Di Saat Media Arus Utama Tersandera Iklan, Zine Menemukan Jalannya Sendiri

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Jumat 13 Feb 2026, 08:13 WIB
Salah satu karya yang ditampilkan di Bandung Zine Fest 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Salah satu karya yang ditampilkan di Bandung Zine Fest 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah keterpurukan media konvensional yang terbelenggu oleh rutinitas redaksi dan ketergantungan pada iklan, media alternatif seperti zine justru menemukan momentumnya. Tanpa investasi besar dan tanpa tekanan pasar, lembaran-lembaran ini menjadi ruang aman bagi para pembuatnya. Fenomena tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan bentuk perlawanan terhadap kejenuhan dunia digital yang serba cepat dan penuh ketidakpastian.

Zine sebagai Media Alternatif

Pelaku dan komunitasnya menyebut zine sebagai media alternatif (Duncombe, 2008). Secara umum, zine merupakan media yang diproduksi dan didistribusikan secara mandiri oleh pembuatnya, berisi tulisan maupun gambar, serta digandakan dalam jumlah terbatas.

Dalam praktiknya, tata letak, isi, bentuk, hingga sistem distribusi ditentukan sepenuhnya oleh kreator. Tidak ada tenggat terbit yang mengikat, tidak ada tekanan pasar yang membatasi. Kebebasan inilah yang menjadi ciri utama zine sebagai medium ekspresi.

Ilham Fadilah dari Consumed Media. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ilham Fadilah dari Consumed Media. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Kebutuhan akan Bentuk Fisik

Ilham Fadilah dari Consumed Media menilai bahwa keberadaan zine di era Gen Z bertahan karena manusia memiliki dorongan alami terhadap objek yang nyata. Menurutnya, ruang digital memiliki keterbatasan dalam menyentuh sisi emosional manusia.

“Selagi manusia masih mengenal bentuk, pasti akan ingin sesuatu dalam wujud fisik. Yang bisa dipegang. Soalnya digital nggak punya itu,” ungkap Ilham.

Konten digital, lanjutnya, sering terasa rapuh karena dapat lenyap hanya dengan satu sentuhan layar. Zine, sebaliknya, menawarkan pengalaman yang lebih personal dan tahan lama—kepuasan yang tak bisa diberikan oleh algoritma.

“Digital itu absurd, nggak ada bentuknya. Jadinya zine lebih sentimental, lebih punya nilai ketimbang era digital yang udah scroll terus hilang,” tambahnya.

Menjaga Sisi Kemanusiaan

Dinda Anindita, pengelola Berkawansekebun, memandang zine sebagai medium untuk menjaga “rasa” agar tetap hidup di tengah kemajuan teknologi. Ia melihat zine sebagai jembatan literasi yang menghubungkan teks, gambar, dan pengalaman personal.

“Jangan sampai kita membalik logika, ketika AI ingin jadi manusia, manusia justru ingin jadi AI. Zine itu ketika kamu membaca dan menulis, artinya kamu masih hidup sebagai manusia,” tegas Dinda.

Bagi Dinda, zine juga berfungsi sebagai ruang refleksi yang intim, terutama bagi mereka yang kesulitan mengekspresikan perasaan secara terbuka. Melalui zine, seseorang dapat berdialog dengan dirinya sendiri tanpa rasa takut dihakimi.

“Zine itu merefleksi pesan. Misalnya zine diari, itu membantu kita ngobrol sama diri sendiri tanpa merasa insecure. Kamu merasa aman,” tuturnya.

Zine menjadi pilihan yang paling tepat karena sifatnya yang inklusif dan mudah dijangkau oleh masyarakat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Zine menjadi pilihan yang paling tepat karena sifatnya yang inklusif dan mudah dijangkau oleh masyarakat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Strategi Kreatif di Tengah Keterbatasan

Daya hidup zine juga terletak pada kesederhanaan proses produksinya. Kreativitas tidak selalu lahir dari teknologi mahal, melainkan dari kemampuan beradaptasi dengan keterbatasan.

Dinda kerap menekankan pentingnya menyesuaikan karya dengan kondisi finansial pembuatnya.

“Gimana caranya dengan fotokopi bisa jadi tantangan. Semakin kita nggak punya duit, semakin kita mikir bahannya pakai apa. Berarti karya harus makin keren,” ujarnya.

Zine menjadi medium yang inklusif karena mudah diakses siapa saja. Ilham menilai, keunggulan zine terletak pada kesederhanaan sistem editorialnya.

“Zine itu alternatif paling accessible buat banyak orang. Lebih murah, lebih low cost. Bisa dibuat ala kadarnya,” jelasnya.

Kesederhanaan ini justru menjadi kekuatan, karena membuka ruang partisipasi seluas-luasnya tanpa hambatan struktural.

Ketahanan dalam Komunitas

Pada akhirnya, banyak media arus utama runtuh karena memandang media semata sebagai bisnis. Zine, sebaliknya, bertahan karena berakar pada komunitas.

“Kalau media profesional itu business to business, selesai. Tapi media alternatif masih hidup karena komunitasnya ada,” ujar Ilham.

Relasi antarpelaku, solidaritas, dan semangat berbagi menjadi fondasi utama ekosistem zine. Bagi Dinda, membangun jaringan berarti saling menguatkan, bukan saling bersaing.

“Kita berjejaringnya saling rangkul, saling perkuat. Saya berharap tiap kota punya ruang singgah, ruang kolektif zine, supaya kita bisa saling berkunjung,” pungkasnya.

Di tengah derasnya arus digital dan otomatisasi, zine tetap hadir sebagai ruang sunyi yang penuh makna—tempat manusia merawat pikirannya, emosinya, dan relasi sosialnya, dengan cara yang paling sederhana: melalui kertas, tinta, dan kejujuran.

News Update

Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)
Seni Budaya 03 Mar 2026, 16:37

Sejarah Batik Pekalongan, Warisan Budaya dari Pantura Sejak 1802

Sejak awal 1800-an, batik di Pekalongan berkembang dari perdagangan pesisir hingga diakui UNESCO sebagai bagian jejaring kota kreatif dunia.

Kain sarung motif batik Pekalongan tahun 1980-an di Museum Honolulu. (Sumber: Wikimedia)