Asyik Numpeng

6 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)

Saat asyik membaca Pikiran Rakyat, tiba-tiba notifikasi masuk ke ponsel. Seorang konten kreator asal Bungbulang, Garut Pakidulan, membagikan video berjudul “Jelang Ramadan Mamah Bikin Tumpeng.” Sederhana, pendek dan menggetarkan hati.

Dalam reel itu tampak dapur jadoel, bersahaja dan sarat makna. Seorang ibu dengan tekun menyiapkan tumpeng nasi kuning. Tangannya terampil menyusun nasi hangat berwarna keemasan ke dalam tampah anyaman bambu (aseupan, kukusan), membentuk kerucut yang menjadi ciri khas numpeng ala lembur. Aroma gurih nasi bercampur wangi kunyit dan santan memenuhi ruangan, menghadirkan suasana hangat yang tak bisa dibeli oleh kemewahan.

Peralatan memasak tampak seadanya. Lauk pauk (asin, ikan teri) alakadarnya. Tak ada bakakak ayam, apalagi opor. Namun justru di situlah letak kemewahannya. Ada ketulusan, bukan kelimpahan.

Lantunan sholawat Ilahilas Tulil Firdaus, syair Abu Nawas mengiringi suasana sahdu. Rindu kampung halaman terus menyeruak. Terbayang jelas suasana jelang Ramadan, ibu-ibu PKK, majelis taklim (pengajian) memasak bersama, dapur Nenek (Mamah Isah) yang riuh, syukuran sederhana, selametan sambil khataman Alquran di Masjid Darussalam, berbagi tumpeng kepada sanak saudara, handai tolan, hingga mengirimkan nasi untuk Ajengan. Sungguh indahnya berbagi. 

Ilustrasi masakan khas Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Dudygr)
Ilustrasi masakan khas Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Dudygr)

Menjaga Tradisi, Menyusun Niat Suci

Untuk di wilayah Kandangwesi yang terkenal dengan sale dan opaknya, menjelang Ramadan selalu ada suasana yang berbeda. Hadir tradisi numpeng, lengkap dengan kunyit yang diparut, santan yang diperas perlahan, dan nasi yang dimasak (hawu), menggunakan langseng, hingga berwarna kuning keemasan.

Numpeng bukan sekadar membuat nasi kuning. Justru salah satu cara masyarakat pedesaan dalam menyusun niat sebelum memasuki bulan suci. Ritual sunyi yang berbicara pelan tentang hormat, keterhubungan, dan kesinambungan hidup.

Menariknya, nasi kuning itu tidak untuk diri sendiri, tapi dibuat untuk diberikan kepada orang tua, kakak tertua, dan ajengan. Dalam memberi, orang-orang lembur sedang mengingat asal-usulnya. Hidup bermula dari tangan yang lebih dulu memberi, dari doa yang lebih awal dipanjatkan.

Proses membuat tumpeng sarat pelajaran hidup. Beras dicuci bersih, seakan mengajarkan niat yang harus dibersihkan. Kunyit diparut, santan diperas, bumbu disiapkan tanpa tergesa-gesa. Semua dimasak perlahan dan penuh kehati-hatian. Jangan terburu-buru. Tidak boleh lalai, abai dan pastinya dibumbi cabai.

Tumpeng dibentuk menjulang seperti gunung kecil sebagai simbol harapan agar hidup terus naik menuju kebaikan, keabadian, namun tetap berpijak pada bumi dan kerendahan hati.

Ketika nasi kuning itu diantarkan menggunakan tampan, boboko, nyiru, rantang, tak banyak kata diucapkan. Ingat, yang berpindah bukan hanya makanan, melainkan restu, doa, dan harapan. Orang tua menerimanya dengan mata yang menyimpan kenangan masa lalu. Kakak tertua merengkuhnya dengan tanggung jawab yang diwariskan. Ajengan berbalas terima kasih melalui doa yang terus mengalir diucapkan (dipanjatkan) untuk kampung dan generasi setelahnya.

Walhasil, dalam numpeng, hierarki bukan soal kuasa, melainkan tentang siapa yang lebih dahulu menjaga dan merawat khazanah Nusantara yang membanggakan ini.

Dalam liputan berjudul “Sudah Ada Sejak Zaman Dahulu Kala, Ini Sejarah dan Filosofi Tumpeng Nasi Kuning”, dijelaskan nasi berwarna kuning yang dibentuk kerucut dan disajikan bersama aneka lauk, lalapan yang dikenal sebagai tumpeng. Hidangan khas dalam berbagai perhelatan penting. Tumpeng lazim hadir pada saat acara ulang tahun, (ulang tahun) pernikahan, tasyakuran, kenduri, hajatan, hingga upacara adat lainnya.

Kehadiran tumpeng dalam momen-momen khusus bukan tanpa alasan. Sarat makna dan filosofi, sehingga tidak dibuat secara sembarangan. Pasalnya, setiap bentuk, warna, lauk pauk yang menyertainya memiliki simbol dan pesan tersendiri.

1. Melambangkan Gunung

Bentuk tumpeng yang mengerucut ke atas melambangkan gunung. Ini dipandang sebagai tempat tertinggi, dekat dengan langit, dan secara simbolik dekat dengan Tuhan. Dalam kepercayaan Hindu, gunung dipercaya sebagai tempat bersemayam para dewa dan Sang Hyang (Parahyangan).

Ragam bentuk kerucut ini menjadi simbol ungkapan rasa syukur dan permohonan keselamatan kepada Tuhan dan para dewa. Tumpeng tidak hanya bermakna kuliner, tetapi bernuansa spiritual.

2. Warna Kuning pada Nasi Tumpeng

Warna kuning pada tumpeng berasal dari kunyit. Ini melambangkan kekayaan dan kemakmuran, serupa dengan warna emas sebagai simbol kejayaan, bak warna padi menguning yang siap dipanen sebagai lambang kesejahteraan. Kuning erat dikaitkan dengan Dewi Sri, dewi padi dalam tradisi agraris Nusantara. Harapannya, agar penyelenggara hajatan akan dilimpahi kemakmuran dan keberkahan rizki.

Di masyarakat Bali, warna kuning melambangkan perwujudan Dewa Mahadewa yang sakral. Warna kuning menjadi dominan dalam perayaan Hari Raya Kuningan umat Hindu Bali.

3. Makna Kata Tumpeng

Dalam bahasa Jawa, kata tumpeng sering dimaknai sebagai akronim dari “tumapaking panguripan, tumindak lempeng, tumuju Pangeran”, berarti hidup yang tertata, berjalan lurus, dan menuju Tuhan.

Ada pula tafsir lain, “yen metu kudu mempeng” yang berarti “jika keluar harus bersungguh-sungguh dan penuh semangat.” Kata metu bisa dimaknai sebagai manusia yang lahir ke dunia maupun keluar rumah untuk mencari nafkah. Dengan demikian, tumpeng menjadi simbol etos hidup yang lurus, tekun, dan penuh daya juang.

4. Filosofi pada Lauk Pauk

Tidak hanya bentuk dan warna, lauk pauk dalam tumpeng menyimpan makna terdalam. Telur, melambangkan awal kehidupan yang disajikan utuh dengan cangkangnya mengandung pesan etos kerja. Sesuatu harus dikerjakan dengan ulet, teliti dan hati-hati, sebagaimana saat mengupas telur agar tidak rusak.

Urap, yang terdiri dari berbagai sayuran, berasal dari ungkapan Jawa “urip iku urup” yang berarti hidup itu harus memberi manfaat, saling menerangi. Setiap sayuran memiliki simbol tersendiri mulai dari Kangkung (dari kata jinangkung) bermakna perlindungan. Tauge (thukul atau tukulan) melambangkan pertumbuhan kehidupan. Kacang panjang menyimbolkan pemikiran jauh ke depan.

Biasanya lauk pauk berjumlah tujuh macam, yang dimaknai sebagai pitulungan (permohonan) pertolongan kepada Tuhan. Secara lebih luas, susunan lauk dalam tumpeng ini menggambarkan harmoni ekosistem kehidupan. Sayuran mewakili alam tumbuhan, lauk hewani melambangkan alam fauna. (Ayo Yogya, Senin, 25 Juli 2022 | 11:30 WIB)

Prosesi pemotongan tumpeng memiliki tata cara. Bagian puncak diberikan kepada orang yang dituakan (dihormati) sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan rasa syukur. Tumpeng, pada akhirnya, bukan sekadar hidangan tradisional. Justru simbol doa, syukur, etos hidup, serta harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Kalau kita bicara makanan Sunda, hampir pasti yang pertama kali muncul di kepala adalah lalapan. (Sumber: Unsplash | Foto: Keriliwi)

Merayakan Kebersamaan, Ramadan Hadir

Inilah puncak dari semua momen yang paling ditunggu anak-anak, ya makan berjamaah di Masjid Darussalam. Botram. Balakecrakan. Setelah khatam Alquran, mereka duduk beralas tikar, menyantap nasi kuning dengan tangan kecil yang sedang belajar arti kebersamaan, kehidupan, dan kepedulian.

Di selasar masjid, ruang sakral dan ruang sosial menyatu. Makan bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi menjadi mengikat persaudaraan, kehangatan, silaturahim. Alquran yang selesai dibaca seakan turun menjadi doa di piring-piring sederhana, daun cau yang dipajang memenjang. Bengkung ngariung bongkok ngaronyok!

Baca Juga: Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Secara filosofis, numpeng mengingatkan Ramadan tidak disambut dengan kemewahan, melainkan dengan keterhubungan. Ibadah tidak berdiri sendiri. Justru tumbuh dari tradisi saling memberi dan saling mendoakan.

Nasi kuning memang akan habis dimakan. Tetapi maknanya menetap, hadir, menjiwai, mendarah daging. Semuanya mengajarkan tentang waktu, tradisi yang diwariskan, ihwal kampung yang menjaga dirinya sendiri, dan soal manusia yang belajar menjadi utuh sebelum meminta ampun.

Nah, di daerah yang terkenal dengan kisah Dalem Boncel ini, sebelum lapar berpuasa datang, masyarakat lebih dulu mengenyangkan makna dan merayakan kebersamaan. Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)