Official Persib Logo
1933
1933

Di Saat Media Arus Utama Tersandera Iklan, Zine Menemukan Jalannya Sendiri

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Jumat 13 Feb 2026, 08:13 WIB
Salah satu karya yang ditampilkan di Bandung Zine Fest 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Salah satu karya yang ditampilkan di Bandung Zine Fest 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah keterpurukan media konvensional yang terbelenggu oleh rutinitas redaksi dan ketergantungan pada iklan, media alternatif seperti zine justru menemukan momentumnya. Tanpa investasi besar dan tanpa tekanan pasar, lembaran-lembaran ini menjadi ruang aman bagi para pembuatnya. Fenomena tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan bentuk perlawanan terhadap kejenuhan dunia digital yang serba cepat dan penuh ketidakpastian.

Zine sebagai Media Alternatif

Pelaku dan komunitasnya menyebut zine sebagai media alternatif (Duncombe, 2008). Secara umum, zine merupakan media yang diproduksi dan didistribusikan secara mandiri oleh pembuatnya, berisi tulisan maupun gambar, serta digandakan dalam jumlah terbatas.

Dalam praktiknya, tata letak, isi, bentuk, hingga sistem distribusi ditentukan sepenuhnya oleh kreator. Tidak ada tenggat terbit yang mengikat, tidak ada tekanan pasar yang membatasi. Kebebasan inilah yang menjadi ciri utama zine sebagai medium ekspresi.

Ilham Fadilah dari Consumed Media. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ilham Fadilah dari Consumed Media. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kebutuhan akan Bentuk Fisik

Ilham Fadilah dari Consumed Media menilai bahwa keberadaan zine di era Gen Z bertahan karena manusia memiliki dorongan alami terhadap objek yang nyata. Menurutnya, ruang digital memiliki keterbatasan dalam menyentuh sisi emosional manusia.

“Selagi manusia masih mengenal bentuk, pasti akan ingin sesuatu dalam wujud fisik. Yang bisa dipegang. Soalnya digital nggak punya itu,” ungkap Ilham.

Konten digital, lanjutnya, sering terasa rapuh karena dapat lenyap hanya dengan satu sentuhan layar. Zine, sebaliknya, menawarkan pengalaman yang lebih personal dan tahan lama—kepuasan yang tak bisa diberikan oleh algoritma.

“Digital itu absurd, nggak ada bentuknya. Jadinya zine lebih sentimental, lebih punya nilai ketimbang era digital yang udah scroll terus hilang,” tambahnya.

Menjaga Sisi Kemanusiaan

Dinda Anindita, pengelola Berkawansekebun, memandang zine sebagai medium untuk menjaga “rasa” agar tetap hidup di tengah kemajuan teknologi. Ia melihat zine sebagai jembatan literasi yang menghubungkan teks, gambar, dan pengalaman personal.

“Jangan sampai kita membalik logika, ketika AI ingin jadi manusia, manusia justru ingin jadi AI. Zine itu ketika kamu membaca dan menulis, artinya kamu masih hidup sebagai manusia,” tegas Dinda.

Bagi Dinda, zine juga berfungsi sebagai ruang refleksi yang intim, terutama bagi mereka yang kesulitan mengekspresikan perasaan secara terbuka. Melalui zine, seseorang dapat berdialog dengan dirinya sendiri tanpa rasa takut dihakimi.

“Zine itu merefleksi pesan. Misalnya zine diari, itu membantu kita ngobrol sama diri sendiri tanpa merasa insecure. Kamu merasa aman,” tuturnya.

Zine menjadi pilihan yang paling tepat karena sifatnya yang inklusif dan mudah dijangkau oleh masyarakat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Zine menjadi pilihan yang paling tepat karena sifatnya yang inklusif dan mudah dijangkau oleh masyarakat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Strategi Kreatif di Tengah Keterbatasan

Daya hidup zine juga terletak pada kesederhanaan proses produksinya. Kreativitas tidak selalu lahir dari teknologi mahal, melainkan dari kemampuan beradaptasi dengan keterbatasan.

Dinda kerap menekankan pentingnya menyesuaikan karya dengan kondisi finansial pembuatnya.

“Gimana caranya dengan fotokopi bisa jadi tantangan. Semakin kita nggak punya duit, semakin kita mikir bahannya pakai apa. Berarti karya harus makin keren,” ujarnya.

Zine menjadi medium yang inklusif karena mudah diakses siapa saja. Ilham menilai, keunggulan zine terletak pada kesederhanaan sistem editorialnya.

“Zine itu alternatif paling accessible buat banyak orang. Lebih murah, lebih low cost. Bisa dibuat ala kadarnya,” jelasnya.

Kesederhanaan ini justru menjadi kekuatan, karena membuka ruang partisipasi seluas-luasnya tanpa hambatan struktural.

Ketahanan dalam Komunitas

Pada akhirnya, banyak media arus utama runtuh karena memandang media semata sebagai bisnis. Zine, sebaliknya, bertahan karena berakar pada komunitas.

“Kalau media profesional itu business to business, selesai. Tapi media alternatif masih hidup karena komunitasnya ada,” ujar Ilham.

Relasi antarpelaku, solidaritas, dan semangat berbagi menjadi fondasi utama ekosistem zine. Bagi Dinda, membangun jaringan berarti saling menguatkan, bukan saling bersaing.

“Kita berjejaringnya saling rangkul, saling perkuat. Saya berharap tiap kota punya ruang singgah, ruang kolektif zine, supaya kita bisa saling berkunjung,” pungkasnya.

Di tengah derasnya arus digital dan otomatisasi, zine tetap hadir sebagai ruang sunyi yang penuh makna—tempat manusia merawat pikirannya, emosinya, dan relasi sosialnya, dengan cara yang paling sederhana: melalui kertas, tinta, dan kejujuran.

News Update

Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 09:07

Banyak Followers dan Following, api Nol Postingan: Fenomena Silent User di Instagram

Fenomena akun Instagram tanpa postingan (tren Zero Post) menunjukkan perubahan cara generasi muda memandang privasi, eksistensi, dan tekanan sosial di era media digital.

Ilustrasi profil Instagram dengan banyak followers dan following tetapi feed kosong tanpa postingan. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 25 Mei 2026, 08:24

Cerita Warga Setelah Konvoi Persib Usai

Konvoi juara Persib menyisakan cerita berbeda bagi warga Bandung, dari petugas kebersihan, ojol, hingga pedagang kecil yang kebanjiran pembeli.

Hendi Suhendi bersama petugas kebersihan lainnya menyisir kawasan pusat Kota Bandung usai perayaan kemenangan Persib. Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 24 Mei 2026, 20:27

5 Oleh-Oleh Bandung Favorit yang Selalu Ramai Pembeli, Wajib Dibawa Pulang

Wisata ke Bandung belum lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh favorit seperti bolu bakar, abon gulung, dan dessert kekinian.

Bolu Bakar Tunggal, salah satu oleh-oleh legendaris Bandung.
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 18:05

Meminjam Semangat Bobotoh Persib untuk Perubahan Indonesia

Perubahan besar sering kali dimulai dari akumulasi kecil seperti loyalitas, suportivitas, humanitas dan solidaritas dan semua itu bisa kita lihat dari antuasiasme Bobotoh Persib

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 16:03

Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 13:07

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. ketika kamu menguasai skill baru disitu kebanggaan.

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Mayantara 24 Mei 2026, 10:50

Deepfake, Anonimitas, dan Perubahan Wajah Ruang Publik Digital

Perubahan ini merupakan bagian dari karakter media baru atau new media.

Ilustrasi anonimitas. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 09:41

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

Tahun 1986 adalah saat kebangkitan kembali Persib saat tampil sebagai juara Perserikatan tahun 1986'

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 09:41

Bandung: Kota Ramah Pejalan Kaki dan Disabilitas yang Masih Sebatas Slogan

Trotoar Bandung masih dipenuhi puing proyek, parkir liar, dan aktivitas lain yang mengurangi hak pejalan kaki serta aksesibilitas penyandang disabilitas.

Kondisi trotoar di Jalan Pungkur, Kota Bandung dipenuhi puing galian proyek utilitas, Kamis (21/5/2026) pagi. (Foto: Arif Budiman)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)