AYOBANDUNG.ID - Di tengah keterpurukan media konvensional yang terbelenggu oleh rutinitas redaksi dan ketergantungan pada iklan, media alternatif seperti zine justru menemukan momentumnya. Tanpa investasi besar dan tanpa tekanan pasar, lembaran-lembaran ini menjadi ruang aman bagi para pembuatnya. Fenomena tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan bentuk perlawanan terhadap kejenuhan dunia digital yang serba cepat dan penuh ketidakpastian.
Zine sebagai Media Alternatif
Pelaku dan komunitasnya menyebut zine sebagai media alternatif (Duncombe, 2008). Secara umum, zine merupakan media yang diproduksi dan didistribusikan secara mandiri oleh pembuatnya, berisi tulisan maupun gambar, serta digandakan dalam jumlah terbatas.
Dalam praktiknya, tata letak, isi, bentuk, hingga sistem distribusi ditentukan sepenuhnya oleh kreator. Tidak ada tenggat terbit yang mengikat, tidak ada tekanan pasar yang membatasi. Kebebasan inilah yang menjadi ciri utama zine sebagai medium ekspresi.

Kebutuhan akan Bentuk Fisik
Ilham Fadilah dari Consumed Media menilai bahwa keberadaan zine di era Gen Z bertahan karena manusia memiliki dorongan alami terhadap objek yang nyata. Menurutnya, ruang digital memiliki keterbatasan dalam menyentuh sisi emosional manusia.
“Selagi manusia masih mengenal bentuk, pasti akan ingin sesuatu dalam wujud fisik. Yang bisa dipegang. Soalnya digital nggak punya itu,” ungkap Ilham.
Konten digital, lanjutnya, sering terasa rapuh karena dapat lenyap hanya dengan satu sentuhan layar. Zine, sebaliknya, menawarkan pengalaman yang lebih personal dan tahan lama—kepuasan yang tak bisa diberikan oleh algoritma.
“Digital itu absurd, nggak ada bentuknya. Jadinya zine lebih sentimental, lebih punya nilai ketimbang era digital yang udah scroll terus hilang,” tambahnya.
Menjaga Sisi Kemanusiaan
Dinda Anindita, pengelola Berkawansekebun, memandang zine sebagai medium untuk menjaga “rasa” agar tetap hidup di tengah kemajuan teknologi. Ia melihat zine sebagai jembatan literasi yang menghubungkan teks, gambar, dan pengalaman personal.
“Jangan sampai kita membalik logika, ketika AI ingin jadi manusia, manusia justru ingin jadi AI. Zine itu ketika kamu membaca dan menulis, artinya kamu masih hidup sebagai manusia,” tegas Dinda.
Bagi Dinda, zine juga berfungsi sebagai ruang refleksi yang intim, terutama bagi mereka yang kesulitan mengekspresikan perasaan secara terbuka. Melalui zine, seseorang dapat berdialog dengan dirinya sendiri tanpa rasa takut dihakimi.
“Zine itu merefleksi pesan. Misalnya zine diari, itu membantu kita ngobrol sama diri sendiri tanpa merasa insecure. Kamu merasa aman,” tuturnya.

Strategi Kreatif di Tengah Keterbatasan
Daya hidup zine juga terletak pada kesederhanaan proses produksinya. Kreativitas tidak selalu lahir dari teknologi mahal, melainkan dari kemampuan beradaptasi dengan keterbatasan.
Dinda kerap menekankan pentingnya menyesuaikan karya dengan kondisi finansial pembuatnya.
“Gimana caranya dengan fotokopi bisa jadi tantangan. Semakin kita nggak punya duit, semakin kita mikir bahannya pakai apa. Berarti karya harus makin keren,” ujarnya.
Zine menjadi medium yang inklusif karena mudah diakses siapa saja. Ilham menilai, keunggulan zine terletak pada kesederhanaan sistem editorialnya.
“Zine itu alternatif paling accessible buat banyak orang. Lebih murah, lebih low cost. Bisa dibuat ala kadarnya,” jelasnya.
Kesederhanaan ini justru menjadi kekuatan, karena membuka ruang partisipasi seluas-luasnya tanpa hambatan struktural.
Ketahanan dalam Komunitas
Pada akhirnya, banyak media arus utama runtuh karena memandang media semata sebagai bisnis. Zine, sebaliknya, bertahan karena berakar pada komunitas.
“Kalau media profesional itu business to business, selesai. Tapi media alternatif masih hidup karena komunitasnya ada,” ujar Ilham.
Relasi antarpelaku, solidaritas, dan semangat berbagi menjadi fondasi utama ekosistem zine. Bagi Dinda, membangun jaringan berarti saling menguatkan, bukan saling bersaing.
“Kita berjejaringnya saling rangkul, saling perkuat. Saya berharap tiap kota punya ruang singgah, ruang kolektif zine, supaya kita bisa saling berkunjung,” pungkasnya.
Di tengah derasnya arus digital dan otomatisasi, zine tetap hadir sebagai ruang sunyi yang penuh makna—tempat manusia merawat pikirannya, emosinya, dan relasi sosialnya, dengan cara yang paling sederhana: melalui kertas, tinta, dan kejujuran.
