa yang terus mengalir diucapkan (dipanjatkan) untuk kampung dan generasi setelahnya.
Walhasil, dalam numpeng, hierarki bukan soal kuasa, melainkan tentang siapa yang lebih dahulu menjaga dan merawat khazanah Nusantara yang membanggakan ini.
Dalam liputan berjudul “Sudah Ada Sejak Zaman Dahulu Kala, Ini Sejarah dan Filosofi Tumpeng Nasi Kuning”, dijelaskan nasi berwarna kuning yang dibentuk kerucut dan disajikan bersama aneka lauk, lalapan yang dikenal sebagai tumpeng. Hidangan khas dalam berbagai perhelatan penting. Tumpeng lazim hadir pada saat acara ulang tahun, (ulang tahun) pernikahan, tasyakuran, kenduri, hajatan, hingga upacara adat lainnya.
Kehadiran tumpeng dalam momen-momen khusus bukan tanpa alasan. Sarat makna dan filosofi, sehingga tidak dibuat secara sembarangan. Pasalnya, setiap bentuk, warna, lauk pauk yang menyertainya memiliki simbol dan pesan tersendiri.
1. Melambangkan Gunung
Bentuk tumpeng yang mengerucut ke atas melambangkan gunung. Ini dipandang sebagai tempat tertinggi, dekat dengan langit, dan secara simbolik dekat dengan Tuhan. Dalam kepercayaan Hindu, gunung dipercaya sebagai tempat bersemayam para dewa dan Sang Hyang (Parahyangan).
Ragam bentuk kerucut ini menjadi simbol ungkapan rasa syukur dan permohonan keselamatan kepada Tuhan dan para dewa. Tumpeng tidak hanya bermakna kuliner, tetapi bernuansa spiritual.
2. Warna Kuning pada Nasi Tumpeng
Warna kuning pada tumpeng berasal dari kunyit. Ini melambangkan kekayaan dan kemakmuran, serupa dengan warna emas sebagai simbol kejayaan, bak warna padi menguning yang siap dipanen sebagai lambang kesejahteraan. Kuning erat dikaitkan dengan Dewi Sri, dewi padi dalam tradisi agraris Nusantara. Harapannya, agar penyelenggara hajatan akan dilimpahi kemakmuran dan keberkahan rizki.
Di masyarakat Bali, warna kuning melambangkan perwujudan Dewa Mahadewa yang sakral. Warna kuning menjadi dominan dalam perayaan Hari Raya Kuningan umat Hindu Bali.
3. Makna Kata Tumpeng
Dalam bahasa Jawa, kata tumpeng sering dimaknai sebagai akronim dari “tumapaking panguripan, tumindak lempeng, tumuju Pangeran”, berarti hidup yang tertata, berjalan lurus, dan menuju Tuhan.
Ada pula tafsir lain, “yen metu kudu mempeng” yang berarti “jika keluar harus bersungguh-sungguh dan penuh semangat.” Kata metu bisa dimaknai sebagai manusia yang lahir ke dunia maupun keluar rumah untuk mencari nafkah. Dengan demikian, tumpeng menjadi simbol etos hidup yang lurus, tekun, dan penuh daya juang.
4. Filosofi pada Lauk Pauk
Tidak hanya bentuk dan warna, lauk pauk dalam tumpeng menyimpan makna terdalam. Telur, melambangkan awal kehidupan yang disajikan utuh dengan cangkangnya mengandung pesan etos kerja. Sesuatu harus dikerjakan dengan ulet, teliti dan hati-hati, sebagaimana saat mengupas telur agar tidak rusak.
Urap, yang terdiri dari berbagai sayuran, berasal dari ungkapan Jawa “urip iku urup” yang berarti hidup itu harus memberi manfaat, saling menerangi. Setiap sayuran memiliki simbol tersendiri mulai dari Kangkung (dari kata jinangkung) bermakna perlindungan. Tauge (thukul atau tukulan) melambangkan pertumbuhan kehidupan. Kacang panjang menyimbolkan pemikiran jauh ke depan.
Biasanya lauk pauk berjumlah tujuh macam, yang dimaknai sebagai pitulungan (permohonan) pertolongan kepada Tuhan. Secara lebih luas, susunan lauk dalam tumpeng ini menggambarkan harmoni ekosistem kehidupan. Sayuran mewakili alam tumbuhan, lauk hewani melambangkan alam fauna. (Ayo Yogya, Senin, 25 Juli 2022 | 11:30 WIB)
Prosesi pemotongan tumpeng memiliki tata cara. Bagian puncak diberikan kepada orang yang dituakan (dihormati) sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan rasa syukur. Tumpeng, pada akhirnya, bukan sekadar hidangan tradisional. Justru simbol doa, syukur, etos hidup, serta harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Merayakan Kebersamaan, Ramadan Hadir
Inilah puncak dari semua momen yang paling ditunggu anak-anak, ya makan berjamaah di Masjid Darussalam. Botram. Balakecrakan. Setelah khatam Alquran, mereka duduk beralas tikar, menyantap nasi kuning dengan tangan kecil yang sedang belajar arti kebersamaan, kehidupan, dan kepedulian.
Di selasar masjid, ruang sakral dan ruang sosial menyatu. Makan bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi menjadi mengikat persaudaraan, kehangatan, silaturahim. Alquran yang selesai dibaca seakan turun menjadi doa di piring-piring sederhana, daun cau yang dipajang memenjang. Bengkung ngariung bongkok ngaronyok!
Baca Juga: Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia
Secara filosofis, numpeng mengingatkan Ramadan tidak disambut dengan kemewahan, melainkan dengan keterhubungan. Ibadah tidak berdiri sendiri. Justru tumbuh dari tradisi saling memberi dan saling mendoakan.
Nasi kuning memang akan habis dimakan. Tetapi maknanya menetap, hadir, menjiwai, mendarah daging. Semuanya mengajarkan tentang waktu, tradisi yang diwariskan, ihwal kampung yang menjaga dirinya sendiri, dan soal manusia yang belajar menjadi utuh sebelum meminta ampun.
Nah, di daerah yang terkenal dengan kisah Dalem Boncel ini, sebelum lapar berpuasa datang, masyarakat lebih dulu mengenyangkan makna dan merayakan kebersamaan. Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin. (*)
